A Gold Titanium

A Gold Titanium
Siapa Pamela?



Waktu berlalu. Korban yang tidak selamat telah di makamkan. Yang mengalami kondisi kritis, berangsur pulih, namun ada juga yang belum siuman dan mengalami koma. Sedangkan yang mengalami luka ringan, sudah bisa kembali melakukan aktivitasnya, walaupun terbatas.


Di dalam kehidupan, tidak selamanya manusia berada di atas, terkadang dia juga bisa jatuh dan terpuruk. Dan menyerah bukan lah solusi.


Clare dan lainnya telah kembali seminggu setelah tragedi itu terjadi. Mereka baik-baik saja. Mereka hanya di perlukan untuk menyelamatkan orang-orang yang tenggelam dan hilang di tengah laut. Sekitar 12 orang tidak di temukan, mereka di duga hilang karena hewan buas, terseret arus, atau di jadikan sandera oleh pihak musuh.


Alasan INCREASE mengalami kegagalan adalah karena salah menerima informasi.


"Jumlah kapal musuh ada tiga dan semuanya bukan kapal berukuran kecil. Sedangkan kita hanya menggunakan dua kapal. Informasi yang di terima mengatakan mereka hanya sebuah kapal kecil, yang artinya hanya ada satu" ucap Erna.


"Lembaga Informasi selalu mendapatkan data yang tepat. Mereka juga akan memastikan dulu datanya sebelum bertindak" ucap Clare.


"Kau benar. Kesalahan seperti ini harusnya tidak terjadi. Lihatlah, kejadian ini menimbulkan banyak korban" Brian menimpali.


Kami tidak bisa berkata apapun lagi. Seseorang telah di tugaskan secara rahasia mengenai hal ini. Mereka curiga ada seorang pembelot di dalam organisasi.


Aku di minta untuk ke ruangan Alan. Dia yang memberikan tugas itu padaku.


"Kenapa anda percayakan tugas ini pada saya? Mungkin saja saya yang memalsukan data itu" ucapku.


"Orang yang melakukannya tidak mungkin berkata sepertimu" jawab Alan.


Aku menatapnya. Terdiam. "Jadi, apa yang harus saya lakukan?"


"Tunjukkan kemampuanmu. Kau pasti tahu apa yang harus kamu lakukan"


Aku terdiam sesaat. Berpikir. Pada akhirnya, aku menyetujuinya.


"Baiklah"


Aku segera keluar dari ruangannya. Tanpa menunggu apapun, aku segera mencari tahu. Sebenarnya, hal ini tidak sulit untukku, hanya saja aku lelah. Aku lelah melihat seseorang yang bersembunyi di balik selimut. Dia akan ketahuan, lalu apa selanjutnya? Pasti hukuman yang berat.


Hanya dalam sehari, aku bisa menemukannya. Dia adalah seorang pria dan juga seorang wanita yang sudah lama bekerja disini. Sekitar empat tahun lamanya. Aku tidak mau tahu alasan mereka melakukannya. Yang pasti, mereka sudah mempertaruhkan banyak nyawa.


"Loan dan Edina. Tidak ku sangka mereka akan melakukannya" ucap Alan.


Aku memberitahukan pada Alan secara rahasia. Seminggu kemudian. Saat ini, dia sedang membaca data-data di dalam layar.


"Mereka mendapatkan bayaran yang cukup tinggi" ucapku.


"Tapi, kenapa lama sekali?" Tanya Alan.


Aku menoleh padanya. "Maksud anda?"


"Kenapa kau baru memberitahu ku hari ini? Bukankah kau sudah tahu sejak kemarin?" ucap Alan.


Aku menatap pundak orang tua itu. Dia masih memperhatikan teblet yang baru saja ku berikan. Ternyata dia sudah tahu sejak awal. "Anda juga cerdas. Kenapa tidak melakukannya sendiri? Saya yakin anda juga sudah mengetahuinya"


Dia berbalik dan tersenyum padaku. "Ya. Aku hanya ingin melihat kemampuanmu. Seharusnya, kau menunjukkan kemampuanmu yang sebenarnya. Menunda memberikan informasi hanya akan mempersulit keadaan. Aku orang sibuk"


Aku kehilangan kata-kata. Tidak habis pikir dengan ucapannya.


"Kau sangat mirip dengannya. Tapi, dia tidak suka memakai riasan yang tebal" lanjutnya bicara.


"Saya tidak mengerti maksud anda. Saya juga mempunyai pekerjaan lain. Saya permisi" ucapku.


Aku mengambil beberapa kertas yang ku letakkan di atas meja.


"Pemela. Dia adikku" ucap Alan.


Deg! Jantungku berdegup keras. Mataku langsung mengarah padanya. Tanganku yang hendak mengambil kertas terhenti. Dia baru saja menyebutkan nama yang penting bagiku.


"Nama itu cukup banyak terdengar belakangan ini" ucapku. Aku berusahan menenangkan pikiran.


"Dulu, rambutku juga hitam sepertimu. Namun semakin bertambah usia, rambutku memudar dan berubah menjadi abu-abu" ucapnya.


"Mungkin anda perlu mewarnainya"


Dia tersenyum lagi padaku. Tatapannya penuh kasih sayang, seperti melihat sosok lain yang telah lama pergi.


Aku tidak tertarik. Lalu, mengambil kertas-kertas yang sempat ingin ku tinggalkan.


"Saya harus pergi. Trimakasih atas waktunya" ucapku.


Kumpulan kertas sudah rapi di tanganku. Hanya perlu membawa tubuh ini agar bisa keluar dari ruangan. Tapi, Alan mengatakan sesuatu yang membuatku tertahan.


"Aku bekerja dengan Johan selama delapan tahun" ucapnya.


Kali ini, setelah mendengar ucapannya, aku tidak berniat lagi untuk pergi. Aku meletakkan kembali kertas-kertas di tanganku ke meja. Lalu, berjalan mendekatinya.


"Sejauh mana kau mengetahui tentangku?" Tanyaku. Menatap tajam padanya.


"Duduklah" ucap Alan.


Alan melemaskan badannya di sandaran sofa. Dia terlihat santai. Aku sama sekali tidak ingin duduk dan tidak sabar dengannya. Ingin mendengar semua kalimat yang keluar dari mulutnya.


"Kau akan lelah. Kisah ini cukup panjang" ucapnya.


Gigiku gemertakan, serasa kesabaranku telah hilang. Tapi, aku mengikuti keinginannya. Aku pun duduk di kursi yang berada di hadapannya, jarak kami hanya terhalang oleh meja kecil.


"Aku pernah bekerja dengan Johan. Dia melanjutkan usaha yang di bangun Ayahnya. Sejak dia menjadi pemiliknya, usaha itu maju dengan pesat. Aku pun di berikan pekerjaan dengan mudah olehnya" ucap Alan


Alan mengganti posisi duduknya.


"Bertahun-tahun yang lalu. Ada seorang gadis cantik yang selalu mencuri perhatian. Dia memiliki kepribadian yang baik dan juga selalu bersikap lembut. Membantu orang lain tanpa kecuali. Namun, penampilan dan sifat itu membuatnya berada dalam masalah yang besar. Namanya Pamela. Gadis itu menjadi pemenuh hati bagi siapa pun, termasuk para pria. Dia berhasil mencuri perhatian banyak orang, salah satunya adalah Johan. Pria yang telah lama kau kenal"


Aku menatapnya, menunggu kisah selanjutnya. Nama Famella dan Johan sangat terkait denganku. Dia juga berkata bahwa aku mengenalnya.


"Namun, Pamela tidak pernah sedikit pun tertarik dengan Johan. Dia menyukai pria lain dan akhirnya menikah. Johan yang terobsesi dengan Pamela, melakukan segala cara untuk mendapatkannya. Dia pun mempekerjakan ku dan menjanjikan gaji dalam jumlah besar. Aku pun menyetujuinya" lanjutnya.


Aku kaget mendengarnya. Berpikir, mungkin dia adalah Famella yang lain. "Menikah?"


Alan mengangguk. "Pria yang di nikahinya adalah orang yang menurunkan warna mata itu padamu"


Aku sangat penasaran. "Apa maksud anda? Siapa dia?"


Dia tidak menjawab. Lalu melanjutkan ceritanya. "Johan memberikan tugas-tugas yang mudah selama enam bulan bekerja. Namun, setelah itu, dia memberikan pekerjaan tersulit, yang membuatku menyesal seumur hidup. Yaitu menculik adikku sendiri, di saat dia sedang mengandung seorang bayi yang berusia 26 minggu"


Dia terdiam beberapa saat. Aku tidak menanyakan apapun, pikiranku mengalir. Aku seperti sudah bisa menebak kejadian selanjutnya.


...***...


Johan tidak rela melihat Pamela yang mengandung janin dari orang lain. Dia pun meminta dokter untuk menggugurkan kandungan itu.


"Anda harus siap menerima resiko, jika menggugurkan kandungan di usia ini. Wanita itu bisa mengalami pendarahan hebat dan masalah konflikasi lainnya" ucap Dokter yang di temui Johan.


Pamela sangat menyayangi bayi di dalam kandungannya. Jika seseorang masuk ke kamarnya, dia selalu melindungi perutnya dengan tangan. Wanita itu di kurung di dalam kamar dengan penjagaan ketat. Kamar itu sangat bagus dan nyaman, namun dia merasa tersiksa.


"Aku akan membunuh anak itu saat dia telah lahir" ucap Johan. Dia tidak bisa melakukan apapun saat ini, selain menunggu.


Pamela di berikan perhatian khusus. Dokter selalu datang untuk memeriksa kondisinya, memberikan beberapa obat untuknya, makanan sehat pun selalu di berikan tepat waktu. Tapi, dia tidak pernah meminum obatnya dengan benar dan hanya makan sedikit sekali. Dia ketakutan dan berpikir seseorang akan memberikan racun padanya serta bayi di dalam kandungannya.


"Aku tidak akan pernah bersamamu! Bahkan setelah anak ini lahir!" Teriak Pamela.


Johan tidak peduli. Rasa ingin membunuh janin itu semakin kuat di dalam benaknya. Dia ingin waktu segera berlalu.


Hari berganti. Bulan pun berganti. Perut Pamela semakin membesar dan akan segera melahirkan. Semua orang sibuk mendengar berita itu. Rumah yang besar menjadi ramai oleh para dokter.


Di akhir cerita. Pamela meninggal setelah 30 menit melahirkan. Dia tidak bisa bertahan karena kondisi tubuhnya yang lemah dan mengalami pendarahan yang cukup parah.


"Alexa... Namanya Alexa. Walaupun kau sangat menginginkannya, kau tidak akan bisa membunuhnya. Seseorang akan mengenalnya" ucap Pamela sebelum dia menutup mata.


Johan marah. Dia sangat benci dengan semua orang, termasuk bayi yang baru saja lahir di hadapannya. Tapi, benar yang di katakan wanita itu, Johan tidak bisa melakukan apapun. Tatapan bayi itu membuatnya tidak tega untuk melakukan sesuatu yang dia inginkan. Membunuh.


...***...