(Un) Perfect Wedding

(Un) Perfect Wedding
Episode 40



Ethan baru saja sampai di salah satu hotel yang dia pesan di Manhattan. Ia merebahkan tubuhnya yang terasa begitu lelah setelah melakukan perjalanan yang lumayan panjang. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan menatap langit langit kamar dengan tatapan tersiksa. Bibirnya berkedut membentuk sebuah senyuman miris, ia ingin tertawa dengan kondisinya saat ini yang bahkan tak berguna. Ia mengukir wajah Arinka dalam langit langit kamar, saat Arinka tersenyum lebar hingga memperlihatkan lesung pipinya, saat Arinka berpura-pura cemberut dan bertingkah manja pada dirinya.


Tanpa terasa sudut mata Ethan berair, betapa sesak dan sakitnya dada ini menahan gejolak kerinduan kepada Arin. Betapa bodohnya dirinya saat sekarang menyadari kalau cintanya untuk Arinka sangatlah besar dan bahkan sedetikpun ia tak ingin berjauhan. Ethan berharap, ini adalah kesempatannya untuk meminta kesempatan kedua dan memperbaiki semuanya. Memperbaiki hubungan dan pernikahannya yang hancur dan bahkan seperti mimpi buruk untuk dirinya juga Arinka.


ΩΩΩ


Di tempat lain, Arinka duduk di sebuah taman yang berada di sebuah rumah yang cukup mewah. Tatapannya menatap lurus ke depan tanpa ekspresi. Tak bisa Arin pungkiri kalau dirinya sangatlah merindukan Ethan. Bagaimanapun juga Ethan adalah cinta pertamanya dan sampai saat ini tak sedikitpun rasa cinta itu berkurang.


Sudah dua bulan berlalu Arin meninggalkan Ethan dan kehidupan masalalunya. Ia telah melihat Ethan siuman dari koma nya dan melewati masa kritisnya. Dan sesuai rencana awalnya, setelah dia memenuhi janjinya pada Ethan untuk membantunya menyingkirkan musuh besarnya, Arin akan pergi menjauh dari kehidupan Ethan untuk selamanya. Ia akan memulai kehidupan barunya tanpa ada bayang-bayang masalalunya. Tetapi nyatanya, tak semudah itu melupakan masalalunya. Bayangan Ethan tak pernah sedikitpun pergi dari pikirannya. Apalagi kejadian terakhir dimana Ethan mengorbankan dirinya untuk melindungi Arin.


Apa cinta itu memang masih ada?


Apa cinta itu berhak menerima kesempatan?


Arin beranjak dari duduknya dan berjalan ke sisi kolam renang. Tatapannya tertuju pada air jernih di dalam kolam, ia sempat memekik kaget saat bayangan sosok Ethan muncul di sana dan tengah tersenyum, begitu tampan. Dengan secepat kilat, Arin berbalik ke belakangnya tetapi semuanya kosong, tak ada siapapun di sana. Tanpa sadar air matanya luruh membasahi pipi. Kenapa harus sesakit ini rasanya? Bagaimana bisa memulai kehidupan yang baru, kalau masalalu pun tak bisa ia enyahkan dari pikirannya.


ΩΩΩ


Arin baru saja keluar dari sebuah gedung tinggi dimana dirinya bekerja. Malam sudah larut dan dia baru selesai menyelesaikan pekerjaannya.


"Hujan turun kembali," gumam Arin menatap rintik hujan. Ia bergegas membuka payung hitam yang ia bawa.


Ia mengangkat payung ke atas kepalanya dan tatapannya beradu dengan seseorang yang berdiri di depannya berjarak satu meter darinya. Arin masih berdiri mematung menatap seseorang di depannya. Seseorang yang selama ini selalu mengusik dirinya juga hatinya. Seseorang yang selama ini ia rindukan.


Ethan tampak berdiri di hadapannya dengan tubuh terguyur hujan, dan sebuah tas kecil yang menggantung di sisi tubuhnya, tak terlupakan alat bantu pernafasan yang bertengker di hidungnya. Tatapan Ethan maupun Arin menyiratkan rasa sakit, sakit yang tak tertahankan. Ingin sekali mereka berdua berlari menerjang kekasih di depannya dan meluapkan rasa rindu mereka.


Arin terlebih dulu memalingkan wajahnya dengan menghela nafasnya dengan cukup panjang. Tanpa kata ia berjalan mendekati Ethan, saat sudah dekat dengan Ethan. Arin melewatinya begitu saja seakan tak menganggap kehadiran Ethan. Ia terus berjalan tanpa perduli Ethan memperhatikannya. Ethan berbalik menatap punggung Arin yang terus berjalan menjauhinya. Ia sempat ragu dan merasa ciut untuk mengejar Arin, tetapi ia tidak ingin menjadi seorang pecundang lagi. Ethan berjalan membuntuti Arinka.


Dalam keheningan malam, dan rintik hujan, mereka berdua berjalan bersama dalam jarak satu meter tanpa kata. Arin tak bodoh, dia menyadari kalau Ethan membuntutinya, tetapi ia tak mampu untuk menyapa dan berbalik ke arah Ethan. Ia takut hatinya kembali lemah dan rapuh. Cukup jauh mereka berjalan, hingga saat di sebuah jembatan langkah Arin terhenti dan Ethan ikut berhenti dalam jarak yang cukup dekat, hanya berjarak dua langkah dari Arinka.


Suasana di sana begitu sepi, karena itu bukan jalanan utama. Arinka berbalik dan tatapannya langsung bertemu dengan tatapan Ethan yang sangat sendu dan tubuh yang sudah basah kuyup karena kehujanan. Mereka cukup lama saling bertatapan satu sama lain dengan Arin yang memasang wajah datarnya. "Em, apa kabar?" sapa Ethan.


"Seperti yang kau lihat," jawab Arin dengan nada datar nan dingin. Hati Ethan semakin menciut mendengar nada suara dari Arin.


"Kenapa kamu pergi begitu saja? Ada banyak hal yang ingin aku sampaikan padamu," ucap Ethan.


Ethan tersenyum miris mendengarnya. "Aku ingin meminta maaf atas semua yang sudah aku lakukan padamu. Aku sudah sangat menyakitimu, dan jujur saja aku sama sekali tidak bisa membunuh atau mencelakaimu."


"Aku tau ini sangat bodoh, dan keadaanku yang sekarang, aku mungkin bisa di katakan orang yang terlalu percaya diri. Tetapi aku ingin kita kembali bersama seperti dulu, Arin. Aku masih sangat mencintaimu, kita bisa memulainya lagi dari awal tanpa ada rasa ragu, dan dendam."


"Apa kau bercanda?"seru Arin terkekeh sinis. "Kau memang terlalu percaya diri, apa kau begitu tidak menyadari betapa besar luka yang sudah kau torehkan padaku!"


"Aku tau dan sangat menyadari itu, maka dari itu aku ingin kembali memperbaiki semuanya. Tolong beri aku kesempatan kedua, Arin. Aku berjanji akan membahagiakanmu."


"Janjimu kini tak berlaku lagi, Ethan. Kau sudah sering dan terlalu banyak mengingkarinya. Kau bilang mencintaiku? Apa kau tau cinta itu butuh kepercayaan, dan kau tak memiliki kepercayaan itu, apa aku bisa percaya akan cintamu?" tanya Arin.


Ethan masih diam membisu di tempatnya menatap Arin. "Saat itu aku bertanya padamu, apa cinta itu masih ada di hatimu. Saat itu aku bertanya apa cinta itu masih miliku, apa tidak ada kepercayaan sedikitpun darimu untukku. Tetapi apa yang kamu jawab? Kamu mengabaikanku, Ethan. Kamu melepaskan genggaman tanganku. Dan sekarang jangan harap kamu bisa menggenggam tangan yang sudah kamu lepaskan," ucap Arin.


"Sudah cukup Ethan, tak ada yang bisa kita benah lagi. Tak ada yang bisa genggam lagi, rasa itu perlahan hilang dan pupus," dusta Arin. "Aku masih sangat membencimu, Ethan!"


"Ah iya, aku membunuh Jeff karena aku pernah berjanji padamu. Aku akan membantumu membalaskan dendammu, aku ingin kamu tidak menderita lagi karena dendam itu. Dan aku sudah menghilangkan dendam terbesarmu dan rasa sakit yang selalu menghantuimu. Sekarang mulailah hidup normal sesuai keinginanmu, walau tanpa aku di sisimu. Karena faktanya kini kita tak berada di jalan yang sama lagi, kita sudah mengambil jalan kita masing-masing, jadi tetaplah jalani hidupmu dengan baik." Arin sekuat tenaga menahan air mata yang ingin luruh dari pelupuk matanya. Sesungguhnya mengatakan itu semua tak mudah.


"Waktumu telah habis," ucap Arin berbalik memunggungi Ethan dan melanjutkan langkahnya. Baru saja dua langkah, Ethan memeluk tubuhnya dari belakang hingga payung yang ia pegang terlepas dan jatuh. Kini tubuh mereka berdua terguyur air hujan.


"Ku mohon jangan seperti ini, aku sangatlah mencintaimu Arinka. Ku mohon beri aku kesempatan lagi, aku tak bisa hidup tanpamu," ucap Ethan tanpa di ketahui Arin kalo ia menangis di balik guyuran air hujan.


"Cukup Ethan, lepaskan aku. Kita tak bisa kembali bersama," ucap Arin.


Ethan melepaskan pelukannya dan ia menarik lengan Arin hingga Arin berbalik ke arahnya. Dan tanpa di sangka-sangka Ethan menangkup pipi Arin dengan sebelah tangannya dan ia menempelkan bibirnya pada bibir Arin membuat Arin memekik kaget.


ΩΩΩ


The end


**Terima kasih sudah membaca cerita ini dan suka dengan ceritanya. Untuk selanjutnya ada di versi ebooknya yah di playstore.


https://play.google.com/store/books/details?id\=h1qIDwAAQBAJ**