
"Ethan!"
Ethan menoleh saat seseorang memanggilnya. "Yuri."
"Mau pulang?" tanya Yuri diiringi senyumannya.
"Sepertinya begitu," jawab Ethan.
"Bagaimana kalau kita mencari kedai kopi, sepertinya dingin seperti ini hanya kopi yang bisa membantu menghangatkan," seru Yuri.
"Baiklah."
Ethan dan Yuri bersama-sama pergi meninggalkan markas CIA. Di parkiran mereka berpapasan dengan James, James hanya menatap mereka berdua dengan perasaan khawatir.
"Kenapa aku merasa Yuri ada maksud tertentu pada Ethan," gumamnya.
ΩΩΩ
Arin baru saja keluar dari kampusnya, hari sudah berganti malam dan ia baru menyelesaikan study nya. Arin berjalan menuju halte bus, handphone nya bergetar menandakan ada pesan masuk. Arin menghentikan langkahnya dan membuka handphonenya.
Tubuhnya menegang saat melihat isi dari pesan itu. Itu adalah foto Ethan yang tampak sedang berpelukan dengan seorang perempuan yang Arin ketahui sebagai Yuri. Di sana juga tertulis kata-kata yang menyayat hati.
Kau harus sadar posisimu dimana, Kau itu tak lebih dari kotoran untuk Ethan yang sebentar lagi akan di lenyapkan.
Tubuh Arin oleng membaca isi pesan itu. Ia berpegangan ke pohon yang ada di sampingnya. Perutnya mendadak terasa bergejolak dan kepalanya pusing.
Arin tidak menyangka Etha mengkhianatinya, pria yang selama ini ia dambakan dan ia cintai sepenuh hatinya. Remuk sudah rasanya hati Arin, semuanya berubah menjadi mimpi buruk yang tiada akhir.
Arin berjalan menyusuri jalanan dengan perasaan tak menentu. Pikirannya melayang ke masalalu, flashback saat dimana dirinya masih berpacaran dengan Ethan.
Dulu Ethan begitu mencintai dan memujanya, bahkan dia begitu protective pada Arin. Ethan yang selalu bermanja-manja padanya, yang selalu memeluknya, selalu membahagiakannya. Bahkan tidak pernah sedikitpun Ethan menyakiti hatinya, baik dari perbuatan maupun tutur katanya. Ethan bagaikan sosok pangeran sempurna untuk Arin. Dulu Arin merasa sebatang kara tanpa ada yang menyayangi dan perduli kepadanya. Kehadiran Rachel dan Ethan sungguh bagaikan pelangi di tengah badai.
Tetapi memang benar, kalau pelangi tak selamanya akan ada. Layaknya sekarang, Arin kembali sendirian dan sebatang kara.
"Mom hanya punya kamu, Nak." Arin mengusap perut ratanya.
"Arin!"
Arin terpekik saat lengannya di tarik seseorang dengan sangat keras hingga membuatnya terasa sakit.
"Ah!" keluh Arin meringis sakit dan kaget.
"Apa kamu sudah gila!"
"Kau hampir saja tertabrak. Kamu ini kenapa sih Rin?" tanya James.
"Ja-james, a-a aku-" Arin tidak mampu berkata-kata, hanya air matanya saja yang terus berlinang membasahi pipi.
"Sudahlah, sebaiknya kita pergi dari sini," ucap James merangkul Arin dan membawanya menaiki mobilnya. Dan saat itu juga mobil Ethan yang sedang bersama Yuri melewati James.
"Arin dan James?" seru Yuri melirik Ethan yang tampak cemburu. "Mereka berdua kelihatan dekat sekali."
Ethan tak berkomentar dan hanya fokus menyetir dengan mencengkram kuat setir mobilnya.
ΩΩΩ
"Apa semuanya baik-baik saja?" tanya James karena Arin hanya diam menatap keluar jendela.
"Kamu tau mengenai orangtuaku kan," tanya Arin yang di angguki James. "Lalu kenapa kamu menolongku? bukankah selama ini Dad yang menjadi incaran kalian."
"Ya memang, Jeff yang menjadi inceran utama kami terutama Ethan. Tetapi aku percaya kamu tidak terlibat."
Arin menangis mendengar penuturan James barusan membuat James kaget. Ia menghentikan laju mobil dan meminggirkannya.
"Kamu kenapa Rin?" tanya James.
"Aku terharu," ucap Arin menghapus air matanya. "Kamu bisa mempercayaiku, sedangkah Ethan-"
"Ethan sedang di rundung dilema, sebenarnya dia juga ingin mempercayaimu, hanya rasa amarahnya dan dendam yang ada di dalam hatinya membuatnya buta untuk melihat kamu."
"Aku tidak terlibat dan tidak mengetahui apapun. Aku juga baru tau kalau Dad, hikzzz... Dad yang sudah menghancurkan keluarga Ethan. Sungguh aku tidak tau menahu, aku juga kaget saat malam pernikahan kami. Dan dia-" Arin hanya bisa menangis mengingat itu.
"Apa Ethan menyiksamu?" tanya James.
"Tidak James, hanya saja kata-katanya menyakitiku," ucap Arin.
"Aku tau Ethan tidak seperti itu, dia bukan pria yang kasar. Hanya emosi di dalam hatinya, dendam yang terpendam membuatnya menjadi tak bisa terkontrol. Tetaplah bertahan di sisinya, mungkin nanti dia akan berubah," ucap James membuat Arin diam termangu.
Benarkah Ethan akan berubah suatu saat nanti kalau Arin tetap bertahan di sisinya.
ΩΩΩ
TBC...