
"Bagaimana?" tanya James sibuk dengan gadgetnya saat Raymond masuk ke dalam ruangannya.
"Belum menemukan celah apapun, Jeff terlalu pintar menyembunyikan semua informasi tentang keluarganya," jawab Raymond menghela nafasnya.
"Kalau begini terus, Ethan akan terus menyiksa Arin dan dirinya juga." James tampak kesal.
Ia beranjak dari duduknya seraya menyimpan gadgetnya di atas meja. Ia menghela nafasnya cukup panjang.
"Aku yakin Arin tidak bersalah," ucap James.
Raymond tau James begitu menyayangi Arinka, bukan sebagai pasangan melainkan sebagai adiknya. James dulu pernah memiliki seorang adik perempuan yang hilang di culik pengasuhnya yang gila. Mungkin kalau masih ada adik James akan seusia Rachel dan Arin, tetapi menurut informan kepercayaannya, adik James telah meninggal dunia.
"Bagaimana caranya kita mencari bukti ketidak terlibatan Arin dengan Jeff? Semakin lama Ethan semakin tak terkendali, dia bisa saja membunuh Arin!" seru James menjambak rambutnya sendiri tampak frustasi.
"James, tetapi bagaimana kalau memang Arin terlibat. Dia kan putri Jeff, dan selama ini bahkan dia tidak pernah membiarkan Ethan bertemu dengan orangtuanya. Dan mereka menunjukkan diri saat pernikahan Arin dan Ethan, itupun setelah mereka berdua resmi menjadi sepasang suami istri. Ini jelas di rencanakan, bukan sebuah kebetulan." Persepsi Ray.
"Yang kamu katakan memang benar, Ray. Tetapi entah kenapa hatiku mengatakan kalau Arin tidaklah bersalah. Aku begitu yakin akan hal itu, Ray."
"Mungkin karena kamu sudah menganggapnya sebagai adikmu sendiri dan kalian begitu dekat dari sejak beberapa tahun yang lalu, jadi kamu begitu mempercayainya," seru Raymond.
"Bisa saja, tetapi aku masih percaya kalau Arin tidaklah bersalah. Apapun faktanya nanti, kita tetap harus terus mencari buktinya," seru James terlihat begitu tak terbantahkan.
"Aku ikut saja," jawab Raymond dengan santai.
ΩΩΩ
Arin mengerjapkan matanya berkali-kali, ia terbangun dari tidurnya. Dan berangsur perlahann memundurkan tubuhnya bersandar pada dinding di belakangnya. Ia sedikit memejamkan matanya sebelum akhirnya kembali membukanya. Rasa pusing di kepalanya terasa seperti di pukul-pukul, dan perutnya terasa sakit. Mungkin akhir-akhir ini dia terlalu banyak pikiran dan kurang memperhatikan kandungannya.
"Kau butuh minum?" serua itu membuatnya kaget dan tatapannya langsung tertuju pada seseorang yang tengah duduk di atas kursi tak jauh dari tempatnya.
Arin hanya menatap tajam pria yang sedang mengambil air minum dan berjalan mendekatinya.
"Ini minumlah," serunya menyodorkan gelas itu ke arah Arin.
Arin menerima sodoran gelas dari tangan pria di depannya yang tak lain adalah Ethan dengan kebingungan. Ini masih bisa di bilang belum pagi, tetapi Ethan berada di sini. Sejak kapan Ethan masuk dan duduk di kursi kayu di dalam ruangan itu.
"Kau sudah merasa lebih baik?" tanya Ethan saat Arin telah meneguk minumannya.
"Kenapa kau ada di sini?" tanya Arin merasa bingung.
"Aku ingin mengajakmu menemui Mrs. Drummond."
"Be-benarkah itu?" tanya Arin.
"Sekarang bangun dan ikutlah denganku."
Arin menganggukkan kepalanya dengan perasaan senang, ia tidak menyangka kalau masih ada kebaikan Ethan untuk dirinya.
ΩΩΩ
Tak lama Arin sampai di ruangan dimana sang Ibunda di tahan. Tanpa menunggu Ethan, Arin berlari menerjang sang Ibu yang duduk lemah dan begitu pucat di atas kursi kayu di sudut ruangan.
"Mom," isak Arin memeluk tubuh Ibunya yang terlihat ringkih.
"Arin." Mrs. Drummond ikut menangis memeluk Arin. "Maafkan Mom, Arinka," isaknya mengecupi kening Arin.
Ethan masih berdiri tak jauh dari mereka dengan pandangan tak terbaca. Menatap kedua wanita berbeda usia yang tengah berpelukan dengan isakan tangis memilukan.
"Arin, Mom yang harusnya meminta maaf karena melibatkanmu dalam hal ini," isak Momnya.
Saat mereka tengah berpelukan penuh rasa rindu, tiba-tiba 4 orang pria berbadan besar datang dan melepaskan pelukan mereka dengan paksa.
"Mom!"
"Arin!"
Mereka di pisahkan dan saling menjauh membuat Arin berusaha berontak tetapi begitu sulit. "Lepaskan aku!" jerit Arin.
"Arinka DIAM!" bentak Ethan membuat Arin terdiam dan menatap Ethan dengan penuh permohonan.
Kedua penjaga tadi melepaskan pegangannya pada Arin sesuai perintah Ethan. Kondisi itu di manfaatkan Arin untuk melepaskan diri dan berlari menerjang sang Ibu yang masih di sandra dua orang lainnya. Tetapi sayang sekali gerakannya terhenti saat tangan Ethan menahan pergelangan tangannya.
"Ethan ku mohon lepaskan kami," isak Arin penuh permohonan.
"Lepaskan kalian? kau bercanda? Aku telah mencari keberadaan kalian selama beberapa tahun."
"Ethan-" Arin menatap Ethan dengan memelas.
"Damon, lakukan sekarang!" perintah Ethan dan saat itu juga salah satu pria tadi mengeluarkan pistolnya.
"Tidak tidak, Ethan ku mohon jangan lakukan itu!" isak Arin penuh permohonan.
"Waktu dua minggumu telah habis Arin, bukannya kau membantuku mencari keberadaan Jeff, kau malah mencoba melarikan diri dariku dan meminta oranglain melepaskan Ibumu! Kau telah menipuku, Arinka!" seru Ethan penuh penekanan.
"Itu semua tidak benar, aku bisa jelaskan semuanya. Ku mohon jangan lakukan ini, lepaskan Ibuku. Aku akan menggantikannya, ku mohon lepaskan dia," isak Arin sudah sangat kebingungan.
"Kau bercanda? Aku menginginkan kalian semua, bukan salah satu dari kalian!" Mendengar kata-kata Ethan yang sangat tajam itu membuat Arin kebingungan. Ethan kini berubah menjadi begitu keras, dan kadang Arin tak mengenalinya. Bahkan baru beberapa menit berlalu ia berpikir kalau Ethan sudah bersikap baik padanya.
"Et-"
"Lakukan sekarang tunggu apalagi!"
"Tidak! ku mohon jangan Ethan!" pekik Arin teruk berontak berusaha melepaskan diri dari genggaman Ethan.
Dor
Situasi di sana mendadak menadi lambat. Seluruh pandangan tertuju pada tubuh ringkih itu yang ambruk ke lantai.
Tubuh Arin ikut ambruk dengan bertumpu pada kedua lututnya dan melepaskan pegangan Ethan. tatapannya yang syock penuh luka dan rasa sakit terus mengeluarkan air mata.
"MOM!" jerit Arin dan menangis sejadi-jadinya. "Hikzzz.....hikzzzzz...hikzzzz...."
Darah mengalir deras memenuhi lantai, tatapan Arin tak teralihkan dari sosok wanita yang kini telah merenggang nyawa. Dalam isakannya Arin mengepalkan kuat kedua tangannya.
ETHAN....
ΩΩΩ