A Gold Titanium

A Gold Titanium
Kasus



"MEDIA SOSIAL DI HEBOHKAN DENGAN BERITA MENGENAI DIREKTUR KEUANGAN. DIA DI DUGA MELAKUKAN PENGGELAPAN UANG DALAM JUMLAH BESAR. TIDAK ADA KETERANGAN APAPUN DARI PIHAK BERWAJIB MENGENAI KASUS INI. BUKTI DAN KETERANGAN YANG KAMI TERIMA TIDAK BERASAL DARI MEREKA. BEBERAPA KELOMPOK MASYARAKAT MENYEBARKAN BERITA MELALUI MEDIA SOSIAL. TIDAK DI KETAHUI..."


Pengguna media sosial atau pengguna internet. Mereka adalah orang yang gemar membagikan sesuatu yang baru, apapun itu. Tidak peduli apakah benar atau salah. Yang penting, sesuatu itu sangat menarik.


"Kita tidak perlu melakukan apapun sekarang?" Tanya Brian.


"Entahlah. Mungkin kita harus bersiap dengan beberapa kemungkinan. Bisa jadi, kita akan di tugaskan untuk menyelidiki kasus itu" jawab Kay.


"Tidak ada yang perlu di selidiki lagi. Semua bukti sudah jelas" Zain menimpali.


Sehari setelah berhasil mendapatkan semua data dari ponsel Mathew. Aku merangkumnya menjadi informasi yang jelas dan mudah di baca. Informasi itu terbagi menjadi delapan bagian. Kami menyebarkan ke pengguna media dengan ID yang berbeda. Agar tidak bisa di lacak.


Aku sedang memakan sereal saat menonton berita pagi ini. Pria tua itu terlihat di dalamnya. Dia masih tetap di jaga ketat oleh pengawalnya.


"Dia masih terlihat tenang" ucap Zain.


"Dia sedang berada dalam masalah. Tidak mungkin merasa tenang. Itu hanya luarnya saja" timpalku.


Clare yang sejak tadi tidak terlihat, muncul dari kamarnya. "Madam meminta kita kembali ke markas sekarang"


"Ada apa? Tugas kita belum selesai" ucap Brian.


"Aku juga tidak tahu. Jemputan akan tiba 15 menit lagi" jawab Clare.


Kami segera berkemas.


...***...


"Brengs*k!!! Beraninya kau menipuku!?" Ucap Mathew dengan kesal.


Mathew berada di ruangan miliknya, dan ada beberapa orang lain bersamanya, termasuk Johan. Mereka sedang berada di situasi sulit. Para wartawan datang beramai-ramai di depan gedung.


"Aku tidak menipumu! Aku sudah meledakkan gedung sesuai keinginanmu. Tapi, jasadnya tidak pernah di temukan. Kau sendiri yang bilang bahwa ledakan itu tidak akan menyisakan tulang" ucap Johan.


"Lalu, anak itu masih hidup?" Tanya Mathew dengan kesal.


"Tidak ada yang tahu tentang uang itu selain dia. Jumlah pertama sudah di temukan di Vatikan. Dan setengahnya lagi ada bersamamu. Siapa lagi yang bisa melakukannya selain dia?" jawab Johan.


"Lalu, dimana dia sekarang?"


"Jika aku tahu. Aku sudah melenyapkannya sebelum hal ini terjadi" jawab Johan.


"Kau bertindak sembarangan, Mathew. Seharusnya kau tidak mengancam Johan untuk membunuh gadis itu. Sekarang, gadis itu sudah tidak akan percaya lagi dengannya" Simon menimpali.


"Kau tahu apa? Dia sudah menyembunyikan gadis itu selama ini. Aku bahkan tidak tahu, bahwa gadis itu yang bekerja sama denganku saat mencuri uang negara. Saat aku mengetahuinya sebagai anakmu, Johan. Aku sangat marah, menganggapmu sudah berkhianat padaku" tukas Mathew.


"Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang? Jika bukti itu hanya di terima oleh polisi atau pengadilan, kita bisa membayar mereka. Tapi, berita itu sudah menyebar ke seluruh masyarakat" ucap Frank.


"Sebaiknya, kau menerima hukuman ini sementara" ucap Simon pada Mathew.


Mathew menatap tajam pada Simon.


"Apa maksudmu? Kau menyuruhku untuk masuk penjara?! Jangan bodoh! Jabatanku bisa hilang saat itu terjadi"


"Benar. Sebaiknya, anda mengikuti hukum yang berlaku. Itu lebih baik daripada kematian. Urusan jabatan, akan di serahkan pada negara, mungkin kita perlu memilih orang baru" ucap pria yang lebih muda dari mereka. Erik.


"Anda tidak perlu khawatir. Saya akan mengurus masalah ini secepat mungkin. Setelah semuanya tenang, anda bisa kembali ke posisi itu. Kita hanya perlu mendapatkan kembali dukungan masyarakat. Anda tidak perlu khawatir saat berada di dalam penjara, semua kebutuhan akan tersedia dan anda akan di perlakukan secara khusus" ucap Erik.


Bara api di dalam hati Mathew masih menyala terang. Dia menyimpan dendam yang cukup dalam.


"Bagaimana aku bisa mempercayaimu?" Tanya Mathew.


Erik tersenyum. "Apakah anda memiliki jalan yang lain selain mempercayai saya?"


"Baiklah. Aku percaya padamu. Urus semua masalah itu secepatnya. Aku tidak suka menuggu" jawab Mathew ketus.


Erik tersenyum sinis sambil menatap tajam pada Mathew. Tatapan itu seperti orang yang ingin membunuh. Namun, Mathew tidak menyadarinya.


"Pria tua bodoh! Apa ku bunuh saja dia sekarang? Ah... tidak! Dia harus merasakan buruknya sel tahanan" pikir Erik.


Setelah pertemuan itu. Mereka kembali pada pekerjaan masing-masing. Sedangkan Mathew, dia segera di bawa ke pengadilan. Menerima hukuman.


Mathew tidak bisa menyewa seorang pengacara, karena tidak ada seorang pun yang mau bersaksi atas namanya. Pengacara itu telah di bayar dalam jumlah lebih besar untuk diam. Dan beberapa pengacara lainnya, tidak mau mengambil resiko dengan membela seorang penjahat yang terkenal.


...***...


Siang berlalu dengan cepat. Matahari sudah tergelincir ke arah barat. Terang berganti gelap, tapi tidak ada bintang yang terlihat kecuali sedikit. Bumi ini sudah terlalu banyak memproduksi polusi yang membuat jarak pandang terbatas.


"Seharusnya anda memberikan saya penghargaan. Bukankah anda sangat ingin menyingkirkannya?" Ucap Alexa.


Wanita berambut hitam dan memiliki mata hijau yang cerah. Usia yang masih muda, 22 tahun. Datang sendirian menghadapi orang yang selalu di panggil "Papa" olehnya.


Alexa mengarahkan pistol ke arah Johan. Dia berdiri tepat di sebelah ranjang. Saat itu, Johan sedang tertidur dan langsung terbangun saat mendengar suara seseorang.


Alexa menyalakan lampu ruangan, sehingga dia bisa melihat wajah Johan dengan jelas, begitu pun sebaliknya.


"Sekarang, aku meyakini satu hal. Kau bukanlah Papaku. Sayang sekali, aku menghabiskan waktu ku untuk mengemis kasih sayang padamu. Jangankan menganggapku seperti seorang anak, kau bahkan tidak pernah menganggapku sebagai manusia. Aku hanyalah alat yang di gunakan untuk mencapai tujuanmu" ucap Alexa.


"Ya. Aku bukanlah orangtua yang baik untukmu. Akan lebih baik jika aku mati. Tidak perlu ragu. Tembak saja aku" ucap Johan.


Alexa menggertakkan giginya.


"Aku bisa membunuhmu kapan pun. Tapi, kematian adalah hal yang mudah. Aku tidak suka memudahkan pekerjaan orang sepertimu!"


"Jangan bodoh! Kalau kau tidak membunuhku sekarang. Aku bisa melakukan hal lain yang tidak pernah kau duga" ucap Johan.


"Baiklah. Aku menunggu. Tunjukkan kemampuanmu"


Alexa mematikan lampu dan kamar menjadi gelap.


Saat Johan menghidupkan kembali lampu, dia tidak melihat siapa pun selain dirinya di ruangan itu. Johan tertawa dengan keras.


"Hahaha, dia mirip sekali dengan ibunya, berani dan menawan. Baiklah. Aku juga penasaran, apa yang akan kau lakukan nanti"


Johan berdiri dan mengambil minuman di lemari. Jantungnya berdetak kencang karena kehadiran Alexa secara tiba-tiba.


"Kemampuannya sangat bagus. Entah harus merasa senang atau sedih. Dulu, aku mengajarinya karena ingin melindunginya dari dunia yang kejam ini. Tapi, sekarang dia malah menyerangku dengan kemampuan itu? Kita lihat saja, berapa lama kau bisa bertahan, Alexa?"


...***...