(Un) Perfect Wedding

(Un) Perfect Wedding
Episode 27



Dor


"ARINKA!"


Ethan akhirnya lebih cepat menarik tangan Arin hingga tembakannya meleset ke lantai.


"Apa kau sudah gila!" pekik Ethan menghempaskan pistol di tangan Arin hingga terlempar ke lantai.


"Ya, karena aku sudah lelah dengan semua kehidupan yang seperti neraka ini!" pekik Arin.


Vallen bersama James dan Ray masuk saat mendengar suara tembakan.


"Apa yang terjadi?" tanya James.


Ethan memegang kedua pundak Arin. "Ku mohon jangan seperti ini, ini sangat menyiksaku. Baiklah, aku akan mengalah. Akan aku turuti segala keinginanmu, sekarang katakan apa maumu Arinka?" tanya Ethan begitu pasrah.


"Ceraikan aku!"


Deg


Ethan menatap Arin dengan tatapan tak percaya dan kaget. "Bebaskan aku, lepaskan aku dan tolong ceraikan aku!"


ΩΩΩ


Entah gelas ke berapa yang Ethan teguk saat ini, pikirannya kacau dan hatinya hancur. Keinginan dan permintaan Arin tadi bagaikan cambuk yang meluluh lantahkan dirinya. Tak adakah kesempatan kedua bagi dirinya? Kenapa harus perceraian? Apa ini akhir dari kisah cintanya bersama Arinka? Apa ini akhir dari pernikahan yang mereka impikan sejak lama? Ethan terus saja mengutuk dirinya dan menyalahkan dirinya atas semua yang terjadi. Kenapa dia begitu bodoh tak bisa mempercayai Arin yang merupakan cintanya sendiri? Kenapa penyesalah selalu datang di belakang?


"Kau sudah sangat mabuk, Ethan." seruan itu membuat Ethan menoleh dan ternyata Vallen datang ke ruang private di salah satu club malam.


Ethan tak memperdulikan seruan Vallen dan kembali meneguk minumannya. "Kenapa akhirnya seperti ini?" seru Ethan.


"Takdir tak bisa di prediksi dan di tebak. Tuhan telah mengatur takdir kita, walau itu menghancurkan diri kita."


"Aku mencintainya," gumam Ethan tampak menahan tangisannya dengan mata yang memerah.


"Terkadang merelakan adalah pilihan yang baik daripada memaksakan kehendak kita yang hanya akan bisa menghancurkan hidup oranglain," ucap Vallen.


"Apa itu berarti kau mendukungku untuk menceraikan Arinka?" tanya Ethan.


ΩΩΩ


Arin membereskan semua pakaiannya dari rumah Ethan, mulai hari ini dia sudah memutuskan akan pindah dari sana ke tempatnya James.


"Apa kamu yakin dengan keputusan ini Rin?" tanya Rachel yang merasa sedih mendengar kabar Ethan dan Arinka akan bercerai.


"Iya Hel, aku tidak bisa lagi hidup dengan orang yang sudah membunuh bayiku dan juga ibuku," seru Arin tampak dingin.


"Kejadian kebakaran itu mungkin saja bukan ulah Ethan, tidak mungkin dia berniat mencelakaimu, Rin. Dia mencintaimu," seru Rachel


"Sebelumnya diapun sanggup mengacungkan pistolnya ke arahku dan menembak lenganku, walau luka di lenganku sudah mengering, tetapi tidak dengan hatiku. Luka itu masih menganga lebar, Hel." Arin menatap lurus ke depan seakan menerawang sesuatu. "Cinta itu sudah tak berlaku lagi di antara kami, walau sekarang dia sudah menyadari segalanya dan meminta maaf padaku. Tetapi itu terlambat, sangat terlambat karena luka itu tak bisa sembuh begitu saja. Kaca yang sudah pecah tak akan bisa kembali utuh," jelas Arin.


"Apa kamu juga membenciku?" tanya Rachel membuat Arin menoleh kepadanya.


"Kamu adalah sahabatku, Hel. Dan aku tidak memiliki alasan untuk membencimu, walau Kakakmu sudah menorehkan luka di hatiku."


"Jaga dirimu baik-baik Rin, terima kasih karena masih menganggapku sebagai temanmu," ucap Rachel yang di angguki Arin.


Arin telah selesai packing seluruh pakaiannya ke dalam koper miliknya dan meninggalkan semua benda dan pakaian yang di berikan Ethan kepadanya. Ia menoleh ke atas meja nakas, ternyata di sana ada cincin pernikahannya dengan Ethan. Mungkin Ethan yang menyimpannya di sana. Arin berjalan mendekati meja nakas dan mengambil cincin itu. Seketika bayangan kenangan di masalalu yang begitu indah memenuhi kepala Arinka. Saat Ethan mengungkapkan cintanya, saat dia berlari menerobos hujan deras untuk menjemput Arin di tempat latihannya dan melamarnya dengan begitu romantis. Tanpa terasa air matanya kembali luruh membasahi pipi, dia harus kuat dan tak boleh lemah.


Arin menghapus air matanya, ia tidak boleh lemah. Demi semua yang sudah pergi dan perbuatan yang telah Ethan lakukan. Ia tak bisa kembali lagi bersama pria itu. Arin menyimpan kembali cincin itu dan berbalik ke arah Rachel yang tengah memperhatikannya sejak tadi.


"Aku akan tinggal di tempatnya James, kalau kamu mau kamu bisa datang saja ke sana kapanpun," ucap Arin.


"Iya, kamu jaga dirimu," seru Rachel.


Arin berjalan keluar dari kamar itu diikuti Rachel, langkahnya terhenti saat ia beradu pandang dengan Ethan yang ternyata sudah datang dan berdiri tak jauh di hadapannya. Arin memalingkan wajahnya dan ia menatap ke arah James yang berdiri tak jauh dari Ethan.


"Aku sudah selesai, James." Arin berjalan melewati tubuh Ethan tanpa mengatakan apapun, hingga menghentikan langkahnya di depan pintu lift. "Kita hanya akan bertemu di pengadilan nanti, jadi jangan pernah muncul di hadapanku."


Semuanya tau kata-kata Arin di tujukan kepada siapa. Arin sudah masuk ke dalam lift menanti James. James berpamitan dan hendak beranjak pergi menyusul Arin.


"James," panggil Ethan membuat James menoleh kepadanya dan menghentikan langkahnya. "Tolong jaga dia," ucap Ethan yang di angguki James. James berlalu pergi meninggalkan Ethan dan Rachel.


ΩΩΩ