After Being In Prison

After Being In Prison
Bab 36 : Ditinggalkan



Sesampainya Jono di hotel, pria itu bertemu Yasmin kembali, namun Yasmin tidak melihatnya. Lantas Jono melempar gulungan kertas kecil dan tepat mengenai kepala gadis itu.


Yasmin menoleh dan menekuk wajahnya. Ia melakukan itu karena merasa kurang diperhatikan oleh Jono.


“Yasmin, tunggu!"


“Ada apa lagi Bang? Kamu nggak sadar kemarin kamu ngasih jawaban apa sama aku?"


“Dengar Yasmin, aku mau buat suatu pengakuan... tapi aku mohon kamu jangan marah, aku... sudah punya istri dan anak Sayang"


Plak!


“Kurang ajar kamu Bang! Kurang ajaaar! Aku benci kamu Bang! Aku benci!"


“Hush hush hush hush... tunggu Yasmin tapi... aku masih sayang sama kamu, aku mohon kamu jangan marah dulu... aku akan berikan apapun yang kamu minta"


“Diam kamu Bang!"


“INI! AKU MAU KASIH INI BUAT KAMU! RUMAH BARU UNTUK KAMU YASMIN!' pekik Jono sambil memberikan sebuah kunci rumah, namun Yasmin masih membuang muka dan menangis.


“Dengar... aku memang tidak bisa menceraikan dia, karena aku sudah punya 2 anak, tapi aku janji aku akan membahagiakan kamu, layaknya suami istri... aku jamin istriku tidak akan mengetahui hubungan kita ini"


“Sudah terlambat Bang, seharusnya sejak awal kamu berkata begini"


“Tapi... tapi... Yasmin!"


“Yasmin! Tunggu!"


“Kamu udah ngecewain aku Bang, dan harusnya aku udah tau dari dulu. Maaf aku nggak bisa lanjut sama kamu, gini-gini aku nggak mau jadi perusak rumah tangga orang Bang"


“Astaghfirullahaladziiim... ya Allah, kuatkanlah hatiku. Ternyata selama ini Bang Jono selingkuh" gumam Salma dalam hati yang kebetulan ada di sana untuk mengawasi suaminya.


Yasmin berlari ke luar sambil tak kuasa menahan tangisnya, namun Salma menghentikan langkah gadis itu.


“Tunggu sebentar, jadi nama kamu Yasmin? Aku Salma istrinya bang Jono"


“Iya Mbak, hiks... hiks... pasti Mbak marah kan sama aku?"


“Enggak Sayang, justru Mbak malu sama kamu. Mbak yang kurang hati-hati dengan bang Jono. Demi Allah kamu nggak salah Sayang. Mbak nggak akan ngajak kamu tobat, tapi Mbak sudah mengikhlaskan perlakuan kamu terhadap bang Jono. Bahkan kalo kamu mau menikah dengan dia, Mbak ikhlas"


“Enggak Mbak... walau bagaimanapun aku nggak mau jadi orang ke-3 di dalam suatu rumah tangga. Sebab kalau aku lakukan itu, aku akan merasa malu dan nggak punya harga diri Mbak"


“Aku memang seorang pelacur, tapi aku terpaksa melakukan ini semua karena faktor ekonomi Mbak. Ibuku udah sakit-sakitan di kampung, jadi terpaksa aku cari pekerjaan di Jakarta, aku terpaksa menjual diriku karena aku merasa udah nggak punya apa-apa lagi Mbak" ujar Yasmin sambil menangis terisak.


“Astaghfirullahaladziiim... La Hawla Wa La Quwwata Illa Billah... demi Allah Mbak tidak akan merendahkan kamu Sayang, tapi sebisa mungkin kamu coba pelan-pelan untuk menjauhi perbuatan ini, Mbak yakin Insyaallah, pasti suatu saat nanti kamu akan menemukan hikmahnya"


“Dan mungkin kamu juga sudah pernah mendengar bahwa di zaman Rasulullah ada seorang pelacur yang masuk surga hanya karena dia memberikan makan kepada seekor anjing. Maka dari itu kamu harus tetap optimis bahwa kamu pasti bisa merubah diri menjadi yang lebih baik"


Yasmin mengucapkan terima kasih dan memeluk Salma. Keduanya menangis terisak-isak.


Salma tak menggubrisnya sedikitpun, wanita itu langsung menaiki taksi dan menuju pantai Ancol, sementara itu Jono ditinggalnya sendiri.


***


“Abi... Umi... Alma hancur... Alma hancur berkeping-keping... suami Alma yang Alma cintai... sekarang sudah berani selingkuh dengan wanita lain. Dan bahkan dia menghamili wanita itu"


“Sakit hati Alma Abi... Umi... Sakit hati Alma. Alma betul-betul nggak nyangka kalo bang Jono akan setega itu mempermainkan perasaan Alma"


“Sekarang... Alma pun bingung apa yang harus Alma lakukan, kalau Alma ceraikan bang Jono, pasti Alma akan menjadi anak durhaka dan pasti Alma akan celaka dan binasa, sebab dengan begitu artinya Alma melanggar perjanjian dengan kalian dan wasiat kalian. Tidak! Alma tidak bisa melakukan itu... tidak bisa!"


“Salma anakku, sabarlah Sayang... sabarlah... karena sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar" ucap bayangan Almarhum Lukman.


“Betul Nak, anggaplah ini semua ujian dari Dia Yang maha mengetahui semua rencana dan maha menutupi aib setiap hamba-Nya, teruskan lah pekerjaan muliamu sebagai seorang istri shalihah, ibu yang penyayang, dan ustadzah yang menjadi contoh bagi santriwatimu. Umi akan bahagia kalau kau bisa bersabar Nak. Semoga Allah mengampuni semua dosamu dan dosa suamimu. Umi mohon kamu kembalilah ke rumah, kasihan anak-anakmu, jaga juga mata suamimu dari pandangan yang tak seharusnya dia lihat" ujar bayangan Almarhumah Fatimah.


***


Salma kembali ke rumahnya atas saran dari arwah kedua orang tuanya, sesampainya di rumah dengan menaiki sebuah taksi. Salma mengabaikan suaminya dan menatap tajam ke arah kedua putra mungilnya.


“Kalau bukan karena kalian anak-anakku, Umi tidak akan kembali lagi ke rumah ini. Ya Allah berikanlah hamba kesabaran dan ketabahan atas musibah ini" gumam Salma dalam hati, buliran bening melintas di wajahnya.


Jono mendekati istrinya dan ingin berbicara padanya namun ia mengabaikannya.


“jangan menyentuhku, pergi kamu Bang" kata Salma ketus.


“Salma, Salma aku mohon maafkan aku. Ini semua demi Zidane dan Zayyan anak-anak kita" ujar Jono


“Iya Bang, aku tau ini semua demi anak-anak. Makanya aku tidak mau mereka mempunyai ayah yang salah memilih jalan"


“Salma, Salma kamu mau ke mana? Salma!"


“Viona, tolong kamu bawa Zayyan, biar saya yang gendong Zidane. Kita pergi dari sini"


“Tapi Nyonya–"


“Turuti saja perintah saya!"


Salma keluar dari rumahnya dan memanggil taksi dan pergi bersama Viona ke tempat yang menurutnya aman. Jika ke rumah mertuanya itu jelas tidak mungkin, dia tidak mau merepotkan mertuanya. Ke pondok pesantren apalagi, ada Alam yang selalu menterornya. Bisa saja Zidane dan Zayyan diakui sebagai anaknya nanti. Jalan satu-satunya, rumah sahabatnya Mita. Dia masih lajang dan sibuk dengan karirnya.


Memang, menumpang di rumah orang lain itu tidak nyaman, dan sebenarnya Salma bukan tipe orang yang mau merepotkan orang. Tapi kalau difikir-fikir mau bagaimana lagi? Hanya itu satu-satunya cara untuk melanjutkan hidup bersama kedua anaknya, mungkin suatu hari nanti dia bisa mencari kontrakan baru.


***


Di lain sisi, Jono mulai frustrasi dengan dirinya sendiri, dia merasa telah kehilangan semuanya, semua uangnya sudah habis untuk minum-minum bersama teman-temannya.


“Mampus gue, apa yang harus gue lakukan sekarang? Semuanya udah pergi meninggalkan gue, Salma, Yasmin, Viona. Mana duit gue juga udah abis pula aduh pasti perhiasan Salma juga udah dibawa keluar nih, Aaaah! Sial!" gumam Jono dalam hati.