
Kini team Delta bersama Arinka telah berada di sebuah gedung tinggi dekat pelabuhan, dimana Charlie berada. Di sana tampak beberapa gudang penyimpanan dan gedung cukup tinggi. Menurut informasi, ini salah satu tempat usaha ilegal Jeff yang di kelola Charlie.
Ethan berdiri di belakang tak jauh dari Arinka. Ethan begitu kesal pada Marvin yang tetap saja mempersilahkan Arin untuk ikut ke misi ini. Marvin memang orang paling menyebalkan dan dia selalu memancing di air yang keruh.
Ethan sudah memakai peralatan kerjanya. Dari rompi anti peluru, pisau lipat, pistol. Dan ia melihat Arin tampak kesulitan memakai rompi anti pelurunya. Ethan berjalan mendekatinya dan tanpa berkata apapun membantu Arin merekatkan perekat rompi itu hingga berbunyi klik. Arin menengadahkan kepalanya saat tangan kekar itu membantu memasangkan rompinya hingga pandangannya beradu dengan Ethan yang berdiri di sampingnya. Ethan pun membalas tatapan Arin dengan tatapan yang begitu penuh rasa kerinduan.
Arin memalingkan pandangannya ke arah lain dengan segera, ia tidak ingin terus menerus menatap mata itu. Mata yang membuatnya merasa nyaman sekaligus sakit. Ethan menghela nafasnya perlahan saat melihat respon Arin yang begitu dingin padanya.
"Kamu tunggu di sini saja bersama Tom sang sniper," ucap Ethan membuat Arin melirik ke arahnya.
"Kau tidak perlu mengaturku!" ucap Arin begitu dingin dan berlalu pergi menyusul James.
Yuri yang melihat itu bergegas menghampiri Ethan. "Sudahlah jangan terlalu mengurusinya, dia sendiri tak ingin kamu perhatikan," ucapnya membuat Ethan melirik singkat ke arahnya. Ethan berlalu pergi meninggalkan Yuri tanpa ingin merespon kata-katanya.
"Sial! sudah berceraipun dia masih saja mengejar wanita itu!" gerutu Yuri.
Tanpa Yuri sadari Vallen berdiri tak jauh darinya dengan tatapan penuh kecurigaan dan menyelidik. Tanpa sepengetahuan Ethan, Vallen mengusut siapa yang menyebabkan tempat Arin di sekap waktu itu terbakar. Memang benar menurut laporan dari anak buah Ethan, itu di karenakan kecelakaan yang tak sengaja seorang anak buah Ethan membuang bekas rokok sembarangan, dan pelayan itu sudah di beri hukuman. Tetapi Vallen tidak mempercayai itu, karena 4 anak buah yang menjaga di sana, mereka semua selamat tanpa cedera dan Vallen menemukan beberapa botol dengan bau bensin.
ΩΩΩ
Marvin memberi arahan untuk para wanita bersama Tom dan Raymond menunggu di lantai bawah di gedung yang cukup aman, sedangkan yang lainnya mulai berpencar menyusuri ke beberapa tempat lainnya.
"Aku salut padamu," ucap Yuri mendekati Arin.
"Apa maksudmu?" tanya Arin dengan nada begitu datar.
"Kau sungguh wanita yang licik, kau sengaja ingin mempermainkan perasaan Ranethan, bukan? Kau mengatakan ingin lepas darinya, tetapi kau terus mengusiknya seakan membuat dia lebih tersiksa dengan perasaannya sendiri."
"Jaga ucapanmu, Yuri!" seru Arin.
"Kenapa kau tampak kesal Arinka? Itu kenyataannya bukan, kau ingin semakin menghancurkan Ethan. Setelah Ayahmu menghancurkan keluarganya dan sekarang kamu ingin menghancurkan diri dan hati Ethan secara perlahan karena perasaan bersalahnya padamu, begitu?" ucap Yuri terlihat begitu kesal.
Arin malas meladeni wanita itu, ia hendak beranjak pergi tetapi Yuri lebih dulu menahan lengannya hingga Arin menatap kesal ke arah mata Yuri yang juga menatapnya penuh permusuhan.
"Pergi jauh dari Ethan! bukankah kau ingin bebas dan lepas darinya? Jadi menjauhlah darinya dan jangan pernah muncul lagi di hadapannya, Arinka!" ucap Yuri penuh penekanan.
Arin menepis pegangan Yuri hingga terlepas. "Kau tenang saja, aku tidak berniat mencari perhatian mantan suamiku lagi! Dan kau juga tak usah risau, setelah kasus ini selesai, aku akan pergi meninggalkan Negara ini dan menjauh dari Ranethan."
Setelah mengucapkan itu Arin berlalu pergi meninggalkan tempat itu tanpa sepengetahuan Raymond dan Tom yang sibuk mengawasi bagian lain di sudut ruangan itu.
Entah kenapa Arin merasa hatinya tak ikhlas mendengar ucapan Yuri tadi. Sejujurnya ia ingin mencari tau kebenaran status dirinya. Dan selain itu, dia masih ingat akan janjinya pada Ethan, dulu.
Janji dimana dirinya akan membantu Ethan menemukan Jeff yang telah menghancurkan keluarga Ethan dan membuat rasa sakit yang tertanam di dalam hati Ethan selama 17 tahun lamanya. Janji dimana Arin ingin Ethan sembuh dan terbebas dari segala mimpi buruknya dan dendam itu. Sumpah di dalam hatinya sendiri dimana Arin akan selalu menemani Ethan dalam keadaan apapun dan selalu mendukungnya.
Kalau di ingat lagi, janji janji itu tidak ada yang bisa Arin penuhi satupun. Tetapi bagaimana bisa dia tetap di sisi Ethan, sedangkan kepercayaan Ethan padanya telah hilang, cinta yang ternodai oleh dendam. Hingga sesuatu yang tidak bersalah menjadi korban. Mungkin saat ini Arin melakukan ini untuk memenuhi salah satu janjinya pada Ethan, hingga setelah itu ia bisa pergi tanpa rasa berat dan hutang janji yang menghantuinya. Setidaknya ini yang bisa Arin lakukan sekarang, dan Arin juga ingin mengetahui asal usul dirinya, yang sebenarnya.
"Ah!" Arin memekik saat mendengar sebuah tembakan. Ia segera berbalik dan melihat seorang pria yang tidak di kenalnya tergeletak di tanah, lalu tatapannya mengarah pada sosok yang berjalan menghampirinya dari kegelapan.
Arin tak menjawab dan hanya menatap tatapan tajam penuh kekhawatiran itu. Tatapan itu kembali, tatapan penuh rasa khawatir yang selalu Ethan tunjukkan saat Arin dalam keadaan berbahaya atau terluka.
"Apa kau terluka?" tanya Ethan meneliti Arin dan mencari tau apa ada luka atau tidak.
"Aku baik-baik saja," ucap Arin beranjak pergi tetapi ia tersentak kaget saat Ethan menarik pergelangan tangannya hingga tubuh dan kepalanya membentur dada bidang itu bersamaan dengan suara tembakan.
"Di sini ada banyak musuh, tetaplah di sisiku," bisik Ethan.
Arin masih terdiam di pelukan Ethan dan ia dapat mendengar debaran jantung Ethan yang berdebar kencang.
"Honey, jantungku! Dengarkan debaran jantungku" Ethan menarik Arin ke dalam pelukannya hingga kepala Arin menempel di dada bidangnya.
"Ethan ada apa? ada apa dengan jantungmu? Apa kamu sakit? Apa kembali sesak? Apa semalam kamu bermimpi buruk lagi?" tanya Arin menengadahkan kepalanya menatap Ethan dengan penuh rasa khawatir.
"Ini karena kamu, apa kamu tidak menyadari itu?"
"Karena aku? tetapi apa yang sudah aku perbuat? A-aku tidak berbuat kesalahan apapun, bukan?"
"Kamu memang tidak melakukan apapun, tetapi beginilah kondisi jantungku saat berdekatan denganmu. Saat mendengar suaramu, saat bertatapan dengan mata indahmu, saat aku mengecup bibirmu dan saat aku menyentuhmu."
"Uchh dasar penggombal ulung, aku pikir kamu sakit!" Arin mendorong dada Ethan hingga pelukannya terlepas dan memukul dada Ethan pelan.
"Aku serius Arinka, karena jantung ini tau siapa pemiliknya."
Arin segera mendorong dada Ethan saat bayangan di masalalu kembali mengusik pikirannya. Ethan hanya menatap perlakuan Arin yang kini menjauh dan menjaga jarak darinya. Dan jelas sekali tatapan Arin terus menghindari tatapannya seakan sudah tidak ingin menatap mata Ethan lagi.
"Ikutilah aku, kita akan menghampiri yang lain," ucap Ethan yang kini mulai berjalan perlahan dengan pistol di tangannya dan Arin berjalan di belakangnya cukup dekat tetapi tak terlalu dekat.
5 orang datang menyergap mereka dan Ethan segera melindungi Arin di belakang tubuhnya. "Pegang pistol ini dan tarik pelatuknya saat kau terancam dan ada penjahat yang menghampirimu." Ethan menyimpan pistol di tangan Arin.
"Ta-tapi-" belum sempat Arin menyelesaikan ucapannya, Ethan sudah maju melawan mereka semua dengan keahlian bela dirinya. Arin berdiri di sudut dinding menatap sekeliling dan menatap Ethan yang sibuk melawan mereka semua.
Tak butuh waktu lama, Ethan sudah berhasil membuat mereka terkapar begitu saja. Ia berjalan menghampiri Arin yang berdiri tak jauh darinya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Ethan.
Arin sebenarnya ingin menanyakan balik hal itu, tetapi dia tidak bisa. Ia hanya mengangguk singkat.
"Target berada di lantai paling atas," seru Marvin lewat earphone di telinga Ethan.
"Ayo kita ke lantai atas," ucap Ethan begitu saja menarik tangan Arin hingga membuatnya kaget. Ethan berlari dengan masih memegang pergelangan tangan Arin. Arin melirik pegangan erat dari Ethan. Getaran itu masih terasa, debaran itu masih sangat jelas hingga sekarang. Tetapi di sisi hatinya yang lain ada rasa sakit yang belum sembuh dan masih ternganga lebar. Luka yang entah sampai kapan akan sembuh.
ΩΩΩ