
"Sudah ku katakan padamu! Aku bisa menyelesaikannya dengan mudah" ucap Vivian.
Ruangan dengan nuansa merah dan hitam. Terdapat tiga sofa panjang dan meja kaca di tengahnya. Asap dari rokok dan aroma alkohol tercium sangat tajam.
"Perbuatan anda akan membuat anda berada dalam masalah" ucap Erik.
Vivian mengenakan pakaian berwarna orange, dia memegang segelas minuman di tangannya dan seorang pria asing di sampingnya.
Vivian tertawa "masalah? Tidak mungkin! Aku sudah melakukan sesuatu yang sangat kalian inginkan"
Di ruangan itu terdiri dari delapan orang, termasuk Vivian dan Erik.
"Dia benar. Bukankah ini yang kita inginkan?" Sahut seorang pria lainnya sambil tertawa.
"Apa dia tahu mengenai hal ini?" Tanya Erik pada Vivian.
Vivian menatap tajam pada Erik. "Dia akan senang saat mendengarnya"
...***...
PLAKK!!! Suara keras dari sebuah tamparan.
"Jal*ng bodoh!!! Kau yang melakukannya?" Teriak Johan dengan kesal.
"Sa saya tidak melakukannya! Sa saya hanya mengikuti perintah, Tuan" ucap seorang wanita. Ella.
Wanita itu ketakutan. Pipinya memerah. Dia tersudut dan jatuh ke lantai. Matanya tidak berani untuk menatap orang di depannya. Wanita berusia 28 tahun itu hanya bisa meratapi dan memikirkan kemalangan yang akan menimpanya.
"Siapa yang menyuruhmu?" Tanya Johan, masih dengan suara yang penuh tekanan.
"Nyo nyonya Vivian" jawab Ella.
Johan menggertak giginya. Dia merasa geram dan marah. Dia pun pergi meninggalkan Ella sendirian dan di ikuti oleh orang berbaju hitam di belakangnya.
"Biarkan dia hidup" ucap Johan pada bawahannya.
Johan yang berada di depan berjalan elegan keluar dari gedung. Isi pikirannya berpusat pada Alexa, gadis yang telah lama di anggap anak olehnya.
"Ada apa denganku? Sampai saat ini, aku hanya memikirkan gadis itu. Aku ingin membunuhnya, tapi aku lega saat mengetahui dia selamat. Lalu, aku menjadi marah karena sosoknya mulai di kenali. Perasaanku pada anak itu lebih rumit di bandingkan dengan siapapun. Aku tidak peduli jika mereka mati. Tapi, apa yang akan terjadi padaku jika gadis itu benar-benar mati?" Pikir Johan.
Johan memasuki mobil hitam miliknya. Di ikuti oleh orang-orang lain berpakaian hitam dan badan yang tegap di belakangnya. Sebagian dari mereka berada di mobil yang sama dengan Johan, sebagiannya menggunakan mobil lain.
...***...
Sore yang terang. Pukul 5.
Aku di bawa oleh beberapa orang ke suatu tempat. Tidak bisa menolak dan bertindak sesuai keinginanku. Tanganku di borgol dan di kawal 6 orang anggota.
Setibanya di ruangan. Aku melihat seorang pria paruh baya. Sedang menunggu. Lalu, dia tersenyum saat ku tatap.
"Lepaskan benda itu" ucapnya.
"Tapi pak, dia_"
Salah seorang yang mengawalku menahan ucapannya karena pria itu menatapnya tajam. Sepertinya, pria itu sangat berkuasa di tempat ini, aku harus berhati-hati.
Borgol di tanganku di lepas. Mereka pun segera pergi dari ruangan ini. Hanya tersisa kami berdua di ruangannya.
"Apa yang membuat bintang bersinar terang di langit?" Dia bertanya padaku.
Aku yang berdiri di depan pintu, menatap lurus padanya. Aku tidak mengerti kenapa tiba-tiba dia bertanya seperti itu. Dia sama sekali tidak menatapku, hanya melihat keluar jendela. Saat ini matahari bersinar jingga, menandakan terang akan segera berakhir.
"Tidak ada. Dia bersinar karena dirinya sendiri. Bintang memancarkan cahaya yang sangat terang karena reaksi fusi nuklir yang terjadi pada inti bintang" lanjutnya.
Aku masih tidak bisa menanggapinya. Dia pria tua yang cukup unik. Bertanya lalu menjawabnya sendiri.
"Apa yang membuat kita bersinar? Tidak ada. Kecuali diri kita sendiri yang melakukannya" ucapnya lagi.
Dia sama sekali tidak menatapku. Dan masih berbicara sendiri sesukanya.
"Kenapa anda ingin menemui saya?" Akhirnya aku bertanya.
Dia berbalik, lalu menatapku sambil tersenyum.
"Kamu bersinar seperti bintang. Tapi, cahayamu tertutupi oleh awan hitam hingga tidak terlihat" ucapnya.
Aku tetap tidak bisa memahaminya. "Anda sedang berbicara dengan saya?" Tanyaku.
Dia mengangguk "ya"
"Tapi, anda hanya berbicara sendiri dan tidak menjawab pertanyaan saya"
"Aku tidak perlu menjawab pertanyaan yang sudah kamu ketahui jawabannya" ucapnya.
Pria aneh. Usianya sudah cukup tua untuk mengatakan hal yang tidak jelas. Mungkin sekitar 50 tahun.
"Bagaimana kabar Johan?" Dia bertanya tiba-tiba.
"Saya yakin, anda tahu lebih banyak tentangnya daripada saya" jawabku.
"Dia orang yang mengasuhmu, bukan? Tentu kamu lebih tahu dirinya dari siapapun" ucapnya.
"Benar. Tapi, tidak semua saya bisa ketahui seperti yang anda pikirkan" ucapku.
Aku terdiam. Aku sama sekali tidak tahu isi pikirannya. Jawabannya juga sulit di tebak.
"Kita akan bertemu lagi. Mungkin besok atau lusa, atau hari lainnya. Tapi, sekarang, kamu harus pergi dari tempat ini"
Mataku terbuka lebar. Telingaku di pasang dengan benar, dan isi pikiranku berjalan cepat. Kata-kata itu seperti sebuah kesempatan untukku. Aku pun menatap lurus tanpa berkedip padanya.
"Apa maksud anda?"
Dia tersenyum padaku. "Kamu bisa memanggilku David. Kita baru bertemu hari ini. Di luar sana, sudah ada orang yang akan mengantarmu"
Tepat. Setelah dia mengucapkan kalimat itu. Aku melihat Clare dan Alan masuk ke ruangan ini.
"Kita harus pergi sekarang" ucap Alan.
Aku berusaha untuk mencerna keadaan ini. Tapi, sebelum aku bisa bertanya atau mengucapkan sebuah kalimat. Clare sudah menarik tanganku, berjalan keluar. Aku di bawa seperti seorang tawanan, tapi mereka akan mengeluarkan ku dari tempat ini.
Aku di bawa ke tengah lapangan yang luas. Di sana terlihat helikopter yang siap untuk mengudara.
"Aku sudah menghubungi Jake. Mereka akan mengantarmu padanya" ucap Alan.
"Anda tidak ikut?" Tanyaku.
"Aku harus mengawasi tempat ini. Sepertinya ada seorang pembelot di antara kita" jawabnya.
Belum sempat aku bertanya lagi, Clare sudah menarikku dengan kuat. Dia terlihat buru-buru.
"Ayo, Alexa" ucap Clare.
Clare menggiring ku ke dalam helikopter. Di dalamnya terdapat Zain dan Kay. Mereka berada di kursi depan, mengoperasikan helikopter agar bisa mengudara dengan baik.
Tidak ada sepatah kata pun saat kami berada di dalam helikopter saat sudah mengudara. Semua berada di dalam pikiran masing-masing.
"Bagaimana Alan bisa menghubungi Jake? Sejauh apa dia mengenalnya?" Pikirku.
...***...
Perjalanan terasa lebih cepat daripada yang di duga. Helikopter sudah mendarat, tepat di atap sebuah gedung.
"Alan meminta kami untuk mengantarmu pada orang itu" ucap Kay.
Mesin helikopter telah mati. Mereka turun dan segera berjalan turun dari gedung. Mereka mendapat perintah untuk mengantar Alexa hingga tiba di tujuan. Setelah turun dari gedung, mereka segera menaiki mobil dan memasuki badan jalan. Menuju tempat yang sudah di janjikan.
Setelah 30 menit perjalanan. Akhirnya tiba di tempat tujuan. Tempat itu hanyalah sebuah restaurant biasa, di pinggir jalan. Kami pun melangkah masuk.
Dari kejauhan, terlihat dua orang yang sedang duduk di salah satu meja. Mereka seperti sedang menunggu seseorang. Jake dan Lucy. Mereka menunggu Alexa.
"Nona Grady!" Ucap Lucy.
Entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Alexa segera berlari ke arah mereka. Jake spontan menoleh ke arahnya, dia langsung berdiri. Setibanya Alexa di meja itu, dia langsung memeluk Jake dengan erat.
"Maaf.. aku membuatmu khawatir" ucap Alexa.
Jake membalas pelukannya. Menepuk punggung Alexa dengan perlahan.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Jake.
Alexa mengangguk.
Clare dan dua pria itu mendekat ke arah mereka. Tapi, raut wajah Zain terlihat berbeda, dia sedang berusaha menyembunyikan sesuatu.
Setelah memastikan Alexa dalam keadaan baik. Jake dan Lucy berkenalan dengan Clare, Zain dan Kay. Mereka saling menjabat tangan.
"Sebaiknya kita bicara di dalam" ucap Lucy.
Semua menyetujuinya. Mereka pun segera berjalan ke sebuah ruangan.
"Restaurant ini milikku, jadi kalian bisa bebas melakukan apa pun dan ruangan ini adalah tempat pertemuan rahasia. Kita bisa berbicara dengan leluasa" ucap Lucy.
Setelah tiba di dalam ruangan. Para pelayan restaurant menyajikan beberapa makanan ringan dan minuman. Mereka pun mulai saling bicara.
Alexa menceritakan kejadian sebenarnya pada Jake. Kecuali tentang Alan yang merupakan kakak ibunya dan dia bukanlah anak kandung dari Johan.
"Mereka tidak mengenalku. Aku juga tidak tahu kenapa mereka berpihak padaku" ucap Alexa pada Jake dan menatap tiga anggota INCREASE.
Clare tersenyum. "Kau bukan penjahat. Aku percaya padamu"
"Trimakasih"
"Bagaimana orangtua itu bisa mengenal Jake? Dia yang menghubungi kami" tanya Lucy.
Alexa tidak tahu. Dia hanya diam, beberapa dari mereka pun saling bertatapan.
"Kami tidak tahu. Tapi, dia melakukannya karena percaya pada kalian" jawab Clare.
Alexa tidak sekali pun melepas genggaman tangannya pada Jake. Zain tidak bisa mengalihkan pikirannya saat melihat hal itu, tapi dia tetap bersikap seperti biasa.
"Apa hubungan mereka?" Pikir Zain.
...***...