
Pertengahan bulan Juni. Musim panas. Cahaya matahari yang cerah, terasa hangat di kulit saat aku berada di balkon apartemen. Melihat pemandangan luar, hingga seseorang datang dan berbicara denganku.
"Kami tidak bisa menolongmu" ucap Kay.
Kay berdiri di sebelahku. Dia menatap pemandangan kota di hadapannya.
"Aku tidak tahu alasan mereka memasukkanmu ke tim ini. Tapi, kami juga tidak punya alasan untuk menolakmu" lanjutnya.
"Menurutku, semua tim sama saja. Kalian hanya berusaha. Lagi pula, setiap nyawa pasti mati" ucapku.
"Saat kamu datang kesini, aku khawatir jika kami akan kehilangan orang lagi. Tapi, kau malah menyarankan sesuatu yang sangat berbahaya. Apa kau yakin kita bisa melakukannya? Orang itu bukan lawan yang mudah" ucapnya.
"Tidak apa. Kita bisa melakukannya. Lagi pula, aku hanya perlu bernapas untuk menyingkirkannya" ucapku.
Kay menoleh padaku. Dia terlihat bingung dengan ucapanku. Tapi, dia tidak bertanya apapun lagi.
Hari itu pun berlalu tanpa sesuatu yang terjadi. Kami hanya duduk dan sedikit berlatih. Apartemen ini menyediakan ruangan khusus untuk tempat berlatih. Juga beberapa lemari berisi senjata api.
"Namanya Glock 19. Kau harus berhati-hati saat menggunakannya. Senjata api itu bahkan bisa di gunakan di dalam air" ucap Brian.
Aku sedang melihat-lihat lemari yang berisi senjata. Lemari itu terkunci dan hanya bisa di buka dengan identitas anggota. Brian menghampiriku saat aku sedang memegang sebuah pistol.
"Bagaimana cara menggunakannya?" Tanyaku.
"Ah, kau tidak tahu ya?" Brian mendekatiku, mengambil pistol di tanganku.
"Setelah mengisi amunisi, kau tinggal menarik pemicunya, dan pistol siap di gunakan. Kau juga bisa melihat posisi musuh dari arah sini" Brian menunjukkan posisi tengah dari dua sisi yang menonjol.
Setelah itu, Brian melakukan pose-pose aneh saat memeragakan cara menggunakan benda itu. Dia juga memberitahu cara mengisi amunisi, yaitu dengan menekan tombol bergerigi di sisi kiri pistol. Dia sangat bersemangat saat menjelaskannya.
"Aku mengerti" ucapku.
"Tapi, sebaiknya kau jauhi benda-benda ini. Mereka sangat berbahaya. Fokus saja pada komputermu" ucapnya.
Aku hanya mengangguk. Aku memperhatikan senjata-senjata itu. Brian berada disini hanya untuk latihan dan pergi setelah mendapat panggilan. Sekarang hanya aku sendiri di ruangan ini.
"Akan ada produksi senjata jenis baru. Tapi, aku tidak tahu kapan mereka akan memulainya. Aku harus menghentikan produksi itu. Karena mereka akan melakukannya secara ilegal dan mengirimkan benda itu kepada negara lain"
Aku mengenal semua jenis senjata yang ku lihat saat ini. Tidak ada yang baru, semuanya terlihat familier. Bahkan, aku sudah menggunakan mereka beberapa kali.
.........
Aku berjalan pelan, memperhatikan sekitar. Saat ini, aku berada di atas atap apartemen. Mengambil ponsel dari saku jaketku dan menghubungi seseorang.
"Ini aku. Nona Grady..." ucapku.
"Kau? Bagaimana bisa?" Wanita di sebrang sana terdengar kaget. Dia bernama Lucy, putri dari paman Fred.
"Pelankan suaramu. Bagaimana keadaan disana?" Tanyaku.
"Tidak ada. Aku tidak melihat atau mendengar pergerakan apapun. Sepertinya mereka sedang merencanakan sesuatu sejak kabar kematianmu tersebar. Lalu, bagaimana kau bisa hidup? Maksudku, syukurlah. Tapi tetap saja, aku penasaran" ucapnya.
"Anggap saja aku sudah mati. Bagaimana kabar paman dan dia?"
"Ayahku baik-baik saja. Tapi, "dia" siapa maksudmu? Jake?" Tanya Lucy.
"Iya"
"Dia terlihat pucat, tapi baik-baik saja. Sejak mendengar berita itu, sifatnya jadi berubah. Sepertinya dia benar-benar merasa kehilangan" ucap Lucy.
"Apa dia baru sadar sekarang? Hah... manusia itu. Katakan padanya aku baik-baik saja. Jangan khawatir. Saat ini, aku tidak bisa menemui kalian. Ada sesuatu yang harus ku lakukan" ucapku.
"Baiklah. Aku merasa lega setelah mendengar suaramu. Lalu, kapan kau akan kembali?"
"Secepatnya, setelah urusanku selesai" jawabku.
"Kami menunggumu. Saran dariku, berhati-hati lah"
"Iya"
Aku mematikan ponsel.
...***...
Lucy berjalan pelan ke ruangan milik Jake. Dia melihat seorang pelayan membawa nampan berisi makanan yang masih utuh. Tidak tersentuh.
"Sejak dua bulan terkakhir, Tuan tidak pernah menghabiskan makanannya, bahkan tidak menyicipnya sedikitpun" ucap pelayan itu.
"Berikan padaku" ucap Lucy.
"Jangan Nona. Saya takut, nanti Tuan akan lebih marah"
"Tidak apa. Aku sudah sering mendengar ocehannya" ucap Lucy.
Pelayan itu pun memberikan nampan berisi makanan pada Lucy, dan Lucy membawanya ke ruangan Jake.
Lucy membuka pintu dan masuk ke ruangan.
"Kau harus menghormati makanan, setidaknya hargai usaha para pekerja" ucap Lucy.
"Kenapa kau kesini?" Tanya Jake dengan nada ketus.
"Kau terlihat seperti Romeo yang kehilangan Juliet. Apa kau akan melakukan hal bodoh juga? Bagaimana kalau dia tidak benar-benar mati?" Tanya Lucy.
Wajah Jake terlihat pucat, namun matanya menunjukkan sinar kebencian. Dia sedang memegang pistol di tangannya.
"Apa maksudmu?" Jake balik bertanya.
"Kau tidak akan bisa menyerang tempat itu sendirian. Nona kecil yang bisa membunuh di usia paling muda pun, tidak bisa menghabisi orang-orang itu"
"Lalu, apa yang harus ku lakukan? Menunggu sampai mereka dulu yang membunuhku?" Tanya Jake dengan kesal.
"Mereka tidak akan membunuhmu. Sama sepertiku, kau sama sekali tidak menjadi ancaman untuk mereka. Kita bisa di singkirkan dengan mudah" ucap Lucy sambil tertawa.
Mendengar ucapan Lucy, membuat Jake sangat marah. Jake pun mengarahkan pistol pada Lucy.
"Kau salah. Kau tidak tahu apapun tentangku"
Lucy tersenyum tipis "kalau kau membunuhku, kau akan menyesal"
"Tidak ada yang tersisa lagi untukku di dunia ini. Aku juga tidak peduli padamu" ucap Jake.
"Baiklah. Sepertinya kau sudah kehilangan harapan. Akan ku beritahu sesuatu yang menarik, kau mau mendengarnya?" Tanya Lucy.
Jake tidak menjawab. Dia menarik pemicu dari pistol, hendak melepas peluru pada Lucy.
"Hentikan. Dia akan sangat membencimu kalau kau membunuhku"
Jake hampir menarik pelatuk dari pistol yang berada di genggamannya.
Lucy tertawa kecil "Aku tidak mengerti. Kenapa Nona Grady mempercayai orang sepertimu? Mudah sekali menyulut api di hatimu. Dia pasti kecewa saat melihatmu seperti ini"
"Tutup mulutmu!!!"
"Dia masih hidup" ucap Lucy.
DOR!!!
Jake melepas tembakan. Peluru mengenai tembok. Hanya beberapa senti peluru itu melesat dari tempat Lucy berdiri. Bahkan, Lucy bisa merasakan hawa panas dari peluru itu.
Lucy menoleh ke belakang dan melihat tembok yang bolong akibat tembakan peluru. Jantungnya berdetak cukup keras. Napas pun tidak beraturan. Dia tidak menyangka bahwa nyawanya masih ada.
"Kau gila!?! Dasar samp*h!!! Kau pikir aku tidak akan mati jika terkena benda itu??!" Teriak Lucy.
"Maaf. Tanganku licin. Apa yang kau katakan sebelumnya?" Tanya Jake. Dia menurunkan pistolnya, meletakkan di atas meja.
"Urus saja dirimu sendiri!!!" Teriak Lucy.
Lucy meletakkan nampan berisi makanan pada meja di hadapan Jake dengan kesal. Dan hendak meninggalkan ruangan itu.
"Apa yang dia katakan padamu?" Tanya Jake lagi.
Pertanyaan Jake membuat Lucy menghentikan langkahnya.
"Dia baik-baik saja. Jangan khawatir. Lalu, jangan lupa untuk menghabiskan makananmu"
Lucy kembali melangkah. Berjalan cepat. Membuka pintu, lalu menutupnya kembali dengan keras.
...***...