(Un) Perfect Wedding

(Un) Perfect Wedding
Episode 33



Arin tampak sedang bercanda dengan Rachel saat berjalan keluar gerbang kampus. Ia berjalan mundur dengan menghadap ke arah Rachel di depannya dan mereka berbincang sambil tertawa mengenai kejadian tadi di kelas mereka.


Dug


Langkah Arin terhenti saat punggungnya menabrak sesuatu yang keras. Ia berbalik dan sedikit memekik kaget saat pandangannya beradu dengan mata tajam itu. Ethan berdiri tepat di depannya.


"Kau sudah di jemput, Hel." ucap Arin beranjak melewati Ethan, tetapi langkahnya terhenti saat Ethan menghalangi langkahnya dengan tangannya yang memegang pundak Arin. Arin menatap ke sampingnya dengan tatapan tajam penuh kebencian dan kekesalan.


Melihat tatapan yang di tunjukan Arin membuat Ethan merasa tak nyaman, ia akhirnya melepaskan pegangannya pada pundak Arin. "Kalau kau tidak keberatan, aku bisa mengantarmu juga," ucap Ethan.


"No, Thank!" setelah itu Arin berjalan melewati tubuh Ethan tanpa mengatakan apapun lagi.


Raut wajah Ethan berubah menjadi sendu, dan Rachel yang memahaminya berjalan mendekati Kakaknya itu. "Apa kau akan tetap berdiri di sini?" tanya Rachel yang menyadarkan Ethan dari lamunanya.


Ethan tersenyum kecil dan mengusap kepala Rachel. "Ayo." Mereka berdua berjalan menuju mobil Ethan yang terparkir tak jauh dari gerbang utama.


Gerakan Ethan yang hendak memasuki mobil terhenti saat melihat Arin masuk ke dalam mobil pria yang ia ketahui bernama Jason. Pria yang membawa Arin kabur dari tempatnya dulu. Ethan masih memperhatikan mobil yang kini mulai melaju dan berlalu meninggalkan area kampus.


"Ethan, ada apa?" tanya Rachel dari dalam mobil. Ethan tak menjawab dan masuk ke dalam mobilnya dan mulai melajukan mobilnya.


Arin bersama pria itu, apa mereka ada hubungan spesial? pikiran Ethan berkecamuk kemana-mana. Hatinya terasa hancur berkeping-keping membayangkan mereka memang memiliki hubungan spesial.


ΩΩΩ


Yuri datang ke kantor Ethan dengan wajah sumbringah, tadi pagi Ethan menghubunginya dan mengajaknya untuk makan siang bersama, tetapi satu jam lalu Ethan memintanya untuk datang ke kantor Ethan. Ethan beralasan tak bisa keluar karena sibuk, dan ia meminta Yuri untuk datang. Yuri tersenyum senang dengan menenteng kantong keresek berisi makanan yang tadi ia beli untuk makan siang bersama di kantor Ethan.


"Excume Me," ucapnya pada sekretaris Ethan.


"Miss Yuri, silahkan masuk. Mr. Ethan sudah menunggu anda," ucap Sekretaris itu.


Yuri mengangguk kecil dan berjalan masuk ke dalam pintu coklat besar dan kokoh.itu. "Hai Et-" ucapan Yuri menggantung di udara saat ia melihat keberadaan Vallen, dan empat bodyguart yang saat itu menjaga bangunan dimana Arin di sekap. "Emm, ternyata sedang ada tamu, kalau begitu selesaikan dulu, aku akan tunggu di luar," ucap Yuri berbalik ke arah pintu.


"Tidak Yuri, justru kami menunggumu." seruan Ethan membuat Yuri mematung di tempatnya. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, ia berbalik dengan wajah tanpa berdosanya diiringi senyuman ringannya.


"Ada apa ini? apa ada masalah?" tanya Yuri.


"Duduklah Yuri," seru Ethan tampak begitu dingin dan menakutkan.


"Etha-"


"Kau duduk saja dan jangan banyak berbicara," seru Vallen membuat Yuri menatap tajam ke arah Vallen, dan ia yakin Vallen sudah melaporkan segalanya pada Ethan.


Yuri memilih duduk di atas kursi yang tersedia di sana. Ethan beranjak dari kursi kebesarannya dan berjalan mendekati Yuri yang duduk di sebrangnya, hanya terhalang meja kerjanya. "Katakan apa yang ingin kalian laporkan," ucap Ethan kepada empat orang pria yang berdiri tak jauh dari mereka.


"Kami di bayar oleh Miss Yuri untuk membakar bangunan itu," jawab mereka.


"What?" pekik Yuri beranjak dari duduknya. "Tuduhan apa ini? Ethan, tolong jangan percaya mereka, ini pasti ada kesalahan. Aku di jebak di sin-" ucapan Yuri terhenti saat Ethan mengarahkan ujung pistol ke arah keningnya.


"E-than?"


"Kau mengenalku Yuri, aku tidak segan-segan membunuh seorang pengkhianat, walaupun itu seorang perempuan," ucap Ethan dengan nada tenang tetapi begitu tajam dan menusuk.


"A-apa kamu tidak mempercayaiku Ethan? Aku ini temanmu!" seru Yuri diiringi tangisannya.


"Kau hanya teman, Yuri. Istriku saja hampir ku bunuh," ucap Ethan tanpa belas kasih. "Yuri, ku pikir kau memang temanku. Selama ini aku selalu memaafkanmu atas kata-katamu yang menghina dan merendahkan Arin di depanku, aku menganggap itu bentuk keperdulianmu kepadaku." Ethan masih tampak tenang.


"Tetapi aku salah besar, KAU BAHKAN MEMBUNUH CALON BAYIKU!" pekik Ethan menggelegar dan semakin mendekati Yuri yang ketakutan.


"Kau membunuhnya dan hampir membunuh Arin, sialan!" bentak Ethan membuat Yuri semakin menangis


"Aku memang melakukannya, tetapi aku punya alasan! Aku mencintai kamu, Ethan! Aku sangat mencintai kamu dari saat kita bergabung di CIA dan melakukan pelatihan bersama. Aku sudah jatuh cinta padamu sejak 7 tahun lalu dan kamu malah memilih Arinka, wanita penipu itu!"


"KAU!"


"Kau akan masuk penjara kalau membunuhnya, Ethan. Kau tau siapa Ayahnya," seru Vallen membuat Ethan menurunkan pistolnya dengan senyuman kecut.


"Kau selamat karena Ayahmu adalah petinggi di CIA," ucap Ethan berjalan mengintari meja kerjanya seraya melemparkan pistolnya ke atas meja. Ethan memejamkan matanya untuk meredakkan amarahnya yang memuncak.


"Pergilah yang jauh, Yuri. Jangan sampai kita bertemu kembali, karena saat pertemuan kedua itu, aku tak akan pernah mengampunimu lagi," ucap Ethan.


"Ethan, aku mencintaimu," gumam Yuri.


"I don't care!" pekik Ethan kini berbalik ke arah Yuri dengan tatapan elangnya yang begitu menyeramkan, hingga membuat Yuri tak bisa berkutik.


"Pergi dari hidupku, tinggalkan kota ini atau Negara ini. Aku tidak ingin melihatmu lagi, YURI!"


"A-"


"Dan mulai detik ini, enyahlah dari hadapanku!" bentak Ethan membuat Yuri semakin terluka. Tubuhnya bergetar dengan air mata yang luruh membasahi pipi. Ia beranjak pergi dengan hati yang sangat hancur.


"Dan jangan mencoba mencelakai Arin ataupun berniat meracuniku lagi seperti semalam, beberapa anak buahku akan selalu mengawasimu, jadi jangan macam-macam, karena kalau itu terjadi, nyawamu tak bisa tertoleransi lagi." Ucapan itu final dari Ethan yang sangat menghancurkan hati Yuri.


Yuri berlalu pergi meninggalkan ruangan Ethan. "Dan untuk kalian, sudah jelas bukan tugas kalian," ucap Ethan yang di angguki ke empat bodyguard itu dan juga ikut berpamitan keluar.


"Kenapa kau menghalangiku membunuhnya, Val? Bagaimana kalau dia kembali berencana membunuh Arinka lagi?" tanya Ethan.


"Jangan gegabah Than, kalau kamu gegabah semua rencanamu dan masa depanmu akan hancur, dan mungkin riwayatmu pun akan tamat," ucap Vallen berjalan dengan santai menuju meja sudut dimana mesin pembuat kopi berada. Ia dengan santai membuat kopi dan menyeduhkannya ke dalam dua gelas.


"Mr. Lee Kwok itu pria keras tetapi juga bijak. Dia tidak akan mendengarkan ocehan kita mengenai kebakaran yang terjadi 2 bulan lalu. Yang ada kau yang akan di pojokkan," ucap Vallen menyerahkan kopi di atas meja Ethan.


"Sekarang kita sudah meminta mereka untuk memata-matai Yuri selama 24 jam, saat Yuri macam-macam pada Arin atau keluargamu, maka saat itu juga mereka akan mengambil rekaman itu dan menyerahkannya pada Mr. Lee, dan kau tidak perlu repot-repot membunuh Yuri, toh Ayahnya sendiri yang akan menghukumnya," ucap Vallen yang kini duduk angkuh di atas sofa dengan bertumpang kaki dan menyeruput kopi miliknya.


"Kau memang pintar, Ale. Pantas saja Bella begitu memujamu," goda Ethan.


"Berhenti memanggilku Ale," dengus Vallen, nama itu seperti cambuk untuknya. Rasa rindu yang begitu besar pada Bella, dan itulah cambuk tertajam yang selalu mencambuk diri Vallen selama hidupnya.


"Jadi apa menurutmu Yuri akan melakukan sesuatu lagi?" tanya Ethan.


"Kenapa kau bertanya itu padaku?" tanya Vallen.


"Biasanya feelingmu kuat," ucap Ethan. "Seperti kau begitu saja menyelidiki Yuri tanpa sepengetahuanku."


"Akhirnya kau mengakui kemampuan spesialku," ucap Vallen dengan penuh rasa percaya diri.


"Tidak juga, aku hanya ingin kembali membuktikan ucapanmu kali ini."


"Kau selalu saja meragukanku, kau ini sungguh pria yang tidak peka. Pantas saja Arinka meninggalkanmu," ejek Vallen menggoda Ethan.


"Berhentilah mengejekku," seru Ethan meneguk kopinya. "Kopi yang manis."


"Semanis ucapanmu," ejek Vallen membuat keduanya terkekeh.


"Kau tampaknya masih dendam karena traktiran yang gagal," kekeh Ethan.


"Ya, ucapanmu sungguh manis dengan menawarkan minum sepuasnya di traktir olehmu, nyatanya hanya manis di bibir."


"Kau sungguh merajuk karena gagal di traktir?" ejek Ethan.


"Kau sudah sering membual untuk mentraktirku, Ranethan."


"Hei kau itu pewaris tunggal dari perusahaan besar dan masuk kategori orang terkaya di Dunia," seru Ethan. "Kau tidak tau malu meminta traktir pada pengusaha standar seperti ku?"


"Kau tidak tau yah kalau di traktir teman itu adalah kenikmatan yang hakiki," ucap Vallen membuat keduanya terkekeh.


ΩΩΩ