(Un) Perfect Wedding

(Un) Perfect Wedding
Episode 30



"Arinka!"


Arin menoleh mendengar panggilan itu.


"Jason?" Arin tampak senang bisa melihat dan bertemu kembali dengan Jason. Mereka berpelukan singkat.


"Bagaimana kabarmu? Kamu lama tak masuk kuliah?" tanya Jason. "Aku selalu menunggu kabar darimu, Rin. Rachelpun ikut tak masuk kuliah. Apa yang terjadi saat itu dan kemana saja kamu?"


Arin tersenyum kecil mendengar rentetan pertanyaan dari Jason.


"Selesai pelajaran terakhir kita minum kopi?" ajak Arin.


"Apa pria itu tidak akan marah? Aku takut dia menyakitimu lagi."


"Tidak akan, Jase."


"Baiklah kalau begitu."


ΩΩΩ


"Jadi kalian sudah resmi bercerai?" tanya Jason tampak kaget.


"Ya Jase," ucap Arin meneguk kopi dalam gelasnya. "Aku tidak bisa hidup dengan orang yang membunuh Ibu dan Bayiku. Dan aku juga tidak bisa hidup dengan seseorang yang tidak bisa mempercayai pasangannya sendiri."


"Kamu masih mencintainya?" tanya Jason.


"Cinta itu kini tidak berlaku lagi."


"Aku tidak bisa mengatakan apapun, semoga ini pilihan terbaik untuk kalian berdua," ucap Jason yang di angguki Arin.


"Dan ada satu kenyataan lagi yang sekarang sedang aku cari tau," seru Arin.


"Apa ?"


"Aku bukanlah anak kandung dari Mr & Mrs. Drummond, Jase." Jason tersedak minumannya mendengar ucapan Arin barusan.


"What?"


"Iya Jase. Aku anak angkat mereka."


"A-apa itu sudah jelas buktinya? Mungkin itu hanya jebakan," ucap Jason.


"Tidak Jase, aku melihat data-datanya lengkap. Dan ada satu hal yang membuatku mengganjal di dalam hati."


"Apa Rin?"


"Daddy menyembunyikan fakta dan keberadaan putranya Charlie Drummond dari dunia bisnis dan kehidupannya. Charlie sengaja di sembunyikan dari publik, entah apa alasannya. Dan satu lagi, aku sudah datang ke panti asuhan tempat Dad mengadopsiku. Dan di sana aku tidak menemukan satupun data tentang diriku, aku di temukan dimana dan bagaimana aku bisa masuk ke panti asuhan itu. Semuanya tidak jelas dan penuh teka teki. Sepertinya banyak hal yang tidak aku ketahui."


"Lalu apa tindakanmu sekarang?" tanya Jason.


"Aku ikut bergabung dengan team Delta di CIA, aku ingin bertemu Dad dan Charlie. Banyak hal yang ingin aku tanyakan pada mereka. Dad menghilang begitu saja, dan nomornya tak ada yang bisa di hubungi. Untuk mengabari kabar kematian Mom saja tidak bisa."


"Ini memang aneh dan mencurigakan. Tetapi Arin, apa ini tidak akan berbahaya untukmu kalau kamu ikut ke misi mereka?" tanya Jason.


"Tidak ada pilihan lain lagi, Jase. Aku takut tak akan mendapatkan jawaban apa-apa kalau aku hanya diam saja, aku butuh mengetahui segalanya. Aku lelah menjadi orang bodoh yang tidak tau apapun."


"Tidak Jase. Kamu sudah terlalu banyak membantuku, dan kejadian terakhir juga membuat tanganmu cedera kan?" seru Arinka.


"Aku hanya mengkhawatirkanmu, Rin."


"Kamu tenang saja, aku mengenal mereka semua. Dan aku yakin aku tak akan kenapa-kenapa. Terima kasih karena kamu perduli padaku," ucap Arin.


"Jangan sungkan Rin, aku selalu ada untukmu." Arin sempat kaget saat Jason menggenggam tangannya yang berada di atas meja. Sesaat Arin hanya bisa menampilkan senyum kecilnya.


"Teruslah tersenyum Arin, kamu semakin cantik saat lesung pipimu itu terlihat jelas," ucap Jason.


"Thank."


ΩΩΩ


"Kenapa kau menerima dia, Marvin?" pekik Ethan saat di dalam ruangan team Delta hanya ada dirinya dan Marvin.


"Kenapa Ethan? bukankah itu peluang untukmu supaya bisa berdekatan dengannya lagi?" ucap Marvin dengan candaan garingnya.


"Ini tidak lucu, Marvin! Dia perempuan dan dia tidak memahami aturan kita! Dia bisa menjadi dalam bahaya!" seru Ethan tampak jengkel dengan respon Marvin yang begitu santai.


"Ck, komandan saja menyetujuinya. Semua orang yang berada di sini memiliki tujuan masing-masing, Ethan. Termasuk team Delta. Semua anggota di team Delta memiliki tujuan masing-masing. Dan tujuanmu juga Arinka sama, yaitu Jeff. Kenapa tidak lakukan bersama-sama," kekeh Marvin.


"Aku paham tujuanmu, Marvin! Ini bukan ajang untuk bercanda!" pekik Ethan tampak murka.


"Ck santailah sedikit Ethan. Kau hanya perlu menikmati di antara dua wanita," kekeh Marvin.


"Kau sudah gila, Marvin! Kau menjadikan misi berbahaya ini dengan candaan. Kau pikir Arin bisa melawan musuh kita?" seru Ethan.


"Di sini tugasmu, Ethan. Buatlah Arin kembali terkesan dengan perlindunganmu," kekeh Marvin.


"Kau!"


"Sudahlah Ethan, kau hanya akan membuang-buang tenaga dan waktu berunding dengan pria usil ini," seru Vallen yang ternyata sudah berdiri di ambang pintu.


"Kau benar, rasanya aku ingin memutuskan kepalanya dan melemparkan kepalanya ke dalam mulut singa," seru Ethan dengan kesal tanpa memperdulikan kekehan Marvin yang menyebalkan.


"Ayo pergi," Ethan beranjak pergi bersama Vallen keluar dari ruangan.


"Ethan, kau akan pulang?" Yuri bertanya saat mereka berpapasan di dekat pintu lift. Yuri baru saja keluar dari ruangan yang berada dekat dengan pintu lift.


"Ya," jawab Ethan.


"Aku ikut denganmu, yah. Kebetulan aku tidak membawa mobil," ucap Yuri.


"Aku juga tidak membawa mobil, aku bersama Vallen," ucap Ethan.


"Begitu yah, emm apa aku boleh ikut dengan kalian?" tanya Yuri kini menatap ke arah Vallen yang jelas sekali memperlihatkan tatapan tidak sukanya.


"Baiklah," ucap Vallen."


"Terima kasih."


ΩΩΩ