(Un) Perfect Wedding

(Un) Perfect Wedding
Episode 34



Ethan dan Vallen baru saja sampai di ruangan team Delta, keduanya melihat Arinka tampak sedang bercanda dengan James dan Raymond entah membahas apa. Ethan terpaku memperhatikan tawa Arinka yang sudah lama tak muncul di wajah cantiknya. Tawa mereka berhenti saat ketiganya menoleh ke ambang pintu dimana Vallen dan Ethan berdiri. Syal Arin yang tadi di jadikan bahan lelucon untuk di pasangkan pada Raymond dan di kirimkan fotonya pada Rachel jatuh dari genggaman Arin.


Ethan masuk dan berjalan mendekati mereka diikuti Vallen. Vallen bersalaman dengan James dan Raymond, sedangkan Ethan berjalan ke hadapan Arinka dan tatapan keduanya tetap terpaku satu sama lainnya. Ethan tiba-tiba saja duduk rengkuh dengan bertopang pada sebelah lututnya dan mengambil syal Arin. Lalu ia berdiri kembali berhadapan dengan Arinka, ia menyerahkan syal itu pada Arin. Tanpa ucapan kata apapun Arin mengambil syal itu dari tangan Ethan.


"James, ayo temani aku menemui Charlie," seru Arin beranjak pergi melewati tubuh Ethan diikuti James.


"Sabar Brother," ucap Raymond saat Arin dan James sudah berlalu pergi.


"Whoaa jadi kau sudah di terima menjadi adik iparnya Ethan?" goda Vallen.


"Eh?" Raymond tampak salting.


"Ck, jangan harap aku menerimamu, Ray. Kau belum melakukan ujian apapun dariku untuk bersama Rachel. Jadi jangan harap kau bisa memanggilku dengan sebutan Kakak. Aku geli sendiri mendengarnya," ucap Ethan dan berlalu pergi meninggalkan mereka.


"Kenapa denganmu hari ini Vallen? Kau biasanya sangat pendiam, kenapa sekarang kau begitu menyebalkan seperti seorang perempuan," seru Raymond tampak kesal.


"Ujianmu belum di mulai, Nak." kekeh Vallen. "Sekarang traktir aku kopi, nanti aku akan bantu bujuk Ethan untuk menerimamu, bagaimana?"


"Ck, dasar gak modal," gerutu Raymond dan berlalu pergi meninggalkan Vallen sendiri.


Vallen menghela nafasnya dan tersenyum kecil. "Aku menyebalkan seperti dirimu, kamu yang mengajarkanku untuk bersikap menyebalkan, Bella."


"I miss you," gumam Vallen.


ΩΩΩ


Arin masih berdiri kaku di depan pintu coklat yang kokoh di depannya. Tubuhnya tampak bergetar menatap knop pintu. Haruskah dia masuk dan bertemu dengan saudara yang tak pernah ia temui semasa hidupnya?


"Arin, kau baik-baik saja?" tanya James yang berdiri di belakangnya.


Tak jauh dari sana, tepatnya pintu penghubung ruangan itu dengan lorong kantor, Ethan berdiri dan menatap punggung Arin yang masih berdiri kaku di depan pintu.


"Aku tidak tau James, aku merasa sedikit takut," gumam Arin. "Aku takut mendengar kenyataan menyakitkan lagi."


"Kamu bisa Rin, apa perlu aku menemanimu ke dalam?" tanya James.


"Tidak James, aku bisa sendiri," ucap Arin meyakinkan dirinya, kemudian menekan knop pintu seraya menghela nafasnya untuk menguatkan dirinya. Ethan berjalan mendekati James yang menonton Arin melalui layar CCTV di dalam ruangan itu. James hanya menoleh sebentar dan mengabaikan Ethan.


Arin melihat sosok itu tengah duduk di atas bangku dengan tangan yang di borgol ke sisi kursinya. Mendengar langkah ringan Arin, pria itu menengadahkan kepalanya dan mata tajam itu menatap manik mata Arinka. Arin sempat kaget saat melihat wajah itu begitu mirip dengan sang Daddy.


"Arinka Grammond!" gumam pria itu menyeringai membuat Arin mengernyit bingung.


"Ka-u mengenaliku?"


"Sudah jelas aku mengenalmu, Adikku," kekehnya.


"Kau, siapa kau sebenarnya? Dan apa yang terjadi dan kenapa Dad menyembunyikanmu selama ini?" tanya Arin membuat Charlie tertawa. "Bahkan aku tidak mengenalmu."


"Kau ini terlalu polos dan bego, pantas saja Dad memilihmu untuk di jadikan umpan," kekeh Charlie.


"Umpan apa maksudmu?" tanya Arin masih tidak memahaminya.


"Jangan bodoh, Arin. Sudah jelas kau hanya di jadikan alat dan umpan yang akan di serahkan kepada musuh-musuh Dad. Daddy tidak sungguh-sungguh menyayangimu, dia hanya memanfaatkanmu."


"Untuk apa aku berbohong, Dulu kau bahkan akan di serahkan kepada seorang mafia tua yang akan Daddy tipu, tetapi sayangnya kau lebih memilih bersama Ranethan musuh besar dari Dad. Dan yah sekarang semuanya berhasil, kau sudah menjadi pelacurnya dia, dan sekarang kau berpihak padanya," tawa Charlie.


Ethan dari luar terpancing emosi dan ingin menerobos masuk tetapi James menahannya dan melarang dirinya. Ia meminta Ethan untuk membiarkan Arin menghadapi pria yang di sebuh sebagai saudaranya itu. Kini Arinka harus dapat menerima semua kenyataan dalam kehidupannya.


Arin mengepalkan kedua tangannya erat-erat mendengar semua ini. "Aku tidak mempercayai semua ucapanmu, sekarang katakan dimana Dad. Aku ingin menemuinya," ucap Arin sekuat tenaga menahan air matanya yang hendak luruh membasahi pipi.


"Untuk apa memberitahu pengkhianat sepertimu, benar kata Dad seharusnya kau di lenyapkan sejak lama karena kau akan menjadi penghalang kami dan bisa menjadi seorang pengkhianat!" ucap Charlie.


"Tidak, tidak mungkin Daddy berkata seperti itu. Dia, dia menyayangiku," gumam Arin.


"Hahaha Arinka, kau ini sungguh bodoh. Kau pikir Dad benar-benar menyayangimu? Dia hanya memanfaatkanmu," kekeh Charlie membuat Arinka terpaku.


"Kau dan Mrs Drummond memang sengaja Dad umpankan untuk segera di lenyapkan. Jadi kami tidak perlu repot-repot membunuh kalian!"


Deg


Arinka membelalak lebar mendengar perkataan dari Charlie. "Kau berbohong, bukan?"


"Apa aku terlihat membohongimu?" tanya Charlie yang memperlihatkan wajah serius.


Arinka yang masih syock mendengar semua itu berjalan keluar dengan meyakinin kalau Daddy nya tidak sejahat itu.


"Arin!"


Arin menoleh ke dua orang yang memanggilnya saat ia keluar dari ruang interogasi. Arin menatap nanar ke arah Ethan yang menatapnya penuh rasa khawatir. Hanya sebentar mereka saling menatap, hingga Arin alihkan tatapannya ke arah James dan beranjak memeluk tubuh James dan menangis di sana tanpa memperdulikan keberadaan Ethan.


"Yang di katakannya pasti bohong,"seru Arin menangis terisak. James mengusap punggung Arin berusaha menenangkan dengan tatapannya yang tertuju pada Ethan yang terlihat terluka melihat mereka berpelukan. Perlahan Ethan berjalan menjauhi mereka berdua dengan perasaan yang teramat sakit.


ΩΩΩ


Rachel menghampiri Ethan yang berdiri di ruang keluarga tengah menatap pigura besar keluarganya tepat di bawah perapian. "Kalau mereka masih ada, pasti semuanya akan sangat bahagia dan kehidupan kita normal," ucap Rachel yang ikut menatap pigura itu.


Ethan melirik ke arah Rachel dan kembali menatap pigura itu. "Kebahagiaan yang tidak akan bisa di gantikan oleh apapun. Maafkan aku, Hel. Kamu tumbuh menjadi seorang anak yatim piatu."


"Kau ini bicara apa, Ethan. Bersamamu saja aku sudah sangat bahagia," ucap Rachel menatap ke arah Ethan. "Lihatlah tampaknya mereka sudah berbahagia di sana." Ethan menoleh ke arah Rachel.


"Ethan, bisakah kau hentikan semua ini. Sebaiknya kita lupakan semua dendam itu dan mulai kehidupan baru," ucap Rachel. "Aku mulai lelah hidup harus di awasi dan diikuti beberapa bodyguard, dan juga Arin kini malah ikut terobsesi untuk mencari keberadaan Jeff. Ethan sesungguhnya aku sangat ketakutan."


"Kemarilah," Ethan menarik tangan Rachel untuk duduk di sofa yang ada di sana. "Apa yang membuatmu takut?" tanya Ethan saat mereka berdua sudah duduk berdampingan.


"Ethan, keluargaku kini hanya kamu, emm dan juga Arin. Kalau kalian masih berurusan dengan pria jahat itu, aku takut terjadi sesuatu pada kalian seperti yang telah dia lakukan kepada orangtua kita. Aku tidak ingin kehilangan keluargaku lagi, Ethan aku mohon hentikan semua ini dan akhiri dendam ini." Rachel adalah gadis tomboy yang acuh, ini pertama kalinya sejak beberapa tahun lalu Ethan melihat Rachel kembali menangis.


"Hel, jangan menangis," ucap Ethan menghapus air mata di pipi Rachel. "Maafkan aku, aku mungkin terlalu memikirkan dendam itu hingga mengabaikanmu dan ketakutanmu," ucap Ethan.


"Aku takut, Ethan. Aku sungguh takut kehilanganmu, Cuma kamu yang aku miliki di dunia ini, dan kalau terjadi sesuatu padamu, bagaimana denganku?" Rachel semakin terisak membuat Ethan menariknya ke dalam pelukannya. "Ku mohon akhiri semua ini, sebaiknya kita lupakan masalalu dan kita mulai hidup baru dengan tenang dan damai, aku mohon Ethan."


Ethan tak bisa berkata apapun, dia tidak bisa membiarkan Jeff lepas begitu saja setelah semua yang dia lalui dan korbankan. Terutama dia tidak rela melihat Arinka menangis karena di manfaatkan oleh orang yang begitu di sayangi Arin selama hidupnya. Ethan tak bisa membiarkan Arinka merasakan kekecewaan dan rasa sakit yang sama seperti yang pernah dia berikan. Kali ini Ethan harus segera membereskan segalanya dan melenyapkan Jeff.


ΩΩΩ