A Gold Titanium

A Gold Titanium
Hanya Sedikit Minuman



Alexa berjalan pelan sambil memegang kepalanya yang terasa sakit.


"Padahal aku hanya minum segelas"


Dia berjalan pelan menuruni tangga. Melihat sekeliling.


"Apa karena sudah malam ya? Sepi sekali. Tapi, siapa yang membawaku ke dalam?"


Setelah tiba di lantai bawah. Alexa melihat Zain yang tertidur di atas sofa.


"Kenapa dia tidur disana?"


Alexa merasakan hawa dingin di tubuhnya. Saat melihat Zain, dia pun berinisiatif mengambil selimut.


"Mungkin dia kelelahan" ucap Alexa sambil memasangkan selimut di tubuh Zain.


...***...


Matahari naik perlahan, menunjukkan dirinya sebagai pusat tata surya yang paling bersinar terang. Lampu buatan pun tidak akan sebanding dengannya. Perlahan, sinarnya menerangi seluruh kota.


Aku terbangun dari tidurku karena cahaya yang terang. Pukul 7 pagi.


"Siapa yang membuka gordennya?" Pikirku.


Tidak ada yang membuka gorden di jendela kamarku. Aku pun tidak tidur di kamarku, tapi di tempat yang berbeda. Tempat yang tidak pernah terbesit di dalam pikiranku.


"Morning..." ucap seseorang.


Zain sudah bangun lebih dulu dariku. Dia menatapku. Jarak di antara kami berdua sangat dekat, bahkan aku bisa mencium aroma parfumnya.


Kami berdua terbangun di atas sofa yang sama, menggunakan selimut yang sama. Aku menjadikan lengan kanannya sebagai bantal dan memeluk dadanya yang bidang. Kapan ini terjadi? Aku tidak tahu.


Aku langsung bangkit dan menjauh darinya. Lalu, menoleh dan melihat ke arah Kay yang hanya tersenyum kecil melihat kami. Kay lah yang mengucapkan kalimat "selamat pagi" tadi.


"Tidur kalian nyenyak? Aku tidak bisa bergerak bebas. Tapi, aku juga tidak bisa meminta tolong" ucap Kay.


Aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi, hal ini sangat memalukan untukku. Baru saja aku menganggapnya pria brengs*k, tapi aku malah tidur bersamanya.


Aku tidak berkata apapun dan langsung berjalan cepat ke kamarku. Aku baru ingat kejadian semalam, walaupun kepala ku masih terasa sakit. Tadi malam, setelah minum segelas alkohol, aku merasa pusing, tapi aku masih bisa mengingat setiap kejadian.


Zain yang membawaku ke kamar, lalu dia pergi. Setelah tengah malam, aku keluar untuk melihat keadaan, tapi aku malah membawakan selimut untuknya dan tidur di sampingnya.


"Argh! Bodoh! Kenapa aku malah tidur disana? Tidak biasanya aku merasa ngantuk seberat ini. Si*l!"


Aku memegang kepalaku lagi. Rasa pusing masih terasa samar-samar. Padahal, aku hanya meminum sangat sedikit daripada yang biasa di lakukan Johan.


"Aku harus menjauhi minuman itu mulai sekarang. Aku harus fokus!"


Kakiku berjalan ke arah kamar mandi. Membersihkan diriku. Membuang pikiran-pikiran yang mengganggu.


"Sammy adalah masa lalu. Tidak ada hubungannya dengan saat ini. Dia hanya anak kecil yang penasaran, hingga merenggut nyawanya sendiri. Tujuanku saat ini adalah menghancurkan Johan. Dengan begitu, aku juga bisa membalas kematiannya"


Melihat diriku sendiri di dalam cermin, membuatku merinding. Wajah itu tidak cocok denganku. Mungkin karena wajah itu, aku selalu bisa mengacaukan pikiran seseorang. Wajah yang terlihat baik itu, selalu ku tutupi dengan berbagai riasan mencolok.


Bibir yang selalu di lapisi dengan warna merah menyala. Garis mata yang di tambah dengan eyeliner dan eyeshadow gelap. Walaupun begitu, aku tetap merasa kurang karena mata hijau ini terlalu mencolok.


"Aku benci melihatmu!" ucapku pada cermin di hadapanku.


Aku membenci diriku sendiri.


...***...


Zain mengambil air putih dari keran ke dalam gelas, lalu meminumnya dengan tenang. Dia masih berpikir bagaimana Alexa bisa tidur di sebelahnya.


"Kau terlihat kaget saat bangun. Kalian tidak melakukan apapun semalam?" Tanya Kay.


"Aku bahkan tidak tahu dia tidur di sampingku" jawab Zain.


"Dia bukan tikus"


"Bukan itu maksudku. Tapi, ya sudahlah. Itu bukan urusanku. Gimana dengan yang lain? Sudah dapat kabar dari mereka?" Tanya Kay.


Kay duduk di kursi meja makan. Kaki dan tangannya di perban. Akan butuh waktu cukup lama untuk sembuh. Dia tidak bisa melakukan apapun untuk sementara.


Zain menerima pesan dari ponselnya, dia pun mengambil ponselnya dan membaca pesan.


"Alan meminta kita untuk kembali ke markas. Untuk memulihkan kondisimu. Yang lain sedang bertugas saat ini" ucap Zain.


"Oke..."


Setelah cukup lama berada di kamarnya, Alexa turun dari lantai dua. Dia pun langsung di beritahu oleh Kay bahwa mereka harus kembali.


Mereka bertiga bersiap untuk kembali ke markas. Di dalam perjalanan, tidak ada percakapan sedikit pun. Masih ada rasa canggung antara Alexa dan Zain. Namun, mereka tetap bersikap profesional, dengan tidak menujukkan keresahan di depan banyak orang.


...***...


Perang di atas laut. Penyergapan.


INCREASE menggunakan dua kapal yang cukup besar untuk menyergap kapal yang membawa benda-benda terlarang. Pertarungan itu memakan banyak korban dan mereka gagal.


Markas INCREASE sedang gentar. Kegagalan kali ini menimbulkan banyak hal. Beberapa anggota telah gugur. Beberapa lainnya mengalami luka-luka, ada yang mengalami luka serius hingga luka ringan. Kerugian pun cukup banyak.


Aku serta dua orang lainnya tiba di markas dan melihat keadaan itu. Wajah-wajah yang terlihat panik, para dokter yang berlalu lalang, dan suara kegaduhan.


"Kau bawa Kay ke dalam. Aku akan memeriksa sesuatu" ucap Zain padaku.


Aku mengangguk. Lalu, mendorong kursi roda yang sedang di gunakan Kay.


"Hal ini pernah terjadi. Dulu. Tiga tahun yang lalu" ucap Kay.


"Oh, sepertinya aku pernah mendengarnya" ucapku.


Aku membawa Kay ke ruangan miliknya. Selama di perjalanan, aku hanya melihat orang-orang yang berlalu lalang, ada juga beberapa yang sedang membicarakan kejadian yang terjadi di laut lepas. Aku tidak melihat seorang dokter pun yang bisa di minta tolong.


Setibanya di ruangan. Aku segera membantu Kay untuk duduk di atas kasurnya. Dia perlu beristirahat.


"Aku akan mengganti perbanmu" ucapku.


"Kau tahu cara menggantinya?"


"Iya. Aku akan mengambil perlatannya" jawabku.


Setelah mengambil kotak obat. Aku segera kembali dan mengganti perban yang berada di kaki dan tangan Kay.


"Kau terlihat sudah terbiasa melakukannya" ucap Kay.


"Di tempat ku dulu. Tidak ada dokter yang akan mengurus luka kami. Kalau pun ada, kami harus memanggil dokter dari luar, tapi itu memakan banyak waktu. Jadi, semua orang di tempat itu mempunyai cara mereka sendiri untuk mengobati atau menutupi luka" jawabku sambil melilitkan perban di tangannya.


"Benar. Kau bukan orang biasa. Sepertinya kau bekerja di tempat yang sulit sebelum bergabung dengan INCREASE"


"Mungkin. Kau juga akan mengetahuinya nanti" jawabku.


Kay tersenyum.


Aku telah selesai mengganti perbannya. Membereskan kembali perlatan dan membersihkan perban bekas.


"Istirahatlah disini. Aku akan membantu yang lain. Mereka terlihat cukup sibuk" ucapku sebelum melangkah ke luar.


"Ya, trimakasih" ucapnya.


Setelah berada di luar. Aku berjalan ke sembarang arah, mencari orang-orang yang memerlukan bantuan. Aku juga membantu mengobati beberapa orang yang lukanya tidak begitu parah.


...***...