(Un) Perfect Wedding

(Un) Perfect Wedding
Episode 22



Arin dan Jason baru saja sampai di pekarangan rumah persembunyian mereka, hingga beberapa mobil berhenti tepat di depan pekarangan rumah membuat Arin dan Jason menoleh ke sumber suara. Beberapa orang terlihat menuruni mobil dan seseorang yang Arin hindaripun tampak turun dari dalam mobil bersama seorang wanita.


"Ethan!" gumam Arin spontan memegang perutnya.


Jason menarik tangan Arin untuk bersembunyi di belakang tubuhnya. Ini di luar perkiraannya, Jason pikir keberadaan mereka tak akan di ketahui hingga Jason mengirim semua anak buahnya untuk melepaskan ibu dari Arinka.


"Berani sekali kau membawa istriku!" seru Ethan tampak geram.


Untuk beberapa saat mata Arin bertemu dengan mata tajam milik Ethan yang terlihat kemurkaan di dalamnya.


"Istrimu? Bagaimana kau bisa mengatakan dia istrimu, sedangkan kau berniat membunuhnya dan juga keluarganya!" jawab Jason dengan lantang.


"Sok jadi pahlawan," ejek Ethan. "Tangani dia!"


Dengan cepat anak buah Ethan menyerang Jason yang juga berusaha melawan mereka sendirian.


"Jason!" seru Arin tak kuasa melihat Jason di keroyok.


"Lari Arin, lari seperti yang kita rencanakan!" teriak Jason.


"Tapi-"


"Lari! ku mohon pergilah dan jangan memperdulikanku," seru Jason yang kembali menerima pukulan dari mereka.


Arin di buat bimbang tetapi dia tak ada pilihan lain, dia berlari saat Ethan terfokus pada Jason. Ia berlari menuju belakang rumah dimana mobil Jason berada. Dan ia harus segera meninggalkan kota ini, bahkan Negara ini.


Arin yang berhasil berlari, hendak membuka pintu mobil kalau suara di belakang tak menghentikannya.


"Berhenti atau ku tembak!"


Arin berbalik dan tatapannya langsung beradu dengan mata tajam Ethan yang sedang mengacungkan pistol ke arahnya. Cukup lama mereka berdua saling bertatapan dengan tatapan misterius.


"Aku tau kamu tidak akan berani menembakku Ethan! Aku tau kamu mencintaiku," seru Arin hendak berbalik dan tak memperdulikan Ethan.


"ARINKA BERHENTI ATAU KU TEMBAK!"


Arin mengabaikan ancaman dari Ethan, dia yakin Ethan tak mungkin menembaknya. Arin bergegas membuka pintu mobil.


Dor


Arin mematung saat menggores lengannya dan menembus kaca mobil. Darah mengalir cukup deras di bagian lengan Arin. Arin masih berdiri dengan begitu syock. Ethan berani menembaknya? pria yang selalu ia yakini begitu mencintainya.


"Aku sudah katakan jangan melawanku dan turuti perintahku," seru Ethan menarik pergelangan tangan Arin.


Ethan bahkan memalingkan wajahnya tak berani menatap luka di lengan Arin. Arin menengadahkan kepalany menatap kepala Ethan yang berjalan di depannya, dan tangannya masih menggenggam pistol walau sebelah lagi memegang pergelangan tangnnya.


Sakit?


Tentu saja sakit saat seseorang yang ia anggap sebagai pelindung berani mengacungkan pistol kepada dirinya. Jadi dimana cinta itu berada? Dimana keadilan itu berada.


"Bawa dia ke dalam mobil!" perintah Ethan ke salah satu anak buahnya.


ΩΩΩ


Arin di seret ke sebuah bangunan tua oleh anak buah Ethan. Lalu ia di lemparkan masuk ke dalam sebuah ruangan luas. Mereka menutup pintunya begitu saja membuat Arin segera bangkit dari duduknya dan menggedor pintu ruangan sekencang mungkin dan berteriak.


"DIAM!" bentak seorang penjaga seraya membuka pintu ruangan.


Kesempatan itu di gunakan Arin untuk memukul kepala si penjaga dengan menggunakan botol yang Arin temukan tadi. Ia hendak kabur tetapi sayangnya penjaga satu lagi menamparnya hingga Arin tersungkur ke lantai dan jatuh pingsan.


"KATAKAN KEPARAT!"


"Maafkan kami Bos, Nyonya terus berontak dan melukai Johan. Jadi aku terpaksa menamparnya dan-"


Plak


Belum sempat si penjaga itu menyelesaikan ucapnnya, tamparan Ethan telah melayang ke pipinya hingga menimbulkan sobekan di sudut bibirnya.


"Pergi!"


Mereka segera berlalu pergi mematuhi perintah dari sang bos.


"Apa harus sampai begitu Ethan? Mereka mungkin tidak sengaja," ucap Yuri.


"Kau dengar sendiri jawabannya, Bukan? Dan aku tidak suka ada yang melukai Arin selain aku, dan aku tidak suka mereka menyentuh Arin!" bentak Ethan membuat Yuri merasa kesal kepada Arin.


"Bisakah kau membiarkanku berdua bersama Arin?" tanya Ethan dan Yuri dengan sangat kesal meninggalkan ruangan itu.


Ethan memandang tubuh Arin yang tergeletak di lantai. Ia berjalan mendekati tubuh Arin dan memangkunya. Ethan membawa tubuh Arin ke sudut ruangan dimana terdapat tumpukan jerami. Ethan memandang darah mengering di lengannya dan luka yang mungkin cukup dalam. Ia menatap sekeliling mencari sesuatu hingga ia melihat sebotol minuman. Ia mengambil botol itu dan menyobek bagian bawah kemeja yang ia gunakan di balik jaket CIA nya.


Dengan telaten Ethan membasuh darah mengering di lengan Arin. Saat sudah bersih ia mengikatkan potongan kain lainnya yang tidak basah untuk menutupi luka Arin. Ia menatap wajah Arin tertutup helaian rambut, perlahan ia merapihkan helaian rambut itu hingga memperlihatkan wajah pucat Arin dengan sudut bibirnya yang terluka.


Bayangan saat Arin bersama Jason kembali terlintas di kepala Ethan, saat Arin berpelukan dengannya membuat Ethan langsung memalingkan wajahnya. Ia berdiri memunggungi Arin seraya menjambak rambutnya sendiri dengan penuh rasa cemburu dan kesal. Kenapa Arin memilih pergi bersama pria lain? Kenapa Arin tega berselingkuh darinya. Apa karena rencananya menjebak Ethan sudah berhasil dan sekarang dia memilih pergi bersama pria lain.


Seketika wajah Ethan mengeras saat mengingat kata-kata dari Yuri yang benar adanya. Arin tidak pernah mencintainya, ia hanya ingin menjebak dirinya dan sekarang rencananya telah tercapai jadi dia memilih pergi darinya bersama pria lain. Apa benar Ethan terlalu baik dengan mengundur-ngundur waktu eksekusi keluarga mereka? Pikiran dan hati Ethan berperang hingga membuat kepalanya seperti akan meledak.


"Eugh!"


Mendengar lenguhan itu, Ethan berbalik dan terlihat Arin tampak mengerjapkan matanya dan perlahan membuka matanya.


"Ethan?" gumam Arin bergegas bangun dari rebahannya dan menatap Ethan dengan rasa takut. Ia mengingat tadi Ethan dengan teganya mengacungkan pistol padanya dan bahkan menembaknya walau hanya goresan.


Baik Ethan maupun Arin, keduanya tak ada yang berani membuka suara. Walau tatapan mereka masih terpaut satu sama lainnya.


Ethan berjalan mendekati Arin dan berjongkok di hadapan Arin yang masih menatapnya. Arin bergeser mundur saat tangan Ethan hendak menyentuh dirinya dengan kepala menunduk dan berpaling. Ada rasa sakit seperti menusuk nusuk hati Ethan melihat Arin yang memilih menjauh darinya.


"Setelah bersama kekasihmu, kau mulai menunjukkan siapa dirimu sebenarnya?" ucap Ethan membuat Arin menatapnya dengan tatapan kebingungan.


"Kamu mulai memperlihatkan seberapa busuknya kamu, Arinka!" bentak Ethan. "Tidak tau malu, kau masih berstatus istriku dan kau malah berniat pergi bersama kekasihmu!"


"Kenapa Arin? Kenapa kau terus membohongiku!" Arin tersentak saat Ethan mencengkram sebelah lengannya dengan kuat.


"Ethan-"


"Kenapa kamu lakukan ini? Apa belum puas kamu menipuku selama ini, ternyata kamu adalah putri Jeff dan kalian bersekongkol. Sekarang kamu berniat pergi bersama kekasihmu itu, hah?" bentaknya.


"Apa maksudmu? sejak awal aku sudah menjelaskan kalau aku tidak tau apapun!" ucap Arin dengan air mata yang menggantung di pelupuk matanya.


"Berhenti menipuku? Kau tak lebih dari seorang bicth yang bisa dengan mudahnya berpindah-pindah ke pelukan pria lain!"


Bagai tersambar petir di siang bolong, Arin termangu mendengar kata-kata Ethan yang sungguh merobek hatinya. Tega sekali pria di hadapannya ini menganggapnya sebagai wanita murahan. Apa cintanya begitu hina hingga dia terus di tuduh yang tidak tidak oleh suaminya sendiri.


"Aku membencimu ARINKA! aku membencimu!" bentak Ethan. "Mulai sekarang jangan harap ada toleransi dariku! kau dan keluargamu akan lenyap di tanganku!" bentak Ethan menghempaskan tubuh Arin begitu saja dan berlalu pergi meninggalkan Arin yang terpaku sendiri dengan hati yang tercabik-cabik oleh tajamnya kata-kata Ethan.


"Maafkan Daddy mu, sayang." Arin mengusap perutnya yang masih datar dengan tangisan yang luruh dari pelupuk matanya.


ΩΩΩ