(Un) Perfect Wedding

(Un) Perfect Wedding
Episode 29



Kau bagaikan Morfin bagiku, Arinka....


Bagaimana aku bisa hidup tanpamu sekarang?


Ini sudah satu pekan Ethan bahkan tak pergi ke kantor atau kemanapun. Dia mengurung dirinya di dalam kamar tanpa ingin di ganggu oleh siapapun. Berkali-kali ia mengutuk dirinya dan menghukum dirinya karena telah melukai wanita yang begitu berarti di dalam hidupnya. Kini dia kehilangan gadis itu, Entah kenapa takdir malah membuatnya seperti ini. Pernikahan impian yang selalu mereka berdua bayangkan selama 5 tahun kini harus hancur dan pupus begitu saja.


"Ethan!"


teriakan itu membuat Ethan yang sedang berdiri di balkon kamar memandang ke hamparan luas langit biru menoleh dan seorang wanita cantik dan tinggi masuk ke dalam kamar.


"Sampai kapan kau akan seperti ini, Ethan? Come On! Bangkitlah, jangan terlalu mendramatisir cinta, sudah jelas Arinka tidak tulus mencintaimu. Lihatlah sekarang dia malah pergi dan tinggal bersama pria lain yang jelas-jelas sahabatmu sendiri. Dia itu seperti ini mengadu domba kalian, dia ingin menghancurkan hubungan pertemananmu dengan James."


Ethan mengernyit mendengar ucapan wanita yang tak lain adalah Yuri. "Apa yang sedang kamu katakan?" tanya Ethan.


"Itu kenyataannya bukan? Bukalah matamu lebar-lebar Ethan. Arin itu gadis licik yang berpura-pura polos. Dia ingin menghancurkan team kita. Dan- ah!"


Yuri memekik saat Ethan mencekik lehernya dengan sebelah tangan. "Jaga ucapanmu, Yuri! Aku tidak akan segan-segan membunuhmu sekarang juga kalau kamu terus menghina Arin!"


"Et-ah!"


"Ingat kata-kataku itu, YURI!" Ethan melepaskan cengkramannya membuat Yuri terbatuk-batuk. Ethan berlalu pergi meninggalkan Yuri begitu saja.


"Shitt!" umpat Yuri.


ΩΩΩ


Arin berjalan sendiri di kota Boston dengan ramainya orang berlalu lalang. Ketukan palu dan putusan hakim kemarin seperti genderang petir yang mampu menyambar hatinya. Akhirnya hubungannya dengan Ethan berakhir, semua kisah yang mereka lalui bersama beberapa tahun sebelum menikah akan menjadi kenangan indah untuk Arin. Arin hanya akan menganggap Ethan adalah mantan kekasihnya, dan bukan mantan suaminya. Karena tidak ada kenangan indah selama dia menjadi suami Arin. Dan setiap mengingat itu hanya akan ada rasa sakit dan kebencian yang Arin rasakan untuknya. Dan janinnya, itu menjadi point tambahan untuk dia tidak kembali bersama pria itu.


Arin menghentikan langkahnya saat ia sampai di sebuah bangunan mewah di depannya. Itu ada restaurant tempat Arin dan Ethan selalu kencan. Bahkan semua pegawai dan managernya telah mengenal dirinya dan Ethan.


Tanpa terasa air mata Arin mengalir membasahi pipi mengingat kenangan indah itu. Tak bisa ia pungkiri rasa itu masih ada.


Tak jauh di belakang Arin, Ethan berdiri dengan mantel hitam panjangnya. Awalnya ia mengenang Arin dengan menikmati makan siang di restorant ini. Tetapi tanpa di sangka-sangka ia akan melihat Arin. Ethan menatap punggung Arin dengan penuh kerinduan. Sudah satu pekan berlalu dari keputusan pengadilan dan kini mereka kembali bertemu dalam keadaan yang tidak di sangka-sangka.


Ethan bergegas bersembunyi saat ia melihat Arin berbalik dan berjalan ke arah berlawanan meninggalkan restorant itu. Tampaknya Arin mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam restorant itu.


Mengetahui Arin datang kemari, ada setitik rasa senang di hati Ethan. Setidaknya masih ada rasa rindu dan perasaan di hati Arin untuk dirinya walau mungkin rasa benci lebih dominan.


Ethan juga mengurungkan niatnya untuk makan siang di restorant itu, ia memilih mengikuti Arin dari belakang dengan jarak satu meter. Ia tidak ingin membuat Arin menyadari keberadaannya dan itu akan membuat Ethan kehilangan kesempatan untuk melihatnya.


Langkah Ethan terhenti saat Arin menaiki bus kota, ia tau arah bus itu menuju ke penthouse nya James. Bus mulai melaju dan Ethan masih berdiri di tempatnya menatap bus itu pergi dan menghilang membawa Arinka.


Tak ada yang bisa Ethan lakukan untuk saat ini, ia telah membuat Arin begitu terluka, walau kenyataannya dirinya sendiripun sangat terluka.


ΩΩΩ


Sore itu Ethan baru saja pulang dari kantornya. Saat di perempatan lampu lalu lintas merah membuatnya menghentikan mobilnya. Dering telpon membuatnya menoleh ke samping dan tatapannya menangkap sosok wanita cantik yang duduk di kursi pengemudi mobil sport sebelahnya.


Itu Arinka....


Ethan sama sekali tak mampi berkedip dan memalingkan pandangannya melihat sosok yang begitu ia rindukan. Arin tampaknya baru pulang kuliah, dan ia menggunakan mobil milik James.


Lampu berubah menjadi hijau dan Arin sudah menjalankan mobilnya. Ethan bergegas menjalankan mobilnya dan membuntuti Arinka.


Arinka sedang asyik menikmati musik yang sedang di putar di radio mobilnya. Tatapannya tertuju pada kaca spion mobilnya dan tatapannya mengernyit saat mengetahui ada sebuah mobil sport mengikutinya di belakang. Arin bergegas mengoper giginya dan menginjak gas mobilnya dengan kecepatan tinggi. Bukan karena takut orang jahat yang membuntutinya, tetapi Arinka mengenal jelas mobil siapa itu.


"Sial! Kenapa dia mengikutiku!" gerutu Arin dengan begitu kesal. Ethan adalah orang pertama yang ingin dia hindari dan jauhi. Sungguh Arin tak ingin bertemu dengannya di saat saat sekarang.


Arin terus menginjak gas mobilnya, begitu juga Ethan yang masih terus mengejarnya dan hampir menyalipnya. "Dia mau apa sebenarnya," gerutu Arin.


Arin terpekik saat ia tak fokus dan seketika ban mobilnya melintasi lubang yang cukup tajam membuat bannya pecah seketika dan ia tergelincir. Mobilnya berputar dan akan berbalik. Arin sudah gelisah dan ia sudah tak bisa memikirkan apa yang akan terjadi.


Bruk


Suara benturan keras itu terdengar nyaring di jalanan sepi itu. Asap keluar dari mobil. Arin hanya tampak syock dengan kejadian itu. Apa yang baru saja terjadi, sungguh di luar perkiraannya.


Arin keluar dari dalam mobil yang menyesakkan dan sudah rusak itu.


"Kamu baik-baik saja?" pertanyaan itu membuatnya menoleh ke sumber suara. Mata itu, tatapan itu sungguh di rindukannya.


Arin menatap Ethan dengan tatapan benci, ia memalingkan wajahnya saat Ethan berdiri tak jauh darinya.


"Ada apa lagi kamu mengikutiku? Apa kamu berniat membunuhku?" pekik Arin membuat Ethan merasa sedih mendengar tuduhan Arin itu.


"Aku hanya ingin mengantarmu sampai ke tempat James, aku tidak ingin mengganggu mu dan hanya membuntutimu dari belakang," ucap Ethan membuat Arin tersenyum kecut.


"Tidak perlu kau bersikap penuh perhatian kepadaku, Ethan. Aku sudah terbiasa dengan sikap dinginmu dan tak di anggap olehmu. Jadi berhentilah bersikap konyol seperti ini! Jangan pernah menunjukkan lagi wajahmu di hadapanku!" pekik Arin dengan begitu kesal.


Arin mengambil tasnya dan berjalan meninggalkan Ethan sendirian. Ia tampak menghentikan sebuah taxi yang melintas dan menaikinya. Ethan hanya mampu diam memperhatikan punggung Arinka yang kini menghilang.


ΩΩΩ


"Arin, apa yang terjadi dengan kakimu?" tanya James saat melihat Arin pulang dengan kaki pincang.


"Aku tidak apa-apa, James."


"Katakanlah ada apa?" tanya James.


Arin menghentikan langkahnya dan menatap ke arah James yang tengah meneguk minuman dalam gelas berkakinya.


"James, maafkan aku mobilmu rusak dan aku sudah meminta bengkel untuk memperbaikinya."


"Memang apa yang terjadi, Arin? Apa terjadi kecelakaan?" tanya James tampak khawatir.


"Ethan? Bagaimana mungkin?"


"Sudahlah James, aku sangat lelah. Aku akan ke kamar," jawab Arin berlalu pergi meninggalkan James begitu saja.


ΩΩΩ


Saat ini semua anggota Team Delta berkumpul semua di markas. Ethan sudah hadir sejak awal dan duduk tenang di antara mereka. Tak lama datanglah James bersama Raymond dan ia berjalan mendekati Ethan.


"Apa yang terjadi semalam? Kenapa mobil yang Arin gunakan sampai rusak parah dan bahkan kakinya terluka." seru James.


"Apa? Arin terluka?" tanya Ethan tampak cemas.


"Ya, karena dia berjalan pincang, sepertinya lututnya membentur sesuatu," ucap James.


"Lalu bagaimana? Apa dia sudah di bawa ke rumah sakit?" tanya Ethan.


"Tidak, dia tidak mau," jawab James.


"Tidak bisa seperti itu, James. Dia tetap harus di bawa ke rumah sakit dan di periksa," ucap Ethan bergegas pergi tetapi James menahannya.


"Mau kemana kau?" tanya James.


"Ini tidak bisa di biarkan, dia harus segera di bawa ke rumah sakit," ucap Ethan.


"Ethan tenanglah," seru Raymond.


"Ethan berhentilah mengganggunya, kalian sudah bercerai dan biarkan dia hidup tenang," seru James.


"What?" pekik Ethan mencengkram kerah jas James.


"Ethan hentikan!" Vallen menengahi mereka dan menarik Ethan menjauh dari James.


"Ini pilihannya, Ethan. Kamu harus bisa menerima, kehadiranmu hanya mengusiknya. Biarkan dia hidup normal tanpa bayang-bayang dan gangguan darimu," ucap James.


"Kau!"


"Ethan!" Vallen menahan Ethan. "Yang di katakan James itu benar, Arin butuh waktu. Biarkan dia dan jangan mengusiknya lagi," ucap Vallen.


Ethan merasa sangat sakit dan terluka mendengar semua ucapan teman-temannya, tak adakah yang mendukung dirinya juga cintanya? Apa ini artinya dia telah benar-benar kehilangan wanitanya, ARINKA...


Yuri tersenyum penuh kemenangan mendengar kata-kata mereka. Dia hanya butuh menunggu waktu sampai Ethan benar-benar move on dari Arin dan dia bisa masuk ke dalam kehidupan Ranethan.


Tak lama Marvin masuk bersama Tom dan ia mulai menjelaskan sesuatu. Ia menerangkan sesuatu di papan tulis.


"Kita harus segera menangkap Charlie, karena Charlie ini kunci keberadaan Jeff." seru Marvin.


"Siapa Charlie?" tanya Ethan masih kesal dan ingin segera membunuh Jeff.


"Charlie Drummond, putra kandung dari Jeff," seru Marvin. Jerry memunculkan foto dari Charlie melalui di papan putih depan.


"Jadi dia anak yang di sembunyikan Jeff dan dia malah mengumpankan Arinka kepada kita untuk menyembunyikan putra sialannya itu!" pekik Ethan mengepal kuat, ia baru mengetahui kalau Jeff memiliki seorang putra selain Arinka.


"Sial!"


"Tenanglah Ethan, sekarang kita harus menyusun rencana untuk menangkap Charlie dan menjadikan dia umpan untuk Jeff keluar dari persembunyiannya," seru Marvin membuat Ethan terdiam.


"Kita harus benar-benar menyusun rencana dan memastikan kalau dia ada di sana. Supaya kita tidak kecolongan lagi seperti kemarin," seru Raymond.


"Dan Ethan, aku mohon kendalikan dirimu," ucap Marvin.


"Ya," jawab Ethan tampak enggan.


"Permisi," seruan itu membuat semua orang menoleh ke ambang pintu. Ethan bahkan sampai berdiri saat Arinka yang berdiri di sana.


"Arin?" tanya yang lain tampak bingung.


"Bisakah kalian melibatkanku dalam kasus ini? Aku ingin menemui pria bernama Charlie itu yang sejujurnya tidak pernah aku temui selama ini. Dan aku ingin menanyakan sesuatu pada Mr. Drummond, siapakah orangtuaku yang sesungguhnya," ucap Arin.


Ethan melongo mendengar ucapan Arin. Itu berarti Arin telah mengetahui kalau dia hanya anak angkat Jeff.


"Arinka, tetapi ini misi berbahaya," seru James.


"Aku ingin ikut terlibat James, aku ingin mengetahui segalanya. Aku tidak ingin di bohongi dan tampak bodoh lagi sampai orang terdekatku bisa jadi salah paham dan menuduhku macam-macam," seru Arin menyindir Ethan.


"Permisi sebentar," ucap Ethan.


Ia berjalan mendekati Arin dan menarik tangan Arin begitu saja menjauh dari ruangan itu.


"Lepaskan aku!" seru Arin mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Ethan. "Ku bilang lepaskan aku!"


Ethan menghentikan langkahnya di sudut lorong kantor yang cukup sepi. "Apa kau sudah gila?" melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Arin.


"Apa makasudmu?" tanya Arin mengernyitkan dahinya bingung.


"Aku tidak akan biarkan kamu bergabung dalam misi ini dan mengorbankan keselamatmu! Aku berjanji akan menangkap mereka dan membawanya padamu!"


"Tidak usah repot-repot dan mengkhawatirkanku, Mr. Ranethan." Arin berucap dengan sinis. "Kita bedrdua sudah bukan siapa-siapa lagi. Jadi jangan bersikap penuh perhatian kepadaku!"


Setelah mengatakan itu, Arinka berlalu pergi meninggalkan Ethan yang mematung di tempatnya dengan tatapan penuh kesakitan mendengar kata-kata yang terlontar dari bibir manis Arinka.


ΩΩΩ