A Gold Titanium

A Gold Titanium
Casino



Semuanya terlihat normal. Aku tidak ingin mempermasalahkan hal itu, karena di tempatku dulu, di perusahaan Grafedy, laki-laki dan perempuan sudah biasa melakukannya. Mereka tidak peduli sudah lama saling mengenal atau baru berkenalan. Walaupun itu adalah hubungan yang tidak sehat.


"Jangan lupa minum obatmu. Sophia juga memintaku untuk memperhatikanmu" ucap Alvin.


Pagi ini. Dia menghampiriku di dapur, dengan senyuman yang sama.


"Kau hanya di minta untuk mengawasi Brian" ucapku.


"Sebaiknya kamu banyak konsumsi buah-buahan dan daging. Jauhi juga minuman bersoda" ketus Alvin tanpa pedulikan ucapanku sebelumnya.


Aku tidak menjawabnya. Hanya berlalu dengan membawa semangkuk sereal dan berjalan ke kamarku. Di tengah perjalanan, aku berpapasan dengan Zain. Dia menatapku sebentar lalu melanjutkan langkahnya.


"Pria seperti itu menyimpan banyak rahasia. Aku harus berhati-hati" pikirku saat menatap Zain.


...***...


"Kemarin aku sedang pergi ke menemui orangtua ku. Jadi, aku tidak tahu apapun. Apa yang terjadi?" Tanya Erna pada Brian.


Brian sedang fokus bermain dengan ponselnya. Dia merasa kesal saat ada orang yang mengganggunya.


"Aish!!! Aku tidak peduli dengan masalah kemarin" jawab Brian.


"Tapi, kau kan korbannya" ucap Erna.


"Hanya ribut sedikit. Tapi sudah teratasi. Dua wanita itu sepertinya salah paham" jawab Brian.


"Kau sama sekali tak berniat bicara padaku ya?" ucap Erna dengan kesal. Dia pun pergi meninggalkan dapur.


...***...


Gedung yang menjulang tinggi. Cahaya dari kacanya memantul, cuaca yang panas semakin bertambah panas. Untungnya, musim panas akan segera berlalu.


"Kau sudah membereskannya?" Tanya Johan.


"Anda akan senang saat melihat jasadnya" jawab Erik.


"Tidak perlu. Aku percaya padamu" ucap Johan.


BERITA HARI INI. DIREKTUR KEUANGAN YANG TELAH MELAKUKAN PENGGELAPAN UANG DAN DI VONIS 10 TAHUN PENJARA, DI TEMUKAN BUNUH DIRI DI DALAM JERUJI BESI. DIA MENGGUNAKAN_


Orang-orang yang melihat berita itu, ada yang merasa lega, tetapi ada juga yang merasa kecewa.


"Dia tidak bisa mati semudah itu" ucap Jake.


"Nona Grady juga tidak akan menyukai hal ini" cetus Lucy.


"Hah! Si*l! Sulit sekali memasukkannya ke penjara. Tapi, setelah itu, dia mati dengan mudah. Banyak kejahatan yang harus di bayar olehnya"


"Apa kau yakin dia bunuh diri?" Tanya Lucy.


Jake mematikan televisi dengan kesal. Dia beranjak dari duduknya. Sedangkan Lucy masih duduk di sofa sambil menunggu jawaban.


"Aku tidak tahu. Bisa saja orang seperti itu melakukan bunuh diri. Kalau pun tidak, mungkin ada orang yang mendorongnya untuk melakukan bunuh diri. Karena tidak mungkin ada senjata tajam di dalam penjara" jawab Jake.


"Kau benar. Aku juga berpikir begitu. Apa yang akan dia lakukan sekarang? Dia pasti sudah mendengar berita itu. Oh! Semalam dia menghubungiku dan mengatakan jika dia berada di kota ini" ucap Lucy.


"Nona Grady? Kapan dia tiba?"


"Iya. Dia tidak mengatakannya. Tapi dia berjanji akan berkunjung saat waktunya tepat" jawab Lucy.


"Aku akan menunggunya"


Wajah Jake terlihat cerah saat mendengar kabar itu. Sejak Alexa mengabarkan bahwa dirinya baik-baik saja, Jake selalu menjaga penampilan dan memperhatikan dirinya. Dia tidak mau membuat orang yang di sayanginya terlihat sedih.


Sementara itu...


Alexa mendengar berita kematian Mathew, dia pun langsung berdiri dari duduknya. Semua orang yang ada di rumah itu terdiam menyaksikan berita yang di tayangkan di televisi. Alexa yang sedang melihat berita, hanya tersenyum. Dia tidak menghabiskan makanan dan perasaannya gusar.


"Pembunuh itu akhirnya membunuh dirinya sendiri. Padahal aku belum sempat melihat wajahnya yang putus asa" ucap Alexa.


Zain mendekati Alexa dan berdiri di sampingnya.


"Kau yakin dia melakukannya?"


"Iya. Dia akan melakukan apapun untuk bebas" jawab Alexa.


"Kematian bukanlah kebebasan"


"Memang benar. Dia hanya mempercepat perjalanannya menuju neraka. Aku harap, dia memohon untuk di hidupkan kembali" ucap Alexa.


Walaupun mengatakan hal itu. Hati Alexa tetap gusar. Dia harus berhati-hati. Saat ini Johan sudah tahu bahwa dia masih hidup dan bisa melakukan apapun.


...***...


Menikmati waktu pagi sambil berlatih adalah hal yang paling menyenangkan. Tapi, pikiranku terus terganggu karena kematian Mathew yang tidak terduga.


"Kita harus berkumpul. Kau terlalu banyak berlatih, tidak capek?" Tanya Erna.


"Aku akan kesana"


Aku segera membersihkan diri dan mengenakan pakaian yang nyaman.


Kami berkumpul di kursi tamu di ruang tengah. Kami membahas tentang seseorang yang harus kami selidiki.


"Itu tidak pasti. Tapi, jika kita berhasil menangkap pemimpinnya. Hal lain akan jadi lebih mudah" jawab Brian.


"Kalau informasi tentangnya bisa di ketahui semudah ini, bukankah kalian bisa menangkapnya dari dulu?" Tanyaku


"Benar juga, kau saja pernah tertipu oleh seorang wanita" Brian menimpali sambil melirik ke arah Zain.


Zain sedikit merubah raut wajahnya, namun tidak memedulikan ucapan Brian.


"Pemimpin kelompok itu adalah wanita berusia 50 tahun, sedangkan yang lain hanya pengalihan, aku sudah pernah melihatnya" ucap Zain.


"Itu bagus" ucap Kay.


"Apa tujuan kita saat ini?" Tanya Erna.


"Menangkap wanita itu" jawab Zain tegas.


Aku mengangguk, tanda mengerti. Kami pun terus membahas hal itu, merencanakan hal yang sangat detail hingga matahari berada di tengah. Tapi, rencana hanyalah sebuah kalimat, jika tidak di lakukan, kita tidak akan tahu hasilnya. Dan terkadang, perencanaan lewat percakapan terasa lebih mudah dari pada langsung turun ke lapangan.


...***...


Meja bundar terletak di seluruh penjuru tempat ini. Beberapa orang mengelilingi meja dengan uang di hadapan mereka. Segala jenis minuman dan berbagai macam model wanita menjadi pendamping permainan itu. Disinilah aku berada, di dalam Casino terbesar di daerah ini.


Kami masuk secara terpisah. Karena mereka menganggap aku masih baru dalam hal ini, aku pergi bersama Kay dan Brian. Aku dan Brian menyamar sebagai wanita yang menemani pria hidung belang (Kay) untuk bergabung dalam sebuah permainan.


"Si*l*n!!!" Beberapa kali Brian mengumpat karena hampir jatuh saat menggunakan High heels.


"Kenapa harus aku yang jadi wanita?! Masih ada satu wanita lagi di dalam mobil" ucap Brian kesal. Yang di maksudnya adalah Erna.


Erna dan Alvin berada di mobil. Mengawasi kamera dan bagian luar Casino. Karena mereka sangat mengkhawatirkan jika ikut ke dalam.


"Sudahlah, kita tidak punya pilihan" cetus Kay.


Brian lebih cocok menjadi wanita karena tubuhnya yang lebih kecil di banding Kay dan Zain.


Kami memasuki tempat itu saat malam hari, suasana di sana sangat ramai, seperti yang sudah di perkirakan. Aku mengenakan mini dress tanpa lengan berwarna biru tua, rambut yang di gelung ke atas, Kay mengenakan kaos putih, celana hitam, dan jaket hitam, serta topi fedora. Sedangkan Brian, menggenakan mini dress hitam, syal berbulu dan wig, sulit sekali mencari baju yang cocok untuknya.


...***...


TAKKK!! Zain memukul kepala orang itu, dan pingsan. Orang itu adalah salah seorang security yang memantau kamera Cctv. Zain menyeretnya ke tempat sepi dan mengganti pakaian orang itu dengan pakaian miliknya. Setelah itu di keluar, bersikap biasa seolah tak terjadi apapun.


Clare melakukan hal yang sama, dia mengincar security wanita yang tidak banyak bekerja disana. Biasanya wanita yang bekerja menjadi security adalah seorang wanita yang tubuhnya lumayan besar, sehingga saat Clare mengenakan baju itu, bajunya terasa longgar.


Mereka segera masuk ke ruang Cctv dan menjatuhkan beberapa orang yang masih tersisa di dalamnya.


...***...


Kay melemparkan sejumlah uang ke atas meja, orang-orang yang sedang bermain pun melihat ke arahnya. Kay memainkan perannya dengan sangat baik.


"sepertinya kau baru disini" ucap salah seorang dari mereka, dia adalah lelaki tua yang hampir botak.


"Tidak" jawab Kay.


"Benarkah? Aku bermain setiap hari disini, tidak mungkin aku melewati orang sepertimu" ucap orang tua itu.


"Mungkin saja"


"Hoho baiklah, kau anak muda yang penuh semangat" orang tua itu berkata sambil melirik padaku dan Brian.


"Aku melihatnya!" kata Zain.


Kami menggunakan alat pendengar di telinga, alat itu bisa menyesuaikan warna dengan kulit, sehingga sulit untuk di lihat jika tidak di perhatikan dengan benar.


"Arah jam sembilan!" lanjut Zain.


Aku menoleh ke arah itu, begitu pun dengan Brian. Tapi, Kay tidak bisa mengalihkan pandangannya, karena orang yang berada dengan kami adalah si tukang tipu. Orang itu menggunakan cara menipu untuk terus menang, baik dalam mengumpulkan uang ataupun wanita. Banyak sekali wanita yang mengelilinginya. Tapi tentu saja, ada tiga orang pria lainnya yang ikut bermain, dan mereka juga membawa "mainannya" (para wanita).


Aku melihat beberapa orang datang bersamaan. Mereka mengenakan jas hitam, dan aku tahu pasti, dia yang berada di tengah adalah orang yang Zain maksud. Orang itu duduk di meja yang terletak paling ujung, meja itu di isi oleh orang-orang yang cukup berpengaruh, bahkan di takuti oleh pengunjung Casino. Mungkin hanya orang bodoh yang tidak mengenal mereka.


"Si*l!!!"


Aku melirik, orang tua itu mengumpat di tengah permainan, sepertinya dia tidak beruntung malam ini.


"Kau menjebakku, hah?!?" Orang tua botak itu berkata ke arah pemuda di sebelah ku.


Seperti yang sudah di rencanakan. Kay akan melempar umpan, dan segera mendapatkan ikannya. Pemuda yang ikut bermain di sebelahku adalah umpannya, dia sudah lama bermain disini, tapi selalu kalah. Kami pun menemuinya dan memberi tahu sebuah cara padanya, agar dia menang di permainan kali ini. Kami menemuinya dengan penyamaran yang lain.


Pemuda itu pun menerimanya tanpa curiga. Saat dia membongkar kecurangan pria tua itu, pria tua yang hampir botak itu akan marah, dan umpan telah di makan.


"B*ngs*t!!! Ternyata selama ini kau berbuat curang?" seorang lainnya ikut berkomentar.


Pria tua itu tersudut, tapi karena dia memiliki kuasa dan uang, dia di lindungi oleh orang-orang berbaju hitam, yang merupakan bodyguard nya. Perkelahian pun tak terelakkan, masing-masing orang memiliki kuasa dan uang, sehingga mereka lebih memilih melawan dan tidak sudi di rendahkan.


Sebelum keributan semakin parah, Kay segera memberi kode untuk menjauh. Lalu, melakukan rencana selanjutnya.


"Apa yang kau lakukan?" Tanyaku pada Brian saat melihat dia memasukkan uang ke dalam bra di dadanya.


"Dasar bod*h!" Aku menarik tangannya untuk menjauh dari tempat itu.


"Kau tidak bisa melihat peluang di tengah keributan?" Ucap Brian setelah berhasil aku tarik.


"Kau seperti tikus kelaparan di antara kucing yang sedang bertarung!" ucapku.


"Apa katamu?!?" Brian menatapku tajam, tapi aku segera menjauh dan berjalan cepat menyusul Kay.


Kay sedang berjalan ke meja yang berada di ujung. Tapi, dia tidak benar-benar kesana, dia berhenti di bar yang sangat dekat dengan meja itu.


"Kita berpencar, aku akan mengawasi mereka dari sini. Jika kita terus bersama akan menimbulkan kecurigaan" ungkap Kay, aku mendengarnya ketika berada di belakangnya.


Aku melirik ke arah meja itu, mereka yang ada di sana tidak bermain, melainkan berbicara hal yang tidak aku ketahui. Tempat ini sangat ramai dan berisik, jika ingin mendengar sesuatu, bukankah harus lebih dekat?


Aku melihat ke arah Brian, dia pasti sudah mendengar perintah dari Kay, dan tidak akan menuju kesini. Brian mengambil timbunan kertas di dadanya dan memasukkannya ke dalam tas. Aku hanya menghela nafas melihat kelakuannya yang tidak berguna itu. Aku sempat berpikir, bagaimana caranya dia bisa masuk ke dalam Increase.


"Aku akan mendekati mereka" ucapku.


"Apa yang akan kau lakukan?" suara Zain terdengar di telingaku.


Aku tidak peduli dan berjalan menuju meja itu.


"Tunggu! Mereka akan segera pergi!" kata Clare menghentikan langkahku. "Ada yang aneh" lanjutnya berbicara.


Aku tidak tau apa yang di lihat Zain dan Clare dari kamera pengawas.


"Dari arah jam dua, tiga orang berdiri membawa senjata" ungkap Zain.


"Aku juga melihatnya, arah jam enam, lima orang dengan pakaian yang sama, mereka membawa senjata" kali ini Clare yang bicara.


Aku melirik ke arah yang mereka katakan dan memang ada, lalu bukan hanya di dua tempat itu, mereka menyebar di setiap meja. Kay yang berada di meja bar, melirik sekitar dengan memegang gelas berisikan wine di tangan kanannya.


"Kita harus pergi" ucap Kay.


"Hati-hati, jangan berlari, bersikap seperti biasa" Zain berbicara di ujung sana.


Aku yakin saat ini Zain dan Clare juga sedang mempersiapkan diri untuk segera pergi dari sana, karena tidak lama lagi, tempat ini akan berubah menjadi tempat pembantaian, tidak peduli siapapun orangnya. Aku sudah mengambil langkah menuju pintu keluar sejak mulai merasa ada yang aneh dalam situasi ini. Brian sudah melangkah jauh di depanku.


DUAR!!! Peluru pertama di lepaskan, di ikuti peluru lainnya.


...***...