A Gold Titanium

A Gold Titanium
Penampilan Baru



Ketenangan yang ku rasakan hanya bertahan sebentar. 3 minggu. Setelah itu, aku kembali melakukan sesuatu. Bukan karena aku menginginkannya, tapi karena keadaan yang memaksa. Jika aku berdiam diri lebih lama, entah apa yang akan terjadi.


Sehari setelah kepergianku dari INCREASE. Tempat itu menjadi sedikit berantakan. Setiap anggota mencari keberadaanku, namun aku tetap tidak di temukan. Barulah seminggu kemudian, keadaan mulai membaik. Clare mmberitahukan semuanya padaku saat semua telah menjadi sedikit tenang.


"Aku tak terbiasa melihat penampilanmu. Kau benar-benar berbeda sekarang" ucap Lucy.


Rambut hitamku terurai panjang. Mataku tidak menggunakan riasan atau tambahan apapun, bibirku tidak lagi menggunakan lipstick berwarna merah terang. Tidak ada riasan tebal. Wajahku mulai terawat sejak dua minggu yang lalu. Aku tampak seperti gadis biasa, sesuai usiaku.


"Aku jadi sedikit penasaran. Apa kau pernah berciuman?" Tanya Lucy.


Aku hanya diam. Tidak penting menjawab pertanyaannya.


"Sudah ku duga! Kau juga tidak pernah berbaring di bawah seorang pria, kan? Atau mungkin mengeluarkan des*h*n dari mulutmu?"


Aku mengerutkan wajahku. Pertanyaan Lucy semakin tidak masuk akal.


"Apa kau pernah begini?" Tanya Lucy lagi. Dia berbaring di atas sofa sambil melebarkan dua pahanya. "Atau begini?"


Aku yang saat itu sedang mengerjakan tugas di atas tablet, menjadi tidak fokus. Dia memeragakan gerakan-gerakan yang menjurus pada cara bercinta antara laki-laki dan perempuan.


"Kalau kau tidak pernah berciuman. Kau juga tidak tahu bagaimana rasanya bertarung dengan lidah seseorang" ucapnya.


"Hentikan!" Ucapku dengan nada kesal.


"Aku hanya bertanya. Kau pernah melakukannya atau tidak?"


Aku menggeleng. "Aku tidak punya waktu untuk melakukannya"


Dia akhirnya berhenti dan duduk dengan benar. "Hah.. kau memang selalu sibuk. Hingga tidak punya waktu untuk bercinta. Tapi, jangan khawatir, aku bisa mengajarkannya"


"Tidak. Aku tidak akan melakukannya"


"Kenapa?"


Aku tidak menjawabnya.


"Penampilanmu sudah begini. Aku yakin akan ada banyak pria yang mengantri. Setidaknya, kau harus belajar jika ingin melakukannya. Kalau kau malu belajar padaku, aku bisa memberimu beberapa film yang terkenal minggu ini, mungkin bisa jadi bahan pelajaran" ucapnya.


"Aku tidak tertarik. Berhentilah menggangguku"


"Padahal aku hanya menawarkan bantuan. Kali aja, ada seseorang yang membuatmu jatuh cinta. Lalu, kalian... ya kau tahu lah.." ujar Lucy.


"Aku bisa melakukannya tanpa belajar. Manusia memiliki insting tentang bercinta. Mereka cepat tanggap jika mengenai masalah itu. Walaupun hanya belajar sedikit, mereka pasti mengerti. Tidak perlu melihat sesuatu yang tidak penting dengan alasan ingin tahu" ucapku.


Lucy menghela napas. "Rasional sekali pemikiranmu. Sudah ku duga, pikiranmu itu kolot"


Aku tersenyum padanya. "Thanks"


"Argh! Jangan tersenyum seperti itu! Kau mengerikan. Dengan wajah seperti itu, kau terlihat seperti gadis polos. Padahal orang-orang bisa mati di tanganmu"


Aku melotot padanya. Kata-kata dia memang benar, tapi entah kenapa aku merasa kesal.


"Sebaiknya, kau berhenti menggangguku. Aku bisa marah dan bertindak kasar padamu" ucapku.


"Aku sudah mengenalmu sejak dulu. Kau sangat baik padaku" ucap Lucy.


Aku mengangguk pelan dan terdiam beberapa saat. Hingga aku memberanikan diri untuk menanyakan sesuatu.


"Usia ku baru 6 tahun saat pertama kali bertemu denganmu. Saat itu, paman memperkenalkanmu sebagai anaknya. Lalu, lima tahun kemudian, aku mendengar kabar bahwa kau bergabung dengan Blackterfly. Mungkin, usiamu 18 tahun saat itu" ucapku.


"Sepertinya kau tidak percaya bahwa aku anaknya Fred"


"Seorang ayah tidak akan rela membiarkan anaknya bekerja di tempat seperti itu. Terutama paman. Aku sudah mengenalnya sejak dulu, dia adalah sosok yang baik. Dia juga menyayangiku. Apa mungkin, Johan yang memintamu untuk bekerja di tempat itu?" Tanyaku penasaran.


"Tolong jangan mengalihkan pembicaraan, Lucy"


Dia berhenti tersenyum. Wajahnya mulai serius. "Kau benar. Johan yang memintaku untuk bekerja disana. Tapi, dia melakukannya karena permintaan dariku"


Aku terdiam. Menatap Lucy dengan penuh tanda tanya.


"Aku bukan anak kandung Fred. Johan yang memintanya untuk mengadopsiku. Saat itu, aku berada di titik terendahku, tidak memiliki tempat tinggal dan hanya memiliki pakaian yang lekat di tubuhku. Saat makan, aku harus mencari di berbagai tempat dan meminum air apapun yang ku temui jika haus"


Aku menatapnya dengan penuh simpati.


"Kasihan sekali dia"


"Jangan menatapku seperti itu. Aku tidak suka orang lain mengasihani diriku. Sekarang, aku baik-baik saja. Lihatlah, aku bisa menggunakan pakaian bagus dan makan hingga kenyang"


"Harusnya aku tidak bertanya"


"Tidak apa. Lagian, kau juga perlu tahu. Seberapa buruk orang yang kau anggap "Papa" itu" ucapnya.


Aku hanya menatap tembok dengan tatapan kosong. "Apa Fred tidak pernah berusaha untuk menolongmu?"


"Saat aku bertemu dengan Johan, aku memintanya untuk membawaku dan mengatakan "aku akan melakukan apa saja untukmu jika membawaku" dia tampak berpikir. Akhirnya, dia setuju dan membawaku ke rumah Fred. Dan Fred sangat senang dengan kehadiranku. Namun, wajah Fred berubah saat Johan mengatakan niatnya. Fred sering sekali membantuku, dia bahkan menolak saat aku akan bekerja di organisasi itu. Tapi, apalah daya, dia hanyalah seorang yang bekerja di bawah perintah Johan" Lucy menjelaskan.


"Apa... kau menyesalinya?" Tanyaku.


"Tidak. Mungkin itu memang sudah jalanku. Tapi, aku masih berharap, bahwa yang menemukanku dulu bukanlah Johan, melainkan Fred" ucapnya.


Aku tersenyum padanya. Dia benar, Fred adalah laki-laki yang baik, dia bertindak seperti seorang penjahat hanya karena pekerjaannya. Dia juga sering membantu orang lain tanpa sepengatahuan Johan.


Wanita yang berada di hadapanku saat ini bernama Lucy. Hanya satu nama. Dia menghabiskan masa kecilnya dengan hidup sebatang kara, tanpa orang tua.


Mengalami masa remaja dan berkenalan dengan senjata. Lalu, menghabiskan masa dewasa dengan menjadi alat pencari informasi menggunakan tubuhnya. Terkadang, aku merasa lebih beruntung daripada dirinya.


...***...


"Bukankah kau berjanji akan menghancurkannya? Kenapa bisa gagal? Padahal kau terlihat sangat meyakinkan saat itu" teriak Vivian di sebuah ponsel.


Vivian menggunakan ponsel saat sedang berendam di dalam bathtub. Dia menelpon seseorang.


"Kau pikir aku tidak berusaha?! Aku sangat ingin menghancurkannya lebih dari siapapun!" Ucap Erna.


Erna. Anggota INCREASE, lembaga Informasi. Dia yang sedang berkomunikasi dengan Vivian saat ini. Dia berada di ruangan yang kosong.


"Ya ya, buktikan kalau kau memang ingin menghancurkannya. Jangan hanya bicara! Padahal sudah ku peringatkan padamu, dia sangat licik"


"Dia bukan apa-apa. Kalau dia memang sehebat itu, dia pasti bisa menemukanku dengan mudah. Saat berada disini, dia bahkan tidak tahu bahwa aku yang sudah mengubah isi informasi" ucap Erna.


"Mungkin kau beruntung"


"Tutup mulutmu! Kau tidak tahu apapun tentangku!" Teriak Erna.


"Oke, oke. Aku percaya. Sekarang apa yang akan kau lakukan? Katakan saja kalau kau butuh bantuanku"


"Aku akan membunuhnya" jawab Erna.


Emosinya meluap-luap. Dia mengepalkan tangannya dan memikirkan sesuatu yang tidak bisa di tebak.


"Kau yang membuatku seperti ini. Aku akan membalasmu dan mengambil sesuatu yang telah kau curi. Alexa!" Ucap Erna di dalam hatinya.


...***...