
Arin terbangun dari tidurnya, ia memegang kepalanya dan mengerjap beberapa kali, sampai akhirnya ia membuka matanya dengan sempurna. Ia menatap sekeliling, suasana di sini begitu asing tetapi ia mampu mengenali dimana dirinya berada sekarang. Ia berangsur bangun walau sulit dan kepalanya masih terasa berat, hingga ingatannya kembali melayang ke kejadian sebelumnya saat terjadi kebakaran dan ia menaiki kursi.r,
"Oh God!" pekik Arin saat sadar ia terjatuh dari atas kursi. Ia bangun sekaligus tanpa memperdulikan rasa pusing di kepalanya yang seperti memukuli kepalanya. Ia meraba perutnya yang terasa begitu datar. Sebelumnya ia mampu merasakan bahwa ada kehidupan di dalam sana, apalagi usia kandungannya sudah masuk bulan ke 4, dan perutnya sudah mulai membuncit. Dan sekarang perutnya terasa datar dan tak merasakan kehidupan apapun.
"Tidak, tidak boleh itu tidak boleh," gumam Arin begitu ketakutan dengan air mata yang sudah menggantung di pelupuk matanya. "Dokter!" teriaknya.
Arin berteriak memanggil Dokter atau suster, hingga seorang suster datang dan berusaha menenangkan Arin untuk tidak berteriak.
"Katakan apa yang terjadi dengan bayiku?" pekik Arin.
"Tenanglah Bu, Kondisi anda belum stabil."
"Katakan apa yang terjadi dengan janinku?" tanya Arin begitu ngotot dan memaksa membuat suster itu kebingungan.
"Dokter terpaksa mengangkat janin anda, karena bayi di dalam kandungan anda sudah meninggal," seru Suster itu.
"K-kau bohong?" seru Arin mendadak seluruh tubuhnya melemas dan rasanya ia kehilangan kekuatannya. "T-tidak mungkin bayiku," gumamnya memegang perutnya. Air mata itu tak mampu lagi ia bendung dan kini luruh begitu saja membasahi pipinya.
"Tidak mungkin bayiku mati!" pekiknya.
"Kau bohong! Katakan kalau kau berbohong! Bayiku tak mungkin meninggalkanku begitu saja, hikzzz!"
Arin mulai kehilangan kendalinya, ia menjerit meminta Suster itu berkata kalau yang di katakannya itu semua adalah kebohongan. Hingga seorang Dokter dan dua orang perawat datang dan membantu suster itu untuk menenangkan kondisi Arinka.
Perlahan lahan, Arin mulai tenang dan matanya mulai terasa berat. "Bayiku, hikzz..." isaknya pelan sebelum akhirnya ia menutup kedua matanya.
ΩΩΩ
Ethan sampai di kantor rahasia milik Jeff, ia begitu saja menyerbu mereka dan memukuli seluruh anak buah yang berjaga di sana, satu harapannya yaitu bertemu Jeff dan membalaskan segalanya.
Bangunan lima tingkat itu penuh sekali dengan para penjaga, untuk sesaat Ethan mampu melawan mereka sendirian, tetapi semakin lama mereka menyerang Ethan dengan cara mengeroyok hingga tubuh Ethan tersungkur dan itu kesempatan mereka untuk menendang dan memukuli tubuh Ethan dengan batang kayu dan senjata lain yang mereka bawa.
Hingga tak lama, datanglah team CIA Marvin bersama dengan seluruh anggotanya James, Marvin, Raymond, Tom, Jerry, Vallen, dan Yuri.
Mereka langsung membantu Ethan melawan para penjahat itu, kecuali Yuri yang membantu Ethan bangun dan membantu mendudukannya di sudut ruangan.
"Apa kau sudah gila? Kau menyerang markas mereka sendirian!" amuk Yuri tampak kesal sekaligus khawatir. "Kalau saja James tak memberitahu kami, kau bisa saja mati di sini, Ethan!"
Ethan hanya diam membisu dan mengabaikan rasa sakit di wajah dan sekujur tubuhnya. Yuri begitu marah dan kesal karena Ethan tak menganggap dirinya, ia semakin membenci Arinka. Ethan berpaling darinya karena wanita itu, dan Yuri bersumpah tak akan melepaskannya untuk saat ini.
Tak lama Jerry dan Raymond datang menghampiri.
"Bangunan ini sudah kosong, dan Jeff tak ada di sini. Dia melakukan ini dengan menyebut tempat rahasia hanya untuk mengecoh kita." penjelasan Raymond membuat Ethan semakin kesal dan emosi.
"Ini jebakan, sebaiknya kita bergegas dan mencaritau kebenaran keberadaan Jeff," seru Marvin.
"Jeff sialan!" gerutu Ethan mengepalkan kuat kedua tangannya hingga memutih.
"Sudah ku katakan, kau jangan terbawa emosi dulu, Than!" seru James yang datang menghampiri. "Kita cari jalan keluar bersama-sama dan mencari cara untuk menjebak si tua bangka sialan itu," seru Vallen.
Ethan hanya diam membisu. "Sebaiknya kamu kembali ke rumah sakit, Arin membutuhkan kehadiranmu," jawab James membuat Ethan kembali teringat Arinka dan tanpa kata ia bergegas pergi.
"Ck, dia itu benar-benar," keluh James.
"Biarkan saja dulu, saat ini dia sedang dalam keadaan tak baik-baik saja. Biarkan dia bertemu Arin yang merupakan obat paling jitu untuk menyembuhkan obat luka di dalam hatinya," ucap Vallen.
ΩΩΩ
Ethan sampai di rumah sakit dengan perasaan tak menentu, ia ingin segera menemui Arin dan ingin menemaninya di saat berat seperti ini. Mereka berdua merasa rasa kehilangan dan rasa sakit yang sama.
Ethan masuk ke dalam ruangan Arin dan terlihat Arin masih terlelap. Ia berjalan dengan melepaskan jas mantel yang di gunakannya dan menyimpannya di atas sofa. Ia memilih duduk di kursi yang berada tepat di samping blangkar. Tatapannya tertuju pada sosok Arin yang terlelap dan terlihat sudut matanya basah, karena air mata. Tangan Ethan bergerak untuk menghapus air mata di sudut mata Arin.
"Akankah kamu memaafkan aku?" ucap Ethan membelai pipi Arin.
Cahaya matahari menerobos masuk ke dalam ruangan melewati celah jendela. Arin mengerjapkan matanya berkali-kali hingga matanya terbuka lebar. Ia mengernyit saat tangannya di genggam seseorang, Arin menoleh ke sisinya dimana Ethan berada dan tampak terlelap dengan menyandarkan dahinya ke sisi brangkar.
Arin merasa kesal sekaligus benci, ia belum ingin bertemu dengan Ethan. Ini semua karena Ethan, Ethan juga yang sudah membunuh janin di dalam perutnya. Selain itu, Ethan juga membunuh Ibu nya.
Arin perlahan melepaskan genggaman tangan Ethan dan beranjak menuruni blangkar seraya melepaskan infusannya. Ethan terbangun saat merasakan pergerakan itu. Ia melihat Arin sudah berdiri memunggunginya dan memakai mantel miliknya tanpa melepaskan pakaian pasien.
"Arin, kau mau kemana?" tanya Ethan beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Arinka.
Arin tak menjawab, ia hanya memakai mantelnya dan setelahnya berlalu begitu saja tanpa menoleh atau menjawab Ethan.
"Arin-"
"Don't touch me!" Bentak Arin seraya menepis tangan Ethan.
"Bukan urusanmu lagi!" jawab Arin dengan sinis dan kembali beranjak hendak pergi.
"Arin, ku mohon jangan pergi." Ethan kembali menahan pergelangan tangan Arin dan itu kembali Arin tepis dengan kasar tetapi Ethan bertahan. "Keadaanmu belum sembuh total, kamu harus beristirahat."
"Istirahat?" Arin terkekeh mengejek. "Apa aku tidak salah dengar?"
Ethan diam memandang Arin yang sepertinya begitu marah padanya. "Arin, aku tau aku bersalah padamu. Aku tau tak akan mudah mendapat maaf darimu. Tetapi aku mohon aku minta maaf. Maafkan aku," seru Ethan.
"Kenapa meminta maaf? Apa karena kau sudah membunuh Ibu dan sekarang janin di dalam kandunganku, begitu?" pekik Arin tampak begitu emosi, seraya menarik tangannya dari genggaman Ethan.
"Aku tidak membunuh janjn kita, dan kalau aku tau kamu sedang hamil, aku-"
"Kamu akan melenyapkannya dengan segera, bukan?" potong Arin.
"Apa maksudmu? Aku tidak akan segila itu membunuh darah dagingku sendiri," ucap Ethan.
"Jangan berpura-pura alim dan baik di hadapanku, Ethan. Bukankah kau ingin melenyapkan seluruh keluarga Jeff sampai tak ada keturunanya lagi lahir di dunia ini, hmm?"
"Aku tau aku pernah berkata seperti itu, tetapi aku tidak mungkin membunuh darah dagingku sendiri," jawab Ethan.
"Kau memang tidak membunuhnya secara langsung, kau hanya ingin membakarku hidup-hidup!"
"Arin, kau salah paham!"
"Cukup Ethan! aku tak butuh penjelasan dari seorang pembunuh sepertimu! Kau sudah merenggut segalanya dariku!" pekik Arin diiringi air matanya yang luruh membasahi pipi.
"Tenangkan diri kamu, kita bicarakan ini baik-baik. Aku minta maaf untuk semua yang aku lakukan, dan aku minta maaf karena aku tidak mempercayaimu. Aku pikir kamu bekerjasama dengan Ayahmu untuk menjebakku, maafkan aku."
"Kau baru menyadarinya?" tanya Arin tersenyum sinis. "Kemana saja selama ini, RANETHAN?"
"Aku tau aku bersalah, maka dari itu aku minta maaf padamu," ucap Ethan penuh penyesalan.
Arin menghela nafasnya kasar. "Tidak semua kata maaf itu bisa menyelesaikan semua permasalahan dan kesalahan. Janinku sudah tidak ada, bayiku sudah mati!" pekik Arin.
"Aku juga merasakan apa yang kamu rasakan, aku juga merasa begitu kehilangan mendengar kabar itu dari dokter. Apalagi aku sama sekali tidak tau menahu kalau kamu sedang hamil."
"Aku tidak yakin kau benar-benar merasa kehilangan! Aku tau saat ini kamu hanya berpura-pura simpati padaku sebelum akhirnya kamu membunuhku. Bukankah ini yang kamu inginkan, Ethan? Kamu ingin membunuhku secara perlahan!" pekik Arin.
"Itu dulu saat aku tidak tau kalau kamu tidak bersalah, tetapi tidak untuk kali ini. Aku yakin kamu tidak tau menahu dengan semua yang Ayahmu lakukan. Dan aku akan memperbaiki segalanya, ku mohon maafkan aku." Arin menundukkan kepalanya dengan isakan kecil mendengar penuturan Ethan yang begitu dalam.
"Aku mohon maafkan aku, Arinka. Aku berjanji akan memperbaiki segalanya dan juga pernikahan kita. Kita mulai lagi dari awal yah," ucap Ethan memegang kedua pundak Arinka.
"Terlambat!" Ethan menegang saat Arin mundur menghindarinya hingga pegangannya terlepas. "Aku sudah kehilangan segalanya, dan kita tak akan pernah bisa bersama lagi," ucap Arin dengan begitu tajam.
"Arin-?"
"Setelah apa yang terjadi, aku tidak bisa kembali bersamamu. Setelah kehilangan bayi kita, aku tak bisa bersamamu lagi. Kita sudah saling menjauh dan menghancurkan ikatan ini, dan sekarang tak akan pernah bisa bersama lagi," ucap Arin dengan penuh kesakitan dan air mata.
"Aku mohon beri aku kesempatan sekali lagi," ucap Ethan penuh penyesalan.
"Tidak ada lagi kesempatan kedua, karena sesuatu yang bisa menyatukan kita telah pergi. Kamu telah membunuhnya."
"Ku mohon jangan seperti ini, aku akan lakukan apapun untuk menebus segalanya," ucap Ethan.
"Kalau begitu-" Arin mengambil pistol yang berada di pinggang Ethan dan mengacungkannya tepat di kepala Ethan membuat Ethan kaget. "Kau harus mati untuk menembus kematian janinku!"
"Arin, jangan bermain-main, ku mohon ini berbahaya!" seru Ethan berusaha mengambil pistol dari tangan Arin.
"Kenapa Ethan? Kau kaget aku berani mengacungkan pistol ke kepalamu, seperti yang pernah kamu lakukan padaku?" tanya Arin.
"Arin, tenangkan diri kamu. Kondisimu sedang tak stabil," ucap Ethan.
"Aku akan tenang setelah membunuhmu!"
Deg
Ethan masih mematung di tempatnya melihat Arin yang berjalan mundur dengan masih mengacungkan pistol ke kepalanya. "Kau harus menebus segalanya, kau telah membunuh janinku!" pekik Arin terisak perlahan.
"Aku tidak bisa membunuhmu bahkan menembakmu sampai kapanpun juga, jadi biarkan aku yang menemani bayi kita di sana!" seru Arin menarik ujung pelatuk dan mengarahkan pistol ke kepalanya sendiri.
Dor
"ARINKA!"
ΩΩΩ