(Un) Perfect Wedding

(Un) Perfect Wedding
Episode 19



"Ethan tunggu!"


Ethan menghentikan langkahnya saat Jerry memanggilnya.


"Ada apa?"


"Sebenarnya gue gak ingin melaporkan ini, tetapi lihatlah ini." Jerry menunjukkan sesuatu pada Ethan. Seketika mata Ethan melotot penuh emosi, di dalam foto itu terlihat James dan Arin yang tampak berpelukan di pinggir jalan.


"James," gerutunya dan berjalan cepat menuju ruang team mereka. Ethan membuka pintu dengan sangat kesal. Terlihat anggota yang lain sedang berkumpul, termasuk James yang sedang berbincang dengan Raymond.


"James!"


Bug


James terpental hingga tersungkur ke lantai saat ia berbalik dan tinjuan Ethan mendarat di pipinya.


"Whats wrong?" seru James dengan kebingungan.


"Kau ini teman macam apa, kau berniat menusukku dari belakang, hah?" pekik Ethan menarik kerah jas James hingga ia berdiri.


"Apa maksudmu Than?" tanya James.


"Ada hubungan apa kau dengan istriku?" pekik Ethan semakin membuat James bingung.


"Than, kita bisa bicarakan ini dengan tenang," ucap Raymond menengahi.


"Ada apa ini sebenarnya?" tanya Marvel.


"Kau menuduhku dengan ada hubungan dengan Arin?" tanya James dan seketika ia terkekeh membuat Ethan kebingungan dan melepaskan cengkramannya di jas James.


"Ternyata kau masih mencintai istri tak di anggapmu itu," ejek James membuat Ethan membeku. "Kalau begitu kau begitu bodoh hingga tak mampu membedakan mana yang benar dan salah."


"Ethan, aku camkan satu hal. Jangan gunakan dendam dan emosi kamu. Itu hanya akan membuatmu seperti keledai!" Ethan mematung mendengar ucapan kasar James.


Ada apa dengan dirinya, ia menjadi tak terkontrol seperti ini.


"Ethan, kau tau bukan kalau sejak dulu James dan Arin dekat. Mereka layaknya adik dan kakak," ucap Raymond. James masih terkekeh meledek Ethan.


"Sungguh kali ini aku tak mengenal siapa dirimu," ucap James berlalu pergi.


"Ethan, kamu baik-baik saja?" tanya Yuri.


Ethan berpaling dan pergi begitu saja. Selama perjalanan pikiran dan hatinya kembali berperang. Ia merasa tak mengenali dirinya sendiri, sebenarnya ada apa ini. Dia merasa di kuasai oleh rasa dendam yang tertanam di dalam hatinya.


"Sialan!" amuk Ethan saat masuk ke dalam lift dan meninju dinding dalam ruang persegi itu. Ia merasa seperti di bodohi dan ia tak mampu menguasai dirinya sendiri.


ΩΩΩ


Di sisi lain Arin baru saja mendapat kabar dari Jason kalau dia sudah menemukan tempat Ibunya di sekap. Arin merasa sangat lega mendengarnya.


Ia sudah memutuskan untuk pergi dan meninggalkan kesakitan ini demi janinnya. Ia bergegas membereskan pakaiannya ke dalam koper dan bergegas untuk pergi. Tetapi sebelum itu langkahnya terhenti saat ia melihat cincin berlian indah yang melingkar di jari manisnya. Itu adalah cincin pernikahan mereka.


Arin memegang cincin itu dan kenangan indah dirinya bersama Ethan berputar bagaikan film dalam kepalanya. Rasanya sakit harus meninggalkan Ethan, tetapi ia juga tak bisa tetap di sini dalam keadaan seperti ini. Ethan sudah tak mencintainya lagi, dan bukan dia ingin kabur dan menghindari masalah. Ia harus menyelamatkan anak dalam perutnya, ia tidak ingin Ethan membunuh buah cinta mereka walau saat melakukannya Arin hanya merasakan sakit layaknya di perkosa.


Air mata mengalir deras membasahi pipi nya mengingat semua itu. Saat mereka pertama kali bertemu, bersama beberapa tahun sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah. Ethan yang penuh perhatian dan baik hati.


Arin menghapus air matanya dan melepaskan cincin di jari manisnya dan menyimpannya di atas bantal.


"Selamat tinggal Ethan."


ΩΩΩ


"Arin, silahkan masuk." Jason membawa Arin ke dalam sebuah rumah sederhana yang cukup jauh dari keramayan kota Boston.


"Jas, kapan kita membebaskan Mom?" tanya Arin.


"Arin, kamu baru saja sampai. Sebaiknya kamu istirahat dulu dan nanti kita bicarakan lagi masalah ini. Penjagaan di tempat Ms. Drummond di sekap cukup ketat dan kita harus menyiapkan siasat yang bagus untuk mengeluarkannya.


"Aku mohon bantu aku membebaskan Mom, aku tidak ingin terjadi apapun padanya dan banyak hal yang ingin aku tanyakan padanya," ucap Arin.


"Yes Arin. Aku sudah berjanji akan membantumu. Sekarang sebaiknya kamu mandi dan aku akan siapkan makan malam kita," ucap Jason yang di angguki Arin.


Jason mengantar Arin ke kamarnya. "Maafkan aku karena menyiapkan tempat yang sangat sederhana. Di kota ini hanya inilah tempat tinggal yang cukup bagus."


"It's Oke Jas," ucap Arin diiringi senyumannya hingga memperlihatkan lesung pipinya. Jason tak bisa untuk tidak membalas senyuman manis dari Arin.


ΩΩΩ


Ethan baru saja pulang dan melihat Rachel tengah mengambil air minum di dapur.


"Dimana Arin?" tanya Ethan membuat Rachel mengedikkan bahunya.


"Mungkin di kamarnya, dia pulang duluan tadi," jawab Rachel dengan santai.


Ethan berjalan menuju kamar Arinka. "Arin," panggil Ethan membuka pintu kamar dan ia melihat tak ada seorangpun di dalam kamar.


"Arin!" panggil Ethan berjalan mendekati pintu kamar mandi yang tertutup. Ia mengetuknya tetapi tak ada sahutan, lalu ia membukanya dan juga kosong.


"ARIN!" panggil Ethan dengan perasaan was was. "Rachel cari Arin di seluruh ruangan!" teriak Ethan.


"Ada apa Ethan?" tanya Rachel yang sudah menghampiri Ethan.


"Cari Arin di seluruh ruangan, Now!" bentak Ethan membuat Rachel tak menjawab ataupun bertanya lagi, ia langsung berlalu pergi menuruti perintah Ethan.


Ethan membuka ruangan pakaian Arin dan melihat beberapa pakaian Arin tidak ada juga koper milik Arin.


"Sialan dia kabur!"


Ethan bergegas keluar dan berlari keluar penthouse. Ia mencari Arin di sekitar penthousenya dan bertanya kepada satpam di sana dan mengatakan Arin sudah pergi dari sejak siang tadi.


"Dimana kamu Arinka!" gumam Ethan berjalan lesu memasuki lift.


Ethan berjalan lesu memasuki kamar Arin dan duduk di sisi ranjangnya. Ia pikir Arin akan tetap bertahan di sini, ia sengaja tidak menyekap Arin karena hatinya terlalu sakit untuk menyakiti Arin. Walau perkataannya kasar, Ethan sama sekali tidak berani untuk menyekap Arin atau menjadikan Arin bagaikan tahanannya. Tetapi kenapa Arin meninggalkannya.


Mata Ethan melihat kilauan berlian di atas bantal, ia mengambilnya dan ternyata itu adalah cincin pernikahan mereka. Ia menatap cincin itu dengan tatapan sedih dan tak terbaca.


Kenapa akhirnya harus seperti ini, terlalu banyak hal menyakitkan yang harus mereka berdua alami. Baik Ethan maupun Arin keduanya sama-sama terluka. Hampir setiap hari Ethan merasa sakit di hatinya. Ia merasa setiap hari hatinya teriris rasa dendam dan api amarah dari dendam yang terpendam selama bertahun-tahun.


Jeritan kesakitan dari Ayah, Ibu dan Kakaknya sungguh menyiksa batin Ethan dan mengiris hatinya. Darah dalam tubuhnya seperti cerurit yang terus mengiris daging dalam dirinya. Ethan sangat dilema antara cinta dan dendam. Cinta nya pada Arin yang terlalu besar dan rasa dendam itu pun sama besarnya dengan cinta yang ada dalam dirinya.


Kenapa takdir harus serumit dan semenyakitkan ini?


ΩΩΩ


TBC..