A Gold Titanium

A Gold Titanium
Aku Mencintaimu



Hari yang cerah berubah mendung, lalu menjadi gelap dan menurunkan rintik-rintik air yang deras, membasahi sebagian titik di bumi. Tidak ada yang bisa menduga apa yang akan terjadi dalam hidup ini. Seperti, hujan akan turun dengan deras di cuaca yang cerah.


Pakaian Alexa dan Zain telah basah. Mereka tidak membawa apapun selain yang dikenakan di tubuh keduanya. Mereka pun memutuskan untuk menginap di salah satu hotel yang berada disekitar tempat itu. Lalu, mengganti pakaian yang basah dan menggunakan piyama putih yang tersedia di kamar hotel.


"Aku akan memesan makanan" ucap Zain.


Alexa hanya mengangguk. Dia tidak peduli dengan makanan yang akan datang, dia hanya memperhatikan ponselnya yang tidak sengaja terjatuh di loby hotel.


"Kamu bisa menggunakan ponselku dulu kalau perlu" ucap Zain.


"Apa kamu punya aplikasi jual beli online?" Tanya Alexa.


"Kamu bisa menginstalnya"


"Aku perlu membeli beberapa pakaian. Aku tidak bisa memakai piyama ini"


Alexa merasa risih. Piyama itu digunakan setelah mandi, ukurannya tidak lebar, sangat pas di tubuhnya. Panjang roknya di atas lutut, tidak ada kancing atau resleting, hanya tali panjang sebagai penahan. Alexa mengikat tali itu dengan kencang agar tidak lepas.


"Kamu bisa menggunakannya" ucap Zain sambil memberikan ponsel pada Alexa.


Zain mengalihkan pandangannya dan berjalan menjauh setelah memberikan ponselnya. Dia merasa akan melakukan hal yang buruk, jika menatap gadis itu lebih lama. Tapi, Alexa malah mendekat.


"Aku tidak pernah melakukannya. Bagaimana caranya?" Tanya Alexa.


Zain tergagap "me melakukan?"


"Beli! Bagaimana cara membeli baju disini? Aku selalu memakai pakaian apapun yang sudah di sediakan atau pergi ke tokonya langsung. Tapi, bagaimana cara membelinya disini?"


Zain menyadarkan dirinya dengan menggelengkan sedikit kepalanya. Dia pun menjelaskan cara membeli pakaian secara online pada Alexa.


"Ukuran tubuhmu berapa?" Tanya Zain.


"Aku tidak tahu"


"Kamu tidak pernah mengukurnya?"


"Pernah. Tapi, apa aku harus tahu ukuran tubuhku? Aku kan tidak menjahit bajuku sendiri" jawab Alexa.


"Ya sudah. Kita beli yang all size"


Alexa mengangguk. Dia pun menekan layar ponsel, membeli celana jeans dan kaos lengan panjang.


"Karena tokonya dekat, kiriman itu akan tiba beberapa jam lagi. Tunggu saja" ucap Zain.


Alexa mengangguk. Dia mengembalikan ponsel Zain dan beranjak ke arah sofa, mengambil remot lalu duduk dan menyalakan televisi. Sedangkan Zain sedang membasuh wajahnya di kamar mandi, menatap dirinya di cermin.


"Ada apa denganku? Aku merasa ingin terus menyentuhnya. Perasaan ini. Kapan perasaan ini mulai muncul?" Pikir Zain.


Tidak lama kemudian. Terdengar suara ketukan dari pintu, Alexa pun segera berdiri dan berjalan kearah pintu, lalu melihat keluar dari celah kecil. Terlihat seorang pria berpakaian rapi sedang membawa rak beroda yang berisi makanan.


Alexa pun segera membuka pintu. Dia mempersilahkan pegawai hotel itu untuk masuk dan meletakkan makanan di atas meja makan. Alexa segera duduk di kursi dan menunggu semua makanan di hidangkan.


Setelah semua piring berisi makanan dihidangkan di atas meja, pegawai itu pun berpamitan pergi, namun dia memperlambat gerakanya dan menatap tubuh Alexa dengan lekat. Di saat yang sama, Zain keluar dari kamar mandi dan melihat pegawai itu.


"Apa yang kau tunggu?" Tanya Zain ketus.


Saat melihat Zain, pegawai itu pun segera pergi dengan terburu-buru dan menutup pintu dengan cepat.


"Aku menunggumu. Kita makan bersama" jawab Alexa.


Zain merasa bersalah. Karena pertanyaan sebelumnya bukan untuk Alexa melainkan untuk pegawai hotel yang mengantar makanan. Dia pun mengambil handuk yang berada di atas meja lalu menutupi bagian atas tubuh Alexa.


"Udaranya dingin, kamu bisa jatuh sakit" ucap Zain.


"Oke, terimakasih..."


Zain menarik kursi dan duduk di atasnya. Mereka pun mulai melahap makanan yang berada di atas meja.


...***...


Pertarungan antara mobil sedang terjadi, suara tembakan terdengar nyaring, membuat siapa pun yang mendengarnya merasa takut. Mobil-mobil berhenti mendadak, membuat kecelakaan di tengah jalan.


"Ada apa?" Tanya Clare.


"Kalian menangkap orang yang salah. Dia bukan Johan! Dia saudaranya! Fred!" Teriak Lucy.


"Apa maksudmu?"


"Anggota kalian yang bertugas hari ini sedang mengejar orang yang salah! Mereka mengira bahwa dia adalah Johan! Sebaiknya kalian tarik kembali perintah itu"


"Baiklah. Aku akan memeriksanya"


"Dimana Alexa?" Tanya Lucy.


"Kenapa kau bertanya padaku? Bukankah dia harusnya bersamamu?"


"Dia tidak ada disini. Baiklah. Hubungi aku jika menemukannya" ucap Lucy.


"Oke"


Komunkasi pun di putus. Clare segera berlari keluar dari ruangan latihan. Dia berlari ke gedung informasi.


...***...


Alexa berdiri menghadap jendela. Melihat keluar. Dia berada di lantai 8, sehingga bisa melihat lautan yang memantulkan cahaya matahari sore dan kendaraan yang berlalu lalang.


"Pemandangannya indah?" Tanya Zain dari jauh.


"Ya, indah"


Zain berjalan mendekati Alexa, dan berdiri di belakang gadis itu.


"Aku bisa meperlihatkan lebih banyak hal indah di kota ini padamu" ucap Zain.


Alexa menoleh pada pria itu. Menatap.


"Kalau kamu bersedia" lanjut Zain.


Alexa kembali menatap keluar jendela dan berkata "aku tidak punya waktu untuk itu. Aku akan kehilangan sesuatu yang berharga jika lengah sebentar"


"Kita hanya beristirahat. Beberapa hari"


"Tidak, Zain. Kita harus pergi secepatnya. Aku tidak bisa mengulur waktu lebih banyak lagi"


Zain menyerah "baiklah. Kita akan pulang malam ini atau setelah pesananmu tiba"


Alexa terdiam beberapa saat. Dia memikirkan sesuatu hingga membuat jantungnya berdegup dengan kencang. Dia masih berada di hadapan jendela, sedangkan Zain hendak mengambil ponselnya yang berdering.


"Aku akan mengatakannya... jika aku ingin pergi, aku akan mengatakannya padamu. Kamu harus berjanji, kamu akan menepatinya. Karena mungkin, aku akan memintamu untuk membawaku pergi jauh" ucap Alexa.


Zain sama sekali tidak menyentuh ponselnya. Ucapan Alexa membuatnya terdiam dan menatap gadis itu. Alexa membalikkan badannya. Tatapan mereka bertemu lagi, kesekian kalinya.


"Mungkin ini terdengar bodoh. Tapi, aku pernah berpikir untuk lari. Hanya saja, tidak ada orang yang bersedia membawaku menjauh dari neraka itu. Aku ingin kamu melakukannya. Aku tidak tahu bagaimana perasaanmu padaku, tapi aku harap_"


"Aku mencintaimu" ucap Zain, memotong kalimat Alexa.


Alexa terdiam. Kalimat yang berada di pikirannya telah lenyap. Kosong. Hilang seketika, di gantikan dengan tubuh yang kaku dan jantung yang berdebar kencang. Zain berjalan mendekatinya dan mengabaikan dering telpon yang terus berbunyi.


"Aku..." Alexa tidak tahu harus berkata apa. Zain terus mendekatinya.


"Aku benar-benar mencintaimu" ucap Zain saat telah berada di hadapan Alexa.


Alexa tidak berkata apapun. Tubuhnya yang berbicara, dia mendekat pada pria itu dan memeluk tubuhnya dengan erat. Kehangatan di ruangan itu semakin terasa diantara keduanya. Pelukan itu cukup lama, hingga akhirnya mereka melepaskan pelukan dan saling berciuman satu sama lain.


Didalam ruangan yang nyaman, tenang dan tertutup, keduanya menjadi lebih berani. Hasrat yang belum terpuaskan meledak bersamaan. Ciuman itu tidak lagi biasa, gerakan tubuh yang sulit dikendalikan. Hingga akhirnya, mereka berbaring di atas kasur yang sama.


Zain mencium Alexa yang berada dibawah dekapanya. Tangan kanannya berada di atas perut Alexa, sedangkan yang kirinya menggenggam tangan kanan gadis itu. Ciuman diantara mereka semakin liar. Zain menurunkan kepalanya, mencium dagu Alexa, lalu lehernya, bahunya, hinga akhirnya...


Alexa menutup mulut Zain dengan tangannya. "Zain. Ponselmu terus berdering..."


...***...