A Gold Titanium

A Gold Titanium
Pardon?



"Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya. Apa kau baru bekerja disini?" Tanya Mathew padaku.


"Benar, Tuan. Saya sudah bekerja selama seminggu disini" jawabku.


"Tubuhmu bagus. Aku bisa membayarmu lebih mahal, jika kau mau menemaniku malam ini. Mungkin setara dengan gajimu selama setahun" ucap Mathew.


Aku tidak menjawabnya dengan cepat. Ada beberapa kalimat yang harus ku ucapkan secara hati-hati.


"Maaf, Tuan. Sepertinya saya banyak pekerjaan. Lagi pula, saya tidak secantik nona-nona yang selalu menemani Tuan" ucapku.


"Tidak... kau sangat menarik. Lekukan tubuhmu sangat sempurna, aku ingin tahu bagaimana bentuk asli tubuhmu saat kau melepas seragam itu" ucapnya.


"Menjijikan! Dasar sampah! Sepertinya aku harus menuangkan cairan pembersih ke dalam otaknya!" Pikirku kesal.


Jantungku berdetak kencang karena menahan amarah dan tangan kananku mengepal.


"Bagaimana? Kau mau? Aku memiliki banyak uang. Apapun yang kau inginkan, bisa ku berikan. Apapun itu" ucapnya dengan percaya diri.


Aku telah selesai membersihkan kamar itu. Tapi, tidak bisa keluar karena dia terus berbicara padaku. Saat ini, aku hanya bisa menggenggam gangang vacum cleaner dengan kuat karena marah. Aku harus bersabar saat menghadapinya.


"Tuan. Anda sangat tampan dan sangat kaya serta terkenal. Apapun bisa anda miliki. Saya tidak berhak berada di sisi anda, Tuan" ucapku.


"Ohh... jadi kau menolakku?" Ucap Mathew.


Mathew beranjak dari ranjang dan langsung berdiri. Dia berjalan pelan mendekatiku.


"Bagaimana jika aku memaksa? Kau tidak akan mendapat apapun dan tidak akan ada yang bisa menolongmu. Lebih baik, kau melayaniku malam ini. Jika pelayananmu bagus, aku akan memberikan harga yang mahal untukmu" ucapnya.


Sepertinya kesabaran ini sudah hilang. Aku berniat untuk membunuhnya sekarang. Dia bukan apa-apa di bandingkan anak 15 tahun. Aku bisa membunuhnya tanpa suara dan dia akan merasakan sakit yang luar biasa.


Untungnya hal itu tidak ku lakukan. Seseorang mengetuk pintu kamar dan segera masuk.


"Tuan Johan sudah tiba. Dia sedang menunggu anda di bawah" ucap orang itu.


Mathew mengeluh "baiklah"


Mathew segera mengambil pakaiannya dan berjalan melewatiku.


"Kali ini, kau beruntung" ucap Mathew padaku.


Setelah Mathew keluar, aku pun segera keluar untuk meletakkan kembali vacum cleaner yang aku gunakan. Setelah itu, aku berjalan ke kamar yang terdapat dua orang pria yang tidak sadarkan diri.


"Bagaimana?" Tanyaku pada Kay dan Zain yang juga berada disana.


"Dia sudah menyuruh orang untuk memperbaiki ponselnya. Kami juga berhasil mendapatkan semua data dari ponsel itu" ucap Zain.


Zain memberikan sebuah flashdisk berukuran sangat kecil padaku. Benda itu bisa menyalin setiap data ponsel walaupun ponsel dalam keadaan mati atau rusak. Kami hanya tinggal memasukkannya melalui lubang charge pada ponsel dan data langsung tersalin.


"Bagus" ucapku.


"Lalu, bagaimana dengan mereka?" Tanya Kay.


"Lepaskan alat itu dan ganti pakaian mereka. Mereka akan segera sadar" jawab Zain.


Kay dan Zain melepaskan alat infus dan melipatnya dengan baik di dalam sebuah tas besar. Lalu, tas itu di berikan padaku.


"Kau pergi saja dulu, kami akan segera menyusul" ucap Zain padaku.


Aku mengangguk dan segera meninggalkan ruangan itu, membawa tas besar yang tertutup oleh selimut putih. Membuatnya terlihat seperti sprei kotor yang harus di ganti.


Setelah meletakkan semuanya ke dalam mobil dan mengganti pakaianku. Aku kembali masuk ke dalam hotel. Mencari ruangan yang merupakan tempat mengontrol CCTV.


Di dalam ruangan itu terdapat dua orang. Mereka terlihat bingung karena salah satu layar CCTV terlihat kusut.


"Ada apa?" Tanyaku.


"Layarnya tidak berfungsi" jawab salah satunya.


"Maaf, anda siapa?" Tanya yang lain.


"Di luar, aku melihat orang yang mencurigakan. Sepertinya dia yang membuat layarnya seperti itu" jawabku.


"Apa anda yakin? Dimana dia sekarang?"


"Di lantai paling atas. Aku melihat dia ingin mencongkel salah satu kamera" jawabku.


"Cepat, sebelum dia kabur"


Mereka pun segera pergi dan meninggalkan ruangan. Hanya aku yang tersisa.


Aku duduk di depan layar. Menggerakkan mouse dan menekan beberapa tombol di keyboard. Menghapus semua kejadian yang terekam kamera.


Setelah selesai aku segera bangkit dari kursi. Namun, langkahku terhenti karena melihat wajah orang itu di dalam layar. Wajah Johan.


"Ini baru permulaan, Papa. Aku akan memperlihatkan kemampuanku dan membuatmu menyesal selamanya. Aku akan memberikan neraka yang telah lama kau impikan"


Aku keluar dari ruangan. Berjalan menuju lift dan segera keluar dari hotel itu. Kamera CCTV akan kembali berfungsi setelah lima menit, sehingga tidak ada jejak diriku yang tertinggal di dalamnya.


Aku masuk ke mobil. Zain dan Kay telah menungguku di dalam.


Mobil melaju meninggalkan tempat parkir, menuju badan jalan. Mobil yang kami gunakan telah berbaur dengan kendaraan lainnya.


Di tengah perjalanan, ponsel milikku berdering.


"Sepertinya mereka sudah sadar" ucapku.


Aku mengangkat telepon itu.


"Aku melihat tulisan di kertas yang mengatakan kami harus menghubungi nomor ini. Apa yang sudah terjadi?" Tanya orang itu.


Dia adalah pria yang seharusnya menjadi pengawal yang baru.


"Kau sudah sadar? Bagaimana tidurnya? Nyenyak? Maaf karena telah memaksamu untuk tidur" ucapku.


"Siapa kau? Apa maksudmu?" Tanya orang itu.


"Aku bisa mengadukan kalian karena lalai dalam bekerja. Aku memiliki bukti bahwa kalian tidur di kamar hotel dan mengabaikan pekerjaan. Apa kalian tahu resiko karena lalai dalam pekerjaan?" Tanyaku.


Orang itu diam. Sepertinya sedang mencerna semua yang sedang terjadi.


"Ap apa yang kau lakukan?"


"Tenanglah. Kau tidak akan mendapat hukuman apapun. Bersikaplah seolah tidak terjadi apapun. Selama kau berpura-pura, semua akan baik-baik saja" ucapku.


Dia ingin mengucapkan sesuatu. Tapi, aku segera memutuskan komunikasi. Melepaskan kartu yang ku gunakan dan membuangnya keluar jendela mobil.


Perjalanan kami menghabiskan waktu selama 1 setengah jam. Karena jalanan yang padat. Selama berada di mobil, Zain dan Kay berbicara beberapa hal, sedangkan aku hanya diam memperhatikan. Mereka seperti sedang menjaga pembicaraan yang tidak boleh ku ketahui.


Setelah tiba di apartemen. Clare dan Brian sudah duduk dengan berbagai macam makanan di atas meja. Mereka juga sudah kembali berpenampilan seperti biasa.


"Kenapa kau tidak berdandan saja seperti tadi? Mataku lebih nyaman melihatnya" ucap Brian.


Clare melotot ke arah Brian. "Habiskan saja makananmu! Jangan urusi penampilanku!"


Brian mengeluh. "Kalau begini, aku tidak akan betah tinggal disini. Lihat saja dua wanita ini. Kalian sama sekali tidak menarik! Aku hanya melihat ada empat pria dan seorang bibi di apartemen ini"


Aku melotot padanya. Enak saja dia memanggil aku "bibi".


"Kami tidak akan bisa bekerja kalau menggunakan pakaian lain. Lebih baik kau diam!" Ucapku menyela.


"Kalian dengar kan? Mana ada wanita yang berbicara kasar seperti ini. Apa lagi Clare, lihat saja cara bicaranya pada pria tua tadi, sangat keterlaluan" ucap Brian.


"Itu hanya peranku dalam rencana ini. Kau juga tahu, kan?" Ucap Clare kesal.


"Iya, aku tahu. Tapi, dengan cara seperti itu, mana ada pria yang akan tertarik pada kalian? Benar kan?" Tanya Brian. Dia menoleh pada Kay dan Zain, meminta pendapat.


Tapi, Zain dan Kay hanya diam. Tidak ingin mempedulikannya.


"Dasar tak tahu diri! Memangnya ada wanita yang mau denganmu?" Tanya Clare kesal.


"Tentu saja"


"Sudahlah. Sebaiknya kita makan. Brian, jaga ucapanmu. Dan Clare, jangan mudah marah, dia hanya bercanda" ucap Kay mencoba menghentikan mereka.


"Aku tidak bercanda" Brian menimpali.


Clare hampir saja melempar kepala Brian dengan gelas. Untungnya, Kay menahan tangan Clare dan menenangkannya.


Aku duduk di hadapan Brian, mengambil minuman kaleng dan menatap tajam padanya.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya Brian karena merasa risih.


"Setelah ku perhatikan, kau juga tampan" ucapku.


Brian tersenyum malu. "Aku sudah tahu itu. Kau saja yang baru menyadarinya"


"Tapi sayang..."


Brian mengernyitkan keningnya.


"Aku tidak tertarik padamu. Dan sebaiknya, kau lebih berhati-hati saat bicara. Karena ucapanmu bisa membunuhmu" ucapku.


"Apa? Siapa juga yang mm...mmm"


Aku menyumpal mulut Brian dengan roti, agar dia tidak bisa berkata seenaknya.


"Kau makan saja roti itu" ucapku.


Aku pun berdiri dan pergi. Tidak sedikit pun makanan masuk ke dalam mulutku.


"Aku tidak sabar. Aku ingin segera menghancurkan mereka. Aku benci melihat mereka tertawa bersama" pikirku saat mengingat Johan dan beberapa rekannya.


Di atas balkon. Aku juga memikirkan seseorang. Dia adalah Jake. "Bagaimana kabarnya sekarang? Aku rindu melihat senyumnya setiap melihatku"


...***...