
Ethan duduk di dalam ruangannya dengan pandangan kosong, di depannya terdapat cincin berlian indah yang tergeletak di atas meja kerjanya. Dan ia sudah berkali-kali mencoba menghubungi Arin tetapi hasilnya nihil. Ethan menekan slide handphone nya hingga memperlihatkan wallpaper dirinya bersama Arin. D foto itu keduanya tampak tersenyum bahagia tanpa beban dan rasa sakit.
Tak bisa Ethan pungkiri, kalau hilangnya Arin ini malah membuat hatinya sakit dan merasa kehilangan. Ethan begitu merindukan Arin, dia sebenarnya ingin tetap bersama Arin dan hidup bersama. Tetapi saat Ethan sadar siapa orangtua Arin, siapa nama belakang Arin dan darah yang mengalir di tubuh Arin adalah darah dari pembunuh yang menghancurkan seluruh keluarganya.
Mata Ethan tampak memerah seakan menahan air matanya supaya tidak sampai jatuh, kenapa situasi harus seperti ini.
Ethan mengambil cincin pernikahannya dari dalam laci meja dan menyimpannya tepat di samping cincin pernikahan milik Arin.
Sayang, cincin ini sangat indah.
Kamu suka yang itu? Itu terlalu sederhana Arin.
Tidak Ethan, ini indah. Kamu lihat kilauan berliannya. Ini seperti cinta kita, terlihat tidak glamour dan mencolok tetapi selalu tampak indah dan elegant. Seperti cincin ini, kilauannya yang indah seperti tatapan matamu yang selalu hangat dan lembut. Aku sangat suka yang ini Ethan.
Ambil saja yang kamu inginkan, Love.
Terima kasih, Love
Ethan memejamkan matanya mengingat kepingan perbincngan mereka. Ia merasa dadanya yang terbakar kini di remas kuat oleh tangan tangan tak kasat mata hingga rasanya sulit untuk bernafas.
Di sisi lain Arinka tampak berdiri menatap keluar jendela dengan tatapan sendu, ia mengusap perut ratanya.
"Apa kamu merindukan Daddy mu, Honey?" gumam Arin menangis dalam diam mengusap perutnya. Ini sudah 2 hari sejak kepergiannya meninggalkan Ethan. Dan dia begitu tersiksa dengan kondisi kehamilannya, dia tidak ingin makan dan tidak bisa tidur. Dia terus terbayang Ethan dan rasanya ingin selalu di sisinya.
"Maafkan Mom, bukan maksud Mom memisahkan kamu dari Daddy dan merahasiakan keberadaanmu. Ini demi kebaikanmu, Nak." Arin hanya bisa menangis, kenapa akhir akhir ini dia selalu menangis.
Ingatannya melayang pada kejadian beberapa tahun lalu dimana dia dan Ethan pertama kali bertemu, mereka kenal. Ethan adalah pria yang begitu tertutup, bahkan Arin cukup sulit untuk bisa dekat dengannya. Setelah 2 tahun mengenal Ethan dan Rachel, barulah dia bisa dekat dan memiliki hati Ethan. Dan sekarang dia harus kehilangan kembali hati itu.
Tak bisa Arin pungkiri kalau hatinya masih sangat mencintai Ethan dan dia masih berharap Ethan bisa menerima dirinya dan bayinya. Tetapi ia juga tidak akan mampu melihat Ibu dan Ayahnya di bunuh oleh Ethan. Ini sungguh seperti buah simalakama, mereka berdua terjebak dalam situasi yang sangat sulit.
"Arin," panggil seseorang membuka pintu membuat Arin mengusap air matanya dan melihat ke ambang pintu. Ia tersenyum menyambut kedatangan Jason.
"Jas,"
"Kamu baik-baik saja?" tanya Jason.
"Yes, I'm fine."
"Apa kamu menginginkan sesuatu, atau apa yah istilahnya itu, ngidam yah ngidam. Apa kamu ngidam sesuatu? Aku siap penuhinnya," ucap Jason begitu bersemangat.
"Tidak Jas, aku tidak sedang ingin apa-apa. Terima kasih kamu sudah begitu perhatian," ucap Arin.
"Its Oke Arin. aku ini temanmu," ucapan Jason menggantung di udara mengatakannya. Walau di dalam hatinya ia ingin mengatakan kalau dia ingin lebih dari sekedar teman.
"Sebaiknya sekarang kamu makan, kamu belum makan sejak tadi pagi Rin. Kasian bayimu," ucap Jason membuat Arin mengangguk setuju.
Mereka berjalan keluar dari kamar dan menikmati makan siang bersama. Jason menatap Arin yang seperti enggan untuk makan.
"Hoekkkk!" Arin beranjak dari duduknya dan berlari ke kamar mandi. Ia memuntahkan semua isi perutnya.
"You Oke?"
"Ya," jawab Arin diiringi senyumannya.
"Apa sebaiknya kita ke rumah sakit saja Rin, kita periksa kondisi kandunganmu," ajak Jason.
"Aku baik-baik saja, aku hanya ingin beristirahat saja." Arin berlalu pergi meninggalkan Jason begitu saja. Dalam langkahnya ia ingin menangis dan menjerit. Kenapa? Kenapa hati dan pikirannya terus tertuju pada Ethan. Kenapa rasanya dia ingin berada di dekat Ethan? Kenapa harus seperti ini?
ΩΩΩ
"Bagaimana? ada kabar tentangnya?" tanya Ethan pada beberapa anak buahnya yang ia perintahkan untuk mencari Arin.
"Maaf Bos, kami belum menemukan jejaknya," jawab salah satu dari mereka.
Brak
"Apa saja yang kalian kerjakan hah? Hanya mencari seorang wanita saja kalian tidak becus!" amuk Ethan. Semenjak kepergian Arin, Ethan menjadi sosok yang tak terkontrol lagi, sudah banyak korban dari amukannya termasuk sahabat dan adiknya sendiri.
"Pergi kalian, dan aku tidak mau tau kalian harus segera memberiku kabar mengenai keberadaannya!"
Mereka semua mengangguk dan berlalu pergi meninggalkan ruangan Ethan. Tak lama setelah mereka semua keluar, Vallen masuk dengan gagahnya.
"Jadi bagaimana?" tanya Vallen dengan santainya duduk di sofa ruangan kerja Ethan di perusahaan Ethan.
"APA?" sentak Ethan.
"Relax Brother," ucap Vallen walau dia tau Ethan sedang tidak baik-baik saja.
"Kemana sebenarnya wanita itu?" gumam Ethan duduk di sofa yang berada di sebrang Vallen. Ia tampak kacau sekali.
"Baru juga di tinggal pergi oleh Arin, yang faktanya masih bisa di cari dan di temukan," ucap Vallen menghela nafasnya. "Bagaimana kau bisa melenyapkannya Ethan, kau begitu kacau karena di tinggalkan olehnya. Apa kau pernah membayangkan bagaimana sakitnya dan apa yang akan terjadi nanti saat Arin meninggal dan lenyap dari dunia ini."
Mata Ethan melotot sempurna ke arah Vallen dengan rahang yang mengeras. Ucapan Vallen barusan entah kenapa seperti menakutinya. Hatinya mendadak ketakutan dan ia tidak ingin membayangkannya, walau bayangan Arin meninggal di tangannya terus terbayang-bayang.
"Apa benar dengan membalas dendam seperti ini, hati akan damai dan bisa tidur dengan nyenyak?" tanya Vallen.
"Apa maksudmu, Vallen?" tanya Ethan mengernyitkan dahinya bingung.
"Aku mengingat kata-kata dari seseorang, di bilang kalau Kegelapan tidak bisa mengusir kegelapan, hanya cahaya yang bisa melakukannya. Kebencin tidk bis mengusir kebencian, hany rasa cinta yang dapat mengusir sebuah kebencian." Vallen berucap dengan merenung memikirkan orang yang berkata seperti itu pada dirinya.
Ethan termenung untuk sesaat sebelum akhirnya dia kembali berucap. "Tetapi kegelpn dan rasa benci itu bisa mengusir rasa cinta."
ΩΩΩ
TBC...