
“PERHATIAN SEMUANYA! HARAP DIAM DI TEMPAT! INI ADALAH PERAMPOKAN BANK! JANGAN ADA YANG BERANI LAPOR POLISI! KALAU TIDAK, KALIAN SEMUA AKAN KAMI BUNUH!" pekik Bobby.
“RÁPIDO! LET'S MOVE! MOVE! MOVE!" lanjutnya memberikan instruksi kepada kawanannya.
“HAI PEGAWAI BANK! CEPAT SERAHKAN SEMUA UANG YANG ADA DI SINI!" titah Bobby.
“CEPAT SERAHKAN ATAU SAYA TEMBAK KAMU!" sambungnya sambil menodongkan shotgun kepada pegawai bank.
“CEPAAAT!" pekiknya lagi. Bobby memukul pegawai bank itu dengan shotgunnya hingga terjatuh. Mereka bertiga pun mulai menjarah semua uang yang ada di sana dan bergegas keluar.
“Udah, cukup! Let's go!" titah Bobby.
(Di luar bank)
“JANGAN BERGERAK! KAMI POLISI!" pekik sersan Fauzy.
Ketiga orang itu pun tiarap dan ketakutan. Sementara itu Jono keluar dari bank.
“Pak Buta, kami dari kepolisian Pak, hati-hati di depan Anda ada 3 orang sedang tiarap, mereka perampok bank Pak. Tolong ke arah sini Pak. Ikuti suara saya, pelan-pelan Pak... hiyyak, terus mendekat Pak, ikuti suara saya"
Spontan Jono menembak polisi itu hingga tewas seketika dan secepatnya ia memerintahkan kepada anak buahnya untuk segera pergi dari area bank meninggalkan jasad polisi itu.
“Sersaaan! Hey, rampok! Jangan kabur kalian!" pekik sang komandan polisi.
“Cepat panggil ambulance, sersan Fauzy gugur!" sambungnya.
“Siap komandan!"
“Ya Tuhan, malang sekali nasibmu sersan, gara-gara aku terlambat datang akhirnya kau jadi korban" sesal eang komandan.
“Semua unit, kejar kawanan rampok itu!" sambungnya.
“Siap Ndan!"
***
Jono dan kawanannya lari dari polisi dan berpencar karena mobil mereka kehabisan bahan bakar, sehingga ketika Jono sedang melarikan diri dari polisi, semua uang hasil perampokannya berhasil ia bawa seorang diri. Jarak antara bank dengan rumah Jono cukup jauh, sehingga pria itu terpaksa harus bersembunyi sementara waktu dari para polisi itu. Dan karena tidak ada lagi tempat persembunyian yang aman, akhirnya ia menemukan gudang kosong yang terkunci. Jono mendobrak pintu gudang itu dan bersembunyi di dalam sana sampai situasi dirasa aman.
“Hahahahahahahahaha... akhirnya, lolos juga gue dari gerombolan polisi begok itu. Untung aje gue nemu gudang ini. Dan uangnya... aman terkendali, hahahaha, begoook! Makanya pak polisi, jangan main-main sama gue, Jhonny Ruffian lu lawan hahahaha" ejek Jono dalam hati.
Sementara itu para polisi yang merasa sudah kehilangan jejak memutuskan untuk kembali ke kantor untuk menyelidiki kasus ini lebih lanjut.
***
“Salma, Abang pulang. Dan Abang bawa uang nih untuk kamu. Awas ya, jangan banyak tanya ini dapet dari mana, yang jelas itu uang halal"
“600 ribu? Alhamdulillah! Iya deh Bang, Alma percaya sekarang kalo uang yang kamu dapet itu uang halal, maaf ya Bang kalo selama ini Alma curiga sama Abang"
“Nggak apa-apa Alma, Abang juga minta maaf karena Abang udah kasar sama kamu"
Kedua insan itu pun saling berpelukan, Salma menenggelamkan wajahnya pada dada bidang suaminya. Namun beberapa menit kemudian perut wanita itu mulai bergejolak kembali, wanita itu merasakan gejolak yang kembali mengganggu perutnya. Sontak wanita 28 tahun itu bergegas menuju kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya. Jono yang mengekorinya dari belakang langsung merangkul tubuh istrinya dan membantunya.
“Salma, kamu harus istirahat total, mungkin untuk sementara waktu ini Abang memang harus sering makan di luar rumah. Karena Abang mulai memperhatikan kamu, penciuman kamu akhir-akhir ini lebih sensitif. Andaikan kita punya uang yang lebih banyak, pasti kita sudah berbulan madu" ujar Jono sambil merangkul tubuh istrinya dari belakang, ia melingkarkan kedua tangannya di bawah kedua lengan Salma sambil sesekali menyentuh sesuatu yang kenyal pada dada istrinya dan sesekali pula ia menciuminya.
“Nggak apa-apa Bang, jangan mikir bulan madu dulu. Yang penting kita terus ada pemasukan" sahut Salma dengan suara yang parau.
***
Tiga bulan berlalu, usia kandungan Salma sudah mencapai 6 bulan. Wanita itu mendapat undangan pesta dari sahabatnya Delia, pesta ulang tahun anaknya Bradley Davis. Jono sedang tidak ada di rumah kala itu, sehingga Salma hanya meminta izin lewat WhatsApp. Dan wanita itu berfikir pasti suaminya akan mengizinkannya keluar. Ketika dilihatnya pesan masih centang 1, artinya ponsel suaminya sedang non aktif atau dimode pesawat.
“Oooh, barangkali bang Jono sangat sibuk. Tapi aku yakin pasti bang Jono akan mengizinkanku ikut ke pesta ulang tahun Bradley. Tidak mungkin dia melarangku, karena dia pasti tau Bradley itu anak sahabatku. Ya Allah semoga bang Jono benar-benar mengizinkanku, ini adalah undangan dan aku wajib hadir demi menyampaikan hajat, apalagi ini acara penting, anak sahabatku sedang berbahagia. Bismillahirrahmanirrahim" gumam Salma dalam hati.
Salma berangkat dengan menaiki taksi online, perjalanan dari rumahnya ke rumah Delia memakan waktu cukup lama bila terjadi kemacetan lalu lintas. Bisa mencapai 2-3 jam lamanya. Sepanjang perjalanan, Salma hanya memandangi pesan yang statusnya masih sama, centang 1 tanpa ada jawaban sedikitpun dari seberang sana.
“Bang Jono, kamu di mana sih bang? Kenapa sampai jam segini kamu masih belum ada kabar? Apa sebenarnya pekerjaan kamu bang? Ya Allah lindungilah suamiku dimanapun dia berada" do'a Salma lirih dalam hati. Linangan air mata pun tak mampu ia bendung, sehingga sang supir taksi online menoleh ke arahnya dan merasa heran karena penumpangnya menangis secara tiba-tiba.
“Lho, Bu? Ibu kenapa nangis? Apa ada masalah? Ibu nggak punya uang untuk membayar saya atau bagaimana? Kalau Ibu tidak punya uang untuk membayar, nggak masalah kok Bu, saya kasihan sama Ibu. Ibu sedang hamil, jadi saya kasih gratis" ujar sopir taksi online itu dengan ramahnya.
“Bukan Pak, bukan masalah uang yang membuat saya menangis. Ada hal pribadi yang tidak bisa saya sampaikan ke sembarang orang Pak, sebab ini berkaitan dengan suami saya" jawab Salma berhati-hati.
“Baiklah Bu, apapun itu, semoga semua masalah Ibu cepat selesai. Yakinlah bahwa Tuhan akan selalu melindungi Ibu dan suami Ibu dimanapun kalian berada" ujar sopir taksi online itu mencoba menasehati dan memenangkan hati Salma.
“Amiiin, terima kasih atas do'anya Pak, do'a yang sama untuk Bapak"
“Amiiin, sebelumnya maaf Ibu kalau saya lancang, kalau saya boleh tau, usia kandungan Ibu sudah berapa bulan ya?"
“Alhamdulillah sudah jalan 6 bulan Pak"
“Masyaallah, sudah cukup besar ya. Kalau boleh saya sarankan, sebaiknya Ibu jaga kesehatan baik-baik, banyak istirahat dan jangan banyak fikiran Bu. Sebab itu sangat berbahaya untuk si janin dan Ibu juga. Dulu istri saya juga keguguran karena terlalu banyak fikiran Bu. Saya berdo'a semoga bayi Ibu lahir dalam keadaan sehat wal afiat dan Ibu juga mampu bertahan ketika melahirkan nanti"
“Amiiin, sekali lagi terima kasih Pak atas do'anya, semoga Allah segera menggantikan anak Bapak yang keguguran itu... mmmm... omong-omong, kita sudah sampai Pak, ini rumah sahabat saya, terima kasih atas tumpangan dan motivasi serta nasehat Bapak untuk saya. Ini ongkosnya Pak"