
1 2 3 dan seterusnya.
Mereka mati, atau mungkin hanya sekarat. Aku berlindung di balik meja yang tumbang, mengambil pistol yang ku selipkan di semacam ikat pinggang yang terpasang di paha kanan. Sesekali melihat keluar dan menembak orang yang ku lihat sebagai ancaman.
Semua yang ada disini, tidak akan mati semudah itu. Mereka juga memiliki senjata, walaupun di pintu masuk ada sensor barang logam. Setiap orang punya cara mereka sendiri untuk menyembunyikan sesuatu, apapun itu, asalkan mereka tidak mati.
"Kalian dimana?" suara Clare terdengar di telingaku.
"Keadaan sulit, kami tidak bisa keluar" jawab Brian.
Aku melihat ke kiri, ternyata dia ada di meja sebelah, sedang bersembunyi. Dia juga beberapa kali melepaskan peluru ke sembarang arah dan tidak mengeluarkan kepalanya.
"Aku akan kesana" sahut Zain.
Aku yakin, Zain dan Clare sudah berada di luar sekarang.
"Jangan, kau tetap disana! Aku dan Brian akan menyusul. Disini terlalu berbahaya!" ucapku.
"Dimana Kay?" Clare kembali bertanya.
"Aku tidak tahu, aku tidak melihatnya disini" jawabku.
"Dia di sebelahku, dia terluka" Brian menimpali.
"Bagaimana ini? Apa mereka akan baik-baik saja?" Tanya Erna cemas.
Aku tidak memperhatikannya. Tapi setelah dilihat lagi, memang benar Kay berada disana. Aku pun segera mencari cara agar bisa mendekati mereka.
"Aku akan kesana!" ucapku.
"Apa??"
Belum sempat mereka bicara, aku sudah berdiri, melepas peluru ke orang-orang itu. Lebih dari satu orang berhasil di tumbangkan, mereka pun bergerak mencari perlindungan. Aku berjalan cepat ke tempat Brian berada, tapi langkahku terhenti.
"Zain! Kau harus menyelamatkan teman-temanmu!" Ucapku.
"Aku akan masuk!" Ucap Zain.
"Jangan gila! Zain!!!" Terdengar teriakan Erna. Tapi, Zain tetap masuk ke dalam. Namun, Clare juga mengikutinya dari belakang.
...***...
"Untung saja meja disini di desain sangat kuat dan tebal, sehingga cukup menghabiskan waktu jika ingin melubanginya. Tapi, jika terus berada disini, kita akan mati" ucap Brian.
Zain dan Clare sudah berhasil masuk ke dalam. Dan mereka berada di meja tempat Kay berada.
Dua anggota tubuh Kay terluka, di bagian tangan dan kakinya. Aneh rasanya jika tidak ada yang terluka dalam kekacauan ini dan wajar jika dia terluka.
"Aku dan Brian akan mengalihkan perhatian mereka. Kau bantu Kay agar keluar dari tempat ini" ucap Zain berkata sambil mengeluarkan pistolnya.
"Tapi, dimana Zoe?" Tanya Clare
"Kalian pergi saja! Aku akan menyusul. Aku terjebak" ucap Alexa.
Zain dan Brian mengambil posisi siap, melepaskan peluru ke udara, dan menembak orang yang menyerang ke arah mereka. Setelah situasi sedikit aman, Clare membopong Kay dan segera membawanya ke arah pintu keluar. Zain dan Brian mengikuti mereka dari belakang sambil memperhatikan keadaan sekitar.
DUAAKK!!! Brian melayangkan tinjunya pada orang yang hendak menghalang dan tidak sengaja menjatuhkan sesuatu.
"Pay*dar*ku!!!" teriak Brian.
Zain segera menarik tangan Brian, karena sebuah peluru hampir mengenainya.
"Tunggu, bagaimana aku bisa menyusui anakku nanti???" ungkap Brian, mencoba menahan Zain.
Benda itu adalah gumpalan silikon untuk membentuk payud*r* palsu.
Clare membawa Kay ke tempat aman dan Zain menarik Brian ke tempat yang sama. Setelah bersembunyi, terlihat beberapa orang menginjak gumpalan palsu itu. Mereka bersembunyi di balik tembok untuk sementara, karena seseorang mengeluarkan senjata dengan jutaan peluru.
"Teganya mereka menginjak sesuatu yang berharga itu" rengek Brian.
"Jangan bodoh, kau bukan wanita" ucap Zain.
"Kau tidak tau, betapa sulitnya aku memakai benda itu" ketus Brian.
Zain hanya menggeleng tidak percaya dengan ucapan Brian.
Mereka melihat ke depan, dan benar saja, pintu keluar sudah di depan mata. Hanya beberapa langkah lagi mereka bisa keluar, tapi keadaan ini membuat sesuatu yang dekat terasa sangat jauh.
"Mereka berhenti, cepat!!!" Brian mengatakan itu ketika dia keluar dari persembunyian dan mengulurkan pistolnya.
Clare langsung berjalan cepat sambil membawa Kay. Zain dan Brian berjalan mengikuti. Mereka masih dalam posisi siap. Setelah tiba di pintu keluar, mereka langsung masuk ke dalam mobil.
Alvin langsung memberikan perawatan darurat pada Kay.
"Dimana Zoe?" Tanya Alvin.
Brian langsung menghidupkan mesin mobil.
"Dia masih di dalam" jawab Clare.
"Aku akan kesana" ucap Zain.
Erna menahan tangan Zain. "Dia akan menyusul. Lebih baik kita pergi dari sini"
"Dia sendirian!!!" Ucap Zain dengan keras.
Brian langsung menekan gas dan mobil berjalan dengan cepat.
"Jangan bodoh! Tutup pintunya dengan benar!" Ucap Brian.
Zain merasa marah karena tidak bisa melakukan apapun. "Sial!"
Zain menutup pintu mobil dan mobil melaju dengan cepat, meninggalkan Casino.
...***...
"Aku tidak menyangka akan bertemu wanita cantik di tempat ini" ucap Vivian.
Vivian. Wanita simpanan Johan. Dia adalah orang yang menjadi target kami malam ini. Umurnya sudah separuh, tapi penampilannya sungguh memuakkan. Dia masih saja menjadi perempuan nakal di usia tua.
"Kau takut?" Tanyaku.
Dia tertawa dengan keras. "Takut? Well... Johan sudah memperingatkanku agar tidak melakukan sesuatu yang berbahaya. Tapi, aku malah berada di hadapanmu"
"Aku cukup berbisa untuk membunuhmu. Lima menit, ah tidak! Satu detik. Aku bisa melenyapkanmu dalam satu detik" ucapku.
Wajahnya pucat. Dia ketakutan. Dia masih terlihat sama seperti pertama kali saat aku mau membunuhnya. Namun, saat itu nyawanya selamat karena Johan datang untuk menghentikanku.
Vivian dan aku berada di sebuah ruangan khusus. Dia tidak menyangka aku akan masuk dan menemuinya. Dia hanya bisa melihat para penjaganya yang terkapar di bagian pintu.
"Hentikan penjualan anak-anak di bawah umur! Kalau mau! Jual saja tubuhmu! Kau bisa melakukannya, kan? Satu pria saja tidak cukup buatmu, jadi tidak ada salahnya jika kau mencoba" ucapku.
"Pria-pria itu tidak suka wanita tua" ucapnya.
"Tua? Kau baru menyadarinya sekarang?"
Dia tidak bergerak sedikit pun. Matanya terus menatap ke arah ku. Melihat apapun yang ku lakukan. Padahal, aku hanya berdiri sambil mengarahkan pistol padanya.
"Berdiri sekarang!" Ucapku lantang.
Dia berdiri secepat mungkin. Baju yang di kenakan membuat dia sedikit sulit untuk bergerak. Baju itu terlihat sempit dan tidak nyaman.
Aku melemparkan kunci mobil padanya. "Nyalakan mesinnya!"
Dia mengambil kunci yang terjatuh di lantai. Vivian tidak melawan dan hanya menuruti perintahku. Kami pun berjalan ke tempat mobil terparkir.
"Banyak sekali korban" pikirku saat melewati orang-orang yang terkapar.
Saat aku keluar, tidak ada lagi keributan. Jadi, aku bisa keluar dengan bebas.
Vivian menyetir mobil ke tempat yang aku katakan.
"Kau... mirip sekali dengan wanita yang ingin ku hindari. Dia baru saja mati, tapi aku malah bertemu lawan baru. Si*l!" ucap Vivian.
"Lebih baik kau diam!" Ucapku.
...***...