A Gold Titanium

A Gold Titanium
Cantik...



Bangunan yang di dominasi warna putih. Berbagai jenis kendaraan yang terdapat di tempat parkir. Orang-orang yang berlalu lalang dan yang sedang mengadakan pelatihan. Markas besar INCREASE. Tempat itu tidak pernah tidur, selalu saja ada kegiatan di dalamnya.


"Johannes Grafedy! Pemilik dari perusahaan Grafedy yang selalu menutupi jati dirinya, sulit di lacak keberadaannya dan berada di sekitar kita, saat tidak ada yang menyadari. Aku menemukan informasi tentangnya. Kali ini, dia menggunakan sedikit penjaga yang selalu berada di sekitarnya. Dia akan pergi ke daerah ini" ucap Erna.


Erna meletakkan beberapa informasi tentang seseorang di dalam sebuah tablet di atas meja. Alan mengambil benda tipis itu dan membacanya.


"Apa kau yakin?" Tanya Alan.


"Saya yakin, pak. Bukankah dengan menangkapnya urusan kita akan lebih mudah?" Jawab Erna mantap.


Alan mengangguk, lalu kembali membaca isi data di tablet itu. Selain data-data, terdapat juga sebuah foto, yang di perkirakan adalah gambar Johan.


"Baiklah. Aku akan menyiapkan beberapa orang untuk menangkapnya" ucap Alan.


.........


Pakaian anti peluru, senjata api terbaik, dan rencana yang sempurna. Pasukan yang dibentuk oleh Alan telah siap. Mereka berbaris rapi di depan gedung dengan dada terbusung ke depan. Siap untuk menjalankan tugas.


"Laksanakan sesuai rencana. Kita pergi sekarang!" Seru Alan.


Para pasukan terpilih itu segera bergerak ke dalam mobil masing-masing. Misi di jalankan. Mobil-mobil yang telah di isi beberapa orang segera meluncur maju keluar dari markas, memasuki badan jalan. Bergabung dengan pengendara yang lain.


...***...


"Kita akan kemana?" Tanya Alexa.


Dia duduk di kursi mobil, tepat di sebelah Zain yang berada di kursi kemudi.


"Kamu mau makan?" Zain balik bertanya.


"Makan? Bukankah seharusnya kita punya tujuan lain?" Tanya Alexa.


"Aku sudah mengacaukan rencanamu. Rencana kita telah gagal. Aku juga tidak punya tujuan lain"


Alexa mengangguk "aku mau makan di luar kota" ucapnya.


"Oke"


"Sebenarnya, apa yang kamu lakukan disana? Apa yang kalian cari?"


"Kami mencari saudara kembar Gilbert. Dari informasi yang kami dapatkan, mereka berdua berada disana" jawab Zain.


Alexa terdiam sebentar, lalu dia berkata "si kembar Gilbert? Maksudmu Gabriel dan Andrew?"


"Kamu mengenal mereka?"


"Tentu saja. Mereka adalah si kembar unik yang membuatku terkagum. Tapi, mereka tidak ada di tempat itu. Mereka akan di pamerkan minggu depan di hotel Alphabet"


Zain mendengarnya dengan rasa tidak percaya, bagaimana bisa manusia di pamerkan.


"Johan yang memintanya. Dia berpikir bahwa mereka unik dan akan ada cukup orang yang rela membayar mahal. Gabriel adalah wanita albinisme (albino), seluruh tubuhnya berwarna putih, bahkan bulu mata dan alisnya. Sedangkan Andrew adalah pria yang memiliki warna kulit hitam legam yang indah dan lekukan tubuh yang sempurna. Siapapun pasti mengingikan mereka" tutur Alexa.


"Bukankah mereka saudara kembar?"


"Benar. Aku juga tidak mengerti kenapa mereka sangat berbeda satu sama lain. Tapi, mereka benar-benar saudara kembar. Berasal dari ibu dan ayah yang sama" jawab Alexa.


Mobil yang mereka naiki memasuki jalan tol. Melaju dengan kecepatan maksimal.


"Lalu, dimana mereka sekarang?" Zain bertanya lagi.


"Di suatu tempat. Kami menyebutnya rumah aman. Karena ada puluhan penjaga setiap harinya. Sehingga akan sangat sulit untuk menyusup atau pun mengeluarkan mereka dari sana"


...***...


Mobil-mobil terus melaju. Alan berada di mobil paling depan. Mereka menyusuri jalan dan mencari mobil dengan nomor yang telah disebutkan oleh Erna.


"Jembatan arah jam 9. Mobil itu terlihat mirip" ucap salah seorang dari pasukan.


"Mobil 4 dan 5, memutar arah. Pastikan dengan benar" perintah Alan.


Dua mobil berbalik arah. Melaju mendekati mobil yang dimaksud. Sementara yang lain, tetap berbaur dengan pengendara yang lain.


"Nomor mobil EST-4xxx! Target ditemukan!"


"Ikuti mobil itu!" Seru Alan.


Sementara itu. Supir yang sedang menyetir menyadari sesuatu yang janggal dari mobil yang berada dibelakangnya.


"Tuan, sepertinya kita sedang diikuti" ucap si supir.


Tuan itu menoleh kebelakang. Dia melihat mobil-mobil di belakangnya yang terlihat mencurigakan.


"Tambah kecepatan! Kita tidak boleh tertangkap"


"Baik, Tuan"


...***...


Alexa membuka jendela mobil. Dia menikmati angin luar. Mobil yang di naikinya menuju suatu tempat yang cukup jauh dari kota sebelumnya. Lautan mulai terlihat dan bau airnya mulai tercium. Arcilla memejamkan matanya, menikmati udara yang sangat menyegarkan.


Zain melihatnya sambil tersenyum. Dia membawa mobil ke pinggir jalan, memasuki jalanan berpasir. Lalu, menghentikannya.


"Kenapa kita berhenti?" Tanya Alexa.


"Aku lelah. Kita istirahat sebentar" jawab Zain sambil membuka sabuk pengaman.


Zain pun segera turun dari mobil, mengambil langkah cepat, dia berjalan ke sisi lain mobil. Membuka pintu mobil untuk Alexa.


Alexa sedikit terkejut karena sikap Zain. Tapi, dia tidak berkata apapun dan hanya tersenyum. Mereka pun berjalan bersama ke arah pantai. Menikmati lautan yang indah dengan cahaya yang terpantul.


"Sudah lama aku tidak melihat pantai sedekat ini" ucap Alexa.


"Lepas sepatumu. Kita harus merasakan airnya" ucap Zain.


Alexa mengangguk dengan semangat. Dia segera melepas sepatunya dan berlari ke arah pantai. Alexa mengenakan dress biru muda dengan rok sebetis. Lengan bajunya lebar dan transparan berada diatas siku. Pakaiannya melambai mengikuti hembusan angin. Tidak ada orang disekitar mereka, hanya ada bebatuan dan pohon-pohon, serta suara mobil yang terdengar dari kejauhan.


Zain ikut melepas sepatunya, melipat celana jeans dan melepas jaket abu-abu dari badannya dan memperlihatkan kaos putih yang dipakainya. Dia pun berjalan santai ke arah pantai. Tatapannya tidak lepas sedikit pun dari Alexa.


"Wah, satu orang bisa cantik, imut dan seksi sekaligus ya?" Pikir Zain.


Alexa memasukkan kakinya ke dalam air. Dia merasa sangat senang dan melompat kegirangan. Dia menoleh dan menatap Zain sambil tersenyum, lalu berlari ke arah pria itu, menggeggam tangannya dan menariknya agar berjalan lebih cepat.


...***...


Mobil yang mengejar mereka semakin mendekat. Kini, orang-orang INCREASE mulai mengeluarkan senjata mereka. Dan mengejar target dengan kecepatan maksimal.


"Tuan! Apa yang harus kita lakukan?"


"Aku tidak tahu, tapi bukankah mereka anggota INCREASE?"


"Benar, Tuan"


"Sepertinya, mereka salah mengira bahwa aku adalah Johan. Aku harus meluruskannya" ucap Fred.


Fred segera mengambil ponsel miliknya, menelpon kontak yang bernama Nona Grady. Namun, tidak ada jawaban. Dia pun mencobanya lagi, dan hasilnya tetap sama.


...***...


Alexa meninggalkan ponselnya didalam mobil. Suara dering dan getaran dari ponsel terus berlangsung selama beberapa menit.


Alexa menghela napas dengan lega. Dia sangat senang dan melupakan sejenak masalah yang menghantuinya selama ini.


"Pantainya indah dan cantik" ucap Alexa, lalu menoleh kearah Zain.


"Iya, cantik" jawab Zain sambil menatap wanita di sampingnya.


Alexa tersenyum. Jantungnya berdegup dengan kencang. Dia merasa salah tingkah dan berusaha menutupinya dengan tenang. Tatapan pria itu sangat lekat, matanya sangat indah, membuat siapapun seakan melihat lautan yang dalam, biru dan bersinar.


"Kita harus pergi... kulitku terasa terbakar" ucap Alexa.


Saat Alexa hendak melangkah pergi. Zain menahan tangannya, meletakkan tangannya dileher gadis itu, menariknya dengan pelan, lalu mencium bibirnya dengan lembut. Angin berhembus dengan tenang, udara yang panas tidak lagi menyiksa. Kaki keduanya terhempas ombak kecil yang datang dari laut. Mereka tenggelam di dalam ciuman yang mesra.


Udara semakin dingin, angin yang berhembus tenang menjadi kencang. Cahaya pun mulai meredup. Sepertinya, langit tidak begitu simpati pada dua insan yang sedang jatuh cinta. Hujan pun mulai berjatuhan setetes demi setetes. Lalu, mengguyur dengan deras dan membasahi separuh kota.


Alexa dan Zain langsung tersadar, mereka segera berlari melewati air hujan, mengambil sepatu dan jaket yang berada di sisi pantai. Namun, hujan turun dengan sangat deras, membuat pakaian mereka basah sebelum tiba di mobil. Saat memasuki mobil, mereka mengusap wajah dan mencoba menepuk-nepuk pakaian yang telah basah. Lalu, tertawa bersama.


...***...