
“Bug!" tiba-tiba dari arah belakang Jono dipukul oleh orang misterius yang menggunakan motor, hingga mereka berdua sama-sama terjatuh ke tanah.
“Wooow!!!" Jono memekik keras karena sempat melayang ke langit sebelum mendarat ke tanah.
Mereka saling memukul satu sama lain. Hingga akhirnya Jono disayat dengan sebilah silet dan ia memekik dengan keras.
“Aaaaah!"
Orang misterius itu kembali memukulinya bertubi-tubi tanpa ampun hingga Jono terpojok di sebuah jalan buntu. Maka ketika orang misterius itu membuka topengnya. Jono kaget bukan main, ternyata itu adalah...
“Alam?"
“Batalin pernikahan lu dengan Salma atau gue nggak akan segan-segan untuk membunuh lu di tempat ini sekarang juga!"
“Dengerin gue Alam, awalnya gue juga kagak cinta ame si Salma!"
“BOHONG!"
“DIA SENDIRI YANG MAU NIKAH SAMA GUE. DIA UDAH NGOMONG SAMA NYOKAP GUE!"
“TUTUP MULUTLUUUU!"
Alam semakin marah dan kembali memukuli Jono tanpa ampun. Jono berusaha kabur dari orang gila itu, hingga ia bersembunyi di suatu tempat yang tidak diketahui oleh pesaingnya itu.
“Gila, kalo sampe' gue batal nikah sama Salma. Apa yang akan terjadi dengan nyokap gue dan adik-adik gue nih? Pokoknya gue harus cepat pulang sekarang juga dan menemui mereka"
Ya, Jono ingin berbicara serius dengan keluarganya mengenai rencananya untuk melamar gadis pujaannya. Yakni Aidah Salma, sebanyak apapun rintangan yang ia hadapi, ia tetap tidak peduli. Yang penting rencananya ini tidak boleh gagal. 10 tahun bukan waktu yang singkat. Terakhir kali ia bertemu dengan Salma ketika hujan turun dan diciduk polisi.
***
“Assalamu Alaykum Ibu, adik-adikku"
“Bang Jono?"
“Sa... Sa... Salma?"
Tangis haru Salma pecah. Seketika gadis 28 tahun itu memeluk erat tubuh kekasihnya yang baru saja keluar dari penjara. Sementara Jono yang juga dipenuhi oleh perasaan rindu yang akut mulai menciumi puncak kepala gadis cantik bercadar itu.
“Ya Allah Bang Jonooo... Alma kangeeen banget sama Abang. Abang nggak apa-apa kan? Ya Allah nggak kerasa udah 10 tahun Abang menjalani masa hukuman penjara ya Bang"
“Nggak apa-apa dari Hongkong. Begok banget nih anak, udah tau gue babak belur begini masih ditanyain nggak apa-apa lagi"
“Salma... kamu makin cantik ya sekarang. Mmmm... Abang... Abang..."
“Alhamdulillah Bang, Alma bersyukur atas segala karunia Allah ini. Itu omong-omong kenapa muka Abang babak belur begitu? Ada yang mukulin Abang ya? Ya Allah itu tangan Abang berdarah!"
“Khem... Iya Salma, tadi waktu perjalanan ke sini Abang dipukuli sama orang yang ngotot ngejar kamu itu. Si Firmansyah yang tolol dan nggak tau diri itu!"
“Astaghfirullahaladzhiiim... Istighfar Bang! Abang ini ngomong apa sih? Kok jadi kasar begitu?"
“Persetan dengan semuanya! Dengar Salma, Abang mau melamar kamu, apa kamu bersedia menerima Abang?"
“Salma, jangan bodoh. Bukankah dulu dia dan keluarganya selalu menyusahkan kamu, tolaklah lamarannya sebelum kamu menyesal seumur hidupmu! Aku yakin, bersama Alex, hidupmu akan lebih sejahtera, atau Alam. Bukankah dia seorang ustadz? Dan kamu juga seorang ustadzah, cocok kan? Daripada harus menikah dengan laki-laki gembel seperti dia yang sekarang pun karakternya sudah berubah... Allah tidak akan menyayangi kamu jika kamu menikah dengan laki-laki macam dia Salma! Tolaklah lamarannya demi nama Allah!" bisik bayangan merah.
“Ya Allah aku berlindung kepada-Mu" bisik Salma.
“Jono, kamu bisa bicara lebih sopan tidak? Ini Salma calon istri kamu. Dia sudah menyiapkan segalanya untuk kedatanganmu Nak"
“Ibu diam! Tidak ada yang meminta nasehat Ibu! Saya ini capek Bu, baru bebas dari penjara. Ibu harusnya faham bagaimana pengorbanan saya buat Ibu, Salma, dan adik-adik saya yang tampangnya tolol-tolol ini!"
“Astaghfirullahaladziiim Jonooo... kenapa semenjak kamu bebas dari penjara watakmu jadi berubah seperti ini Nak? Ingatlah Nak, aku ini Ibumu! Aku ini Ibumu yang telah melahirkan kamu Jono!"
“AAAAAH! BERISIIIIK! IBU BISA DIEM NGGAK SIH? SAYA BILANG SAYA NGGAK MINTA NASEHAT IBU BU! SAYA CAPEK! DAN INGAT SATU HAL LAGI BU YA! SAYA NGGAK MAU LAGI DIPANGGIL DENGAN NAMA KAMPUNGAN ITU! JONO! NAMA MACAM APA ITU BU? MULAI DETIK INI, IBU HARUS PANGGIL SAYA DENGAN NAMA YANG LEBIH KEREN!" pekik Jono
“Ya Allah ya Rabbiiii! Apa lagi yang kamu inginkan Nak. Astaghfirullahaladziiim ya Allaaah!"
“Mulai sekarang, kalian semua harus panggil saya Jhonny! Jhonny Ruffian. Itu nama samaran saya supaya saya bisa lolos dari polisi Bu!"
“Dan lagi! Awas ya kalau sampai kalian buka mulut atau berani melaporkan saya lagi ke polisi. Saya tidak akan segan-segan untuk membunuh kalian semua! FAHAM KALIAN?"
“Dan Salma, kamu harus terima lamaran Abang! Abang masih cinta sama kamu. Ngerti kamu?"
Jono berlalu menuju pintu masuk dan menuju ke kamarnya. Sementara itu Hilda yang duduk di kursi roda hanya bisa menangisi perubahan anak sulungnya. Wanita itu malah berharap Jono tidak disembuhkan oleh bu Okta.
Sementara itu Salma memeluk wanita itu dan berusaha untuk menenangkannya, gadis itu meminta Hilda untuk sabar dan menerima segala sesuatu yang telah terjadi apa adanya. Akhirnya Hilda tak punya pilihan lain selain pasrah terhadap kehendak Ilahi.
“Mana makanannya? Salmaaa! Salmaaa! Mana makanannya? Abang sudah lapar!"
“I... iya Bang, sabar"
“Sabar! Sabar! Emangnye lu fikir perut gue bakal kenyang hanya dengan sabar? Sebenernye lu nih calon istri macam ape sih? Goblok!"
“I... iya Bang, maafin Alma ya Bang ya. Ini makanannya Bang"
“Salma begok... ini makanan macem ape sih sebenernye? Hah? Mane lauknye pe'ak?"
“Mmm... maaf Bang, cuma itu yang kita punya"
“Aaaah! Dasar cewek nggak becus! Untung cakep lu, kalo nggak... gue udah ninggalin lu ngarti lu?"
“Jadi kagak ada selera makan gue. Makan aje noh ndiri, masa' dari dulu gue gagu ampe' udah normal kayak sekarang makanannye nasi garem lagi! Nasi garem lagi, dari mane gue bisa dapet gizi Salmaaa? Dari mana?"
“AH! Capek gue di sini mulu, percume, nggak ade gunanye" pekik Jono sambil menggebrak meja makan.
“Bang Jono mau ke mana Bang? Bagaimana dengan pernikahan kita?"
“Gue mau minggat! Cari uang buat makan! Emangnya kalian yang cuma bisa ngemis-ngemis doang ke gue? K*p*r*t lu semua!"
“Ya Allah Abang! Abang mau cari uang di mana lagi?"
“Bukan urusan lu!"