A Gold Titanium

A Gold Titanium
Sammy



Malam yang gelap. Tidak terlihat bintang satu pun di langit. Aku melangkah ringan memasuki rumah. Tapi, saat tiba di dalam rumah, aku tidak melihat siapapun.


Aku berjalan mendekati meja makan. Disana aku melihat gelas yang penuh dengan air. Aku pun meminumnya.


"Uhuk!" Aku terbatuk. Minuman itu terasa pahit dan tidak nyaman. Aku pun mencoba mencium aromanya.


"Ini Whiskey. Siapa yang meminumnya?"


Aku tidak biasa meminum alkohol. Organisasi Increase juga melarangnya jika sedang bertugas. Di kepalaku terbesit wajah Brian, hanya dia yang suka sembarangan meletakkan barang dan melanggar peraturan.


Aku duduk di kursi, memperhatikan minuman itu. Warnanya putih seperti air biasa. Jumlahnya cukup banyak, mungkin bisa membuatku mabuk dan melupakan masalahku sejenak.


"Rasa pahitnya masih sama seperti pertama kali aku mencoba minuman ini"


Di dalam hidupku ada dua racun yang tidak boleh ku sentuh. Minuman beralkohol dan cinta. Karena keduanya memabukkan dan membuat orang ketagihan. Seperti obat-obatan, namun keduanya legal di masyarakat.


"Tidak apa. Ini yang terakhir" ucapku.


Setelah mengatakan itu, aku meminumnya. Rasanya masih pahit, tapi lidahku mulai terbiasa setelah berulang kali meminumnya.


Ini kali kedua aku meminum alkohol. Aku tidak pernah menyentuh minuman seperti ini, karena berpikir minuman itu akan membuatku lengah. Tapi, aku mengenal setiap minuman dari aroma yang di hasilkan.


...***...


"Kami sedang berada di perjalanan menuju pelabuhan. Madam Neva menghubungi kami, dia memerlukan banyak bantuan. Ada sedikit masalah disana. Kau dan Zoe tidak perlu menyusul, tolong pastikan Kay baik-baik saja" ucap Clare.


Suara Clare terdengar di ponsel milik Zain.


"Apa yang sedang terjadi?" Tanya Zain.


"Entahlah. Kami masih di perjalanan, tapi akan ku jelaskan nanti" jawab Clare.


"Berikan ponselnya padaku" ucap Brian, suaranya terdengar samar-samar.


Clare memberikan ponselnya pada Brian.


"Aku lupa menyimpan minuman ku ke kulkas. Jangan kau minum. Minuman itu ada di atas meja. Tolong simpan untukku" ucap Brian.


"Ya.." jawab Zain.


Zain mematikan ponselnya. Namun masih sempat terdengar suara Clare. "Sudah ku bilang, jangan minum saat sedang bekerja"


Zain memasukkan motornya, lalu dia masuk ke dalam rumah. Dia tidak melihat siapapun, lengang, hanya suara detik jam yang terdengar.


Saat hendak berjalan ke kamarnya. Zain melihat Alexa duduk di kursi dengan kepala yang tertunduk di meja makan. Zain hanya melihatnya dan tidak ingin peduli, namun...


PRANKK!!!


Suara dari gelas yang pecah membuat langkahnya terhenti. Dia langsung menuju ruang makan. Setelah mendekat, dia baru tahu kalau Alexa kehilangan kesdarannya karena meminum segelas alkohol.


Zain melangkah lebih dekat, menginjak pecahan beling dengan sepatunya. Alexa bergerak dan menoleh, lalu tersenyum saat melihat wajah Zain.


"Zain... ngapain disini? Pergi... aku tidak mau berdebat... sekarang..." ucap Alexa.


Zain mendekati Alexa, memegang tangannya. Wanita itu menatapnya bingung. Zain pun menggendong wanita itu, membawanya jauh dari pecahan beling.


"Aku... sudah memohon pada Papa... Sam... aku berlutut, menangis... tapi dia tetap pergi... aku tidak peduli... kalau kau menyalahkanku... aku salah... karena mengenalnya..." ucap Alexa setengah sadar.


Zain tidak mengatakan apapun. Dia hanya terdiam sambil terus menggendong Alexa, membawanya ke lantai atas.


"Matamu... mirip dengannya... aku mengenalmu..." ucap Alexa, setelah itu dia tertidur.


Zain membaringkan wanita itu ke atas kasur. Menutupinya dengan selimut yang tebal. Alexa memiringkan badannya, membelakangi Zain. Dia pun tertidur.


"Jangan minum terlalu banyak kalau tidak bisa mengatasinya" ucap Zain.


Zain melangkah pergi dari kamar itu. Dia menuju ke lantai bawah, membereskan pecahan beling. Di saat yang sama, Zain mengingat kejadian 15 tahun yang lalu.


...***...


Sammy yang masih kecil. Selalu pergi ke sekolah dengan ceria. Dia memiliki banyak teman dan di sukai para guru.


Perbedaan usia Sammy dan Zain cukup jauh, yaitu 6 tahun. Saat usia Sammy 7 tahun, Zain telah berusia 13 tahun. Mereka hanya bisa bertemu setiap setahun sekali, saat Zain pulang ke rumah, karena dia belajar di sekolah berasrama.


"Kakak!" Sahut Sam saat melihat kakak laki-lakinya turun dari bis sekolah.


"Wahh kakak semakin tinggi" ucap Sam.


Zain tersenyum dan mengusap kepala Sam. "Kamu juga bertambah tinggi"


Pertemuan yang sangat di rindukan. Kedua kakak beradik itu saling merindukan satu sama lain. Karena usia yang cukup jauh, Zain mempunyai sifat dewasa saat menghadapi Sam_yang terkadang menyebalkan.


"Aku sering mengirim surat. Kakak membacanya?" Tanya Sam dengan antusias.


"Tentu saja. Aku juga membalasnya"


"Ohh iya, aku hampir lupa. Hehe" ucap Sam sambil menyeringai.


"Kenapa? Ada yang belum kamu ceritakan?" Tanya Zain.


Sam mengangguk dengan cepat. "Tapi, ini rahasia kita ya? Jangan beritahu siapapun"


"Apa kamu mau menceritakan tentang anak perempuan yang unik itu?" Tanya Zain.


"Shhhttt. Jangan keras-keras bicaranya. Ini rahasia" ucap Sam sambil berbisik.


Zain mengangguk.


"Namanya Alexa. Dia tidak pernah memberitahu namanya pada orang lain, hanya aku yang mengenalnya" ucap Sam dengan bangga.


"Benarkah? Lalu, bagaimana orang memanggilnya?"


"Orang-orang selalu memanggilnya Nona kecil Grady atau Nona Grady. Dia pun menyuruhku memanggilnya begitu" jawab Sam, berbisik.


Zain mengangguk, mencoba tertarik dengan pembicaraan anak kecil di hadapannya.


"Dia sangat aneh, tapi aku suka. Kakak tahu? Dia bisa menembak dengan tepat menggunakan pistol. Dia juga mewarnai rambutnya agar tidak di kenali orang. Wajahnya berbintik, tapi itu tidak asli, dia membuatnya sendiri" ucap Sam.


Zain memasang ekspresi kaget. "Waahhh benar-benar gadis yang unik. Lalu, apa lagi kehebatannya?"


"Dia sangat cantik! Dia pernah memperlihatkan warna asli matanya, lalu memakai rambut palsu warna hitam. Dia bilang, itu adalah dirinya jika rambutnya tidak di warnai"


"Memang, apa warna asli rambutnya?"


"Hitam. Dia memiliki mata yang hijau, sangat cerah dan bersinar" jawab Sam.


Zain mengangguk lagi. "Waahh dia sangat cantik ya?"


Sam ikut mengangguk. "Bukan hanya itu. Dia juga memiliki banyak pengawal di rumahnya. Mereka semua bersenjata dan tidak kenal takut. Dia selalu di lindungi dan di hormati. Kakak tahu? Dia juga pintar berkelahi. Dia mengajarkanku beberapa trik membela diri"


"Ohhh... apa dia benar-benar temanmu?"


"Tentu saja!"


"Kamu percaya?"


"Tentu saja. Nona Grady sangat luar biasa"


"Dan kamu memanggilnya begitu?" Tanya Zain.


Sam mengangguk dengan kuat.


"Mungkin saja dia berbohong. Dia tidak mau kamu memanggil namanya. Karena dia ingin menjadikanmu bawahannya, bukan temannya" ucap Zain sambil tertawa.


Wajah ceria Sam langsung berubah seketika. Dia merasa kesal.


"Kakak tidak percaya?"


"Ceritamu sangat bagus. Aku suka. Cukup menghibur saat mendengarnya" jawab Zain sambil tertawa lagi.


"Aku tidak bohong! Dia sendiri yang bicara padaku! Aku juga tidak boleh memanggil namanya sembarangan"


"Kenapa?" Tanya Zain sambil menahan tawa.


"Aku tidak tahu. Dia hanya bilang begitu. Dia juga bilang, kalau bertemu dengan Papanya, aku harus berpura-pura baru mengenalnya sehari" jawab Sam dengan kesal.


Zain tersenyum dan mengusap kepala adiknya. "Baiklah. Aku percaya. Tapi, kamu harus hati-hati, jangan mudah percaya dengan orang lain. Bisa saja orang itu jahat"


Sam tersenyum dan mengangguk.


Mereka tidak melanjutkan percakapan karena di panggil oleh ibu untuk makan malam. Keluarga itu terlihat sangat lengkap di atas meja makan.


"Makan yang banyak. Nanti, kamu bisa menyusul kakakmu bersekolah disana" ucap ibu mereka pada Sam.


Sam makan dengan lahap. Dia sangat senang dengan kehadiran kakaknya.


Tidak ada yang tahu tentang masa depan. Bahkan bagi anak yang terlihat bahagia dan ceria di usia yang masih kecil.


...***...