A Gold Titanium

A Gold Titanium
Mengalah



Peserta terakhir. Alexa melawan sosok yang tidak di kenalinya. Eva menutup wajahnya dengan masker hitam dan hoodie yang menutup badan serta seluruh rambutnya. Dia juga mengenakan celana training.


"Dia itu wanita atau pria?" Pikir Alexa.


Tidak peduli pria atau pun wanita, lawan tetaplah lawan, tidak ada pengecualian.


Pertandingan di mulai. Eva lebih dulu mendekati Alexa dengan menyerang sisi depan, namun Alexa berhasil mengelak dengan bergerak ke sisi kanan. Eva terus menyerang dengan tinjuan dan tendangan tanpa memberikan celah dan kesempatan bagi lawan untuk membalas. Alexa hanya sibuk menghindar.


"Dia bisa menghindari semua seranganku. Kita lihat, berapa lama dia bisa bertahan" pikir Eva.


Alexa melihat celah saat Eva hendak memukulnya, bagian perut. Alexa mengepalkan tangannya lebih keras dan memukul bagian itu dengan cepat. Eva merasa sakit, dia mundur dua langkah.


Alexa tidak akan menunggu apapun, karena ini adalah kesempatannya untuk menyerang. Dia pun menyerang lawannya secara habis-habisan, tanpa memberikan celah. Dia memukul, menendang dan menjatuhkan lawan dengan mudah.


"Dia perempuan. Dia hanya mengandalkan kelincahan dan kesempatan yang ada. Dia tidak tahu kekuatan yang di milikinya. Mungkin, dia juga berpikir bahwa aku lemah karena seorang wanita" pikir Alexa.


Pertandingan itu memiliki aturan. Jika keluar lingakaran arena, akan di anggap kalah. Jika terjatuh sebanyak tiga kali, juga akan di anggap kalah. Eva telah jatuh satu kali.


"Anda tidak akan menang dengan cara itu" ucap Alexa.


"Aku hanya terjatuh satu kali. Itu tidak menandakan bahwa kau telah menang" balas Eva.


"Aku tahu"


Eva kembali berdiri dan mereka kembali menyerang satu sama lain. Di babak ini, Eva kembali terjatuh dengan wajah menghantam lantai. Hidungnya pun mengeluarkan darah segar.


"Bukankah anda..." ucap Alexa.


Masker yang di gunakan Eva, terlepas. Semua orang bisa melihat wajahnya. Dia pun tidak sadar karena rasa sakit yang memenuhi wajahnya. Tangannya mengelap darah dari bawah hidungnya.


Semua orang yang menyaksikan pertandingan itu mulai berbisik-bisik. Mereka telah menentukan siapa yang akan menang. Tatapan demi tatapan memenuhi ruangan. Perkataan yang tidak nyaman pun mulai terdengar.


"Orang akan berbicara semaunya. Tidak peduli itu menyakitkan atau tidak. Yang penting, mereka sudah mengatakannya" ucap Alexa.


Eva berdiri kembali. Meregangkan beberapa bagian tubuhnya yang mulai terasa sakit.


"Aku tidak peduli perkataan mereka" ucap Eva.


"Itu bagus"


Mereka kembali menyerang satu sama lain. Babak ke tiga.


Alexa tidak terluka sedikit pun. Dia hanya merasa lelah karena harus bertahan dan mengurangi gerakannya.


"Aku tidak bisa fokus. Dia bukan lawanku. Aku tidak bisa membunuhnya. Hah... sekarang aku mengerti perasaan mereka (peserta sebelumnya)" pikir Alexa.


"Gerakannya berbeda. Apa dia sudah merasa lelah?" Pikir Eva.


Alexa mengurangi kecepatan dan ketepatannya. Dia terkena beberapa kali pukulan, dan membuat tubuhnya tidak seimbang.


"Ada apa dengannya? Apa dia sengaja mengalah?" Pikir Eva.


Alexa semakin mundur kebelakang, dia menahan semua serangan itu tanpa mencari celah untuk melawannya.


"Apa kamu sudah lelah?" Tanya Eva di sela pertarungan.


"Tidak" jawab Alexa sambil tersenyum.


Tepat saat itu, Eva mengarahkan tinju ke wajah lawannya. Tinju itu tepat mengenai wajah. Membuat Alexa melangkah mundur ke belakang, melewati garis pembatas arena.


Pemenangnya adalah Eva.


"Apa yang dia pikirkan?" Eva menatap Alexa dengan perasaan mengganjal.


Eva tidak merasakan kemenangan di dalam hatinya. Dia merasa sedang di permainkan. Alexa hanya tersenyum tipis saat dia menatapnya.


...***...


Gagal.


Bukan itu sebutannya, jika melakukannya sekali, secara tidak sengaja. Namun, aku telah gagal karena melakukannya dengan sengaja. Membiarkan diriku kalah di hadapan semua orang.


"Maaf karena telah membuat anda kecewa, pak" ucapku.


Setelah pertandingan itu, aku menemui Alan yang menyaksikan pertandingan. Aku melihatnya sudah berada di kerumunan penonton, tepat sebelum masuk ke arena pertarungan.


Aku terperanjat dan menatap wajahnya. Dia tampak serius dengan kalimat yang baru saja dia ucapkan.


"Tidak apa. Saya bisa melakukannya lagi di penambahan anggota berikutnya" ucapku.


"Tidak perlu. Kau di terima di tempat ini, bahkan tanpa ujian. Aku memasukkanmu secara khusus menggunakan namaku"


"Apa maksud anda?"


Dia tertawa kecil "sebenarnya, setiap dewan memiliki satu kartu yang bisa di gunakan oleh anak terpilih. Dan anak itu akan lolos tanpa ujian. Sepertinya, aku salah memberi kartu nama padamu"


Mendengar ucapannya membuatku hampir melongo. Aku tidak percaya apa yang baru saja dia katakan. Kalau begitu, aku tidak akan menghabiskan waktu ku dengan percuma.


Dia pun berjalan santai meninggalkanku. Tapi, aku mengikutinya dari belakang, karena ada hal yang ingin ku katakan.


"Tidak bisa! Saya tidak bisa menjadi anggota di tempat ini! Saya akan di pindahkan di tempat lain, anda sudah melihat semuanya, saya telah kalah" ucapku.


"Ya, kau terlihat cukup sehat sebagai orang yang kalah. Sedangkan lawanmu yang menang itu, terlihat sangat menyedihkan"


"Dia bertekad untuk menang! Karena itu dia menang. Kondisi tubuhku tidak ada hubungannya dengan kalah atau menang" ucapku.


Alan tidak peduli lagi dengan ucapanku. Dia terus berjalan, malah semakin cepat, seakan berusaha untuk lari dariku.


"Saya tidak ingin menjadi anggota!!!" Teriakku.


Semua orang mendengar teriakan dan menoleh padaku, termasuk Alan. Langkahnya terhenti.


"Lawanmu di atas arena bukanlah salah satu peserta. Kau bisa menjatuhkannya dua kali. Setiap ujian memiliki peraturan. Ada peraturan lain yang tidak di sebutkan" ucapnya.


Akhirnya, aku menyerah. Alan kembali melanjutkan langkahnya dan aku tidak berniat untuk menghentikannya kali ini. Aku mengerti maksud ucapannya.


Saat peserta melawan anggota tetap. Dia di beri kesempatan untuk menang, yaitu hanya dengan menjatuhkan orang itu sekali. Hanya satu kali.


"Si*l! Bukan itu maksudku! Aku memang tidak ingin menjadi salah satu dari mereka. Tapi, bukan karena aku kalah, melainkan karena orang itu" pikirku.


Sebelumnya...


Tepat. Saat aku keluar dari garis arena. Aku melihat pria yang berada di rumah sakit. Pria yang menarikku keluar dari gedung. Pria bermata biru. Pria yang selalu menutup wajahnya dengan kain hitam. Dia adalah Zain.


"Dia mengenalku, pasti. Tatapannya barusan sangat menusuk, seolah dia benar-benar membenciku. Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan sekarang, selain pergi dari tempat ini"


Aku melangkah dengan ragu.


"Tapi, dia terlihat tenang. Tidak seperti orang yang akan melaporkanku. Hah... tetap saja, dia adalah orang yang harus di waspadai, karena aku tidak tahu kapan dia akan berubah pikiran"


Aku menatap ke sembarang arah, mencari pria itu. Namun, dia tidak di temukan.


"Ikuti aku" ucap Zain.


Pria itu. Dia berjalan dari arah belakang, lalu mengucapkan kalimat pelan dan menyuruhku untuk mengikutinya. Aku bahkan tidak mengerti pada diriku sendiri, karena kaki ku malah melangkah mengikutinya.


Kami tiba di belakang salah satu bangunan yang sepi, tidak terlihat satu pun orang disana.


"Apa dokter itu yang menyuruhmu?" Tanya pria itu.


Aku hanya menatapnya. Bagaimana aku bisa menjawab, sedangkan aku tidak tahu maksud dari pertanyaannya.


"Ternyata bukan. Apa semua ini keinginanmu sendiri?" Dia bertanya lagu.


Sepertinya, dia bertanya tentang alasan aku bisa berada di tempat ini.


"Benar. Aku yang memilihnya. Aku ingin hidup sesuai dengan keinginanku" jawabku.


Dia terdiam beberapa saat.


"Baiklah" ucapnya.


Dia mengambil langkah dan meninggalkanku. Sebelum benar-benar pergi, dia sempat mengatakan sesuatu.


"Jangan kecewakan siapapun"


Dia menghilang dari pandangan mataku. Pergi ke tempat yang tidak bisa ku tebak.


...***...