
Takdir atau hanya kebetulan. Mungkin keduanya. Kita tidak tahu, apa dan siapa yang akan kita temui nanti. Karena itu, berbuat baiklah dalam hal apapun. Agar tidak menyesal.
Helikopter jenis Agusta A109, telah mendarat dengan anggun di atas Helipad (landasan helikopter) di atap apartemen. Menurunkan dua orang wanita yang berpakaian merah maroon berjaket hitam (Clare) dan biru gelap lengan panjang (Alexa). Mereka membawa tas yang tidak terlalu besar di tangan mereka.
Tiga orang pria yang memakai pakaian biasa, seperti kaos dan kemeja, sedang menunggu cukup jauh dari landasan. Mereka memperhatikan dua orang yang baru turun dan segera menyambut mereka.
Clare dan Alexa segera menghampiri ke tiga pria itu, sedangkan helikopter yang baru saja mendarat, kembali bergerak terbang ke udara.
"Senang berkenalan denganmu. Aku Zoe" ucap Alexa.
Alexa mengulurkan tanganya tanpa menunggu. Dia ingin segera mengakhiri perkenalan yang canggung itu.
"Aku Kay. Kami mengandalkanmu" ucap Kay.
"Namaku Brian" ucap Brian sambil tersenyum.
Terakhir, dia mengulurkan tangannya pada Zain.
"Zain" ucap Zain. Tatapan dingin terlihat dari matanya.
Setelah sambutan itu. Mereka segera turun dan kembali ke lantai apartemen.
Setelah tiba di dalam apartemen, percakapan pun di mulai.
"Tiga hari yang lalu, sebuah Tim penyelidik berhasil menemukan sebagian uang negara yang pernah di curi lima tahun yang lalu. Apa kau mengetahuinya?" Tanya Kay pada Alexa.
"Tentu saja. Mereka sudah menyelidikinya selama seminggu" jawab Alexa.
"Dimana mereka menemukannya?" Brian ikut bertanya.
"Vatikan, Italia. Untuk selebihnya aku tidak bisa memberitahu kalian. Itu urusan kami dan para Dewan. Selain hal itu, kalian bisa bertanya padaku" jawab Alexa.
"Baiklah. Bagaimana dengan tugas kita?" Tanya Kay.
"Aku sudah mempersiapkannya"
Alexa membuka tabletnya, mengubahnya menjadi layar hologram. Di layar itu, telihat garis-garis vertikal dan horizontal membentuk sebuah bangunan.
"Kecil dan tipis, tapi sangat besar manfaatnya. Benda itu ada di tempat ini" ucap Alexa.
Alexa menunjukkan salah satu ruangan yang berada di dalam gedung itu. Ruangan yang luas dan berada di lantai yang cukup tinggi, lantai 122.
"Benda apa yang kau maksud?" Tanya Clare.
"Ponsel milik orang yang duduk di ruangan ini" jawab Alexa.
"Tunggu dulu, apa maksudmu? Gedung apa ini? Dimana letaknya?" Tanya Kay.
"Pemiliknya adalah Mathew" jawab Alexa.
Mereka bertiga berhenti menatap layar, dan malah menatap Alexa dengan heran. Awalnya, Zain tidak peduli dan sibuk dengan ponselnya, tapi sekarang dia menatap heran seperti yang lainnya.
"Zoe, sepertinya kau salah paham. Mungkin karena baru bekerja beberapa hari, kau belum mengerti apa yang telah di jelaskan" ucap Clare.
"Aku tidak salah paham dan sangat mengerti tujuan kita. Orang ini menyimpan sesuatu di ponselnya. Kita bisa melangkah lebih cepat ke depan, jika kita berhasil mendapatkan informasi itu" jawab Alexa dengan yakin.
"Tapi, dia bukan orang biasa. Kau pasti sering mendengarnya. Dia adalah direktur keuangan milik negara. Semua aturan keuangan berada di tangannya. Orang seperti itu, tentu saja akan di kelilingi para penjaga yang setia dan tidak takut mati" ucap Clare.
"Apa yang di katakan Clare benar. Kita tidak bisa menargetkan dia sebagai incaran pertama" sambung Kay.
"Orang itu... kenapa dia bisa berhubungan dengan masalah ini?" Kali ini, Zain yang bertanya.
"Baiklah, sepertinya aku harus memberitahunya pada kalian" ucap Alexa.
Semua orang menunggu. Alexa mengubah gambar hologram di atas teblet.
"Mathew, Johan dan David, serta presiden saat ini. Mereka semua adalah teman satu jurusan. Cukup dekat, hingga bisa di sebut kelompok pertemanan" Alexa menampilkan wajah-wajah berupa hologram di atas tablet.
"Sama seperti kebanyakan anak muda lainnya, mereka mempunyai mimpi. Mimpi yang sama. Namun, cara berpikir mereka yang berbeda. Mimpi itu adalah untuk memperbaiki negeri yang saat itu hampir hancur. Mereka ingin membangun negeri ini kembali, lalu menjatuhkan presiden yang tidak kompeten. Hingga akhirnya, kita memiliki presiden yang baru" lanjutnya.
"Aku pernah mendengar cerita itu. Tapi, yang aku tahu, presiden sebelumnya meninggal karena ulah seorang wanita" Brian menimpali.
"Mungkin. Tapi, apa kalian tidak curiga dengan kasus itu? Di saat yang sama, bank negara mengalami kerugian karena pencurian uang dalam jumlah yang sangat besar" Tanya Alexa.
"Kau benar. Sampai saat ini, kita tidak tahu dimana letak uang sebanyak itu" ucap Kay.
"Sebagian sudah di temukan. Namun, sebagiannya lagi berada di tangan orang ini" ucap Alexa sambil menunjuk wajah Mathew yang berupa hologram.
Kami terdiam beberapa saat, masih memperhatikan layar.
"Masuk akal. Dia adalah direktur yang mengawasi pemasukan dan pengeluaran uang negara. Bisa saja dia memalsukan data tentang keuangan miliknya" ucap Brian.
"Saat itu dia belum menjadi direktur keuangan" Zain menimpali.
"Iya. Saat itu, dia hanya pekerja biasa yang sangat ingin naik ke posisi tinggi. Impiannya terwujud sekarang. Dia juga termasuk 30 teratas orang terkaya di dunia" ungkap Clare.
"Aku sudah memeriksa pemasukannya setiap bulan sejak dia bekerja menjadi direktur hingga saat ini. Dia mendapatkan gaji sekaligus bonus yang sesuai dengan pekerjaannya. Tapi, saat aku memeriksanya lagi, ada jumlah uang yang tidak wajar di akun miliknya" ucap Alexa.
Alexa membuat perhitungan yang tepat. Dia menunjukkan jumlah uang yang seharusnya tidak di miliki oleh Mathew. Dan juga tabel perhitungan.
"Saat dia bekerja sebagai pegawai biasa. Tabungannya hanya segini. Lalu, di tambahkan lagi uang dari hasil menjadi direktur selama tiga tahun. Dia juga menggunakan uangnya untuk bersenang-senang dan tercatat secara rinci. Tapi, setelah aku menghitung semuanya" ucap Alexa.
Zoe menunjukkan jumlah uang yang seharusnya tidak ada.
"Ini jumlah setengah dari hasil pencurian itu" Clare sedikit kaget melihatnya.
"Benar"
"Tapi, bagaimana kau bisa mengetahuinya?" Tanya Clare.
"Aku menyadap beberapa data bank negara lima hari yang lalu. Dan ini yang aku dapatkan" jawab Alexa.
"Dia bodoh sekali! Harusnya dia menghapus saja data itu, kan tidak akan ketahuan" ucap Brian.
"Dia tidak akan melakukannya. Karena dia sangat serakah. Dia ingin di akui oleh dunia bahwa dia adalah orang yang berpengaruh" Zain menimpali.
Alexa mengangguk pelan. Dia berpikir "Benar! Mathew adalah orang yang seeperti itu. Dia suka menjadi terkenal, di hormati banyak orang, dan bisa melakukan apa saja dengan posisinya sekarang. Dia pasti sangat senang sekarang, karena berpikir aku sudah mati. Tidak akan ada orang yang bisa mengancam posisinya atau seseorang yang meminta bagian dari harta miliknya"
"Tapi tetap saja. Kita tidak bisa mendekatinya, apalagi mengambil ponsel miliknya" ucap Brian.
"Kita tidak mengambilnya" ucap Alexa.
"Lalu?"
"Kita akan merusaknya"
...***...