
Di sebuah ruangan itu seorang pria dengan tubuh tegapnya tampak tengah menekan setiap tuts piano. Terdengar dentingan dari tuts piano yang berdayu dayu merdu tetapi mengandung sebuah kesedihan yang teramat sakit. Pria itu adalah Ranethan yang kesakitan karena rasa rindu ini pada Arinka. Gadis itu begitu saja menghilang setelah Ethan melewati masa kritisnya, dan terbangun dari komanya. Bahkan tak sekalipun dia datang menjenguk Ethan. Matanya kembali terpejam seakan dentingan itu seperti duri yang menyayat dirinya. Matanya memerah menahan air mata yang ingin luruh dari pelupuk matanya. Kenapa takdir harus seperti ini?
Begitu pekat menahan rindu yang kian hari kian gersang. Setiap detik rindu begitu manja duduk di atas pangkuanku. Berbisik-bisik, merayuku untuk segera mencari keberadaan dirimu. Namun, akankah ku ganggu sunyinya bila aku menemuimu? Kamu berada di tempat yang salah selama ini, tetapi kamu selalu menangis jika bersamaku.
Membayangkan senyumanmu nan permai, adalah cara aku berdamai dengan rindu yang tersemai. Pernikahan ini memanglah tidak seindah bayangan kita. Kau dan aku selalu saja bertikai, hingga akhirnya kau memilih pergi meninggalkanku, walau kamu masih mencintaiku. Itu sungguhlah membuatku sakit, karena dendam dan kebodohanku. Aku bahkan telah merendahkanmu, dan menjadikanmu layaknya seorang sandera. Setiap ucapanku saat itu pastilah sudah menyakiti dan menghancurkan hatimu.
Aku kira setelah dia puas bergumul dengan waktu yang telah aku berikan. Mungkin sang waktu akan menyembuhkan perih ini. Mungkin waktu akan membuatnya mengerti kalau aku sangatlah mencintainya. Ku coba jalani hidup tanpa dia. Meski aku tidak pernah benar-benar membiarkan dia pergi. Karena meskipun aku memejamkan mata, aku masih mampu melihatnya. Meskipun aku menutup kedua telingaku, aku masih mampu mendengar suara merdunya. Itu semua karena aku tidak bisa melupakannya, Arinkaku.
Waktu demi waktu terus berlalu. Terlalu banyak waktu yang telah mereka sia-siakan. Bagaimana mereka yang saling mencintai harus saling menyakiti satu sama lainnya. Mendorong satu sama lain untuk menjadi orang lain dan saling menyakiti. Perang di antara kesiasiaan. Perang saling membuat luka. Perang yang membawa mereka ke jalan lain, mengikuti cahaya yang salah, kemudian tersesat terkatung-katung dalam sunyinya kegelapan dan dalamnya palung.
Ethan membuka matanya, dan menghirup udara sebanyak-banyaknya hingga ia sedikit terbatuk. ‘Sial, sesaknya sama sekali tidak hilang.’
Rachel berdiri di ambang pintu tak jauh dari posisi Ethan. Tampak sebuah tas derek kecil di samping bangku dengan selang yang menggantung ke atas. Itu adalah alat bantu pernafasan yang bertengker di indera penciuman Ethan. Akibat kejadian penyerangan itu. Paru-paru Ethan bocor dan tak berfungsi lagi, hingga dia harus menggunakan alat bantu pernafasan menggunakan selang itu yang tak pernah lepas dari dirinya. Bahkan Ethan sempat koma selama satu bulan lamanya.
Dan saat Ethan telah melewati masa kritis dan sadar dari komanya, Arin menghilang begitu saja tanpa ada yang mengetahui, begitupun juga dengan James. Sebelumnya selama Ethan koma, tak sedetikpun Arin beranjak dari rumah sakit. Dan ini sudah dua bulan berlalu Arinka pergi dan hilang kabar. Bahkan tak ada satupun yang mengetahui keberadaannya. Arin pergi begitu saja tanpa kabar berita apapun, tanpa ucapan perpisahan sama sekali. Arin meninggalkan Ethan dalam kungkungan kegelapan yang begitu menyakitkan. Bahkan saat Ethan siuman, ia tidak melihat Arinka sama sekali.
“Ethan,” panggilan itu menghentikan gerakan tangan Ethan. Ia mengusap kedua matanya yang basah hingga ia merasakan sebuah pelukan di belakangnya dan memeluk lehernya dari belakang. “Kamu merindukannya?”
“Sangat, aku sangat merindukannya,” gumam Ethan membuat Rachel bersimpati dan ingin ikut menangis melihat kehancuran dari Kakaknya. “Apa ini karma?”
Rachel hanya mampu menatap Ethan dengan sedih. “Karma atau mungkin hukuman yang harus terima. Sesak di dada ini, sakit di hati ini. Bahkan sekarang aku tak mampu bernafas tanpa alat ini,” gumam Ethan mentertawakan dirinya sendiri. Betapa hancurnya ia saat ini.
“Tak ada yang mengetahui takdir, cinta dan bahkan sebuah hubungan. Semua itu ada yang mengaturnya,” ucap Rachel.
Ethan hanya mampu terdiam menahan sakit dan sesak di dadanya. Ethan selalu membayangkan bersama Arinka adalah surganya, bersama Arin adalah kebahagiaannya. Tetapi dia dengan mudah menyia-nyiakan dan menyakitinya hingga kini dia harus kehilangan Arin, hidup tanpa bisa melihat Arinka sudah seperti di dalam neraka bagi Ethan. Dalam kungkungan kegelapan yang amat sangat dalam.
ΩΩΩ
“Apa kau yakin akan mendatanginya?” tanya Vallen.
“Aku sudah mengatakannya, aku akan mencari keberadaannya dan mendatanginya,” seru Ethan penuh keyakinan.
“Arinka ada di Manhattan,” ucap Vallen membuat Ethan termenung sesaat.
“Besok aku akan ke sana,” ucap Ethan setelah terdiam sesaat.
“Kau yakin.akan menemuinya?” tanya Vallen.
“Iya, banyak hal yang ingin aku tanyakan padanya,” ucap Ethan.
“Perlu aku temani?”
“Tidak usah,” jawab Ethan dengan pasti.
ΩΩΩ
Di suatu tempat dalam rumah sederhana yang cukup nyaman, Arin tampak berdiri di balkon kamar menatap rintik hujan yang turun. Wajahnya tampak pucat dan sendu, ia memeluk tubuhnya sendiri dengan mata merah berkaca-kaca.
Ini yang dia inginkan, berada sejauh mungkin dan memulai hidupnya yang baru. Tetapi kenapa hatinya tertinggal di sana, hingga sekarang rasanya begitu sakit dan menyiksa dirinya.
Terlalu banyak hal yang ada di kepala Arinka hingga ia merasa ingin memecahkan kepalanya sendiri dan pergi menjauh dari situasi ini. Situasi dimana dia tak bisa move on dari masalalunya, sedangkan ia sudah ingin melangkah ke kehidupan baru yang menantinya.
ΩΩΩ