
Arin kini telah kembali ke dalam ruangan dimana sebelumnya dia di sekap. Tatapannya tampak kosong ke depan dengan air mata yang terus mengalir deras membasahi pipinya. Pintu terbuka dan membuat Arin menoleh. Saat mengetahui siapa yang datang, Arin segera menghapus air matanya dan memalingkan wajahnya.
"Kau puas sekarang, bukan?" seru Arin dengan nada begitu dingin dan datar. Ethan yang masih awalnya ingin memeriksa kondisi Arin, kini berdiri di hadapan Arin.
"Puas?" tanya Ethan hingga Arin kini berdiri di hadapannya.
"Ya kau puas bukan sekarang! Kau memang ingin menghancurkan keluargaku, kau ingin melenyapkan kami semua tanpa sisa bukan?" pekik Arin. "Lalu kau tunggu apalagi, sekarang kau sudah membunuh Ibuku! Ibuku, Ranethan! Jadi sekarang apalagi yang kau tunggu selain membunuhku, hah? Bukankah kau juga sudah mengetahui keberadaan Dad! Sekarang bunuh aku, Ethan! bunuh aku!" teriak Arin dengan Air mata yang mengalir deras.
"Bunuh aku sekarang, Ranethan!" Arin mendorong-dorong dada Ethan dengan sangat kasar.
"Kau pikir aku ingin melakukan ini, Arinka!" bentak Ethan menggenggam kedua tangan Arin. "Sejak awal, Ayahmu yang telah menghancurkan keluargaku, memperkosa Kakak kandungku, dan membunuh kedua orangtuaku! Selama bertahun-tahun aku harus menahan rasa sakit ini, sakit yang perlahan membunuhku! Kau pikir aku baik-baik saja selama ini, hah? Aku membunuh keluargamu dan melenyapkan semuanya itu adalah balasan setimpal untuk keluargamu!" bentak Ethan.
"Begitu kah? Apa kau Tuhan yang bisa mengadili manusia? Lalu apa yang kau dapatkan dari semua dendammu ini, Ethan?" pekik Arin melepaskan genggaman Ethan. "Apa yang akan kau dapatkan dengan melenyapkan kami semua! Apa yang akan kau dapatkan dengan balas dendam ini!" Ethan terdiam mendengar penuturan Arin.
"Kau tidak akan mendapatkan apapun Ethan! Kau itu tak jauh berbeda dengan Dad. Aku membencimu Ethan! sangat membencimu!" teriak Arin tepat di depan wajah Ethan.
Ethan di buat terpaku mendengar kata-kata Arinka, karena bagaimanapun cinta itu masih ada dan masih begitu besar. Tanpa kata Ethan lalu berlalu pergi meninggalkan Arin yang kini tubuhnya ambruk ke tanah dengan memegang perutnya sendiri yang terasa kram, tangisnya pecah seketika mengingat kematian sang Ibu.
Kenapa? Kenapa kehidupannya harus hancur seperti ini? Arin seperti tidak memiliki masa depan, bahkan untuk membuat planning untuk masa depannya dan calon bayinya.
ΩΩΩ
Ethan berjalan keluar rumah yang sederhana itu dimana Arin di sekap. Dan daerah cukup jauh dari perkotaan karena sekitarnya terdapat hutan. Di sana terdapat 5 orang penjaga, dan Ethan hanya melewati mereka yang menunduk memberi hormat tanpa menyapanya. Ia masuk ke dalam mobil sportnya dengan perasaan sakit sekaligus sesak. Entah kenapa kata-kata Arin tadi memohok dirinya. Ethan menjalankan mobilnya dengan perasaan tidak karuan. Seseorang keluar dari persembunyiannya setelah kepergian Ethan. Dia adalah Yuri dengan senyum misterius di bibirnya. Ia menghampiri ke 5 orang tadi dan menyerahkan bungkusan berisi uang yang cukup banyak dan mengatakan lakukan sekarang. Kelimanya langsung menyetujui dan mereka berpencar mengelilingi rumah itu dan menyiramkan bensin di sekitarnya. Bensin yang cukup banyak.
Yuri berdiri tak jauh dari mobilnya terparkir menatap rumah itu dengan seringainya. "Kali ini kau tak akan menghalangiku lagi untuk memiliki Ethan. Aku tau kalian memang tak akur, tetapi Ethan masih mencintaimu dan dia seakan ragu untuk melenyapkanmu atau tidak. Maka dari itu aku hanya akan mempermudah kalian berdua, dan meringankan beban Ethan," gumam Yuri menyalakan korek api dan melemparkannya begitu saja hingga api langsung menyala besar dan merambat ke segala bagian tanpa celah.
Setelah itu Yuri segera pergi diikuti para pengawal tadi meninggalkan tempat itu.
Di dalam ruangan Arin terduduk lemas, ia mengusap matanya yang basah karena mencium aroma terbakar dan bensin. Ia menatap sekeliling hingga bagian pintu terlihat kobaran api.
"Kebakaran!" pekiknya segera berdiri dan ke sudut dinding. "Bagaimana ini?"
Pikiran Arin berkecamuk, mungkinkah ini perbuatan Ethan yang ingin melenyapkan dirinya setelah Ibu nya. Karena tak memiliki keberanian, jadi Ethan melakukan hal ini dengan membakar bangunan dan dirinya.
"Help Me! Help....Help...." Arin berteriak sekencang-kencangnya. Ia tidak akan pasrah begitu saja, demi anaknya, dia harus keluar dari sini.
Arin melihat jendela cukup luas di atas kepalanya. Ia segera mencari bangku yang waktu itu di duduki Ethan dan menampahkan beberapa kardus untuk mencapai jendela itu.
Arin menaiki kursi itu tetapi tangannya masih belum mencapai jendela dan memecahkan kacanya. Ia perlahan naik ke kepala kursi kayu dan berusaha menyeimbangkan tubuhnya. Ia memegang benda keras di tangannya dan tanpa aba-aba melemparkannya ke arah jendela hingga pecah. Tetapi siapa sangka, justru api yang ada di luar meluap ke dalam saat Arin memecahkan kaca itu hingga membuat dirinya kaget dan kehilangan keseimbangan. Tubuh Arin terpental keras ke lantai di belakangnya dengan posisi tengkurap.
"AH!" Arin menjerit saat perutnya terbentur dan terasa begitu sakit. Api mulai masuk ke dalam dan merambat ke sekeliling dinding di ruangan itu. Arin tak mampu lagi bergerak, asap membuat dadanya sesak dan kepalanya berkunang-kunang, hingga Arin kehilangan kesadarannya.
Ethan menghentikan mobilnya seketika, mendadak hatinya merasa tidak nyaman dan semakin sakit. Pikirannya tertuju pada Arinka.
"Ada apa ini?" gumamnya.
Tanpa menunggu lama lagi Ethan memutar balik mobilnya, entah kenapa hatinya terasa begitu sakit dan ia harus bertemu Arinka. Firasatnya mengatakan terjadi sesuatu pada Arin.
Ethan mencoba menghubungi para penjaga di sana tetapi tak ada yang dapat ia hubungi. Ethan semakin menginjak gas mobilnya untuk segera sampai di tempat itu.
Ethan melotot sempurna saat melihat kobaran api dan asap dari tempat Arin berada. Ia semakin khawatir dan menginjak gas mobilnya untuk segera sampai. Sesampainya di sana ia segera menuruni mobil, dan tanpa menunggu apapun ia berusaha menerobos masuk walau api sudah berkobar begitu besar.
"ARINKA!" teriak Ethan dari luar ruangan karena api sudah membakar pintu. Ethan mencari sesuatu tetapi tak menemukannya. Tanpa menunggu lama, Ethan langsung menendang pintu tak perduli kulitnya terkena api. Pintu terbuka dan Ethan meloncat masuk ke dalam.
"Arin!" panggil Ethan hingga pandangannya menangkap sosok wanita itu tergeletak di atas lantai dalam keadaan tak sadarkan diri. Ethan hendak mencapai Arin tetapi sebuah kayu terbakar jatuh dari atasnya hingga menghadang langkahnya.
Ethan tak perduli lagi, dia harus segera mencapai Arin dan menolongnya. Ethan kembali meloncat dan menembus api hingga akhirnya dia sampai di dekat Arin. Ia melihat genangan darah di sekitar Arinka.
"Arinka!" Ethan segera merengkuh kepala Arin ke dalam dekapannya. Dan segera memangku tubuh Arin, ia melepaskan jas yang ia gunakan dan membungkusnya pada tubuh Arin. Ethan segera memangku tubuh Arin dan membawanya keluar dari dalam rumah itu.
"Ku mohon Arin jangan lakukan ini!" Air mata jatuh dari pelupuk matanya, rasa takut bercampur sakit mendera dada Ethan.
"Sadarlah Arin, jangan pergi," isak Ethan terus menekan dada Arin. Ia tak akan biarkan Arin meninggalkannya, ia tak akan membiarkan Arin pergi darinya.
Ethan langsung menarik Arin dan mendekapnya diiringi tangisannya. "Jangan pergi," gumamnya hingga ia mendengar suara batuk dari Arin.
"Arin!"
Arin membuka matanya perlahan dan masih berkabut, tatapan mereka beradu. Arin dapat melihat mata Ethan yang merah dan basah. Tetapi tak lama Arin kembali terlelap pingsan.
Ethan segera memangku Arin dan membawanya menuju mobilnya.
ΩΩΩ
Ethan duduk di ruang tunggu dengan perasaan tak menentu. Sedangkan Arin sedang dalam penanganan dokter.
Bukankah ini Ethan harapkan? Kematian dari putri Jeff dan kehancuran Jeff, tetapi kenapa hatinya ikut merasakan sakit yang begitu teramat sakit, rasa takut yang teramat takut. Dia tidak ingin kehilangan Arinka.
Kenyataannya cinta itu masih besar tertambat di dalam hatinya.
Kenyataannya cinta itu tak pernah berubah untuk Arinka.
Kenyataannya Ethan tidak bisa hidup tanpa Arin.
Kenyataannya Ethan tidak pernah mampu dan siap untuk melenyapkan Arin dari hati juga hidupnya.
Untuk pertama kalinya air mata itu jatuh membasahi pipinya. Untuk pertama kalinya Ethan merasakan takut yang teramat menakutkan.
"Mr. Ranethan!" panggilan itu menyadarkan Ethan, ia menoleh dan mengusap kedua matanya yang basah saat ia melihat dokter berdiri di sampingnya.
"Bagaimana istri saya?" tanya Ranethan.
"Kami telah berhasil mengeluarkan asap dari dalam dadanya, dan kondisinya mulai membaik."
"Syukurlah," seru Ethan bernafas lega.
"Tetapi Mr." Ethan menangkap raut simpati dari wajah sang Dokter membuatnya bingung.
"Ada apa?" tanya Ethan.
"Kami tidak dapat menyelamatkan janin di dalam perutnya."
Deg
"Ja-janin? Dia sedang hamil?" tanya Ethan sangat syock.
"Iya, kandungannya sudah berjalan 3 bulan. Dan kami terpaksa mengeluarkannya karena benturan yang terjadi membuat janin itu tak bisa tertolong lagi."
Bagai tersambar petir di siang bolong, Ethan menatap dokter dengan pandangan yang sangat syock. Tubuhnya sampai limbung ke belakang. Ia berpegangan tangan pada sisi kursi dan terduduk dengan pandangan yang sangat syock.
Arinka hamil...
Janin....
"Bayiku,," gumamnya dengan tatapan kosong.
ΩΩΩ