A Gold Titanium

A Gold Titanium
Hangat



Cuaca saat ini terasa hangat. Matahari sangat terang menyinari saat pagi. Aku menghembuskan napas sambil menatap ke langit, memikirkan seseorang yang telah lama pergi, bahkan sebelum aku bisa memanggil "mama" padanya.


"Kopi?" Tanya Jake di sebelahku.


Dia membawakan dua cangkir kopi panas di tangannya, lalu menawarkan yang satunya kepadaku. Aku mengambil cangkir itu dan menyeruput kopi di dalamnya.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Lance.


"Tidak ada. Hanya langit" jawabku.


"Tidak ada yang menarik di atas sana. Aku tidak tahu apa yang kau lihat"


Aku tersenyum.


"Kau tidak akan bisa melihat apapun dengan matamu"


Jake terdiam dan membalas senyumanku. Dia memandang langit dengan kening yang mengkerut.


"Aku akan ke dalam" ucapnya.


Aku mengangguk.


...***...


Hari ini, aku telah bersiap dengan rencana ku selanjutnya. Yaitu, menjatuhkan salah satu bisnis ilegal milik Grafedy, yaitu EVERYTHING.


Aku pergi menyamar sebagai salah satu wanita yang di sandera. Penampilan ku saat ini membuat pergerakan ku sangat mudah, tidak perlu rambut palsu atau pun warna mata yang berbeda. Tidak ada yang mengenaliku. Begitu pun dengan Jordan, dia sangat senang saat melihatku, seperti melihat tumpukan uang di hadapannya.


Tapi, sepertinya rencana ku tidak berjalan dengan lancar.


Saat aku di pertunjukkan pada pelanggan pertama ku. Aku terperangah. Awalnya, aku tidak menyadari bahwa dia adalah orang yang ku kenal dan aku malah menggodanya.


Saat dia menyuruhku mendekatinya, aku berjalan tanpa ragu.


"Namanya Kirana! Dia gadis baru yang masih segar" ucap Jordan.


Saat aku tepat berada di hadapannya, dia berbisik padaku "sedang apa kau disini?"


Saat itu lah aku menyadari, bahwa dia adalah Zain. Dan aku yakin, orang satunya lagi adalah Kay.


Aku kaget. Tapi, tidak bisa melakukan apapun. Jordan memperhatikan sikapku. Begitu juga Kay dan beberapa wanita di atas panggung.


"Anda menyukai saya, Tuan?" Tanyaku padanya.


"Apakah anda akan membelinya?" Tanya Jordan tiba-tiba.


Aku tidak ingin siapa pun mengacaukan rencana ku. Tapi, Zain malah berkata "iya, aku akan membelinya"


"Sial!" Batinku.


Aku tersenyum kecut. Aku berpikir cepat untuk membuatnya berubah pikiran.


"Bagaimana jika anda mencicipinya dulu?" Tanya ku sambil tersenyum.


Aku yakin Zain tidak akan melakukannya. Karena dia membenciku. Namun, aku melakukan kesalahan besar saat itu.


Zain menarik tanganku. Mencium bibirku, mataku membelalak lebar. Tanganku ingin mendorongnya, menjatuhkannya, melepas tinju ke arah pipinya "dasar br*ngs*k!!!"


Tapi, semua itu tidak ku lakukan. Semua orang di ruangan ini memperhatikan kami, aku pun tenggelam di dalam ciumannya.


"Dia manis. Aku akan membelinya" ucap Zain setelah melepaskan dirinya.


Jordan tersenyum senang "baiklah. Pilihan yang tepat"


Aku mengusap bibirku dengan tangan, membersihkannya dengan kesal. Saat ini aku benar-benar di jual dan bahkan di beli oleh orang yang ku kenal. Dia pun membawaku ke mobilnya. Kay hanya diam tidak bersuara.


"Duduk di depan" Ucap Zain sambil membuka pintu untukku.


Saat aku masuk ke dalam mobil, Zain berbicara pada Kay, setelah itu dia langsung masuk ke dalam mobil, di kursi mengemudi. Zain menekan pedal gas, dan mobil melaju, meninggalkan Kay di belakang.


"Dia tidak ikut?" Tanya ku.


"Sedang apa kau di tempat itu?" Tanya Zain.


Aku menghela napas "kau mengacaukan rencana ku. Kau sendiri sedang apa disana?"


"Rencana?"


"Sudahlah. Kau tidak akan mengerti" jawabku seadanya.


"Apa kau tidak sadar? Kau juga merusak rencana ku"


Aku menoleh padanya "apa aku merusak ekspetasimu untuk menikmati wanita-wanita itu? Jika benar, aku minta maaf"


Zain tidak ingin membahasnya, dia mengubah topik "apa yang kau rencanakan pada tempat seperti itu?"


"Kenapa kau ingin tahu? Apa kau takut karena tidak bisa membeli mereka lagi jika aku menghancurkannya?"


Zain menekan pedal rem secara mendadak. Mobil berbelok ke pinggir jalan. Tubuhku tersentak.


"Apa kau menjual tubuhmu untuk melancarkan rencanamu?"


"Ap apa?" Mataku melotot padanya.


"Berhentilah. Kau tidak akan berhasil"


Aku menatap marah padanya "kau tidak tahu apapun!!"


Zain mengubah posisi duduknya. Melepas sabuk pengaman, lalu mendekatiku. Dia menggengam tanganku dengan paksa. Aku meronta. Sabuk pengaman di tubuhku belum terlepas, membuat pergerakanku semakin sulit.


"Lepas!!!" Teriakku.


Dia benar-benar kuat. Dia menurunkan sandaran kursi dan mendekapku dengan erat.


"Bagaimana kau akan lepas di situasi seperti ini? Aku bisa saja melakukan hal yang lain padamu dan kau akan menyesalinya" Tanya Zain.


Aku menggerakkan kepalaku ke depan. Memukul hidung Zain dengan kepalaku, dia mengaduh. Di saat genggaman tangannya longgar, aku menarik tanganku, membuka sabuk pengaman. Dia yang melihatnya langsung mencari cara untuk menahanku kembali.


Kakiku melingkar ke pinggangnya, melempar tubuhnya ke kursi pengemudi. Lalu, menjerat tangannya dengan sabuk pengaman. Aku duduk di atas badannya sambil tersenyum licik menatapnya.


"Bagaimana? Apa kau suka?" Tanyaku dengan kesal.


Dia tidak menyangka aku bisa melakukannya. Wajahnya terlihat kecewa karena sudah kalah dariku. Aku menatapnya yang berada sangat dekat. Entah kenapa, aku malah menatap bibirnya.


Jantungku berdegup kencang, tatapan mata kami bertemu, aku menelan ludahku sendiri. Tanganku yang memegang tali sabuk pengaman untuk mengikat tangannya melonggar, aku mendekatkan wajahku padanya.


Zain tidak menghindar. Karena tangannya telah bebas, dia menarik pinggangku. Dua bibir telah menyatu, kami berciuman. Ciuman yang tidak biasa. Ciuman yang lebih panas dari sebelumnya, mungkin terjadi karena tidak ada perasaan ragu dan tidak ada orang lain di sekitar kami. Aku memejamkan mataku, melingkarkan tanganku pada lehernya.


Apa aku terpesona karena wajahnya? Atau aku menyesal karena dia hanya mencium ku sekilas saat berada di tempat itu? Atau aku memang menyukainya? Entahlah, hatiku berkecamuk. Aku ingin memilikinya.


Ciuman kami semakin bergairah. Suhu tubuh terasa lebih panas dari biasanya. Dia menarik pinggangku lebih erat mendekap pada tubuhmya. Namun, hal yang sedang kami rasakan berhenti secara tiba-tiba.


Seseorang mengetuk jendela mobil. Aku langsung tersadar dan melepas dekapannya, lalu kembali duduk di kursi sebelah. Zain pun terlihat bingung, dia langsung membuka jendela mobil.


"Anda tidak bisa parkir disini. Sebaiknya pindah ke tempat lain" ucap orang yang mengetuk jendela. Dia juga menunjukkan rambu di larang parkir yang berada di pinggir jalan.


Zain mengangguk "maaf" lalu dia menyalakan mesin mobil. Menginjak pedal gas. Mobil kami pun melesat kembali masuk ke badan jalan.


Aku tidak mengerti situasi yang sedang terjadi. Entah kenapa, kami malah merasa canggung. Aku hanya menatap ke jendela mobil di sebelahku.


"Maaf, karena aku meremehkanmu" ucap Zain.


"Tidak. Aku juga tidak berpikir matang. Jika ada lebih dari satu orang yang menyerangku, mungkin aku sudah mati"


Zain hanya mengangguk "iya, mungkin saja"


Kami tidak berbicara apapun lagi. Sepanjang perjalanan hanya diam. Aku juga tidak tahu, kemana dia akan membawaku.


...***...