A Gold Titanium

A Gold Titanium
Membeli



Waktu menunjukkan pukul 5 petang. Aku, Alvin, Brian, Erna dan Clare sedang berada di dalam sebuah mobil, melaju menuju sebuah tempat. Tujuan kami adalah sebuah rumah yang akan kami gunakan ketika berada disini. Sementara Kay dan Zain, berada di mobil lain, mereka berkata akan mengunjungi suatu tempat.


Aku bernapas lega karena mereka tidak disini. Mereka adalah baj*ng*n tampan yang menutupi sifat buruk dengan penampilan. Aku pikir mereka bukan pria yang seperti itu, tapi keduanya sama saja. Aku melihat Zain keluar dari ruang kokpit, sepertinya dia membantu Kay menutupi perbuatan buruknya. Dan Kay yang keluar toilet dengan pakaian yang berantakan.


"Kalian berdua sedang datang bulan?" celetuk Brian di tengah perjalanan.


"Apa katamu?" Clare bertanya dengan nada ketus. Sepertinya dia juga baru tahu kelakuan busuk teman satu timnya.


"Saat turun dari pesawat, wajahmu berubah. Seperti ada kobaran api di sekitarmu. Kau juga" jawab Brian sambil menunjukku.


"Si*lan!!!" Clare memukul kepala Brian. Brian pun mengaduh kesakitan.


"Apa salahku?" tanya Brian sambil meringis.


"Karena kau mabuk!!!" jawab Clare.


Brian menggaruk kepalanya, dia bingung melihat sifat Clare yang seperti itu. Akhirnya, dia memilih untuk diam. Aku sedikit tertawa, karena baru tahu kalau pria banyak omong itu bisa mabuk kendaraan.


...***...


"Arnold akan datang membantu kita setelah urusannya selesai" kata Kay.


Mereka berada dalam satu mobil, sementara Zain menyetir.


"Itu bagus. Kehadirannya akan berguna" Zain membelokkan setir mobil.


Mereka mengunjungi tujuan yang berbeda. Tempat itu adalah lokasi pertemuan rahasia, yang hanya di ketahui orang-orang berpengaruh dan memiliki banyak uang. Untuk masuk ke dalamnya, mereka menggunakan identitas palsu, yaitu menggunakan identitas sebagai pejabat dengan posisi tinggi. Zain dan Kay telah bersiap dengan identitas mereka, karena bukan hanya sekali mereka melakukannya.


Mereka tiba di depan gerbang dengan empat penjaga. Keempat penjaga itu sudah mengenal mereka, dan segera di persilakan masuk. Mobil pun bergerak masuk ke dalam gerbang, terlihat mobil-mobil mewah yang tertata di tempat parkir dan juga bangunan yang sangat megah.


"Hallo Tuan Benjamin" sambut seseorang dan berjabat tangan dengan Zain.


Mereka berdua di sambut ramah ketika memasuki gedung utama.


"Tuan James" ucap seseorang itu pada Kay.


Dia adalah seorang pria paruh baya, menggunakan baju bercorak dan dililit perhiasan berupa emas di setiap tubuhnya.


"Sudah lama sekali anda tidak berkunjung. Kami memiliki banyak "barang" baru" lanjutnya.


"Senang bertemu denganmu lagi, tuan Jordan. Aku lebih senang lagi karena kau sudah mengetahui keinginanku, tanpa perlu di jelaskan" ucap Zain.


"Ohhh tentu saja. Bagaimana dengan yang kemarin? Apa memuaskan? Dia adalah produk terbaik yang kami miliki. Banyak orang yang menyesal karena tidak membelinya" Jordan berkata sambil menuntun mereka ke suatu tempat.


"Oh, Haha, aku merasa beruntung. Tapi sayangnya, dia mati beberapa bulan yang lalu" jawab Zain.


Tempat itu sangat luas dan memiliki enam lantai. Terlihat pria dan wanita di setiap sudutnya. Pria dan wanita yang menggunakan baju mewah, penuh perhiasan dan penampilan yang sangat berlebihan adalah Tuannya, sedangkan pria dan wanita yang tampak pendiam adalah "mainan" nya. Tempat ini mempunyai nama "Everything" yang berarti "segalanya". Karena disini merupakan tempat yang menjual semuanya.


Dari anak kecil berusia balita sampai berusia dua puluh lima tahun, di jual di tempat ini. Mereka berasal dari seluruh penjuru dunia. Mereka adalah korban dari penculikan atau dijual. Tapi, kebanyakan dari mereka berasal dari anak yatim piatu yang di ambil di jalanan.


Jika anak-anak itu sudah di beli, mereka harus menuruti si pembeli atau mereka bisa di sewa selama waktu tertentu. Mereka juga harus bersikap manis untuk mendapatkan pelanggan, karena jika tidak, ada hukuman yang akan mereka terima, tapi itu tidak lebih menakutkan daripada di beli untuk di ambil organnya.


Tidak hanya menjual "manusia". Tempat ini juga menjadi tempat perjudian tertutup, tempat jual beli barang ilegal seperti ganj* atau sejenisnya dan tempat percetakan uang palsu, serta menjual beberapa informasi jika menginginkannya. Tapi jika bertanya tentang Grafedy, mereka akan bungkam, karena tempat ini adalah milik Grafedy.


"Ini dia, cantik-cantik, bukan?" tanya Jordan saat tiba di salah satu ruangan.


Ruangan itu hanya terdapat dua sofa panjang dan satu meja, selebihnya adalah tempat seperti panggung. Panggung itu di gunakan untuk menampilkan para wanita. Para wanita telah di rias dengan sangat cantik dan menggunakan pakaian yang serba minim sebelum berjalan di atas panggung, lalu menunjukkan gerakan-gerakan eksotis.


"Kalian cukup diam, jangan melakukan apapun. Tuan-tuan ini akan memilih salah satu dari kalian" ucap Jordan pada semua wanita itu.


Jordan sangat mengenal baik para pelanggannya, dia juga mengetahui selera tamu yang datang. Karena itu, dia akan bertindak sebelum di minta. Seperti saat ini, para wanita tidak mengenakan pakaian minim ataupun menggoda dengan gerakan. Karena Zain dan Kay terbiasa memesan dalam keadaan seperti itu.


"Semuanya sangat cantik, aku sulit untuk memilihnya, bagaimana menurutmu?" tanya Zain pada Kay.


"Bagaimana jika kita membeli mereka semua?" Kay memberi saran.


"Ide bagus, Tuan. Aku yakin, mereka akan melayani anda dengan baik sampai anda merasa puas" Jordan tertawa.


"Tidak, tidak... Jika aku membeli mereka semua. Akan sulit bagiku untuk membersihkannya" Zain menengahi pembicaraan.


"Hahaha, kau benar. Jika sudah tidak berguna, mereka harus di buang. Tapi kalau terlalu banyak, akan sangat merepotkan" Kay menimpali.


"Kami membutuhkan waktu untuk berpikir. Bagaimana kalau anda menyiapkan minuman?" lanjut Kay bertanya.


"Ah, tentu saja. Silahkan kalian duduk disini. Aku akan segera menyiapkannya" jawab Jordan dan segera keluar dari ruangan itu.


Setelah Jordan keluar, Zain dan Kay duduk di sofa panjang, mulai berbicara.


"Dia berada di barisan kedua, nomor tiga dari kiri, menggunakan gaun merah" bisik Kay.


Zain mengangguk. "Aku melihatnya. Bagaimana uangnya?" Tanya Zain setelah memperhatikan wanita tersebut.


"Aku sudah menyiapkannya" jawab Kay dan mengeluarkan secarik kertas.


Kertas itu berupa cek kosong, yang akan di gunakan jika harga sudah di tentukan.


"Aku ingin sekali menarik lidahnya sampai putus. Lancar sekali dia bicara dan menyamakan mereka seperti barang " ungkap Kay kesal.


"Kita tidak bisa melakukan apapun sekarang. Satu-satunya hal yang harus di singkirkan adalah pemilik tempat ini. Dia adalah akar dari semuanya"


"Kau benar" Kay mengangguk.


Pintu terbuka, Jordan datang dengan beberapa wanita yang membawa minuman di dalam gelas. Zain pun langsung berdiri.


"Aku tidak haus lagi. Aku ingin segera meninggalkan tempat ini, dia sudah membuatku bergairah" ungkap Zain sambil menunjuk seorang wanita. "Aku akan membelinya"


Mata Jordan berbinar, bibirnya menyeringai lebar menunjukkan gigi-gigi yang kuning akibat rokok dan minuman.


Pembayaran itu tidak sulit, mereka hanya menuliskan nominal yang telah di sepakati, dan memberikan kertas itu pada si penjual. Tidak ada prosedur apapun dan bisa langsung membawa pulang sesuatu yang sudah di beli.


.........


"Siapa namamu?" tanya Kay berbasa-basi. Padahal dia sudah mengetahuinya.


"Tania" jawab wanita itu pelan.


Mobil yang di kendarai Zain sudah keluar dari gerbang, sekarang mereka sudah berada di badan jalan, bergabung dengan pengendara lainnya.


"Apa kamu sudah pernah melayani pembeli?" Kay bertanya lebih lanjut.


Tania terlihat takut dan hanya menggelengkan kepalanya. Dia berada di kursi belakang, sedangkan Kay dan Zain di kursi depan.


"Tidak" jawab Tania, setelah menyadari kalau Kay tidak melihatnya.


"Ayahmu sudah menjualmu ke tempat itu. Dan saat ini, ibumu sedang menunggumu. Kami tidak bermaksud jahat, jadi kamu tidak perlu takut" Zain menjelaskan.


Walaupun sudah di jelaskan, Tania tetap merasa takut. Karena dia sudah banyak mendengar cerita kekejaman yang di lakukan orang-orang pada anak seusianya. Dan saat ini dia baru menginjak usia lima belas tahun.


Zain menghentikan mobil saat berada di depan sebuah rumah makan.


"Kami tidak punya banyak waktu untuk bertemu dengan ibumu. Tapi, dia sedang berada di dalam sana" ucap Zain pada gadis itu.


Gadis itu tampak ragu untuk membuka pintu, tapi akhirnya dia melakukannya. Dia segera keluar dan berlari ke tempat ibunya berada. Kaca rumah makan itu transparan, sehingga bisa terlihat dari luar. Zain dan Kay memperhatikan dari jauh danĀ  segera pergi setelah memastikan semuanya berjalan dengan lancar.


Mereka tiba di rumah pada saat matahari hampir tenggelam. Dan saat membuka pintu, mereka melihat sesuatu yang tidak seharusnya.


Clare berada di sisi kanan, sedangkan Alexa berada di sisi kiri. Brian adalah korban yang berada di tengah dengan baju yang sudah sobek di setiap sisi.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" Kay dan Zain bertanya bersamaan.


...***...