A Gold Titanium

A Gold Titanium
Jangan Sebut Namaku



"Si*l! Siapa mereka?!" Tanya Johan dengan kesal.


"Mereka anggota INCREASE, Tuan. Sepertinya, anggota itu muncul lagi" jawab Pablo.


"Hah... mereka selalu saja ikut campur dalam urusanku"


Di dalam kamar yang luas. Terdapat kasur yang tertutup sprei merah dan selimut tebal yang berwarna putih. Terlihat seorang wanita berpakaian terbuka sedang berbaring di atasnya, dia memegang gelas berisi wine merah di tangan.


"Anak itu... siapa namanya? Ah! Jake! Bukankah biasanya dia yang mengurus masalah ini?" ucap wanita itu. Vivian.


"Dia tidak akan berguna saat ini! Hatinya terlalu lemah!" Ucap Johan.


Johan hanya menggunakan celana panjang hitam. Sedangkan bagian atas tidak tertutup apapun. Wajahnya kusut karena berita buruk yang di terimanya malam ini.


"Gadis itu. Harusnya kau tidak membunuhnya dengan mudah. Dia bisa berguna untuk banyak hal. Beruntung dia mati. Kalau tidak, dia akan menjadi senjata mematikan untuk menyerangmu" ucap Vivian.


"Tutup mulut si*l mu itu!!! Sebaiknya kau diam daripada mengatakan hal yang tidak berguna!!! Kau sendiri hanya diam tanpa melakukan apapun!!!" Bentak Johan.


Vivian beranjak dari kasur dan berjalan mendekati Johan.


"Aku bisa melakukan apapun. Kamu sangat tahu soal kemampuanku. Bagaimana?" Ucap Vivian sambil mengusap lembut dada Johan.


"Jangan mengatakan hal bodoh! Kau hampir mati saat melakukannya" ucap Johan.


"Saat itu, anak perempuan kesayanganmu masih hidup. Dia yang selalu menggagalkan usahaku. Saat ini, aku bisa melakukan apapun dengan bebas. Aku sudah lama menunggu kesempatan ini"


Pablo menatap Johan dengan rasa tidak percaya diri. Mereka tahu persis apa yang akan terjadi, gadis yang di maksud tidak di temukan dalam keadaan mati. Karena hingga saat ini, mereka tidak menemukan jejak kematian satu orang pun di dalam gedung yang hancur.


"Ada apa, sayang? Wajahmu terlihat pucat. Aku tahu, kamu mencintaiku. Aku juga mencintaimu dan aku ingin menunjukkannya dengan menjadi berguna untukmu" ucap Vivian.


"Baiklah. Lakukan apapun yang kau mau" balas Johan.


"Tapi, Tuan.." Pablo ingin menghentikan Johan, namun tatapan tajam Johan lebih dulu membuatnya berhenti berbicara.


Pablo pun melangkah pergi dari ruangan itu. Meninggalkan dua orang di dalamnya. Johan langsung kembali duduk di sofa dengan pikiran yang berat.


Vivian tersenyum puas. "Karena dia sudah mati. Aku ingin mengetahui nama asli dari gadis itu. Kamu selalu melarangku untuk mengenalnya. Aku juga tahu, tampilan dia saat itu bukan penampilan yang sebenarnya"


"Kau tidak perlu tahu. Fokus saja pada tujuanmu" ucap Johan.


"Ternyata benar. Kau menyesali keputusanmu untuk membunuhnya. Sejak dulu, dia masih menjadi anak kesayanganmu, bahkan saat dia mati"


"Aku tidak menyesal" ucap Johan.


Vivian menatap Johan sekilas. Tangannya sedang menuangkan sebotol wine ke dalam gelas.


"Menyedihkan. Dia sangat mencintai Pamela hingga tidak berani membunuh anak dari wanita itu. Saat membunuh gadis itu pun, dia menyesal. Manusia menyedihkan" Pikir Vivian.


...***...


Dua hari berlalu, sejak kami menyelamatkan anak-anak itu. Mereka mengalami trauma yang tidak terlalu parah. Untungnya mereka tidak melihat kematian dengan cara mengenaskan. Pelaku hanya mengancam dan membunuh secara diam-diam.


"Orang yang pernah menghalangi jalan kami. Sekarang menjadi salah satu dari tim ini" ucap Zain.


"Bagus, kan? Ini pengalaman pertama untukku" ucapku.


"Menyelamatkan orang?"


Aku tersenyum "bukan, tapi bekerja sama"


Hanya ada kami berdua di tempat ini. Ruang latihan.


"Apa orang-orang itu tidak bekerja sama denganmu?" Tanya Zain.


"Siapa? Orang-orang yang mencuri uang denganku? Jangan salah paham. Mereka semua adalah bawahanku. Tidak ada kerja sama antara atasan dan bawahannya"


"Aku akan menghentikan mereka. Seperti yang kalian inginkan. Kehancuran" ucapku.


"INCREASE tidak menginginkan kehancuran. Kami hanya ingin dunia menjadi lebih baik" ucapnya.


Aku tertawa kecil. "Lebih baik seperti apa? Kalian bukan tuhan yang bisa melakukannya, sekeras apapun mencoba. Bahkan, dalam satu keluarga, ada seorang b*jingan yang sulit di singkirkan. Bukan karena tidak bisa. Tapi, nyawa seorang b*ajingan pun cukup berharga bagi keluarganya. Mereka akan sedih dan terluka jika terjadi sesuatu pada b*jingan itu"


"Setiap nyawa berharga. Apa itu maksudmu? Lalu, kenapa kau membunuh para b*jingan itu?" Zain menatap ke arah ku.


"Aku tidak membunuh mereka" jawabku.


"Tidak membunuh?"


"Kau pasti mengetahui semuanya dari berita yang tersebar. Soal presiden dan beberapa pejabat negara yang mati. Sayangnya, bukan aku yang membunuh mereka" jawabku.


Dia sedang menggali informasi dariku. Licik sekali. Caranya yang mendekatiku dan menanyakan beberapa hal cukup bagus. Aku tahu, informasi di dalam INCREASE sangat bagus dan tidak terlihat celah. Namun tetap saja, Informasi hanya sebuah keterangan. Walaupun terdapat fakta di dalamnya, bukan berarti semua fakta itu benar.


"Maaf. Aku tidak bisa menjelaskan lebih banyak padamu" ucapku.


Aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya. Dia tidak tertebak dan sulit membaca raut wajahnya.


"Alexa..." ucapnya.


Aku spontan menoleh pada pria itu. Tidak seharusnya dia memanggil namaku.


"Kenapa namamu tidak pernah di ketahui siapapun?" Dia bertanya. Tatapannya lurus ke arah ku.


Aku hanya terdiam. Pertanyaan itu sulit untuk di jawab, karena aku tidak mengerti kenapa dia bertanya hal itu secara tiba-tiba.


"Sekarang pun, identitas mu di palsukan"


"Cukup! Jangan bertanya apapun lagi!" Ucapku dengan keras.


Aku berjalan dan membuka pintu keluar.


"Jangan pernah memanggil ku dengan nama itu" ucapku datar.


Aku tidak ingin membahasnya. Aku ingin marah, tapi tidak ada alasan untuk marah. Aku pun berjalan keluar.


Saat aku berjalan keluar, aku memikirkannya. Aku dan Zain pernah bertemu, sebelum pertemuan kami di gedung.


"Ya, dia adalah Zain yang sama yang ku temui di panti asuhan. Tapi, kenapa aku tidak mengenalnya sejak awal? Dia memang sudah mencariku sejak awal" pikirku.


...***...


Di ruang tengah. Perkumpulan.


Pukul 8 malam. Aku dan 4 orang lainnya sangat fokus dengan rencana yang telah di siapkan.


"Kita akan melakukannya besok" ucap Kay.


"Baiklah. Aku juga sudah mencatat setiap jadwal Mathew" ucap Alexa.


"Aku harap kita berhasil" Clare menimpali.


"Hah! Kita akan menghadapi orang yang cukup berbahaya. Zoe! Kau harus menjaga dirimu dengan baik! Aku tidak bisa menjamin keselamatan siapa pun. Disini, kita menyelamatkan diri sendiri" ucap Brian.


Alexa mengangguk. "Aku akan mengingatnya"


Semua rencana telah matang, hanya tinggal melakukannya. Tampak mudah jika hanya di ucapkan, namun akan terasa sulit jika di lakukan. Aku harap, semuanya berjalan sesuai rencana.


...***...