
"Angkat tangan kalian! kami dari CIA!" seru Marvin mengacungkan pistolnya bersama anggota yang lainnya saat ia berhasil menemukan Charli bersama beberapa anak buahnya.
Mereka tampak kaget dan jelas sedang bersiap akan kabur. Tak lama terdengar suara hellikopter datang dari atas gedung ini.
"Kau pikir kau bisa kabur, sialan!" umpat Ethan yang berjalan mendekati mereka semua yang sudah mengangkat tangan.
"Sebagian ikut denganku ke atap gedung, tangkap pilot hellikopter," perintah Marvin yang diikuti Jerry juga Tom.
Ethan melayangkan tinjunya ke pipi Charli saat ia terlihat hendak menekan alat komunikasi di saku jaketnya. Tubuh Charli tersungkur ke bawah dan Ethan mengambil alat komunikasinya.
"Tahan mereka semua," seru Ethan yang langsung di lakukan Raymond, James, dan Vallen juga beberapa anggota lain. Mereka semua di bekuk dan lumpuhkan.
Arin terus saja menatap ke arah Charlie, ini pertama kalinya mereka berjumpa. Dan benarkah pria di hadapannya ini adalah putra dari Mr. Drummond yang berarti sodara dari Arinka?
Mereka semua berhasil di bekukkan oleh team Delta dan kini mereka semua di amankan di markas kepolisian militer AS, sedangkan Charlie masih di bawah pengawasan team Delta karena dia adalah kunci untuk membuat Jeff keluar dari persembunyiannya. Mafia paling berbahaya dan licik di AS.
Arin bahkan di buat tak percaya kalau Daddy yang di matanya begitu gagah dan baik, ternyata orang yang paling berbahaya dan di incar para polisi Negara. Ia sudah menjadi buron dimana-mana karena penjualan berlian dan senjata secara ilegal dan menjual beberapa ton narkoba ke beberapa Negara. Dalam dunia bisnis, Mr. Drummond memang banyak yang mengenalnya, bahkan tak sedikit yang bergabung dengannya dan terkena tipu olehnya. Bahkan bukan hanya keluarga Ethan saja yang menjadi korban dari keserakahan dan kekejaman Jeff.
Menurut cerita Ethan, dulu Ayahnya adalah rekan bisnis dan teman dari Mr. Drummond. Tetapi investasi yang di lakukan Ayah Ethan di tipu oleh Jeff, hingga perusahaan Ayah Ethan final. Dan Ayah Ethan berusaha mencari tau kebenarannya dan mencari bukti kalau dirinya di tipu dan di jebak. Setelah mendapatkan semua bukti kebusukan Jeff dan usaha ilegalnya itu, Ayah Ethan berniat melaporkannya ke polisi militer tetapi terlambat, karena Jeff bersama anak buahnya lebih dulu datang dan kejadian naas itu terjadi. Jeff berhasil melenyapkan semua bukti yang di kumpulkan Ayah Ethan. Tetapi akhirnya Ethan di bantu team CIA berhasil mengumpulkan semua bukti kejahatan Jeff dan kini Jeff sudah menjadi buronan kelas dunia.
Arin merasa bodoh karena dia merasa tertipu, tetapi bagaimanapun, sejelek apapun, dia tetaplah Ayahnya, walau bukan Ayah kandung. Arin mendapat perlakuan cukup baik dari mereka selama hidupnya.
ΩΩΩ
"Arin!"
Panggilan itu menghentikan langkah Arin di lorong kampus yang ramai. Ia menoleh dan melihat Rachel berlari ke arahnya.
"Kau- apa benar kau bergabung dengan team Delta untuk menemukan Jeff?" tanya Rachel.
"Ya Hel, aku di sana hanya sebagai saksi. dan ikut membantu menemukan dan menangkap Dad, emm maksudku Jeff," seru Arin.
"Kita bicara di ruangan," seru Rachel menarik tangan Arin masuk ke dalam ruang musik yang kosong.
"Kenapa kamu melakukan ini? itu berbahaya, nyawamu bisa terancam!" seru Rachel.
"Aku harus melakukan ini, Hel."
"Tetapi kenapa? Sebaiknya kau biarkan team Delta yang menyelesaikan semua ini. Ini bukan bagianmu," ucapnya tampak khawatir.
"Banyak alasan yang mendukungku untuk ikut gabung di team Delta, walau ini tidak di ketahui oleh pemimpin tertinggi di CIA." Arin menyembunyikan alasan utama kenapa dia bergabung di CIA. Mungkin sebaiknya hanya dirinya yang mengetahui alasan itu.
"Apa alasan itu?" tanya Rachel seakan ingin mengetahui alasan dari Arin.
"Aku ingin bertemu dengan Dad, dan ingin menanyakan segalanya tentang siapa aku dan siapa keluargaku. Sebenarnya ini masih membingungkanku, Hel. Dan aku butuh semua jawaban itu, aku tidak ingin merasa bodoh karena tidak mengetahui apapun lagi."
"Tetapi kenapa harus ikut bergabung, ini sangat berbahaya," ucap Rachel.
"Kamu tenang saja, semuanya akan baik-baik saja," ucap Arin.
"Ta-"
"Astaga ternyata kalian ada di sini, aku mencarimu ke seluruh kampus, Rin." Jason masuk begitu saja menghentikan ucapan Rachel. "Hai Tomboy," sapa Jason pada Rachel.
"Hai Jase."
"Ayo Rin, kelas kita sudah di mulai," ajak Jason membuat Arin mengangguk.
"Aku duluan yah Hel," ucap Arin.
"Duluan Hel."
"Iya," Rachel hanya menatap punggung mereka berdua dengan tatapan misterius.
ΩΩΩ
Ethan baru saja selesai mengintrogasi Charli yang masih memilih untuk bungkam. Ethan begitu kesal setengah mati karena Charli yang memilih mati daripada memberitahukan keberadaan Ayahnya itu.
"Kau di sini?" tanya Ethan saat ia melihat Yuri duduk di kursi yang berada di luar ruang introgasi.
"Aku menunggumu," ucap Yuri diiringi senyumannya. Ia beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Ethan. "Bagaimana hasilnya?"
"Dia masih bungkam."
"Kau mau minum bersama?" ajak Yuri.
"Baiklah, mari."
Yuri dan Ethan berjalan bersama menuju keluar dari gedung pencakar langit itu. Mereka pergi menuju sebuah club malam yang cukup terkenal di Boston.
Yuri memesankan minuman untuk dirinya dan Ethan, Sesekali ia melirik ke arah meja sudut dimana Ethan duduk tenang menatap ke arah orang-orang yang tampak menari. Yuri tersenyum misterius seraya mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celanannya.
'Kali ini kau tidak akan bisa lepas dariku, kau akan menjadi milikku Ethan. Kau tidak akan bisa menghindar lagi," batin Yuri seraya memasukkan sesuatu itu ke dalam gelas milik Ethan.
Ia lalu membawa dua gelas berkaki itu ke meja dimana Ethan berada.
"Ini untukmu," ucap Yuri menyodorkan gelas kepada Ethan dan ia duduk di sampingnya.
"Sudah lama aku tidak datang kemari," ucap Ethan.
"Kau terlalu sibuk dengan segala masalah yang ada, sampai kau melupakan dirimu sendiri," ucap Yuri yang hanya di jawab dengan senyuman kecil dari Ethan.
Yuri melirik penuh kepuasan saat Ethan meneguk minumannya. "Emm, rasanya sedikit berbeda," ucap Ethan tetapi ia mengabaikannya.
Setelah beberapa menit kemudian, Ethan merasa kepalanya begitu berat dan rasa kantuk melanda. Beberapa kali Ethan mengusap matanya yang begitu berat untuk terbuka lebar.
"Ya," jawab Ethan dengan nada pelan. "Aku akan ke toilet dulu," ucap Ethan.
Saat ia berdiri dari duduknya, tubuhnya langsung ambruk begitu saja. Yuri segera menahan tubuh besar Ethan. Ia menyimpan uang beberapa lembar di atas meja dan berjalan memapah Ethan keluar club.
Langkah Yuri terhenti saat ia sampai di basement tempat dimana mobil Ethan terparkir. Tak jauh dari tempatnya berdiri seseorang dengan langkah angkuh dan elegant berjalan ke arahnya. Sosok itu begitu di kenal oleh Yuri dan ia mengumpat di dalam hati saat melihat sosok itu.
"Vallen!"
"Why?" tanya Vallen dengan nada santainya. "Kau kaget melihat kedatanganku, Yuri?"
Yuri hanya diam dengan tatapan penuh emosi. "Uchh kau sepertinya mencampurkan sesuatu ke minuman Ethan. Setauku Ethan bukan tipikal pria yang bisa mabuk," ucap Vallen dengan nada santai.
"Kenapa kau terus mengganggu urusanku?" seru Yuri. tampak kesal.
"Pertanyaan yang lucu," ejek Vallen. "Sudah jelas bukan, karena kau mengusik kehidupan temanku."
"Aku tidak mengusiknya, aku hanya membantu Ethan terlepas dari wanita sial itu. Sudah jelas bersamanya dia hanya mendapatkan luka, bukan kebahagiaan!"
"Tau apa kau tentang perasaan Ethan?" seru Vallen sarkasis. Vallen menarik Ethan ke arahnya dan memapahnya. "Aku sudah mengetahui semua kebusukanmu, Yuri!"
Setelah mengatakan itu, Vallen berlalu pergi membawa Ethan menuju mobilnya. Yuri mengumpat kesal mendengar ucapan Vallen.
"Aku harus menyingkirkan Vallen!"
ΩΩΩ
Ethan mengeram kecil seraya memijit kepalanya, ia mengerjapkan matanya dan membuka matanya menatap sekeliling ruangan.
"Dimana ini?" gumamnya ia terbangun dari rebahannya dan bersandar ke kepala ranjang karena rasa pusing yang melanda.
"Good Morning, Uncle!"
Mendengar suara cempreng nan lucu dari seseorang membuat Ethan menoleh ke sumber suara.
"Valerie?" gumamnya.
"Uncle sudah bangun? Apa uncle masih sakit?" pertanyaan polos dari gadis cantik itu membuat Ethan gemas sendiri.
"Sedikit, dimana Daddy?"
"Daddy sedang membawakan sarapan untuk Uncle."
"Kau memang Hot Daddy," ejek Ethan saat melihat Vallen datang dengan setelan rumah dan celemek di tubuhnya.
"Berisik!" serunya kesal. "Vale, kenapa kau tidak menghabiskan sarapanmu?" tanya Vallen.
"Apa aku boleh sarapan di sini bersama Uncle, Dad?" tanya Valerie.
"Baiklah, Daddy akan bawakan sarapanmu," ucap Vallen.
"No Dad, Vale bisa ambil sendiri," ucap gadis itu dan berlari keluar kamar.
"Jangan berlari, Valle!"
"Yes Dad!" teriak Vale.
"Mirip sekali dengan Isabel," ucap Ethan membuat Vallen menoleh ke arah Ethan dan tersenyum miris.
"Valerie menuruni semua kebiasaan Bella," jawab Vallen terdapat kesakitan di sana, sakit yang entah kapan akan sembuh. Ethan memahami apa yang di rasakan oleh Vallen, ini sudah 5 tahun berlalu.
"Ngomong-ngomong kenapa aku ada di sini? Seingatku semalam aku bersama Yuri," seru Ethan meringis memegang kepalanya saat mencoba mengingat apa yang terjadi semalam.
"Habiskan dulu sarapanmu, dan aku ingin mengatakan sesuatu," ucap Vallen membuat Ethan mengangguk dan mencoba mencicipi sarapannya.
"Kau memang koki terbaik," puji Ethan menikmati sarapannya. "Sayangnya kau terlalu pelit untuk memasakan makanan untukku."
"Malas," jawab Vallen dengan singkat.
"Dad, Valle makan di samping Uncle yah," ucap Valle dengan membawa nampan berisi susu dan mangkuk sereal miliknya.
Vallen membantu Valerie membawakan nampan itu saat Valle menaiki ranjang dan menikmati sarapan bersama dengan Ethan. Ethan sesekali menggoda Valle hingga keduanya tertawa.
"Kau sudah pantas memiliki seorang anak," seru Vallen membuat Ethan terdiam dan tatapannya berubah menjadi redup.
"Sayang sekali aku tak bisa menjaganya," gumam Ethan.
Beberapa menit berlalu, Ethan dan Vale telah menyelesaikan sarapan mereka berdua.
"Vale, pergilan main, Daddy ada perlu dengan uncle," perintah Vallen yang di angguki Vale dan beranjak pergi meninggalkan kamar itu.
Ethan menyimpan nampan bekas sarapan dirinya dan Vale ke meja nakas dan kini melipat kedua tangannya di dada dengan pandangan lurus ke arah Vallen yang duduk cool di atas sofa yang berhadapan dengan ranjang.
"So, apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Ethan.
"Ini mengenai Yuri," ucap Vallen membuat Ethan mengernyit bingung.
"Yuri? Kenapa dengannya?"
"Yurilah di balik kebakaran di bangunan itu hingga membuat Arin terluka dan kalian kehilangan calon bayi kalian."
Deg
ΩΩΩ