A Gold Titanium

A Gold Titanium
Namaku Alexa



"Si*l!!! Bagaimana hal ini bisa terjadi?" Teriak Johan.


"Maaf, Tuan. Mereka yang di tugaskan mengawasi tempat itu sudah tidak bernyawa. Tidak ada yang bisa menjelaskan kejadian semalam"


Pria berpakaian rapi, berkacamata. Pablo, begitulah orang memanggilnya. Dia adalah orang yang bertugas mengurus perintah dari Johan.


Johannes Aprela Grafedy. Pria yang mirip dengan Fred. Memiliki mata abu-abu dan rambut pirang. Kulitnya putih bersih. Dia adalah pemilik perusahaan terkenal, seorang "ayah" dan kakak tertua Fred. Usianya 53 tahun.


"Apa kau sudah memastikan tempat itu dengan benar?"


"Kami sedang memeriksanya Tuan. Tapi, dengan ledakan sebesar itu, akan sulit untuk bertahan. Dan juga, sulit bagi kami untuk mengetahui siapa dan berapa orang yang tewas. Karena ledakan itu bisa menghancurkan daging dan tulang tanpa tersisa" ucap Pablo.


Ruangan yang cukup besar dengan perabotan yang mewah, membuat ruangan itu terlihat nyaman. Namun, ruangan itu sangat mematikan, bagi siapa saja yang masuk tanpa persetujuan.


"Cari saja! Dan berikan hasilnya padaku! Tapi, jangan biarkan siapa pun tahu tentang hal ini"


"Baik, Tuan"


Pablo segera pergi dari ruangan itu, dan melaksanakan pekerjaan yang tidak sebentar.


"Anak itu sangat cerdas. Bahkan lebih cerdas dari anak-anakku yang lain. Tapi, dia juga sangat berbahaya" pikir Johan.


...***...


Suara tawa memenuhi sebuah ruangan. Bau asap rokok dan minuman keras menyebar hingga tercium di depan pintu.


"Sudah ku duga. Dia memang temanku yang paling setia. Dia rela membunuh anaknya demi diriku. Bajing*n!!!" Ucap Mathew. Tertawa.


Pria paruh baya itu tertawa lagi dengan kencang. Dia di temani beberapa wanita dan juga pria yang setara dengannya.


"Kau benar! Tapi, sayang sekali dia harus mati seperti itu. Bukankah lebih baik jika tubuhnya di berikan pada hewan buas?" Seorang pria lainnya ikut tertawa. Simon.


"Tidak apa! Itu saja sudah cukup untukku. Aku tidak perlu lagi ketakutan karena wanita licik itu" ucap Mathew.


"Tapi, bukankah selama ini Johan menyembunyikannya? Apa kau tidak curiga? Mungkin saja kematian itu di palsukan" ucap pria lain. Frank.


"Hahhaha, itu tidak mungkin. Aku sudah mengenalnya cukup lama. Dia akan menyingkirkan apapun dan siapa pun untuk menyelamatkan kursi emas miliknya" jawab Mathew.


"Hhaha kau benar"


"Sudahlah. Untuk malam ini, kita rayakan kemenanganmu, Mathew. Jangan bicarakan orang yang sudah mati" ucap Simon.


"Hohoho, baiklah. Mari kita berpesta. Berikan aku minuman!" Ucap Mathew.


Mereka saling menuangkan minuman dan saling bersulang sebelum meneguk minuman itu "bersulang!!!".


...***...


"Aarggghh!!!"


Pria tinggi, usia 29 tahun. Jake. Melempar semua barang-barang yang berada di rumahnya. Menjatuhkan apapun yang ada di atas meja. Berserakan. Benda yang mudah pecah tidak terlihat lagi bentuknya.


"Kenapa? Kenapa mereka membunuhnya?!? Para bajing*n itu!!! Akan ku hancurkan kalian!!!" Teriaknya.


Tidak ada yang berani mendekatinya, di saat dia sedang berapi-api. Hanya memperhatikannya dari jauh. Saat amarahnya reda, barulah beberapa orang datang dan membersihkan tempat itu.


"Aku tidak pernah melihat Tuan semarah ini" ucap seorang wanita yang berada di luar rumah.


"Kamu baru bekerja disini selama seminggu, tahu apa kamu?" Jawab wanita lainnya.


"Hehe. Lalu, kenapa Tuan seperti itu?"


"Ah, sulit di jelaskan. Kamu kan baru bekerja seminggu yang lalu"


"Katakan saja. Aku orang yang cepat mengerti"


"Sepertinya, gadis yang di sukai Tuan meninggal. Katanya, mereka berdua menjalani hubungan kekasih"


"Ya Tuhan... Sedih sekali nasib mereka"


"Benar kan? Aku juga sedih mendengarnya. Karena itu Tuan sangat marah. Kematian gadis itu juga sangat tidak wajar, tapi, selain itu aku tidak tahu lagi"


"Tidak wajar bagaimana?"


"Aku tidak tahu. Tapi, hubungan mereka juga sangat aneh. Di lihat dari luar, mereka bukan seperti sepasang kekasih, melainkan rekan kerja. Gadis itu selalu datang ke tempat ini jika di butuhkan. Mereka pun hanya mengobrol sesuatu yang tidak dimengerti" ucapnya.


"Apa mungkin, cinta sepihak?" Tanyanya.


"Entahlah. Ada yang bilang, gadis itu jatuh cinta pada Tuan, tapi Tuan tidak menyukainya karena penampilannya. Wajahnya sama sekali tidak menarik"


"Kamu bohong ya? Bilang saja kalau kamu iri dengan wajah gadis itu. Kalau gadis itu memang tidak menarik, bagaimana Tuan bisa suka? Ada-ada saja kamu"


"Benar kok! Aku juga tidak tahu, kenapa Tuan menyukainya. Sepertinya, gadis itu cukup pintar mengambil hati Tuan"


"Iya deh iya, aku percaya, hahahha"


"Kamu mengejekku ya? Aku berkata jujur, lho! Bahkan, hanya gadis itu yang berani masuk ke rumah dan meredam amarah Tuan"


"Iya, baiklah, aku percaya" ucapnya sambil tersenyum lebar.


"Wajahmu tidak berkata begitu!"


...***...


Alan sedang memberikan informasi-informasi tentang kejahatan yang selama ini terjadi di negara mereka. Melalui layar di depannya.


"Dia selalu mengganti penampilannya. Bahkan sulit di lacak"


Tidak ada wajah yang terlihat jelas di layar. Hanya sebagian badan, atau kepala yang tertutup sesuatu, seperti hoodie, topi, rambut yang panjang, atau sejenisnya.


"Pada tahun 20xx, saat mereka mencuri uang dalam jumlah yang sangat fantastis, hanya 15 orang yang berhasil di tangkap, dan mereka tewas sebelum mengatakan sesuatu. Kematian Menteri Luar Negeri sangat misterius. Tapi kita menemukan fakta dari pembunuhnya. Dia adalah orang yang sama yang membunuh presiden ke 7, lima tahun yang lalu" ucapnya.


"Kejadian pembunuhan presiden terjadi di tahun yang sama saat bank negara di curi" salah seorang berbisik.


"Benar. Dia mengalihkan perhatian dengan membunuh presiden" sambung yang lainnya.


Ruangan yang luas, berisi meja panjang dan 12 kursi di sisi kiri dan 12 di sisi kanan, serta 1 kursi untuk pembicara utama.


"Dia merupakan dalang dari setiap kejadian. Dan sekarang kita berhasil menangkapnya" ucap Alan.


Seseorang mengangkat tangannya.


"Bicaralah"


"Apa dia akan di hukum? Apakah ada hukuman yang layak untuknya?" Tanya orang itu. Wanita berusia 27 tahun. Rose.


Alan tersenyum. Lalu, kembali duduk d kursinya.


"Pemerintah ingin menghukumnya. Bahkan mereka sangat waspada dengan kehadirannya"


Orang-orang yang berjumlah 15 orang di ruangan itu, menatap penuh tanya.


"Sebanyak 20 kasus penggelapan dana berhasil di bongkar, hampir 9% pejabat negara di hukum karena bersangkutan. Termasuk Presiden dan Menteri Luar Negeri" ucap Alan.


"Apa maksudnya?" Bisik yang lain.


"Maaf pak. Bukankah penggelapan itu berhasil di bongkar karena kita yang menyelidikinya?" Tanya seseorang.


"Benar" jawab Alan.


Semua orang yang berada di dalam ruangan merasa buntu.


"Lalu, apa hubungan kasus korupsi itu dengannya?"


"Setiap kasus berhubungan dengannya. Dan mulai dari sekarang, kita akan menyelidiki kasus ini. Tugas ini menjadi pekerjaan semua orang. Kumpulkan setiap bukti, jangan meninggalkan celah walaupun hanya sedikit. Mungkin itu akan membantu" ucap Alan.


"Baik"


Ruangan itu menjadi sunyi, hanya suara-suara kertas di tumpuk yang sedang di bereskan. Orang-orang sedang terpacu pada pikirannya sendiri.


...***...


Wanita yang selalu mengubah penampilannya, menggunakan rambut palsu atau kacamata, serta bintik hitam di wajahnya. Sekarang tampak jauh berbeda.


Karena kehilangan kesadaran, Alexa di bawa ke rumah sakit untuk di periksa. Wajahnya di bersihkan dan segala jenis benda yang terpasang di tubuhnya di lepaskan.


"Dia baik-baik saja. Hanya sedikit terluka di kepala dan mulut bagian dalam. Sepertinya, dia mendapatkan pukulan yang cukup keras. Sebenarnya, apa yang terjadi?" Tanya seorang dokter wanita.


Sophia. Wanita paruh baya yang memiliki aura keibuan yang sangat pekat.


"Aku tidak tahu. Mungkin dia sempat di pukul oleh mereka karena melawan" jawab Zain.


Rumah sakit itu adalah salah satu tempat yang berada di bawah pengawasan INCREASE, dokter yang menangani pun adalah orang-orang terpilih.


"Penyamarannya sangat bagus. Mereka bahkan tidak tahu wajah asli dari wanita itu" ucap Sophia.


"Ya, dia cukup cerdas dalam berpenampilan"


"Kamu bisa melihatnya sekarang. Dia akan sadar sebentar lagi. Sebaiknya kamu perhatikan gerak-geriknya. Jaga dia, agar tidak melarikan diri lagi"


Zain mengangguk. Dan berjalan menuju ruangan tempat Alexa berbaring. Namun, saat Zain membuka pintu dan masuk, dia sedikit terkejut. Karena Alexa telah sadar dan menatapnya dari ranjang pasien. Selain itu, penampilannya pun sangat berbeda dari sebelumnya.


Wajah wanita itu pucat, tidak ada sedikit pun riasan. Namun, dia terlihat sangat cantik dan penampilannya sesuai dengan usianya.


"Kenapa? Apa kau akan mengatakan bahwa penampilanku sangat berbeda?" Tanya Alexa tanpa ragu.


Zain tidak mengatakan apapun, bahkan tidak menunjukkan ekspresi. Dia hanya berjalan masuk, dan duduk di sofa_yang berada di sisi ranjang.


"Tidak heran. Kau selalu melakukan apa pun untuk mengubahnya" ucap Zain.


Alexa tidak menjawab. Dia hanya menatap lurus pada pria di hadapannya. Pikirannya berbenturan dengan setiap kejadian.


"Alexa" ucapnya.


Zain menatap bingung pada wanita itu.


"Namaku Alexa. Itu namaku yang sebenarnya" ucap wanita itu lagi. Dia menunduk, menggenggam dengan kuat kain yang menyelimuti kakinya.


Alexa Zoe Grafedy, dan itu adalah nama yang sebenarnya. Ada kisah yang cukup menyedihkan karena nama itu. Dia memiliki bola mata berwarna hijau dan rambut yang hitam pekat. Wajahnya pucat saat itu, walaupun begitu dia sangat menawan.


Ruangan yang seharusnya hangat, terasa sangat dingin dan mencekam. Mereka tidak bisa membaca pikiran satu sama lain. Hanya bisa menebak apa yang akan terjadi.


...***...