(Un) Perfect Wedding

(Un) Perfect Wedding
Episode 21



"Bagaimana? apa kalian menemukan keberadaannya?"


"Kami menemukan jejak mereka, Nyonya Arinka tidak pergi sendiri. Dia juga tidak pergi keluar Negri. Kami masih menyisir daerah sini dan kota tetangga."


"Oke lakukan dengn baik dan cepat. Aku ingin kabar baik dari kalian secepatnya."


Ethan memutuskan sambungan telpon mereka.


Brak


Ethan meninju meja kerjanya dengan sangat kesal dan begitu emosi. "Pergi dengan siapa sebenarnya kamu Arinka!"


"Aku tidak akan pernah melepaskan kalian!" gumam Ethan dengan sangat emosi.


ΩΩΩ


"Apa mungkin Arin pergi bersama Jason? sudah lama aku tidak melihat Jason di kampus," gumam Rachel yang tengah berjalan keluar dari gerbang kampus.


"Hallo gadis tomboy!" sapaan itu membuatnya berhenti berjalan dan menengadahkan kepalanya hingga tatapannya beradu dengan mata Raymond.


"Ada apa kamu kemari?" tanya Rachel dengan sinis.


"Menjemput tuan putri, ayo pulang," ajak Raymond.


"Aku tidak ingin pulang bersamamu!" Rachel menjawab dengan tegas dan berlalu pergi meninggalkan Raymond.


"Rachel tunggu!" Raymond menahan pergelangan tangan Rachel.


"Lepaskan aku!"


"Ikutlah denganku, ada beberapa hal yang ingin aku minta tolong padamu. Ini juga perintah James."


"Apa yang kalian inginkan dariku? minta bantuan apa?" tanya Rachel.


"Ikut saja denganku," seru Raymond.


"Awas kalau kamu membohongiku!" Rachel berjalan lebih dulu menuju mobil sport milik Raymond.


ΩΩΩ


Arin di ajak berjalan-jalan ke pantai oleh Jason, tetapi pikirannya melayang mengingat Ethan. Dulu pantai adalah tempat favorit mereka berdua. Bahkan mereka sudah memesan tiket honeymoon ke sebuah pantai indah yang ada di negara Indonesia. Tetapi semuanya gagal karena kenyataan ini.


"Arin," sentuhan di pundaknya membuat ia sadar dari lamunnnya dan ia segera menghapus air matanya.


"Kenapa Jas, kenapa cinta harus semenyakitkan ini. Aku mencintainya bahkan melebihi diriku sendiri, tetapi dia membenciku. Bahkan dia tidak menginginkan kehadiranku juga bayi ini," isak Arin yang sudah tak sanggup lagi menahan segalanya.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Jason semakin penasaran.


"Ini begitu rumit," isak Arin dan mengalirlah cerita yang terjadi padanya.


"Lalu apa dia pernah memukulmu?" tanya Jason tampak berapi-api.


"Tidak, dia juga terlihat dilema dan tersiksa, tetapi rasa benci itu dengan cepat menguasainya. Dia bahkan tak pernah bisa memandangku lagi sehangat dulu."


Jason menarik Arin ke dalam pelukannya. "Sudahlah, semuanya akan baik-baik saja. Beberapa anak buahku sedang mencoba melepaskan Mrs. Drummond dan setelah itu kita semua akan pergi jauh untuk keselamatan kalian," ucap Jason.


Tanpa mereka sadari, dari kejauhan ada seseorang yang sedang memotret aktivitas mereka berdua.


ΩΩΩ


"James, ada apa kau memanggilku?" tanya Rachel yang kini duduk di sofa yang ada di ruangan James.


"Rachel, kami butuuh bantuanmu," ucap James.


"Apa?" tanyanya.


"Tapi sebelum itu kami mau tanya, apa kamu percaya Arin terlibat dengan kasus ini?" tanya Raymond.


"Sebenarnya-" Rachel terdiam sesaat sebelum melanjutkan kata-katanya. "Sebenarnya aku tidak percaya Arin terlibat dan menipu kami. Aku begitu mengenal Arinka."


"Good!" seru James. "Jadi kita bertiga bisa bekerjasama mencari bukti ketidak terlibatan Arin dengan Jeff."


Rachel tampak bingung tetapi ia percaya pada James. Biasanya James tidak pernah salah menyimpulkan sesuatu, walau dia terlihat tidak pernah serius dan lebih banyak bercanda, tetapi dia yang lebih selektif dalam segala hal. Dan sangat netral.


"Aku ikut denganmu James," ucap Rachel membuat Raymond senang mendengarnya.


ΩΩΩ


"Hai Ethan," sapa Yuri.


"Yuri? ada apa kau datang?" tanya Ethan yang sedikit bingung karena Yuri datang ke kantornya.


"Tidak ada, aku kebetulan lewat kantormu, jadi aku mampir," seru Yuri.


"Duduklah, aku ambilkan minum," ucap Ethan mengambil minuman kaleng dari dalam lemari pendingin.


"Oh God!" pekik Yuri membuat Ethan mengernyit bingung saat menyerahkan minuman kepadanya.


"Ada apa?" tanya Ethan.


"Sebaiknya kamu tidak tau," jawab Yuri membuat Ethan semakin penasaran.


"Yuri, ada apa?" tanya Ethan.


"Tidak Ethan, sebaiknya kamu-"


Belum sempat Yuri menyelesaikan ucapannya, Ethan sudah merebut handphone Yuri dan melihat isinya.


"Ini Arin?" gumamnya dan tampak wajahnya mengeras penuh kemurkaan melihat picture Arin berpelukan dengan seorang pria di bibir pantai. Yuri menyeringai puas melihat itu.


"Aku tadinya ingin membantumu mencari keberadaan Arinka, tetapi barusan anak buahku malah mengirim foto itu," ucap Yuri.


"Tanyakan dimana lokasinya sekarang!" seru Ethan.


Ethan menyerahkan ponsel Yuri dan ia menyambar jasnya dan berlalu pergi diikuti Yuri. Ethan terlihat murka sekali dan itu membuat Yuri begitu puas dan sangat senang.


'Kamu akan segera menemui ajalmu, Arin!' batin Yuri.


ΩΩΩ