
'Haruskah aku mengatakan Jason dan meminta bantuannya untuk menemukan keberadaan Mom.' batin Arin.
"Arin, ada apa?" tanya Jason tampak cemas melihat Arin.
"Aku baik-baik saja Jason," jawab Arin.
"Arin please, kita sudah berteman lama. Apa kamu tidak mempercayaiku?" seru Jason membuat Arin menghela nafasnya.
"Jason, apa kamu bisa membantu aku?" tanya Arin.
"Apapun itu akan aku lakukan demi kamu," seru Jason penuh semangat. Arin tau kalau Jason menyimpan perasaan kepadanya, tetapi sayang sekali Arin tidak bisa membalasnya. Perasaannya terlalu besar untuk Ethan. Memang benar cinta itu buta, bahkan tidak masuk di akal.
"Rin," ucapan Jason menyadarkan Arin dari lamunannya.
"Kamu bisa bantu aku menemukan keberadaan Mommy," ucap Arin.
"Mommy kamu kenapa? dia pergi dari rumah?" tanya Jason.
"Tidak Jas, ceritanya panjang dan cukup rumit. Aku pasti akan cerita, tetapi tidak sekarang. Sekarang ku mohon carikan keberadaan Mommy. Ethan menyekapnya."
"What?" pekik Jason. "Seriously?"
"Iya Jas, aku tidak bisa menjelaskannya sekarang. Aku hanya ingin mengetahui dimana Ethan menyekap Mom," ucap Arin.
"Ethan, Your husband?" tanya Jason yang di angguki Jason.
"Aku sungguh tidak paham ini Arin, sebenarnya ada apa? Jelaskan Arin!" ucap Jason membuat Arin menghela nafasnya. "Appa dia menyakitimu selama ini?"
"Jas, aku pasti akan menjelaskan semuanya, tetapi tidak sekarang. Jadi aku mohon percayalahdan tolong bantu aku," ucap Arin penuh permohonan membuat Jason merenung sesaat menatap Arin dengan tajam.
"Oke, tetapi kamu harus janji padaku dulu akan menceritakan semuanya," ucap Jason yang di angguki Arin.
"Promise?"
"Ya."
ΩΩΩ
Arin memalingkan wajahnya saat matanya berair. Ia menguatkan dirinya, ia tidak ingin terlihat lemah. Dia harus memperlihatkan betapa tegar dirinya di hadapan Ethan.
Setelah menghirup udara cukup banyak , Arin melanjutkan perjalanannya menuju lift.
Ethan menoleh saat Arin berdiri di samping mereka, begitu juga dengan Yuri.
"Arin?" seru Yuri dengan senyuman lebarnya tetapi dia sama sekali tak melepaskan kaitannya di lengan Ethan. Arin hanya melirik sekilas dan berjalan masuk ke dalam lift. Di dalam lift ketiganya hanya diam membisu.
Sesekali Ethan melirik Arin yang hanya berdiri kaku di tempatnya tanpa menoleh ke arah mereka. Ethan pun terlihat tak ingin melepaskan pegangan Yuri.
"Arin tunggu!" seru Ethan saat Arin berjalan lebih dulu keluar dari lift. Arin menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke arah Ethan, Ethan berjalan mendekati Arin dan terlihat dia sudah melepaskan pegangan Yuri.
"Kemana saja dulu, jam segini baru pulang?" Tanya Ethan dengan tajam.
"Ada pembahasan dengan teman kuliah," jawab Arin dengan sinis dan melanjutkan langkahnya. "Ah!" Arin meringis saat Ethan menarik lengannya dan memelintirnya membuat Arin kesakitan.
"Kamu di sini adalah tahananku, kamu tidak bisa seenaknya begitu saja kesana kemari! Kemanapun kamu pergi harus seijinku, kamu paham!" bisik Ethan dengan tajam dan menghentakan lengan Arin hingga tubuh Arin terdorong sedikit. Ethan dan Yuri berjalan melewati dirinya begitu saja.
ΩΩΩ
Arin bergegas untuk berangkat kuliah dan mendengar kabar dari Jason, ia tidak melihat langkahnya hingga kakinya tersandung dan hampir saja tubuhnya berguling di anak tangga kalau saja tangan kekar seseorang tidak menahan pinggangnya hingga kini Arin berada dalam pelukannya. Mata keduanya beradu penuh rasa rindu dan rasa cinta walau terhalang kegelapan dendam.
Ethan tak bergerak sama sekali dan matanya terus tertuju pada tatapan polos Arin yang juga membalas tatapannya.
"Apa di sini sudah tak ada lagi rasa cinta untukku?" ucap Arin menyentuh dada Ethan yang di balut jas abunya. Ethan segera memalingkan wajahnya dan melepaskan rangkulannya pada pinggang Arin.
Ethan berpaling dan bergegas pergi tetapi Arin lebih dulu memegang tangan Ethan hingga ia menghentikan langkahnya dan masih berdiri memunggungi Arin.
"Sudah tidak ada lagi kah cinta untukku?" Tanya Arin dengan tatapan penuh harap. "Aku tidak pernah menipumu, Ethan. Aku sungguh sangat mencintaimu," tambah Arin.
Ethan tak menjawabnya, hanya gerakan tangannya yang menghempaskan pegangan Arin yang menjadi jawaban. Setelah itu Ethan melanjutkan langkahnya tanpa perduli lagi pada Arin yang menatapnya dengan tatapan sendu dan terluka.
ΩΩΩ