A Gold Titanium

A Gold Titanium
Dia Ayahku



"Zain... kau dimana? Dimana Alexa? Dia bersamamu kan?" Suara Kay terdengar di ujung ponsel.


Zain memegang ponselnya di telinga kanan "dia bersamaku. Kami... ada di suatu tempat. Ada apa?"


"Ada masalah besar saat ini. Sebaiknya kau segera datang. Alan salah menyangka seseorang sebagai Johan, saat ini dia dan beberapa anggota sedang mengejar orang itu. Sepertinya, orang itu berhubungan dengan Alexa" ucap Kay.


"Aku akan segera kesana!"


"Akan ku kirimkan alamatnya"


Zain mematikan telepon dan menunggu Alexa yang sedang berganti pakaian di kamar mandi. Setelah Alexa keluar, dia langsung menghampirinya.


"Kita harus segera pergi" ucap Zain.


"Ada apa?"


"Aku akan menjelaskannya di mobil"


Mereka berdua segera keluar dari hotel. Menuju mobil yang terparkir di basement. Zain membawanya mobil dengan kecepatan penuh.


"Alan dan beberapa anggotanya sedang mengejar seseorang yang di duga adalah Johan. Tapi, orang itu bukan Johan" ucap Zain.


Alexa terdiam saat mendengarnya. Memikirkan kemungkinan yang buruk "Tidak... tidak mungkin... tidak mungkin orang itu adalah paman Fred"


"Dia akan baik-baik saja"


...***...


Pengejaran itu berlangsung cukup lama. Orang-orang suruhan Lucy telah tiba dan segera menghalangi para anggota INCREASE. Namun mereka terlambat, kekacauan sudah terjadi dimana-mana, membuat polisi dan pemadam kebakaran tiba untuk meredakan situasi.


Mobil yang digunakan Fred di tabrak sebuah truk yang cukup besar dan terseret hingga ke sisi jalan. Lalu, diikuti kecelakaan beberapa mobil lain yang kehilangan kendali. Kecelakaan masal pun terjadi di jalan besar.


Fred yang berada didalam mobil baru sadar dari pingsannya. Sedangkan supir yang membawa mobil masih tidak sadarkan diri, tubuhnya di penuhi darah dari kepala yang terbentur keras mengenai kaca mobil_yang pecah. Mobil yang di naikinya berada di sisi jalan raya, terhimpit oleh beberapa mobil lain.


"Antony! Antony!" Fred berteriak dan menepuk-nepuk punggung supirnya.


Suara sirine mobil polisi dan ambulan serta pemadam kebakaran bersahut-sahutan. Para petugas berusaha menyelamatkan orang-orang yang mengalami kecelakaan. Beberapa di antaranya ada mobil yang mengeluarkan api. Petugas damkar segera memadamkannya sebelum terjadi ledakan.


Fred mencoba keluar dari mobilnya, dia membuka pintu mobil, namun pintu itu sama sekali tidak bergerak. Seperti tersangkut oleh sesuatu. Beberapa orang yang di tugaskan Lucy untuk mencarinya, sedang memeriksa satu per satu mobil. Mereka berada sangat jauh dari tempat Fred berada.


"Tolong!!! Tolong!!!" Teriak Fred.


"Si*l!"


Sementara itu, Kay dan anggota lainnya ikut turun ke lapangan. Membantu beberapa anggota yang terluka. Memeriksa satu per satu mobil yang berada di jalanan, yang tampak sangat berantakan karena kecelakaan masal itu.


Clare berjalan pelan sambil, matanya sangat awas dan memperhatikan setiap wajah satu per satu. Dia mencari Alan dan juga Fred. Orang yang paling penting untuk di selamatkan saat ini. Dia pun berhasil menemukan Alan yang baru keluar dari mobilnya dengan tangan yang terluka.


Clare menghampirinya "Tuan! Anda terluka!"


Alan mendekati Clare sambil menahan darah yang terus mengalir dari tangannya. "Aku baik-baik saja. Aku harus menyelamatkan yang lain"


"Biar kami yang melakukannya. Aku sudah tahu apa yang terjadi. Tapi, orang itu bukan Johan, melainkan Fred, saudaranya" ucap Clare.


Alan terdiam, dia terlihat tidak yakin dengan ucapan Clare.


"Dia Fred, Tuan! Sebaiknya anda segera pergi dan mengobati luka anda. Aku akan menjelaskannya nanti" tutur Clare.


Karena perasaan bersalah yang besar. Alan pun melihat sekitarnya. Dia mencari mobil yang dikenalinya. Dia tidak bisa melihat dengan benar karena asap dari debu yang beterbangan. Tapi, dia menunjuk ke suatu arah.


"Disana! Terakhir kali aku melihat mobil itu, dia bergerak ke arah sana" ucap Alan.


Clare menoleh pada jalan yang di tunjuk Alan dan segera berlari ke arah itu. Setelah tiba, dia melihat seorang pria yang berusaha keluar dari mobilnya. Selain itu, ada banyak orang yang terluka dan masih berada di dalam mobil dalam keadaan tidak sadarkan diri.


"Anggota! Aku butuh lima anggota! Ada banyak yang terluka disini!" Ucap Clare lewat walkie talkie miliknya.


Beberapa anggota mulai bergerak ke arah yang di sebutkan oleh Clare, mereka segera bergerak dan menyelamatkan orang yang terluka. Namun, mereka tidak bisa menyelamatkan semuanya. Seseorang melihat kebocoran bensin di salah satu mobil dan ada mobil lain di dekatnya yang mengeluarkan api.


"Kita harus pergi dari sini! Kita harus pergi! Cepat! Cepat!" Teriaknya.


Mendengar peringatan itu, tidak ada keraguan dalam diri untuk segera lari. Para anggota membawa orang-orang yang berhasil di selamatkan dan segera menjauh dari tempat itu. Benar saja, tidak lama kemudian ledakan besar pun terjadi, menghancurkan mobil yang mengalami kebocoran.


"Kay! Disana! Dia disana!!" Teriak Clare.


Kay melihat ke tempat yang di tunjuk oleh Clare, dan hendak bergerak maju dan menyelamatkan Fred. Namun, seseorang menahan tangannya.


"Jangan! Berbahaya..." ucap orang itu.


Kay melihat api dan kebocoran di mobil milik Fred.


DUAAAARRRRR!!! Mobil itu meledak.


...***...


Napasku seolah terhenti, jantungku berdebar tanpa sebab dan air mataku menetes tanpa ku sadari. Aku terdiam mematung menatap jalanan kosong di depanku. Matahari berada di sisi barat, ingin kembali ke peristirahatannya. Apa mungkin aku bersedih karena sore hari yang mendung? Atau matahari yang hampir tenggalam? Lalu di gantikan oleh malam yang kelam?


Aku menghapus air mata yang mengalir tanpa henti. Napasku sangat berat. Zain yang berada di sebelahku menyadarinya.


Dia bertanya "Kamu baik-baik saja?"


Aku mengangguk "aku tidak tahu kenapa ini terjadi. Tapi, aku baik-baik saja"


"Syukurlah. Kita akan segera tiba, semua akan baik-baik saja" ucapnya untuk menenangkanku.


Aku menatap kosong kedepan. Pikiranku berkecamuk dan hatiku merasakan sakit yang mendalam. Entah kenapa aku sangat memikirkan Fred saat ini. Walaupun sering beradu argumen dengannya, tapi dia selalu memihak padaku. Memberikan kasih sayang yang tidak ku dapatkan dari seorang ayah. Dia telah melakukan banyak hal padaku.


"Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri! Anak itu pergi bukan karenamu. Kau tidak salah, kalian hanya berteman" ucap Fred dulu, saat melihatku mengurung diri di kamar setelah kematian Sammy.


Dia melakukan kejahatan bukan karena keinginannya. Jika bisa, dia mungkin telah pergi jauh bersama istri tercintanya. Lalu, hidup bahagia bersama. Tapi, dia memilih untuk menetap, menjadi bawahan Johan, melakukan pekerjaan buruk, hanya untuk melihatku tumbuh menjadi diriku sendiri. Hingga dia kehilangan istri yang dicintainya.


Tapi, aku malah mengecewakannya. Aku tidak pernah melakukan hal yang diinginkannya. Selalu berselisih pendapat dengannya. Seandainya waktu bisa terulang. Aku akan memilih ikut dengannya, hidup seperti gadis normal dan tinggal bersama paman dan bibi yang sudah seperti orangtua bagiku.


.........


Malam telah tiba. Matahari tidak lagi terlihat. Zain mendapat panggilan dari seseorang, lalu dia mengubah arah. Aku tidak tahu isi percakapan mereka karena aku sedang memikirkan banyak hal. Tapi aku tahu, arah jalan ini adalah menuju rumah sakit. Beberapa orang mungkin terluka dan wajar jika terluka sedikit karena pertarungan.


Tidak lama kemudian, kami tiba dirumah sakit. Dan segera berjalan memasuki bangunan itu. Kami berjalan sebentar dan sudah melihat beberapa orang yang ku kenal dari kejauhan.


"Siapa dia?" Tanya Brian pada Clare, saat melihatku.


Clare menggeleng. Tidak tahu.


"Tidak mungkin wanita itu kan?" Tanya Brian sekali lagi.


Kami telah tiba. Dan Zain langsung menghampiri mereka dan bertanya. "Bagaimana keadaannya?"


Kami berada di depan ruang ICU.


"Dokter sedang berusaha" jawab Kay.


Aku tidak tahu siapa yang dibicarakan mereka. Lantas ikut bertanya "siapa yang ada didalam?"


Belum sempat menjawab pertanyaanku. Pintu ruangan ICU terbuka, seorang dokter keluar dan menghampiri kami.


"Maafkan kami..." ucap dokter itu.


Aku masih belum mengerti situasi ya g terjadi. Tapi, bisa di pastikan bahwa ada seseorang yang tidak selamat di dalam ruangan itu.


"Alexa... maafkan aku... aku terlambat menyelamatkannya" ucap Kay.


"Apa maksudmu? Siapa yang ada disana?!?"


"Ferdiant A Grafedy" jawabnya.


Kakiku terasa lemas. Aku pun jatuh tersungkur terduduk di lantai rumah sakit.


"Dia ayahku... Ayahku tidak boleh mati..."


...***...