A Gold Titanium

A Gold Titanium
Salah Paham



Kami tiba di tempat tujuan, satu jam kemudian. Rumah itu sangat bagus, terdiri dari lantai dua. Sayangnya tidak ada teknologi canggih di dalamnya, hanya seperti rumah pada umumnya. Tapi, tempat ini sudah lebih dari cukup, karena kami juga harus menyamar.


Aku langsung menuju lantai dua ketika masuk ke dalam rumah. Clare juga menuju kesana, kami membereskan barang-barang bawaan. Umumnya, wanita pasti membawa banyak baju, perhiasan dan alat rias, tapi kami membawa senjata dan segala keperluan untuk penyelidikan.


"Apa kau juga baru tau soal ini?" Tanyaku, memecah keheningan.


Clare menatapku seolah sedang bertanya.


"Maksudku mereka berdua. Kay dan Zain" jawabku, sembari tangan masih bergerak menyusun barang.


"Brian dan Zain adalah anggota pertama, lalu Kay muncul setelahnya. Dan aku baru bekerja selama setahun disini. Tapi, dari pengamatan ku, Kay dan Zain sudah saling kenal sebelum mereka bekerja disini" jawab Clare.


"Aku pikir, kau sudah lama bekerja disini"


"Agensi itu sudah di bangun 20 tahun yang lalu. Dan aku baru mengetahuinya setelah bertemu dengan Madam Greeta"


"Kalau begitu, yang mereka lakukan tadi bukan yang pertama kali, karena itu mereka tampak biasa saja" ucap ku.


TAAKK!!! Clare menjatuhkan salah satu barangnya. Aku bisa membaca pikiran dia sekarang, dia pasti sangat benci pada lelaki bajing*n seperti itu.


"Akan ku tanyakan langsung pada Brian setelah ini selesai!" Sahutnya.


Dia pun semakin cepat membereskan barang-barang itu. Aku mengangguk, aku juga ingin bertanya, karena dia yang paling lama berteman dengan mereka.


Matahari sudah sepenuhnya tenggelam dan semua telah selesai. Aku dan Clare duduk di ruang tamu, menunggu Brian yang sedang keluar ke supermarket terdekat. Padahal dia hanya membeli beberapa barang, tapi lama sekali. Sedangkan Alvin, dia pergi ke rumah sakit di sekitar sini bersama Erna.


Pintu terbuka, sontak aku menoleh. Dan Brian sudah datang dengan membawakan kantong-kantong berisi makanan dan minuman. Aku segera berdiri menghampirinya dan mengambil kantong itu, lalu meletakkannya di atas meja.


"Aku mau bicara denganmu!" Ucap Clare, saat ini dia sudah berada di samping Brian yang masih berdiri.


"Apa?" Brian menoleh. "Sebaiknya kamu perbaiki dulu kondisi hatimu. Aku merasa sangat terancam" ucapnya dan hendak pergi.


"Aku juga mau bicara!" Ucapku dan menahan tangan kirinya.


"Heh, kalian kenapa? Jangan bilang kalian merencanakan pembunuhan padaku?" Brian terlihat kaget dan saat itu juga, Clare menahan tangan kanannya.


Dia mencoba menggerakkan badannya, berusaha untuk lepas dari cengkraman aku dan Clare. Tapi, tidak sedikitpun kami melonggarkan genggaman padanya.


"Kenapa kalian kuat sekali? Kalau kalian membunuh_"


"Apa yang mereka lakukan di sana?" Aku melontarkan pertanyaan. Memotong kalimat Brian.


Brian sedikit meronta. Berusaha melepaskan cengkraman tanganku.


"Kenapa mereka melakukan itu?" Clare juga ikut bertanya.


"A apa maksudnya? Apa maksud kalian?" Brian terlihat bingung.


"Sejak kapan mereka begitu?" Aku.


"Siapa wanita itu?" Clare.


"Apa kau juga sama?" Aku.


"Kenapa kau tidak menjawab?" Clare.


Brian terseret ke kanan dan ke kiri karena aku dan Clare mencengkram lengan bajunya dengan kuat. Kami meminta dia menjawab salah satu pertanyaan. Tapi, dia terlihat sangat terbebani dan tidak tahu harus berbuat apa.


"Kenapa kau diam saja?!?" Aku dan Clare bertanya bersamaan.


Kami terus melontarkan pertanyaan yang tidak dia mengerti, hingga akhirnya, SRREEKKK!!! Baju yang Brian gunakan, sobek dari segala arah.


BRAK! Pintu terbuka. Kay dan Zain berada disana. Saat itu, aku sedang memegang kain dari baju yang sobek, sedangkan Clare masih memegang lengan Brian, yang sebagian bajunya yang telah rusak.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Zain dan Kay bersamaan


"Tolong..." Brian menunjukkan ekspresi sedih sambil menatap Kay ataupun Zain.


Zain masuk ke dalam rumah, Kay mengikutinya sambil menutup pintu. Zain berjalan menghampiri ku.


"Apa yang terjadi?" tanya Zain.


Aku mendekat padanya, lalu melemparkan bagian baju Brian yang sobek ke arah wajahnya dan berkata "Aku harus mandi!"


Aku pun membelakanginya dan berjalan menuju anak tangga, ke lantai dua.


...***...


"Sebenarnya dia kenapa?" Zain bertanya pada Brian.


Brian hanya menggeleng.


Zain tidak hanya melihat Brian saat itu, tapi dia juga melihat tangan Clare yang masih mencengkeram lengan Brian. Karena sadar di perhatikan, Clare pun melepasnya dan segera pergi ke pintu keluar, dia membuka dan menutup pintu dengan keras, hingga menimbulkan suara.


Kay terlihat bingung, lalu bertanya. "Apa yang kalian lakukan?"


"Entahlah, sepertinya mereka kelaparan. Mereka seperti harimau yang sedang mencari mangsa. Huh, ganas sekali" Brian mengatakan hal itu sambil menaikkan lengan bajunya yang sudah sobek, lalu mengambil sobekan lain di tangan Zain.


Zain dan Kay hanya memperhatikan Brian yang sedang berjalan ke kamarnya dengan penampilan yang sangat kacau. Di rumah ini terdapat enam kamar, tiga di lantai atas dan tiga di lantai bawah. Mereka sudah sepakat, jika lantai dua adalah tempat wanita.


"Menurutmu, apa yang terjadi?" Tanya Kay.


"Aku tidak tau. Tapi, raut wajah kedua wanita itu sudah aneh sejak _" Zain berhenti bicara, karena terpikirkan kejadian di dalam jet.


"Apa mungkin mereka salah paham?" Kay mencoba menebak.


"Aku akan bicara dengannya" sahut Zain, dan langsung menuju lantai atas.


Melihat Zain yang sedang berjalan, Kay juga memikirkan hal yang sama, dia pun segera menuju pintu keluar.


.........


"Apa yang kau pikirkan tentangku?" Kay bertanya saat melihat Clare.


Dia menemukan Clare di jembatan yang dekat dengan kediaman mereka, saat itu Clare sedang melempar batu ke sungai, batu itu dia pungut di tengah jalan.


"Apa yang kalian sembunyikan dariku?" Clare balik bertanya.


"Wanita itu adalah Arnold" jawab Kay.


Clare yang awalnya tidak melihat ke arah Kay, sekarang menoleh dengan wajah penuh tanda tanya.


"Bukankah dia menghilang beberapa bulan lalu?" tanya Clare


"Dia dan Zain tidak benar-benar menghilang begitu saja tanpa kabar. Kami merencanakan ini semua tanpa sepengetahuanmu" jawab Kay.


"Brian juga taju soal ini?" Clare bertanya seakan dia merasa di bohongi.


Kay mengangguk "kami tidak ingin melibatkanmu dalam hal ini"


"Memang benar, mau dimana pun tempatnya, wanita akan selalu di anggap lemah. Kau bahkan tidak percaya padaku!" ungkap Clare.


Clare hendak pergi, tapi Kay menahan tangannya.


"Akan ku jelaskan... dengarlah sebentar" ucap Kay.


Clare menghentikan langkahnya, dan tidak menepis genggaman tangan Kay di lengannya. Clare menoleh seolah siap untuk mendengarkan.


"Apa kau ingat saat kita mengunjungi agensi Blackterfly?" Tanya Kay.


Clare hanya mengangguk pelan, tapi tidak menunjukkan ekspresi apapun. Kay pun menjelaskan semuanya.


"Aku mendapatkan semua data dari Arnold ketika berada di toilet pesawat, tapi kami harus bersikap hati-hati. Karena saat kita berada disana, ada banyak orang yang berasal dari Blackterfly dan juga dari Increase" jelas Kay.


"Kenapa kalian harus bertindak di luar persetujuan Increase?" Tanya Clare.


"Ada dugaan lain terkait masalah ini. Karena itu, kami mencaritahu sendiri" jawab Kay.


"Dugaan lain?"


"Iya. Kemungkinan besar INCREASE sudah tahu, tapi mereka menutup mata dan telinga. Karena tidak ingin membuat kekacauan yang lebih besar" jawab Kay.


"Masalah tidak pernah berhenti datang"


"Tapi, Zain melakukannya untuk mencari seorang wanita" jawab Kay.


Clare tidak bertanya, dia menunggu kelanjutan cerita dari pria di depannya.


"Wanita itu sangat di perlukan. Dia adalah kunci dari semua masalah ini" lanjut Kay.


"Apa dia berhasil menemukan wanita itu?" tanya Clare


Kay menggeleng.


"Apa mungkin dia adalah wanita itu?"


Kay mengangguk. "Benar. Dia adalah wanita yang kita temui di gedung dan kabur beberapa hari kemudian. Aku hanya mengenal nama panggilannya. Di tempatnya, dia selalu di panggil Nona Grady" jawab Kay.


Sementara itu...


Zain berada di lantai dua, dia hanya berdiri di depan pintu kamar, tidak melakukan apapun. Dia pun kembali ke lantai bawah dan merapikan beberapa barang miliknya. Dia berpikir, tidak perlu menjelaskan sesuatu pada wanita itu.


Kay dan Clare kembali ke rumah setelah matahari tenggelam dan waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Mereka bercerita hingga tidak sadar dengan waktu. Dan ketika rasa lelah tiba, mereka pun kembali ke kamar masing-masing.


...***...