
Kekhawatiran hanyalah sebuah rasa. Tidak nyata. Pikiran-pikiran buruk yang memasuki seseorang, menebak-nebak kejadian yang akan datang dengan rasa cemas. Bahkan, sesuatu yang mungkin tidak akan terjadi.
"Sumbangan sebanyak 200 juta dollar AS (sekitar 2,8 triliun rupiah) tidak di ketahui letaknya atau lebih tepatnya menghilang. Perusahaan Grafedy dan pemerintah sedang berusaha untuk menyelidikinya. Mereka memberikan beberapa informasi untuk kita dan mengulurkan kerja sama" ucap Alan.
Lembaga informasi. Letak gedung ini berada di tengah. Pusat dari segala lembaga. Karena jika ingin melakukan sesuatu, kita membutuhkan informasi lebih dulu.
Komputer-komputer canggih berada di hadapan kami. Tangan-tangan lincah yang menekan keyboard dan layar sentuh. Melihat dengan teliti, sehingga tidak ada yang terlewat.
"Perusahaan Johan (Grafedy) tidak mungkin membantu menangani masalah ini. Kenapa mereka masih di percaya?" Pikirku saat itu.
Perusahaan Grafedy atau perusahaan Papaku, adalah perusahaan yang cukup terkenal, mereka sudah lama bekerja sama dengan pemerintah dan negara. Mereka memproduksi senjata-senjata untuk militer dan juga yang lainnya jika di perlukan. Selain itu, perusahaan itu juga memasok senjata-senjata baru dari luar, seperti Rusia, Prancis dan Jerman.
Setelah cukup lama membaca dan melihat beberapa informasi penting. Kami di arahkan untuk mengunjungi beberapa negara. Tugas kali ini adalah, mencari informasi di atas lapangan.
"Ada beberapa hal yang terlihat janggal dari informasi ini. Karena itu, kalian harus menyelidikinya secara langsung" ucap Alan.
"Maaf Pak" seseorang meminta izin untuk berbicara.
"Silahkan"
"Saya pikir. Ini bukan masalah kita. Ini masalah negara, dan pemerintah lah yang harus turun tangan. Kita hanya mengurus masalah kejahatan" ucapnya.
"Masalah ini berhubungan dengan kejahatan. Pencucian uang. Jumlah yang kau lihat hanya 10 persen dari yang sebenarnya" ucap Alan.
"Anda benar pak. Saya juga mengetahuinya. Tapi, INCREASE tidak bisa melakukannya. Lawan kita kali ini bukan penjahat biasa, mereka adalah orang-orang yang tinggi karena status dan di kenal banyak orang"
"Hah..." Alan menghela napasnya. "Aku juga sependapat denganmu. Tapi, para Dewan sudah membicarakannya dan kita akan tetap melakukan tugas ini apapun resikonya. Tujuan kita bukan menjatuhkan orang-orang itu, tapi mencari kebenaran"
Semua anggota menatap penuh tanya pada Alan.
"Tugas kita cukup mudah. Yaitu, menjatuhkan dadu yang berada paling depan, itu lah yang menentukan langkah kita selanjutnya" ucap Alan.
Benar. Jika dadu yang berada di depan telah di jatuhkan, maka dadu yang berada di belakang dan seterusnya akan terjatuh, satu per satu.
"Tapi, siapa pemilik dadu itu? Dan siapa yang akan menjatuhkannya?" Pikirku.
Setelah pembicaraan itu, kami pun keluar dari ruangan. Kembali ke pekerjaan masing-masing. Tugas yang sudah di tentukan telah menanti.
Aku memilih untuk mampir ke ruang makan, karena tubuhku tidak menerima asupan apapun sejak pagi. Di saat itu, aku mendengar pembicaraan dua wanita.
"Kita akan mati kali ini. Jika tidak berhasil dan ketahuan. INCREASE akan di hancurkan dan perang akan terjadi" ucap seorang wanita.
"Tidak akan seperti itu. Semua akan baik-baik saja"
"Apa kamu tidak tahu? Sepertinya INCREASE sedang berperang dingin dengan Grafedy. Hanya pemerintah saja yang masih menjadi penengahnya. Aku takut, jika suatu saat pemerintah berpihak sepenuhnya pada Grafedy"
"Jangan bicara seperti itu, aku jadi berpikiran buruk karena kata-katamu!"
"Apa kita kabur saja?"
"Kau mau mati, hah!?"
Jika Grafedy adalah penghasil senjata berupa benda, maka INCREASE adalah penghasil senjata berupa manusia. Dua perusahaan itu mempunyai peran masing-masing untuk negaranya. Walaupun begitu, tetap ada perselisihan di antara keduanya. Karena pemiliknya memiliki cara pandang yang berbeda.
Setelah menyantap makanan, aku kembali ke ruangan dan bersiap-siap. Lalu, bertemu dengan seseorang.
"Kita sudah pernah bertemu sebelumnya" ucap Clare.
"Benar"
Kami saling menjabat tangan. Karena kali ini, dia adalah salah satu dari anggota tim yang di telah di tentukan untukku.
"Baiklah"
Setelah mempersiapkan diri dan membawa beberapa barang penting. Kami pun pergi ke lapangan. Di sana, seseorang telah menunggu. Baling-baling helikopter pun telah berputar.
Karena suara yang berisik dan angin yang berhembus kencang dari benda terbang ini. Kami hanya diam dan segera naik ke dalam.
...***...
Di sebuah apartemen yang luas. Di bagian ruang tamu. Terdapat tv, sofa dan berbagai perabotan lain yang memenuhinya.
"Kapan mereka tiba?" Tanya Brian.
"Satu jam lagi. Ada apa?" jawab Kay.
"Tidak... aku hanya penasaran, siapa yang akan bergabung dengan kita kali ini? Bukannya aku tidak percaya padanya. Tapi, sebaiknya kita tidak menggunakan dia untuk penyelidikan" ucap Brian.
"Apa kau takut?" Kali ini Zain yang bertanya.
"Apa maksudmu? Dasar lintah! Ya nggak lah! Aku hanya kasihan padanya. Kau tahu sendiri kan? Setiap anggota yang berasal dari lembaga Informasi, tidak memiliki kemampuan menjaga dirinya dengan baik. Mereka hanya bisa bertahan jika satu orang penyerang, lebih dari itu... hah... kalian tahu lah, mereka pasti mati" jawab Brian.
"Kau benar. Tapi, kita memerlukan seorang informan. Dan sudah menjadi tugas kita untuk menjaganya" ucap Kay.
"Aku muak mendengar kalimat itu. Mereka pasti sangat percaya diri akan selalu selamat, karena kita akan menjaganya. Tapi, sudah banyak Informan yang mati tanpa perlawanan, hilang tanpa jejak dan kematian tidak wajar lainnya" jelas Brian.
"Itu resiko yang harus mereka tanggung. Sebuah informasi bersifat rahasia. Karena itu, mereka menjadi target utama untuk di singkirkan" Zain menimpali.
Mereka sedang duduk di sofa panjang, terdapat beberapa kaleng soda dan snack di atas meja, menikmatinya sambil menonton tv. Tapi, pembicaraan mereka lebih menarik dari acara televisi.
"Aku harap, kali ini kita bisa bekerja dengan baik" sambung Kay.
"Kita bisa bekerja dengan baik jika informan kali ini tidak mati. Kau tahu kan? Sebanyak 100 anggota dari lembaga Informasi, mati setiap tahunnya. Termasuk di kelompok kita. Sejak bergabung, kita telah gagal menyelamatkan 9 nyawa dari tim ini" ucap Brian.
"Aku mengerti maksudmu. Kau tidak ingin menerima siapa pun lagi di tim ini, kan? Tapi, kita tidak bisa menolaknya. Ini perintah para Dewan, lagi pula, tanpa orang itu, kita tidak akan bisa bergerak sama sekali" ucap Kay.
"Kita bisa gunakan dia" ucap Brian sambil menatap ke arah Zain.
"Tidak. Aku tidak tertarik. Perbuatan itu ilegal bagi perusahaan" ucap Zain.
Brian menatap tajam pada Zain.
"Kau sering melakukannya. Mencuri informasi adalah keahlianmu. Sejak kapan kau jadi penurut?"
"Itu ide buruk. Terakhir kali kita melakukannya, kita hampir mati" Kay menimpali.
"Tapi, kita berhasil menangkap buronan itu, kan?" Tanya Brian.
Kay dan Zain menatap kesal pada Brian.
"Yahh.... walau pada akhirnya dia kabur" Brian menghela napas.
"Kita beruntung. Karena tidak di berhentikan sementara karena kehilangan dia" ucap Kay.
"Kau benar. Wanita itu licin sekali" sambung Brian.
Selama itu, tanpa terasa waktu telah berlalu. 1 jam. Suara berisik dari mesin dan baling-baling helikopter mulai terdengar. Mereka pun segera keluar untuk menyambut anggota tim yang baru.
...***...