A Gold Titanium

A Gold Titanium
Dia Adalah Seorang Pria



Pukul 01.30 siang.


Kami pun masuk ke dalam pesawat. Aku mengambil tempat duduk yang berhadapan dengan Clare. Sementara yang lain, memilih kursi nyaman sesuai keinginan mereka.


Pesawat mulai lepas landas. Tidak lama kemudian, kami sudah berada di ketinggian 35 ribu kaki.


"Sudah lama tidak melihatmu" ucap Alvin. Dia menghampiriku.


"Benar" ucapku.


Dia duduk di sebelahku. Kursi kosong yang tidak di duduki siapa pun. Sedangkan Clare, hanya fokus memperhatikan tabletnya.


"Kenapa seorang dokter bisa berada disini?" Tanyaku.


"Dokter Sophia yang memintaku. Ada seseorang yang harus ku perhatikan" jawabnya.


"Ya, kesehatan itu penting"


Alvin tersenyum "benar. Lihat! Ada awan yang mirip kura-kura" ucapnya menunjuk ke arah jendela.


Aku tidak tahu apa yang sedang pria ini lakukan, tapi dia terus mengajakku berbicara. Apapun. Mengenai pekerjaan atau bertanya tentang kehidupanku. Untungnya dia pandai berbicara, sehingga tidak ada pertanyaan yang membuatku tersinggung.


Tidak lama kemudian. Alvin pergi untuk memeriksa kondisi seseorang. Yaitu Brian. Wajah Brian tampak pucat, sepertinya dia sedang sakit atau mabuk perjalanan.


Aku melihat ke segala arah, mencari Clare. Aku tidak sadar kalau Clare sudah tidak ada di kursinya. Saat aku melihatnya, dia sedang bicara pada seorang wanita. Wanita itu menggunakan pakaian yang rapi dan merupakan salah satu pramugari disini.


"Apa pramugari itu juga anggota?" tanyaku pada Zain. Kebetulan dia sedang lewat di tempatku.


Seorang pramugari melihat ke arahku dan tersenyum, dia sadar bahwa aku baru saja memperhatikannya.


"Tidak, mereka berasal dari organisasi lain, bernama Blackterfly. Mereka bekerja sama dengan kita" jawab Zain.


"Blcakterfly? Sepertinya, aku tau tempat itu" ucapku, seolah mencegah Zain menjelaskan tentang mereka.


Blackterfly adalah nama organisasi gelap. Bukan karena mereka organisasi tertutup, tapi karena cara mereka mencari informasi lah yang di anggap gelap. Mereka menggunakan penampilan untuk menarik lawan, apapun jenisnya. Dan ketika lawan berada di dalam perangkap, maka akan lebih mudah mendapatkan informasi apapun.


Cara yang di lakukan bukan hanya sekadar membuat orang tertarik. Tapi, dengan memberikan tubuh pada targetnya. Jika berhasil dalam sekali "tidur" itu akan sangat menguntungkan. Namun, hal itu sangat jarang terjadi. Biasanya mereka akan melakukannya lebih dari sekali dan terus melakukannya hingga tujuan itu tercapai.


Organisasi itu adalah tempat yang sangat kotor dan tidak sehat, menurutku. Tapi, perbandingan korbannya tentu jauh lebih sedikit, karena mereka tidak banyak menggunakan senjata mematikan. Mereka terdiri dari pria maupun wanita, dan sebelum menjadi anggota tetap, mereka harus melakukan praktik kotor yang sulit untuk di jelaskan.


"Kau tau tempat itu?" Zain bertanya, melunturkan pikiranku.


"Aku pernah mempunyai teman dari sana" jawabku.


Itu hanya kebohongan. Aku tidak pernah mempunyai seorang teman pun dari tempat itu. Tapi, aku pernah mengunjunginya, sebagai pengawas. Dan itu adalah pekerjaan yang sangat mengerikan seumur hidup. Aku melakukan hal itu karena ada beberapa pria bajing*n yang suka rela memberikan informasi Grafedy pada orang asing. Jadi, aku harus membersihkan informasi itu sendirian.


Salah seorang wanita menghampiri Zain, dan mengatakan sesuatu padanya. Aku tidak bisa mendengarnya karena dia mengatakan itu dengan berbisik. Setelah itu, Zain berdiri dan berjalan menuju ruang kokpit. Lain cerita yang terjadi pada Kay, wanita barusan juga datang menghampirinya, tapi tidak membisikkan apapun, melainkan menyentuh dada Kay dengan mesra.


"Wanita gila!" pikirku, mana mungkin Kay akan tergoda... eh? Aku melihat Kay berjalan mengikuti wanita itu dari belakang. Mereka menuju toilet.


"Apa yang akan mereka lakukan?"


Aku melihat sekitar, tidak ada yang mencegah hal itu terjadi, Brian sedang di periksa kondisinya oleh Alvin. Sedangkan Clare melihat mereka, tapi dia terdiam di tempatnya. Tidak melakukan apapun, tapi di lihat dari wajahnya, sepertinya dia sangat kesal. Erna tidak terlihat di manapun.


"Aku baru melihat mu disini" ucap seseorang yang membuatku kaget.


"Aku baru bergabung" jawabku seadanya.


"Oh. Apa yang kamu lihat dari mereka?" dia bertanya sambil melirik pada Kay yang mulai masuk ke dalam toilet.


Pikiranku juga berisik saat melihat hal itu. "apa mereka akan? Tapi, bukankah itu wajar?"


"Sayangnya disini tidak ada laki-laki" lanjut wanita itu.


"Jadi mereka semua apa? Wanita?" pikirku saat mengingat Zain, Kay, Brian Alvin dan dua orang lainnya. Aku hanya menyimpannya dalam pikiranku, karena tidak ingin bicara padanya.


"Walaupun begitu, aku sangat berpengalaman membuat siapapun merasa "puas". Kau tidak akan menyesal jika "bermain" denganku. Kalau kau menginginkannya, disana masih ada satu toilet yang kosong" ujarnya sambil menunjuk ke arah toilet.


Aku meletakkan tangan ku di atas kepala. Tidak habis pikir, bagaimana bisa, dia mengatakan hal yang menjijikkan seperti itu. Aku pun menjadi kesal padanya.


"Sebaiknya kau pergi dari hadapanku. Aku tidak tertarik denganmu. Kau membuatku muak! Kalau kau berada lebih lama di hadapanku, aku tidak akan segan membuat otakmu keluar. Agar bisa ku lihat, seberapa kotor isi pikiranmu" ucapku menekankan setiap kalimat yang di lontarkan padanya.


Dia terdiam dan seketika terlihat kaku. Dia pun segera meninggalkanku.


...***...


Sementara itu, di dalam toilet.


"Semuanya ada disini. Data para anggota Blackterfly. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang di jebak agar bergabung di tempat itu" ungkap seorang wanita yang berada di dalam toilet yang sama dengan Kay.


"Menjauh sedikit dariku" kata Kay.


"Kau tidak melihat situasi? Disini sangat sempit" ucapnya kesal.


Kay mengambil benda berbentuk flashdisk dari tangan wanita itu.


"sepertinya kau sudah terbiasa menjadi wanita, Arnold" ucap Kay.


Wanita itu adalah seorang pria yang sedang menyamar. Dia bernama Arnold, dia pun memperbaiki rambutnya yang panjang.


"Jaga mulutmu! Aku masih suka wanita! Kau dan Zain hanya memerintah ku untuk melakukan hal ini. Tanpa kalian tahu, ini pekerjaan yang sangat berat buatku, setidaknya aku harus menolak belasan pria dalam sehari" Arnold menjelaskan dengan wajah kesal.


"Kau juga tidak menolak saat kita merencanakannya, kau malah menyetujuinya karena berpikir akan banyak wanita cantik di sana. Tapi, apa mereka tidak curiga padamu? Kau tidak bisa terus menolak mereka"


"Tidak. Kalau mereka curiga, aku sudah mati. Dan ternyata, para wanita yang bejerja tidak secantik yang aku pikirkan. Aku juga lebih banyak mengambil tugas dengan seorang wanita, tapi jika klien ku seorang pria, dia harus mati sebelum menyentuh tubuhku. Argh!!! si*l!!! Aku jadi mengingat kejadian yang membuatku merinding" jawab Arnold sambil mengusap bahunya sendiri.


"Kau sudah bekerja dengan baik" Kay menepuk pundak Arnold.


"Jangan bicara apapun dan jangan menyentuhku!" ucap Arnold saat menepis tangan Kay.


"Sepertinya kau jadi lebih sensitif, seperti wanita. Haha. Baiklah, kita harus keluar sekarang, waktu kita tidak banyak" ucap Kay


"Sial*n kau!!! Oh, iya, berikan ini pada Zain" kata Arnold saat mereka hendak keluar, Arnold memberikan secarik kertas pada Kay.


Sebelum mereka keluar, Arnold mengacak-acak rambutnya sendiri dan mengusap lipstik di bibirnya, seolah mereka sudah melakukan "sesuatu". Sedangkan Kay, dia hanya membuka jaketnya dan meletakkannya di atas bahu.


Zain berada di ruang kokpit, menutup pembicaraan yang terjadi di dalam toilet. Dia meletakkan sesuatu dan mengubahnya menjadi suara yang lain. Setiap ruang di toilet memiliki alat perekam, itu berguna untuk mengetahui sebuah informasi rahasia. Karena bukan hanya mereka yang menggunakan pesawat itu.


...***...