A Gold Titanium

A Gold Titanium
Investigasi Selanjutnya



"Kau terlambat" ucap Greeta.


"Maaf, Madam" ucapku.


Sebelumnya, aku sudah meminta izin untuk datang terlambat. Tapi, aku terlambat 2 jam dari perjanjian dan baru kembali ke markas.


"Jangan melakukan apapun yang tidak ada hubungannya dengan INCREASE" ucap Greeta.


Aku mengangguk. "Saya mengerti"


Sesuai perkiraan. INCREASE akan ikut campur dalam masalah pencurian dan penggelapan dana yang di lakukan Mathew. Tapi, masalah itu lebih cepat teratasi, karena Mathew telah masuk ke dalam penjara. Dia juga membayar denda dalam jumlah besar.


"Sophia sudah menunggumu di dalam" ucap Greeta.


"Dokter Sophia?"


"Iya. Dia akan melakukan pemeriksaan terhadap kondisi tubumu" jawabnya.


"Tapi, saya_"


"Setiap akhir bulan. Para dokter akan datang dan memeriksa kondisi setiap anggota. Kami harus memastikan tidak ada seorang pun yang menderita penyakit menular" ucap Greeta memotong kalimat ku.


"Saya akan masuk sekarang" ucapku. "Si*l!"


Aku melangkah masuk ke dalam ruangan. Sophia terlihat sedang menungguku dan hanya tersenyum saat aku memasuki ruangan.


"Bagaimana kabarmu?" Tanya Sophia.


"Seharusnya anda kaget melihat saya disini. Bukan tersenyum seperti itu"


Dia terlihat senang saat melihatku. Senyumannya pun semakin lebar.


"Kemarilah, aku akan memeriksamu" ucapnya lagi.


Aku mendekat. Duduk di dekatnya. Dia pun mengeluarkan alat-alat kedokterannya. Memeriksa setiap kondisi tubuhku. Lalu, mengambil beberapa cairan di tubuhku.


"Tidak ada masalah apapun dengan kondisi kesehatan mu saat ini. Tapi, aku akan memeriksa kondisimu secara mendalam melalui cairan dari tubuhmu. Hasilnya akan keluar dua hari lagi" ucap Sophia.


"Baiklah"


"Saran dari ku. Jangan terlalu memaksakan diri saat melakukan sesuatu dan jaga pola makan. Aku akan memberikan vitamin dan obat penambah darah. Jangan lupa untuk minumnya setiap hari" ucap Sophia.


"Kenapa kalian melakukan pemeriksaan? Seharusnya para dokter mempersiapkan diri untuk merawat orang-orang yang terluka saja" ucapku.


Sophia tersenyum. "Setiap orang yang ada di tempat ini selalu berbicara seperti mu saat melakukan pemeriksaan. Mereka menganggap kesehatan bukanlah sesuatu yang berarti. Karena pada akhirnya, mereka harus melakukan sesuatu yang bisa mempertaruhkan nyawa"


Dia meletakkan kembali peralatan dokternya.


"Apa untungnya menjaga kesehatan? Bukankah pada akhirnya kami akan mati? Begitulah yang ingin kamu tanyakan. Baiklah. Aku akan bertanya sesuatu padamu. Kapan kamu akan mati?" Tanya Sophia.


Alisku mengkerut. Lidahku kelu. Pikiranku buntu. Pertanyaan seperti itu sama sekali tidak ada jawaban. Karena tidak ada manusia yang tahu, kapan ajal menjemputnya.


"Tidak ada manusia yang tahu, kapan kematian datang padanya. Tidak peduli, apakah itu seorang detektif, polisi, atau dokter. Mereka semua tidak tahu. Terkadang, dokter hanya bisa memprediksi kapan pasien akan meninggal, tapi itu pun tidak menjadi jaminan bahwa para dokter mengetahuinya" ucap Sophia.


Aku berpikir. Lalu mengambil kesimpulan. Aku tidak ingin dia menjelaskan lebih banyak hal lagi padaku.


"Anda benar. Kesehatan adalah sesuatu yang di inginkan setiap orang yang hidup. Terutama kami. Kami harus menjaga kondisi tubuh agar selalu siap saat menjalankan tugas. Trimakasih karena telah menjelaskannya" ucapku.


Sophia tersenyum. "Hargailah setiap kesempatan, setiap kehidupan. Jaga dirimu dan kesehatanmu, semua itu anugrah yang harus di syukuri"


Aku mengangguk. Membalas senyumannya. "Baiklah. Saya permisi"


.........


Hari-hari berlalu dengan cepat. Selama ini, aku hanya berdiam diri di depan komputer dan berlatih jika punya waktu. Aku memberikan informasi-informasi mengenai kejahatan yang harus di atasi pada para penyelidik yang mengatasi kasus-kasus itu.


"Saya tidak bisa diam terus seperti ini. Izinkan saya keluar dan bergabung dengan beberapa tim" ucapku pada Alan.


"Bekerja disini sudah cukup untukmu"


"Tapi, saya juga merupakan anggota lembaga Investigasi" ucapku.


"Aku tahu"


Aku menghela napas dengan berat.


"Baiklah. Pergi lah ke tempat itu. Mungkin ada beberapa tugas yang harus kau lakukan" ucap Alan.


"Yes!"


Aku pun segera membereskan alat-alat komputer dan segera menuju lembaga Investigasi.


Di dalam gedung, aku melihat banyak sekali orang yang membawa senjata mereka, seperti sedang mempersiapkan sesuatu.


"Zoe! Kebetulan kau ada di sini. Kami kekurangan orang, kau mau ikut?" Tanya seorang wanita. Alia.


"Kami sedang bersiap untuk berlayar. Menurut informasi yang baru saja di terima, sebuah kapal yang akan membawa senjata dan obat-obatan sedang berlayar mendekat" jawabnya.


"Em... sepertinya aku punya sedikit pekerjaan. Aku tidak bisa ikut bergabung" ucapku.


"Pekerjaan?"


Aku salah tingkah. Tidak bisa menjawab pertanyaannya. Aku mencari alasan untuk menolaknya.


"Clare! Iya! Aku akan bergabung dengan kelompok mereka" jawabku.


"Ahh... begitu ya? Kau pasti sedang mencari mereka. Saat ini, anggota itu berada di ruang delapan bersama Madam Greeta" ucapnya.


"Ah, iya. Trimakasih"


Aku pun berjalan meninggalkannya.


"Ruangannya di sebelah sana, Zoe" ucap Alia.


Aku tersenyum. Ternyata dia masih memperhatikanku. Aku pun berbalik arah dan menuju ruangan delapan.


"Ah! Si*l! Bagaimana aku bisa berada disini?"


Aku membuka pintu ruangan dengan pelan. Orang-orang yang berada di dalamnya, langsung menoleh dan menatap padaku.


"Ada apa?" Tanya Greeta.


Si*l. Pertanyaan lagi.


"Saya ingin membantu Tim ini. Maksud saya, Pak Alan menyuruh saya untuk bergabung" jawabku. Berbohong.


"Tapi, kami sudah memiliki seorang dari lembaga Informasi" ucap Greeta.


"Anda tidak lupa dengan saya, kan? Saya juga termasuk anggota lembaga Investigasi"


"Ah! Kamu benar! Aku hampir melupakanmu. Alan selalu menyimpan anak berbakat sendirian. Masuklah, kamu datang di saat yang tepat" ucap Greeta.


Aku masuk ke ruangan dengan rasa ragu dan duduk di salah satu kursi, yang terdapat meja panjang di tengah.


"Bagaimana bisa?" Tanya Brian di samping kananku.


Aku menatapnya tidak mengerti.


"Kau berada di dua lembaga sekaligus?" Lanjutnya.


"Kemampuanku bagus" jawabku.


"Sulit ku percaya"


Kami kembali fokus pada apa yang di ucapkan oleh Greeta. Ada beberapa hal yang harus kami lakukan. Pertemuan ini berlangsung selama satu jam.


"Baiklah. Sekarang kalian harus bersiap. Semoga berhasil" ucap Greeta.


Kami mengangguk. Mengucapkan trimakasih, lalu berjalan ke luar ruangan.


"Namaku Erna. Aku sudah bekerja lama disini. Tapi, aku baru melihatmu, mungkin karena selama ini aku bekerja di luar. Aku juga berasal dari lembaga Informasi" ucap wanita yang baru ku lihat.


"Namaku Zoe" ucapku.


Kami berangkat saat matahari sangat terik, pukul 1 siang, menuju kawasan penerbangan. Pihak IINCREASE menyarankan agar kami menggunakan pesawat pribadi.


Aku berkenalan dengan beberapa orang yang akan menjalankan mesin pesawat.


"Anggota baru?" Tanya pria berpakaian rapi. Pilot.


"Iya, aku Zoe"


"Nama yang bagus. Selamat datang di penerbangan INCREASE. Sepertinya kau baru pertama kali menggunakan pesawat kami, karena aku belum pernah melihatmu" ucapnya.


"Ada banyak pilot di tempat ini. Tapi, dia memang baru pertama kali disini" Clare menimpali.


"Baguslah. Mari masuk. Kita akan segera berangkat" ucap Roy.


Aku melihat seseorang dari balik jendela pesawat. Dia tersenyum padaku. Alvin. Itulah nama yang ku ingat saat melihat wajahnya.


Dia melambaikan tangannya dan aku hanya tersenyum. Pria yang penuh semangat, tapi sangat rapuh. Aku pernah melihat seseorang yang memiliki senyuman seperti itu, namun dia telah pergi selamanya.


...***...


"Apa mereka saling mengenal?" Tanya Zain di dalam hatinya.


Zain memperhatikan Alexa yang sedang membalas senyuman seorang pria di dalam pesawat.


...***...