
Arin sudah merasa pakaiannya rapi dan bersiap pergi ke kampus karena Rachel sudah menunggunya di bawah. Tetapi belum sempat ia melangkahkan kakinya, handphone nya berdering menampilkan private number.
"Siapa yah," gumam Arin dan mengangkat telponnya.
"Hallo,"
"......"
"M-mom,"
"......."
"Mom, apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang sudah Dad lakukan pada Ethan dan keluarganya? Mom tolong jelaskan semuanya ke Arin! Arin sungguh tidak memahami semua ini. Dan karena ini juga, hubungan Arin dan Ethan hancur!" Ceroscos Arin tampak kesal.
"....."
"Jam berapa?"
"....."
"Baiklah, see you Mom."
Arin menghela nafasnya seraya menatap layar handphone yang sudah kembali ke menu utama.
"Aku harus mendapatkan jawaban dari Mommy," gumam Arin dan beranjak pergi.
***
Ethan datang ke kampus, entah kenapa dia kepikiran kejadian semalam, ia terlalu kasar pada Arin. Benar yang di katakan Vallen kalau dia tidak harus bersikap sekasar itu pada Arin, toh selama ini Arin terlihat tulus mencintainya. Mungkin Arin memang tak ada hubungannya dengan semua ini.
Ethan akan memberi kesempatan pada Arin. Dia juga sejujurnya sangat merindukan Arin.
"Wah ada angin apa ini Kakakku yang tampan jemput ke kampus," kekeh Rachel yang langsung menghampiri Ethan.
"Sudah selesai?" Tanya Ethan yang di angguki Rachel. Ethan celingak celinguk ke belakang tubuh Rachel mencari sosok Arin.
"Kamu cari Arin?" Tanya Rachel membuat Ethan menatap wajah adiknya itu. "Memangnya Arin tidak mengabarimu?"
"Apa?"
"Dia pulang lebih dulu tadi, sepertinya ada sesuatu yang penting. Aku pikir dia menghubungimu," ucap Rachel membuat Ethan terdiam.
"Ayo naik," ajaknya membuat Rachel menaiki mobil diikuti Ethan.
Dalam perjalanan keduanya diam membisu, tak ada satupun yang membuka suara. Rachel sibuk dengan permainan di handphone nya.
Ckiiiittt
"Oh God!" Pekik Rachel yang hampir saja membentur dashboard mobil. "What happen, Ethan?"
Ethan mengepal kuat setir mobilnya, tatapannya tertuju pada cafe di depannya yang memperlihatkan Arin bersama seorang wanita yang ia ketahui sebagai istri Jeff atau Mommy Arin.
"Berani sekali dia!" Gumam Ethan.
"Ethan ada apa?" tanya Rachel sangat penasaran.
"Tidak ada!" Ethan menjalankan mobilnya meninggalkan area itu dengan emosi yang memuncak.
***
"Maaf Arin karena Mom tak memberitahukan ini semua padamu," ucap Mrs. Maria Drummond.
"Kenapa? Sekarang Ethan sangat membenciku. Andai saja aku tau kalau Dad penyebab kehancuran hidup Ethan maka aku memilih untuk tak pernah bertemu dengannya." Arin menangis dalam diam.
"Arin," Maria menggenggam tangan Arin dan menatap putrinya itu dengan teduh. "Kamu bisa kan melindungi kami, melindungi Daddy mu dan bisnisnya. Ethan dan teman-temannya sudah menghancurkan anak cabang perusahaan Dad, kalau ini terus berlanjut maka bisnis Dad akan hancur total, dan hidup Dad juga dalam ancaman. Kamu bisa kan melindungi kami?" Arin menatap tatapan melas sang Ibu.
"Itu adalah kesalahan Dad di masalalu dengan orangtua Ethan, biarlah semua ini menjadi kenangan masa lalu dan kubur bersama-sama," sambung Maria.
"Apa Mom tidak salah berbicara? Karena masalalu itu, kini hidup Ethan dan Rachel hancur, dan karena ini juga kehidupan rumah tangga Arin dan Ethan tidak harmonis. Bagaimana bisa Dad dan Mom hanya memikirkan itu?" tanya Arin.
"Tidak inginkah kalian menyerah dan meminta maaf pada Ethan dan Rachel?" tanya Arin.
"Apa kamu sudah tidak waras, Arin? Kamu ingin Daddy mu mati di tangan orang orang sialan itu!" Amuk Maria, raut wajahnya yang tadinya keibuan kini berubah drastis.
"Mom-"
"Tidak Arin, sampai kapanpun kami tak akan menyerah. Harusnya kamu di pihak kami! Dimana balas budimu pada kedua orangtua yang membesarkan dan membiayaimu! Harusnya kamu melindungi kami bukannya meminta kami menyerahkan diri!" Amuk Maria.
"Ternyata Mom sudah salah menilaimu!" Maria beranjak pergi meninggalkan Arin yang termenung di tempatnya.
***
Arin berjalan dengan lesu memasuki area penthouse mereka, ia masih memikirkan ucapan Maria tadi siang. Ia dilema, sungguh sangat dilema. Di sisi lain ada Ethan, suami dan cintanya. Dan di sisi lainnya ada kedua orangtuanya.
Arin memasuki lift kosong, ia merasa kepalanya berputar. Bahkan ia belum sempat memakan apapun.
Arin terduduk di dalam lift dan memijat kepalanya. Ia sungguh sangat dilema, dan haruskah ia beritahu Ethan kalau hari ini Mommy nya menemui dia.
Ting
Arin berjalan masuk ke dalam hingga sebuah suara menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah kanannya, Ethan tampak duduk santai di atas kursi.
"Ethan?"
"Kenapa? Kaget kalau aku pulang cepat?" tanya Ethan beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Arin.
"Darimana saja kamu?" tanya Ethan dengan nada tenang.
"Aku? A-aku-" gumamnya bingung harus menjawab apa.
"Jawab aku Arinka! Darimana saja kamu!" Bentak Ethan membuat Arin terlonjak kaget.
"Ethan aku, aku- aku harus pergi ke suatu tempat," gumamnya.
"Kemana itu?" Bentak Ethan membuat Arin ketakutan.
"Toko buku," ucap Arin terpakaa berbohong.
Ethan tertawa masam. "Kau bohong!" Bentak Ethan membuat Arin semakin ketakutan.
"Kamu berbohong Arinka! Kamu bilang tidak tau mereka dimana! Tetapi kamu menemui ibumu!"
Deg
Arin membelalak lebar mendengar ucapan Ethan.
"Kaget kenapa aku mengetahuinya?" tanya Ethan.
"Ethan, aku bisa jelaskan semuanya," ucap Arin.
"Apa, hah? Mau buat kebohongan apalagi?" Pekik Ethan meninju dinding tepat di samping kepala Arin membuat Arin ketakutan.
"Maafkan aku Ethan," isak Arin.
"Harusnya aku tak dengar ucapan Vallen mengenai ketidaktahuan dan keterlibatanmu dengan **** itu!" Pekik Ethan. "Kau putri penjahat itu, jadi bagaimana bisa kau tak mengetahuinya!" Pekik Ethan.
"Hentikan tangisan sialanmu itu!"
"ETHAN!" Teriak Rachel menahan lengan Ethan yang terangkat ke udara untuk memukul Arin.
"Ada apa ini?" Tanya Rachel. "Arin ayo ikut aku ke kamarku!" Rachel menarik lengan Arin.
"Tidak!" Sergah Ethan melepaskan pegangan Rachel dan menarik Arin ke bagian belakang.
"Ethan mau kau bawa kemana Arin?" Tanya Rachel mengikuti mereka.
"Ethan aku mohon dengarkan aku, tadi pagi Mom tiba tiba saja menghubungiku dengan private number dan dia mengajakku bertemu. Aku menemuinya karena aku ingin tau kejelasan semuanya. Apa ini kebetulan atau mereka sudah mengetahuinya sejak awal kalau kamu adalah-"
"Diam!" Bentak Ethan tepat di depan pintu gudang.
"Kau terlalu banyak berbohong dan menipuku! Kau sungguh wanita licik! Aku menyesal telah mencintaimu!"
Deg
Arin mematung di tempatnya dengan air mata yang luruh membasahi pipi. Ethan membuka pintu gudang dan mendorong tubuh Arin masuk ke dalam lalu menguncinya dari luar.
"Ethan apa yang kau lakukan pada Arin?" Tanya Rachel sangat kaget. "Kasian Arin di dalam, di sana tak ada lampu dan di dalam sana gelap!"
Ethan tak mendengarkan ucapan Rachel, ia berjalan meninggalkan Rachel.
"Ethan buka pintunya! Kasian Arin! Dia takut gelap!" Rachel terus membuntuti Ethan yang seakan tak mendengarkannya.
"Ethan!"
"Ethan! Kau ini tuli atau apa sih?" Rachel sudah kesal.
"Ethan!" Rachel menarik tangan Ethan dengan kesal hingga Ethan menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Rachel.
"Sebenarnya ada apa sih? Kenapa kamu melakukan ini pada Arin? Bahkan sebelumnya kamu tak pernah berani hanya untuk membentak Arin," ucap Rachel.
"Dia itu penipu!" Bentak Ethan.
"Penipu? Apa maksudmu?" tanya Rachel tak paham.
"Kau tak perlu tau, Rachel!" Seru Ethan.
"Aku mohon katakan ada apa!" Seru Rachel dengan sangat penasaran.
"Arinka adalah putri dari Jeff, orang yang sudah membunuh kedua orangtua kita dan memperkosa Kakak kita. Dia datang kepada kita untuk kembali menghancurkan keluarga kita Rachel. Dia wanita licik, dengan acting polosnya dia bisa mengelabuhimu dan juga aku." Ethan beranjak pergi setelah mengatakan itu.
Rachel mematung kaku dengan ekspresi syock.
"Arinka? Benarkah?
***