
Hujan yang deras membasahi bumi. Di malam hari. Tidak terlihat apapun saat hujan mengguyur, hanya cahaya buatan yang bisa membantu penglihatan, namun terbatas.
"Cepat!!! Hujan ini tidak akan berhenti!" Teriak seseorang.
57 manusia. Usia 12 hingga 25 tahun. Laki-laki dan perempuan. Mereka di pindahkan dari satu mobil ke mobil lainnya. Dengan wajah tertunduk dan berjalan cepat dengan terpaksa. Baju yang tidak layak pakai dan kotor karena lumpur dari tanah basah.
"Berapa jumlah mereka?" Tanya seorang pria.
"34 wanita dan 23 laki-laki. 57 orang" jawab yang lainnya.
"Baiklah. Jumlahnya sesuai kesepakatan. Bawa mereka secepatnya"
"Baik"
Perdagangan manusia. Bisnis ilegal. Di kecam oleh seluruh dunia, kecuali mereka yang menyukai harta daripada sebuah nyawa.
Anak-anak itu tidak bisa menangis. Hanya terdiam dan mengikuti instruksi dari orang-orang berbaju hitam yang memiliki senjata dan senter di tangan mereka. Mereka sudah menjadi tawanan selama seminggu, dan kematian adalah sesuatu yang sangat menakutkan. Mereka tidak bisa meminta tolong. Satu kali saja bersuara, jasad mereka akan berada di dalam ruang bedah.
"Bagaimana kita bisa menghentikan mereka?" Tanya Brian.
"Kita tunggu saja" ucap Zain.
Aku berada di mobil hitam. Bersama Clare yang berada di sampingku_kursi pegemudi. Sedangkan para pria, mereka menggunakan motor. Kami terpisah cukup jauh, jarak yang cukup untuk membuat orang-orang itu tidak menyadari keberadaan kami. Masing-masing dari kami menggunakan alat komunikasi jarak jauh.
"Hal seperti ini terus terjadi sejak dulu. Aku tidak tahu, bagaimana cara menghentikan mereka" ucap Clare.
Kami memperhatikan setiap pergerakan orang-orang itu menggunakan teropong. Hujan cukup deras, namun kami masih bisa melihat karena cahaya senter yang di gunakan mereka.
Setelah semua orang sudah di pastikan masuk ke dalam mobil. Tidak lama kemudian, mobil-mobil itu pun mulai bergerak dan berjalan pelan.
"Kay! Kau dan Clare ikuti mobil van putih. Aku dan Brian akan mengikuti yang satunya" ucap Zain.
"Baik" ucap kami bersamaan.
Clare menekan pedal gas mobil dan berjalan mengikuti mobil di depan kami.
"Yang harus kita lakukan adalah menyelamatkan mereka. Jika salah satunya terancam, jangan lakukan yang lain, fokus saja pada banyak orang" ucap Kay.
Aku dan Clare tidak menjawabnya. Aku tidak mengerti ucapannya. Namun, Clare terlihat gusar, seolah hal ini pernah terjadi sebelumnya.
Clare menambah kecepatan mobil. Dia ingin menyalip mobil di depan untuk membuatnya berhenti. Namun, mobil itu juga menambah kecepatan.
"Sepertinya, mereka menyadari keberadaan kita" ucapku.
Clare menekan pedal gas semakin dalam "pegangan!" Ucapnya.
Mobil melaju dengan cepat. Seperti arena balapan. Saling mengejar. Keadaan jalan yang basah karena hujan sedikit menghambat perjalanan, pandangan terbatas dan harus menggunakan konsentrasi penuh, agar tidak salah arah dan mengalami kecelakaan.
Kay membawa motornya dengan cepat. Saat ini dia sudah berada di depan kami. Dia menembakkan pistol ke arah pengemudi Van.
"Zoe! Kau yang bawa!" Ucap Clare.
Aku mengangguk. Dengan kecepatan penuh dan perhitungan yang tepat, Clare melompat ke belakang dan aku mengambil alih kemudi.
Aku pun menambah kecepatan mobil dan sekarang mobil kami sudah berada di sisi Van putih itu.
"Lebih dekat!" Ucap Clare.
Clare melepaskan peluru tepat mengenai kaca mobil, namun kaca mobil itu tidak pecah dalam sekali tembakan. Tapi, hal itu cukup untuk membuat dua orang di dalam mobil Van putih itu terlihat panik.
Tembakan kedua, berhasil memecahkan kaca mobil.
"Berhenti!!!" Teriak Clare sambil menodongkan pistolnya.
Mereka tidak menurut dan ikut mengeluarkan pistol.
Aku menekan rem mobil, saat salah satunya menembak ke arah Clare. Peluru meleset, terkena sisi mobil.
"Van itu lebih besar daripada mobil kita. Tidak akan bisa di hentikan dengan mudah" ucapku.
"Ya. Aku juga tidak bisa membunuh supirnya. Anak-anak itu bisa dalam bahaya" ucap Kay.
Kay hampir tertabrak truk besar yang berlawanan arah di depannya. Dia mengerem motornya dan mulai tertinggal di belakang.
"Aku bisa menghentikan mereka" ucap Kay.
"Lakukan!" Ucapku.
Kay kembali ke jalan dengan kecepatan penuh, membawa motornya melaju melewati mobil Van putih itu.
"Apa yang dia lakukan?" Tanya Clare.
"Menghentikan mobil" jawabku.
"Bagaimana?"
"Aku akan membantunya. Kau pindah ke belakang" ucapku pada Clare.
Clare terlihat bingung. Namun, tetap mengikuti ucapanku.
"Sekarang!" Teriakku.
Aku memutar kemudi penuh ke arah kanan dengan cepat. Mobil kami menabrak Van itu. Getaran hebat terjadi akibat dua benda yang terbentur. Percikan api terlihat.
Kay yang berada di depan mobil Van, memiringkan motornya, setelah itu, dia melompat dari motir dan segera berguling menjauh dari tabrakan itu.
Tabrakan tidak bisa di hindari. Supir Van tidak bisa menggerakkan mobil ke sisi kiri karena aku menghalanginya. Mobil pun harus menabrak motor Kay yang membuat kecepatannya melambat.
Tanpa menunggu lama. Clare segera membuka pintu mobil, dia turun dan langsung berlari menuju mobil Van putih itu. Hujan masih mengguyur dengan deras.
Karena kondisi dua orang yang lemas akibat tabrakan, Claremengambil kesempatan dan membuka pintu mobil van itu. Setelah di buka, dia menghajar orang di dalamnya. Orang itu melawan dan hampir menodongkan pistol ke arah Clare, namun Clare lebih dulu membuatnya lumpuh, tidak sadarkan diri.
Kay segera bangun. Mungkin beberapa bagian tubuhnya sakit karena terjatuh cukup keras, tapi dia baik-baik saja, karena pakaian yang di kenakan cukup bagus untuk mengurangi benturan. Helm yang di pakainya pun terlihat sedikit lecet.
Aku terlalu banyak berpikir, aku tidak ingin berurusan dengan hal ini menggunakan kemampuanku. Tapi, karena itu, aku tidak melihat seorang lainnya yang sudah keluar dari mobil Van. Membuka pintu box di belakangnya. Mengancam kami dengan mengarahkan pistol pada anak-anak di dalam mobil. Dia adalah si pengemudi.
"Jangan mendekat! Atau anak-anak ini akan mati!!!" Ucapnya.
Kay tidak mendekat. Sedangkan Clare hanya bisa memperhatikan. Mereka berusaha berpikir cara yang tepat agar tidak menyakiti siapa pun.
"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Clare.
"Tujuan kita adalah anak-anak itu. Mereka harus selamat" jawab Kay.
"Bunuh saja dia" Ucapku.
"Tidak, Zoe. Anak-anak itu bisa mengalami trauma" ucap Clare.
"Tetap tenang. Jangan bertindak gegabah" ucap Kay.
Aku tidak mengerti jalan pikiran mereka. Bukankah anak-anak itu sudah melihat kematian?
Kay dan Clare berjalan pelan mendekati orang itu.
Orang itu mengarahkan pistolnya pada mereka berdua dan anak-anak di dalam Van. Dia mengancam dengan mata membelalak dan wajah yang basah karena air hujan. Jika di lihat, usianya sekitar 40 tahun.
"Kau sudah tidak punya jalan keluar. Lebih baik kau menyerah. Peluru yang kau punya tidak bisa membunuh semua orang disini" ucap Kay.
"Mundur! Peluru yang ku miliki bisa membunuhmu!" Ucapnya.
Dia tidak bisa menembak dengan benar karena gelap dan jarak pandang terbatas. Menurutku dia sedikit bodoh, harusnya dia memikirkan resiko yang lebih buruk dan sebaiknya menyerah.
Clare dan Kay terus melangkah pelan, mendekati orang itu dari dua sisi yang berbeda. Jika beruntung, orang itu bisa menjatukan keduanya dengan sekali tembak, tapi jangankan untuk menembak dengan tepat, tangannya saja gemetar saat memegang pistol.
DOR!!!
"Arrrggghhhh!!!"
Tepat. Di paha sebelah kanan. Aku menembak kakinya. Dia mengerang kesakitan dan menjatuhkan pistol di tangannya. Aku langsung melompat mendekatinya dan menarik tangannya ke belakang, memborgol kedua tangan orang itu.
Kay dan Clare segera mendekat. Mereka melihat kondisi anak-anak di dalam box mobil Van. Kondisi mereka sangat buruk.
"Bagaimana?" Tanya Clare.
"Kita bawa dulu mereka ke tempat perlindungan" ucap Kay.
Aku dan Clare mengangguk. Tempat perlindungan adalah salah satu tempat yang di buat oleh INCREASE untuk para korban yang telah di selamatkan. Sementara. Hingga mereka sembuh dan pulih untuk kembali ke keluarga.
Aku dan Kay membawa dua pelaku menggunakan mobil, ke salah satu gedung terkenal milik Increase, untuk mengintrogasi pelaku. Sedangkan Clare membawa mobil Van putih menuju rumah perlindungan.
"Kau tidak terlihat seperti pemula" ucap Kay.
"Tentu saja. Aku lulus dalam ujian" jawabku.
"Ujian hanya sebagian kecil dari percobaan. Tidak akan sama seperti bekerja secara nyata"
"Aku tahu"
"Karena itu, aku sedikit kaget saat kamu di tugaskan bekerja sama dengan tim ini. Aku tidak pernah mendengar ada anggota baru yang langsung bekerja cukup berat" ucap Kay.
"Benar. Mungkin, aku beruntung" ucapku.
Kay menggeleng "kau harus berhati-hati"
Mobil melaju di tengah hujan yang deras. Kay mengemudi mobil dengan cepat, tapi tetap memperhatikan jalan dengan baik.
Aku memperhatikan dua orang yang terikat di belakang.
...***...