
Aku tidak menyerahkan Vivian pada INCREASE. Aku meninggalkannya di pinggir jalan dengan kaki kanan yang terluka. Dia menangis dan berteriak kesakitan saat aku menembaknya.
"Ini hanya permulaan. Kau akan menerima sesuatu yang lebih dari ini. Vivian" Ucapku sebelum pergi.
Vivian menatapku tajam saat aku kembali masuk ke dalam mobil. Dia menangis di pinggir jalan sambil memegang kakinya yang bercucuran darah.
Jalan malam ini cukup sepi. Aku melewatinya dengan cukup mudah.
"Dia sama sekali tidak mengenaliku. Tapi, dia akan segera tahu. Johan tidak akan diam saja saat mengetahui hal ini"
Setengah jam kemudian, aku tiba di halaman rumah. Aku segera masuk ke dalam rumah.
"Zoe, kamu baik-baik saja?" Tanya Clare. Langsung menghampiriku.
Zain dan Alvin langsung berdiri begitu melihatku. Semua orang menatap ke arahku. Aku memperhatikan sekitar. Kay masih terbaring karena luka di tubuhnya, dia sudah di rawat dengan baik.
"Kau bisa menolongku?" Tanyaku pada Zain.
Zain langsung berjalan ke arah ku. "Ada apa?"
"Ikuti aku" ucapku.
Aku berjalan keluar, di ikuti Zain dari belakang.
"Aku harus mengembalikan mobil ini sebelum mereka melacaknya" ucapku.
"Oke"
Zain kembali masuk ke dalam, mengambil helmnya. Lalu, dia mengeluarkan motor dari dalam garasi.
Aku pun segera masuk ke dalam mobil. Membawanya ke sembarang tempat. Meletakkanya begitu saja. Setelah itu, aku duduk di belakang Zain, menaiki motornya.
Dia membawa motor dengan kecepatan tinggi. Melalui jalan yang semakin sedikit pengendara.
"Apa yang kau lakukan disana?" Tanya Zain di tengah perjalanan.
"Menemui wanita itu" jawabku.
"Kau berhasil menemuinya?"
"Iya. Tapi, kalian tidak bisa menahannya. Jadi, aku membuangnya di pinggir jalan" jawabku.
"Kau bertindak sembarangan. Kenapa kau berpikir kami tidak bisa menahannya?"
"Aku mengenalnya. Dia tidak berbahaya. Tapi, jika dia menghilang, semua orang akan mencarinya"
Zain tidak menjawab apapun, tapi wajahnya tampak kesal.
Pria dingin yang sedang berada di depanku ini, membuatku merasa bersalah.
...***...
"Aku sudah bilang padamu! Jangan gegabah! Untuk apa kau ke tempat itu!?" Tanya Johan dengan nada tinggi.
"Aku terluka! Dan kau malah berteriak padaku?" Cetus Vivian kesal.
Vivian di temukan lima belas menit kemudian. Dia langsung di rawat. Lubang peluru di kakinya cukup dalam.
"Sekarang pun, kau hampir kehilangan nyawa karena kehabisan darah. Apa yang kau pikirkan? Hah!?"
Vivian terdiam. Dia tidak tahu, Johan akan semarah itu.
"Wanita itu adalah Alexa! Dia sedang memberi peringatan pada kita" ucap Johan.
"Alexa? Apa maksudmu? Siapa Alexa?" Vivian mengerutkan keningnya.
"Gadis itu adalah anak Pamela. Namanya Alexa. Anak yang selalu ingin ku bunuh. Dia juga yang sudah mengancam nyawa mu sebanyak dua kali" jawab Johan.
Vivian membuka mulutnya lebar-lebar. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Gadis itu? Maksudmu gadis yang di kabarkan mati di gedung? Dia masih hidup?"
"Dia mengunjungiku beberapa hari yang lalu. Dia masih hidup" jawab Johan.
"Si*l! Yang benar saja!? Siapa namanya? Alexa? Hah! Bisa gila aku! Kau masih membiarkannya hidup!? Sekarang aku tahu alasanku bisa terluka. Aku begini karena kau membiarkannya hidup dan berkeliaran di mana-mana!" ucap Vivian kesal.
Johan merasa kesal dengan ucapan Vivian. Dia pun mendekat dan mencengkram pipi wanita itu.
"Kau hanya jal*ng yang selalu menempel padaku! Kalau kau mati, itu urusanmu! Jangan menyeretku dalam masalahmu!" ucap Johan.
Vivian merasa tertekan sehingga tidak bisa berkata apapun. Johan melepas cengkramannya dengan kesal.
"Seharusnya aku membunuhnya sejak dulu" ucap Johan.
Vivian mengusap pipinya yang sakit. Lalu, dia tersenyum.
"Kau tidak perlu repot membunuhnya. Dia akan mati dengan mudah" ucap Vivian.
Johan menatap tajam padanya "dia masih berani bicara"
"Bukankah namanya Alexa?" Tanya Vivian sambil tersenyum lebar.
Malam semakin kelam. Gelap. Suara hewan malam mulai terdengar. Jika saja hewan-hewan itu bisa mengerti pembicaraan manusia dan menyampaikannya. Mungkin, tidak akan ada bahaya yang akan terjadi.
...***...
"Kita pernah bertemu sebelumnya" ucap Zain.
Aku langsung menjawabnya. "Di gedung itu? Ya, aku ingat"
"Sammy. Kau masih ingat dengannya?" Tanya Zain.
Aku berbalik. Menatap padanya. Mata biru itu balik menatapku. Dia tidak menunjukkan ekspresi apapun. Nama yang baru saja dia ucapkan, sangat berarti bagiku.
"Kenapa aku harus mengingatnya?" Tanyaku.
"Dia kehilangan nyawanya karenamu. Tapi, kau melupakannya dengan mudah?"
"Aku tidak membunuhnya! Dia mati karena kesalahannya!" Ucapku.
Aku melepaskan tanganku dari genggamannya, dan segera berjalan ke dalam rumah. Dia tidak salah, tapi aku sedang tidak ingin membahasnya.
Sammy Maverick Scott. Anak ke dua dari keluarga Scott. Dia adalah adik laki-laki Zain satu-satunya. Dia meninggal 14 tahun yang lalu. Aku masih mengingatnya dengan jelas.
Aku menyukai senyumannya yang ceria.
"Alexa!!!" Teriak Sammy.
Sammy. Atau yang biasa ku panggil Sam saat kecil. Berlari ke arah ku dengan senyuman di wajahnya. Saat itu, usianya sama denganku. 7 tahun.
"Shhttt! Sam! Kamu tidak bisa memanggil namaku begitu" ucapku.
"Kenapa?"
"Ini rahasiaku dengan Papa. Aku kan sudah pernah bilang padamu" jawabku.
Sam menutup mulutnya. "Maaf. Saya lupa, Nona Grady"
"Apa kamu ingat kata-kata yang selalu aku bilang?"
"Siap! Tentu saja aku ingat!" Jawabnya sambil mengepal tangannya.
Walaupun dia berkata seperti itu. Dia tetap mengganggu dan selalu membuatku tertawa. Sam sangat ceria. Kami pun berteman selama setahun. Setelah itu, dia pergi selamanya.
Semuanya terjadi dengan cepat. Saat itu, Johan baru saja turun dari mobil setelah perjalanan dari luar negeri. Aku segera menghampirinya dengan senang. Tapi, aku tidak sadar kalau Sam berada di depan halaman rumah.
Johan melihat Sam, membawanya masuk dan bertanya langsung pada Sam.
"Siapa namamu?" Tanya Johan.
"Nama saya Sammy. Tapi, orang-orang memanggil saya Sam. Saya temannya Alexa. Salam kenal..." Sam menjawab dengan santai.
Aku melotot pada Sam. Rasa percaya dirinya itu membuatnya berada dalam bahaya. Namun saat itu, aku tidak bisa menyangkal pertemanan kami, karena tidak ada gunanya aku berbohong.
"Sejak kapan kalian saling kenal?" Tanya Johan.
Aku menyerah. Aku menundukkan kepalaku, berpikir bahwa Sam akan mengatakan yang sebenarnya. Tapi...
"Kami mulai berteman hari ini. Tapi, dia tiba-tiba pergi saat sedang bermain" jawab Sam.
Sam tersenyum padaku. Dia seperti mengisyaratkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Saat itu, mungkin dia tahu apa yang akan terjadi padanya.
"Kau memberi tahu namamu padanya?" Tanya Johan sambil menatapku.
Johan menarik tanganku. Membawaku ke ruangan tertutup dan meninggalkan Sam sendirian di halaman rumah.
"Sudah ku peringatkan padamu!" Bentak Johan.
Raut wajah Johan terlihat buas saat itu. Dia menunjukkan amarah yang tidak biasa. Tiba-tiba, air mataku mengalir deras. Seluruh badanku bergetar. Aku berlutut di hadapannya, memohon belas kasih.
"Jangan Pa! Jangan bunuh dia... Sam hanya anak kecil yang tidak mengerti apapun. Aku mohon..." kedua tanganku menyatu, memohon padanya. Sambil menangis.
"Dia harus di singkirkan!" Ucap Johan.
"Aku... Sa saya akan melakukan apa saja! Saya mohon. Tolong jangan sakiti dia! Biarkan dia hidup..." ucapku gemetar.
"Apa yang bisa di lakukan anak kecil sepertimu?" Tanya Johan sambil melotot padaku.
"Tolong... Jangan... Dia harus hidup... Apa salahnya mengetahui sebuah nama?... Lagipula, apa yang bisa di lakukan anak sekecil itu?" ucapku lirih.
Johan tidak peduli dengan ucapanku. Dia memanggil bawahannya.
Aku menangis sepanjang hari. Johan tidak mengizinkanku keluar dari kamar. Selama di dalam kamar, aku hanya terdiam dan menyesali semuanya. Rasa sedih, bersalah, marah, dan berbagai pikiran negatif, merasuki diriku.
Dua hari setelah kejadian itu. Sammy di temukan tidak bernyawa di dalam kamarnya. Berita di televisi mengatakan kalau dia terkena racun dari rumput liar di jalanan.
Anak kecil yang keracunan karena rasa penasaran? Sangat masuk akal. Seluruh masyarakat menerima alasan logis itu. Kecuali keluarganya, karena mereka sangat mengenal anaknya.
Sam selalu ingat dengan kata-kataku.
"Kalau kamu bertemu dengan Papaku. Bilang saja kita baru berteman hari ini. Lalu, jangan pernah menyebut namaku di depannya. Paham?"
Sam mengangguk. Tapi, dia lupa satu hal. Dia menyebutkan namaku.
...***...