A Gold Titanium

A Gold Titanium
Gadis Itu Adalah Alexa



Alan menceritakan semuanya pada Alexa. Termasuk saat dia melarikan diri dari Johan.


"Kau tumbuh menjadi anak yang pemberani. Sejak kecil, bakatmu sudah terlihat, aku selalu mengawasimu. Namun, saat usia mu baru menginjak 6 tahun, kau membunuh orang, dan dia adalah gurumu sendiri. Sejak saat itu, aku menjadi ketakutan, lalu melarikan diri" ucap Alan.


Alan menperlihatkan rasa bersalahnya. Dia menunjukkan ekspresi yang menyedihkan.


"Kenapa? Anda tidak merasa kasihan pada anak itu? Dia menderita selama hidupnya. Memanggil orang lain dengan sebutan "Papa" dan berharap kasih sayang. Kenapa anda tidak membawanya?" Tanya Alexa. Matanya berbinar.


Alan menarik napas berat. "Dia tidak akan mau ikut denganku. Bahkan, dia tidak mengenalku" jawab Alan.


Alexa memegang kepalanya, menutup wajahnya. Cerita itu sangat menyakitkan untuknya.


"Maafkan aku. Maafkan pamanmu ini. Kalau saja aku tidak menerima pekerjaan itu dan menculik adikku sen_"


"Dia akan tetap mati. Walaupun anda tidak bekerja dengan Johan, pria itu pasti akan melakukan apapun terhadap wanita itu. Dan pada akhirnya, wanita itu juga akan mati" ucap Alexa memotong kalimat Alan.


Alan menatap Alexa dengan rasa bersalah. "Aku telah membiarkanmu seperti ini. Wajah kalian terlihat sama, namun sifat kalian jauh berbeda. Aku yang membuatmu berada di dalam situasi ini. Maafkan aku..."


"Berhentilah mengatakan maaf padaku. Semua itu tidak akan mengubah apapun. Termasuk diriku" ucap Alexa.


Alexa menarik napas dengan berat, suaranya pun terdengar pelan. "Jadi, berhentilah" lanjutnya.


Di saat yang sama, tiba-tiba seseorang membuka pintu ruangan dengan keras, hingga menimbulkan suara.


"Clare?" Ucap Alexa saat melihat orang itu.


Clare terengah, dia menatap Alexa dengan wajah prihatin.


"Alexa..." ucap Clare.


Alexa menatap tajam pada Clare. Berpikir. "Bagaimana dia tahu namaku?"


"Semua orang sedang mencarimu saat ini. Mereka menganggapmu sebagai mata-mata!" ucap Clare.


Alexa langsung berdiri. Dia sangat terkejut mendengarnya. Namun, Alan sudah mengarahkan pistol ke arah kepalanya. Clare yang melihat hal itu pun terpaku.


"Diam dan ikuti! Kau tidak akan bisa lari dari tempat ini. Semua anggota sudah terlatih dan tempat ini cukup besar. Aku akan memikirkan cara untuk mengeluarkanmu" ucap Alan.


Alexa mengangkat tangannya. Lalu, mengikuti instruksi dari Alan. Clare hanya bisa menelan ludah dan berjalan ke arah Alexa, lalu memborgol tangannya.


...***...


Bagaimana rasanya jika semua pandangan berubah padamu? Yang mulanya senang, menjadi benci? Rasanya menyakitkan, bukan?.


Aku menyadarinya sekarang, rasanya sangat menyakitkan.


Aku tidak pernah di perlakukan dengan baik. Jadi, aku terbiasa dengan hal itu. Namun, perubahan sikap orang secara tiba-tiba, terasa asing bagiku.


Disini, di dalam ruangan yang hanya memiliki empat kursi dan satu meja. Cermin dua arah. Ruang interogasi. Aku duduk berhadapan dengan Neva.


"Bagaimana kau bisa kabur dari rumah sakit itu?" Tanya Neva. Wanita usia 42 tahun. Salah satu dewan.


Aku tidak tahu bagaimana harus bersikap. "Anda sudah tahu, saya bisa keluar dari mana pun sesuai keinginan saya"


"Siapa yang membantumu saat itu?"


Aku tersenyum sinis. Dia masih tetap betanya padaku, walaupun dia tahu bahwa aku tidak akan menjawabnya dengan benar.


"Apa anda akan menghukum orang itu?" Tanyaku.


"Itu urusan kami. Siapa orang itu?"


"Yang membantuku adalah diriku sendiri. Kalau anda tidak percaya, saya tidak peduli. Seharusnya anda juga sadar. Saya juga bisa masuk ke tempat ini dengan mudah" jawabku.


"Ya, kau sangat percaya diri hingga masuk ke dalam organisasi ini. Tapi, kau tidak bisa melindungi siapapun, termasuk orang yang menjadi kaki tanganmu. Kami pasti akan menemukannya" ucapnya.


Aku tidak tahu. Berapa banyak orang yang memperhatikanku di balik cermin dua arah. Dan bagaimana tanggapan mereka tentang percakapan ini. Walaupun sebenarnya, aku tidak mau tahu.


"Alexa. Bukankah itu namamu? Bagaimana kau bisa menyembunyikannya selama ini? Sayang sekali, namamu akan terkenal mulai sekarang. Orang-orang akan mengingat pemilik nama itu sebagai nama seorang penjahat" ucap Neva.


Aku menyeringai padanya. "Seorang penjahat? Bagaimana bisa? Aku tidak pernah melukai siapapun tanpa alasan. Lagipula, itu hanya sebuah nama, semua orang memilikinya"


"Kau sengaja mengubah isi pembicaraan. Tapi, kau tidak akan bisa berdali, karena semua bukti tertuju padamu"


"Bukti?" Tanyaku sambil tersenyum.


Wajah Neva terlihat merah padam. Dia terlihat seolah tidak mau lagi bicara padaku. Karena dia tahu, aku akan mengulur waktu dan tidak akan pernah menjawab pertanyaannya dengan benar.


...***...


Di dalam ruangan yang lain. Alan bertanya dengan beberapa orang terkait kasus yang terjadi. Dia menahan amarahnya agar tidak di curigai.


"Bagaimana hal ini bisa terjadi?" Tanya Alan.


"Kami tidak tahu, pak. Namanya tidak pernah di ketahui, begitu juga ciri fisiknya. Karena itu, kita tidak menyadari bahwa dia sudah bersama kita selama ini" jawab seseorang.


"Lalu, bagaimana kalian mengetahuinya?"


"Kami tidak tahu, bagaimana semua itu di mulai. Tapi, seluruh komputer di tempat ini menunjukkan data lengkap tentangnya" jawab yang lain. Anggota lembaga informasi.


Alan segera memeriksa komputer. Dan benar, dia melihat data milik Alexa. Hanya saja, tidak ada gambar Alexa di dalam sana. Hanya ada tulisan yang menggambarkan ciri fisiknya.


"Pak, kami juga menerima gambar wanita itu. Sepertinya, dia tidak pernah meninggalkan jejak digital dengan wajahnya, karena hanya gambar ini yang di gunakan"


Alan melihatnya. Wajah itu di gambar menggunakan animasi 3D dan di buat sangat mirip dengan Alexa.


"Dia terlihat berbeda" ucap seseorang.


"Iya. Di gambar itu terlihat lebih cantik. Apa karena dia tidak menggunakan riasan?" Jawab yang lainnya.


"Sepertinya begitu"


Alan terlihat kesal dan marah. Dia ingin menghapus semua yang di lihatnya sekarang. Namun, dia belum bisa melakukan apapun. Dia juga yakin, bahwa data dan gambar itu, baru di buat belum lama ini.


Di tempat yang lain. Ada beberapa orang yang sedang resah.


"Dia memang Alexa. Tapi, dia tidak seburuk yang kita pikirkan" ucap Clare.


"Dia sudah bertindak sejauh ini, membohongi semua orang, membuat identias palsu hingga kita tidak menyadarinya. Tapi, kau masih membelanya?" Tanya Erna.


"Apa maksudmu? Kau tidak tahu apa yang sudah di lakukannya selama ini? Dia banyak membantu kita" Tanya Clare kesal.


"Membantu? Yang aku tahu. Dia telah membunuh, mencuri, melakukan banyak hal jahat dengan kemampuannya. Bukankah bagus, kalau akhirnya identitasnya ketahuan? Kalau dia berada disini lebih lama lagi, bukan hanya kita, mungkin tempat ini juga akan hancur" jawab Erna.


Clare menatap tajam pada Erna. Sedangkan yang lain, mereka berdiskusi dengan pikiran masing-masing.


"Argh! Kalau di pikir-pikir. Dia benar-benar keterlaluan. Bisa-bisanya dia bekerja sama dengan kita? Mereka harus lebih teliti lagi saat memilih anggota" Brian menimpali.


Zain hanya terdiam di sudut ruangan. Dia memikirkan cara agar bisa membawa Alexa keluar. Sedangkan Kay, tidak tahu harus bersikap seperti apa, karena selama ini, tidak ada yang salah dengan sikap Alexa.


Hari itu, di lalui dengan kecemasan. Ada yang mencemaskan nasib INCREASE dan juga mencemaskan diri sendiri. Jika saja, penjahat seperti itu bisa masuk dengan mudah, bagaimana penjahat yang lainnya. Mereka berpikir begitu. Namun, ada beberapa orang yang berpikir sebaliknya. Mereka mendukung Alexa, karena dia telah membantu INCREASE melewati banyak masalah dan membantu mendapatkan informasi terbaru, bahkan menjatuhkan orang yang sudah lama menjadi target mereka.


Setelah Alexa di introgasi, dia di masukkan ke salah satu ruangan.


"Bagaimana hasilnya?" Tanya Greeta.


"Kami tidak bisa mendapatkan informasi apapun. Dia selalu berdalih" jawab Neva.


"Lalu, dimana dia sekarang?"


"Kami sudah menahannya di ruangan khusus. Tidak ada cara untuk bebas dari tempat itu"


Greeta mengangguk. "Itu bagus, tapi David memintamu untuk membawa gadis itu ke ruangannya"


"Ada apa?"


"Aku tidak tahu. Pria itu selalu penasaran dengan sesuatu. Kita tidak bisa menolak karena dia pemilik organisasi ini. Bawa saja gadis itu" jawab Greeta.


"Apa jangan-jangan..."


"Dia bukan pria seperti itu. Jangan berpikiran aneh"


Neva tersenyum dan mengangguk. "Ya ya, aku tahu. Aku harap dia bertemu wanita yang bisa membuatnya waras kembali. Anak itu suka melakukan apapun sesukanya"


Greeta membalas senyuman Neva. "Kau benar"


...***...