(Un) Perfect Wedding

(Un) Perfect Wedding
Episode 28



Haruskah aku menyembunyikan semua tangisan dan sakit ini di dalam hati , ataukah harus menangis meraung-raung. Walau tampak sederhana, tetapi abadi dengan sedikit kepalsuan. Tetapi hati tak selalu mudah menipu.


Apakah kau merasakan kesepian dan rasa sakit kehilangan seperti di asingkan?


Waktu terus bergulir tanpa terasa dan kini tiba saatnya agenda persidangan pertama Ethan dan Arinka. Ini adalah saat dimana Ethan ingin menghindar, tetapi juga ingin ia hadir. Ia tidak berbohong kalau dia begitu merindukan Arinka, apalagi sudah hampir satu bulan mereka tak bertemu setelah kejadian terakhir kali. Dan sekarang mereka akan bertemu di tempat yang paling tak di inginkan oleh Ethan. Pertemuan yang merupakan perpisahan mereka.


"You oke?" tanya Vallen saat melihat raut wajah Ethan kembali murung.


"Aku tidak tau," gumam Ethan memalingkan wajahnya seraya melonggarkan dasi yang ia gunakan. Mereka sedang di dalam mobil dan sebentar lagi akan segera sampai ke pengadilan. "Tak ada jalan lain yang bisa aku tempuh."


Vallen hanya bisa menguatkannya tanpa bisa membantu banyak.


Di sisi lain, Arin sudah sampai di pengadilan bersama seorang pengacara dan James.


"Arin, apa kau yakin?" tanya James untuk kesekian kalinya.


"Aku sudah sangat yakin, Jase. Dan berhenti bertanya itu lagi," seru Arin berjalan menuju ruang tunggu yang di sediakan untuk mereka.


"Seperti yang aku jelaskan, Ethan tidak mengetahui ketidakterlibatanmu dengan Jeff. Ini semua salah paham," seru James tanpa memberitahu fakta bahwa Arin bukanlah putri kandung Jeff. Ia tidak ingin menambah luka di hati Arin. "Apa kamu masih belum bisa memaafkannya?"


"Tidak James. Bagiku, ini bukan sekedar perihal memaafkan atau tidak. Tetapi kamu harus mengerti, bahwa ada luka yang tidak bisa sembuh begitu saja dalam hitungan hari." Arin berucap dengan tatapannya yang menerangan jauh ke depan. Hatinya masih begitu sakit, bahkan sangat sakit sampai rasanya ia ingin terus menangis tanpa henti.


"Baiklah."


Obrolan mereka terhenti saat seorang petugas meminta mereka masuk ke ruang sidang. Dan saat itulah tatapannya beradu dengan tatapan tajam milik pria yang dia cintai sekaligus dia benci.


Cukup lama Ethan dan Arinka saling menatap satu lainnya. Ethan begitu merindukan wanitanya itu dan ia ingin sekali memeluk tubuh Arin dan meluapkan rasa rindu yang terbendung di dalam hatinya.


Seorang petugas menyadarkan mereka berdua hingga tatapan keduanya terputus dan mereka menduduki tempat yang sudah di sediakan dengan pengacara masing-masing.


Sidangpun di mulai dengan di pimpin oleh seorang hakim. Pengacara masing-masing mulai menjelaskan permasalahan yang di alami kedua pasangan itu. Ketidakcocokan menjadi alasan utama perceraian mereka. Ethan maupun pengacaranya tak banyak bersuara, Ethan memang meminta pengacaranya untuk mengikuti apa yang di inginkan Arinka. Dia tidak ingin berlaku egois lagi, dia ingin membiarkan Arin memilih jalannya sendiri.


Kegiatan sidang berlangsung dengan khidmat dan berjalan lancar, mereka berdua masih harus melalui tahapan mediasi yang kenyataannya di tolak oleh Arinka dan beberapa tahapan perceraian. Untuk hari ini cukup singkat dan tak banyak hal yang di permasalahkan karena Ethan memilih bungkam dan setuju saja.


Arin berjalan menyusuri lorong pengadilan menuju keluar kantor bersama dengan James. Pengacaranya masih mengurusi beberapa hal. Langkah mereka terhenti saat ia berpapasan dengan Ethan yang baru saja keluar dari ruangan lain bersama Vallen dan pengacarannya. Sepertinya mereka bertiga baru saja berbicara sesuatu yang rahasia. Baik Ethan maupun Arin, keduanya sama-sama masih saling menatap satu sama lainnya. Hingga Arin terlebih dulu memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Ethan yang jelas di tujukan pada Arin yang memilih memalingkan wajahnya.


"Seperti yang kamu lihat," ucap Arin dengan nada datar.


Ethan tersenyum kecil. "Syukurlah kelihatannya kau terlihat jauh lebih baik," ucap Ethan.


"Ayo James," ajak Arin berjalan terlebih dahulu tanpa berpamitan sedikitpun pada Ethan maupun Vallen.


ΩΩΩ


Setelah menempuh beberapa tahap proses persidangan perceraian Ethan dan Arin. Kini tibalah pada sesi terakhir persidangan.


Tak ada senyuman terukir di bibir Arin maupun Ethan. Rasa sakit itu jelas ada, jelas terasa. Pernikahan yang mereka impikan kini harus hancur dan putus di tengah jalan.


Arin bergegas keluar tanpa ingin berkata apapun lagi setelah persidangan selesai diikuti James. Ia berusaha keras menahan air mata yang ingin jatuh membasahi pipi.


"Arinka!"


Langkah Arin terhenti mendengar panggilan itu. Suara tegas ini, apakah akan dia dengar kembali suatu saat nanti? Kenyataannya kisah mereka telah berakhir di sini.


Ethan kini berdiri di hadapan Arin membuat Arin menatap langsung ke manik mata tajam Ethan yang tampak memerah. Ethan masih menampilkan senyumannya, senyuman yang tak bisa di jelaskan oleh kata-kata.


"Aku sudah menuruti keinginanmu, sekarang kamu telah bebas. Aku hanya ingin meminta satu hal padamu," ucap Ethan. "Berjanjilah kau akan selalu bahagia, aku yakin James bisa menjagamu dengan sangat baik." Ethan tersenyum walau tampak matanya berair.


"Bisakah kita berjabat tangan untuk terakhir kalinya?" tanya Ethan menyodorkan tangannya.


Arin masih menatap tangan itu, hingga kenangan masalalu kini kembali memenuhi kepalanya.


Dulu Ethan sangat senang memegang tangannya kemanapun dan saat kapanpun. Tangan itu juga yang selalu mengusap peluh di keningnya saat Arin lelah. Tangan kekar itu yang selalu merangkulnya, melindunginya dan menjaganya. Dan tangan itulah yang sudah menyematkan cincin di jari manisnya. Tetapi kenangan indah itu berganti dengan penyiksaan Ethan, pengkhianatan Ethan dan dia juga membunuh Ibu dan bayinya walau tidak dengan tangan itu.


Arin menjabat tangan Ethan dengan singkat dan berlalu pergi melewati Ethan meninggalkan mereka semua.


"Kamu yang kuat," ucap James membuat Ethan mengalihkan pandangannya dari punggung Arin yang semakin menjauh ke arah James.


"James, kau adalah temanku. Aku akan mengikhlaskannya bersamamu. Tolong bahagiakan dia," ucap Ethan membuat James terkekeh.


"Kau pikir aku mencintai Arin?" tanya James membuat Ethan mengernyit bingung. "Ethan Ethan, jangan selalu mendahulukan prasangka burukmu, nanti kau akan menyesal sendiri. Dan kalau kau pikir aku mencintainya secara diam-diam di belakangmu, kau salah. Aku bukan tipe pria semacam Raymond yang bisa menyembunyikan perasaannya rapat-rapat," jawab James.


"Ethan," James menepuk pundak Ethan. "Aku hanya menganggapnya sebagai adikku, aku menyayanginya sebagai keluargaku. Dan tak ada sedikitpun niat dalam diriku untuk merebut Arin darimu."


Ethan masih melongo mendengar penuturan James barusan, dia pikir James menyukai Arinka.


ΩΩΩ


Ethan sampai di dalam kamarnya, ia duduk di sisi ranjang dan tatapannya tertuju pada pigura besar foto pernikahan dirinya dan Arin. Di sana jelas sekali tatapan murka Ethan, berbeda dengan Arinka yang sangat bahagia. Pandangannya lalu tertuju pada cincin di jari manisnya yang masih melingkar.


Tubuh Ethan merosot ke lantai di iringi air matanya yang tak bisa ia tahan lagi. Kini air mata itu jatuh dan luruh dengan derasnya membasahi pipi.


"Hikzz.... hikzz..... hikzzz..." Ethan menangis terisak dengan menutup wajahnya sendiri.


Sakit rasanya saat harus melepaskan wanita yang begitu dia cintai. Sakit rasanya saat berusaha mengikhlaskan separuh jiwanya pergi. Sakit rasanya saat hati itu di paksa untuk hancur.


Cinta dan keberadaannya yang berarti akan begitu terasa setelah kehilangan. Ethan terus mengutuk dirinya yang begitu bodoh dan kini dia telah kehilangan wanitanya.


Hanya air mata yang saat ini bisa Ethan luapkan untuk meringankan rasa sakit yang begitu pedih di dalam hatinya. Ia merasa hatinya bukan hanya di remas remas oleh tangan tak kasat mata, tetapi juga di tusuk tusuk oleh rajam yang begitu tajam.


Rachel ikut menangis dari balik pintu ia mengintip dan mendengar isakan memilukan dari Kakaknya Ethan.