After Being In Prison

After Being In Prison
Bab 29 : Honeymoon



“Hah? Suruh cium kaki juga? Sebenarnya dia ini ulama sungguhan atau gadungan sih? Tapi, katanya dia mantan santri terbaik di pondok pesantren ini. Lebih baik turuti saja lah, daripada nanti aku kualat ulama" gumam Imran dalam hati.


“Hai, kenapa kamu diam? Ayo cium kaki saya, cepat!"


“Oh, mmmm... iya Ustadz, iya"


“Hahahahaha... santri-santri otak udang ini bisa gue manfaatin untuk memenuhi hasrat gue, kepentingan pribadi gue harus gue penuhi demi kemakmuran diri gue sendiri. Termasuk merebut kembali si Salma dari si buronan dungu itu, hahahahaha. Gue denger calon anak gue itu kembar. Mmmm... dengan santri sebanyak ini gue yakin gue bisa melakukan apa aje yang gue mau. Liat aja Salma, lu pasti bakal balik ke pelukan gue"


Diniyyah sudah selesai, semua santri Alam mencium kakinya sesuai dengan perjanjian tadi. Kurang ajar memang, tapi itulah Alam Firmansyah. Selalu memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan demi mencapai tujuan kotornya.


“Nasir!"


“Iya Ustadz"


“Sini kamu"


“Kamu bisa kan memata-matai suami ustadzah Salma?"


“Apa Ustadz? Kalau saya ketauan bagaimana?"


“Tenaaang... kamu nggak sendiri, banyak temanmu yang akan membantu kamu nantinya"


“Baik Ustadz, Insyaallah saya bisa bantu Ustadz"


“Bagus... sekarang pergilah!"


***


Di lain tempat, di malam hari, karena usia kandungan Salma sudah masuk 6 bulan, sesuai dengan janji suaminya, Jono mengajaknya berbulan madu ke Bali. Segala sesuatunya sudah disiapkan dengan baik sejak pagi tadi.


Sementara itu Nasir yang bersembunyi di balik semak-semak melihat 2 sejoli itu sudah pergi dengan menaiki mobil mereka.


“Sial! Ke mana perginya mereka? Gawat! Ustadz harus dikasih tau ini"


“Ayo kita lapor ke ustadz, bilang sama beliau kalau mereka pergi dari rumahnya"


***


“Apa? Mereka pergi dari rumahnya?"


“Betul Ustadz"


“Dasar bajingan licik! Rupanya dia udah tau rencana gue. Harusnya waktu dia mbobol kamar gue, gue bunuh dia di tempat itu juga"


“Kalian sama sekali nggak tau ke mana kemungkinan perginya mereka?"


“Nggak tau Ustadz, tapi... mereka membawa koper, sepertinya mereka pergi jauh. Kemungkinan besar... mereka pergi berbulan madu"


“Kurang ajar... mereka sudah berani mempermainkan gue. Liat aja, gue nggak akan tinggal diam!"


***


Jono dan Salma bebas! Mereka sudah keluar dari kota Jakarta, langkah selanjutnya mereka pergi ke pelabuhan Tanjung Priok untuk menaiki kapal laut menuju ke pulau Dewata Bali.


Sesampainya di atas kapal, perhatian semua orang mulai mengarah pada 2 sejoli itu, bagaimana bisa seorang wanita yang wajahnya sangat cantik dan lebih tinggi dari suaminya, menikah dengan pria yang wajahnya biasa-biasa saja? Tapi mereka tidak pernah tau bahwa memang begitulah watak Salma, baginya wajah tampan itu masih nomor sekian, yang nomor 1 baginya adalah dia bisa merubah karakter buruk suaminya menjadi lebih baik.


Salma dan Jono mulai mencari tempat duduk yang nyaman, cadar Salma tak pernah lepas dari wajahnya. Sebab dia pastinya sudah tau bahwa pria-pria nakal pasti selalu ada di sekelilingnya, dia jebolan pondok pesantren Al-Hikmah Putri dan salah satu ustadzah muda yang terkenal paling cerdas di sana.


Setelah mereka duduk di bangku yang ada di belakang sendiri, Salma menidurkan kepalanya di pundak suaminya dan memeluknya dengan manja. Jono beberapa kali menciumi puncak kepala istrinya itu dengan penuh kasih sayang.


“Abang, Alma mau buang air kecil nih, sebentar ya Bang"


“Mau Abang temenin nggak?"


“Nggak usah Bang, Alma cuma sebentar kok"


“Kamu yakin nggak mau Abang temenin?"


“Nggak perlu Bang"


“Ya udah, ati-ati ya Sayang"


Salma mencoba berjalan dengan gagah layaknya pria jantan yang tidak takut pada gangguan apapun, wanita itu tidak memperdulikan pria-pria otak mesum yang dari tadi memperhatikannya.


Sesampainya di toilet, Salma membuka pintu. Betapa terkejutnya dia ketika melihat ada pria berandalan yang ada di dalamnya yang hendak menggodanya. Salma pun teriak histeris dan menendang k*m*l**n si pelaku. Setelahnya ia berteriak minta tolong.


Jono yang mendengar pekikan istrinya langsung berlari ke arah sumber suara dan menghajar 3 berandalan yang ada di sana.


“Kurang ajar lu semua ye, beraninya cuma sama perempuan! Asal kalian tau, dia ini bini gue dan lagi bunting anak gue! NGARTI LU PADE? SEKARANG LU PADE PEGI DARI HADAPAN GUE! PEGI!" pekik Jono pada mereka setelah ketiganya terkapar tak berdaya dan kemudian pergi dari sana ke luar pelabuhan selanjutnya.


“Abaaang... hiks hiks... maafin Alma Sayang" ujar Salma yang menangis sendu.


“Sssst... iya iya iya tenang Sayang ya? Tenang... cep cep cep, udah jangan nangis lagi ya Sayang ya" jawab Jono sambil memeluk erat tubuh istrinya dan menciuminya serta menghusap air matanya.


Setelahnya Salma kembali ke toilet untuk buang air kecil. Keluar dari toilet, Salma masih tidak bisa berhenti menangis saking traumanya dan kembali ke pelukan suaminya.


“Tenang Sayang... tenang... Alhamdulillah Abang bangga sama kamu karena kamu tidak seperti wanita pada umumnya, kamu wanita tangguh Sayang, kamu kuat... buktinya Abang sempat lihat tadi kamu ada perlawanan dengan mereka"


“Bayi kita aman kan Sayang?"


“Iya Bang, Alhamdulillah aman. Makasih ya udah mau tolongin aku, kamu memang suami yang perhatian"


***


Sesampainya mereka di pulau Dewata Bali, mereka mencari penginapan yang murah, dan Red Doorz Denpasar menjadi pilihan mereka. Satu kamar mereka pesan, dan akhirnya Salma bisa beristirahat dengan tenang malam itu. Ia berbaring terlebih dahulu, sementara Jono duduk di sampingnya meletakkan kepala istrinya di pangkuannya.


“Besok pagi kita jalan-jalan ke pantai Kuta ya Sayang ya? Sekarang kamu tidur aja, pasti kamu capek banget malam ini"


“Iya Bang, Abang sendiri nggak tidur?"


“Tidurlah dulu Sayang, Abang belum ngantuk, cup, selamat malam sayang, cup, selamat malam calon anak-anakku"


“Seandainye aje usia kandungannye 9 bulan dan calon anak gue nggak kembar, pasti gue udah ngajak main do'i... sayangnya waktu itu dokter Amira bilang kalo bini hamil kembar harus puasa dulu... ya Allah Salma, nggak pernah Abang liat kamu secantik ini sebelumnya. Malam ini kamu cantik banget Sayang" gumam Jono dalam hati.


Akhirnya malam itu juga Jono bergabung ke bawah selimut dan menghusap-husap perut Salma.


“Mmmmh... Abaaang... kok belum tidur sih? Alma udah ngantuk niiih" Salma yang merasa terusik merengek manja.


“Alma, sebenarnya Abang nggak kuat nih Sayang, lagi pengen Abang, tapi..."


“Iiiish Abang! Nggak inget dokter Amira ngomong apa waktu itu? Emangnya Abang mau Alma keguguran lagi? Ini kan bayi kembar Abang bukan satu, kalopun bayi satu kan juga harus nunggu usia 9 bulan dulu Abang"


“Iya maaf, ya udah deh Abang pasrah aja, emang harus puasa dulu sampe' lahiran" ujar Jono yang kemudian bergabung menelusuri alam mimpi bersama istrinya.